
"Di mana ini? " tanya Chayra begitu Rakhan berhenti berlari. " Ho.. hotel?" matanya membulat. Kaget . Juga shock. kenapa CEO Rakhan membawa dia ke hotel?
"Jangan banyak tanya," Rakhan menggandeng tangan Chayra. Membawanya masuk ke dalam hotel.
"Tapi .." Chayra berusaha membantah.
"Masuk," Rakhan mengabaikan keberatan Chayra. Dia mengandeng tangan Chayra dengan kuat.
Chayra terpaksa mengikuti. Tapi sepanjang jalan, dia menundukkan wajah. Merasa malu. Masuk ke dalam hotel bersama seorang laki laki.
"Eh? Kenapa malah masuk kamar?" protes Chayra begitu Rakhan membuka pintu kamar hotel dengan cardlock.
Cardlock adalah kunci kamar hotel berbentuk kartu.
"Stt..." Rakhan menempelkan telunjuknya di bibir Chayra. "Masih protes lagi bukan jari yang akan menempel di sana," ancamnya.
"Iya,iya, baik," sahut Chayra sambil menghindar. Mau apa CEO ini membawa aku ke sini? batinnya resah. Bukankah jabatannya sebagai pacar CEO hanya di areal publik? Kenapa sekarang aku di bawa ke kamar? Mana cuma berdua, bisik hatinya tambah resah.
"Masuk," Rakhan membuka pintu kamar lebar lebar. Setelah Chayra masuk, dia mengikuti dari belakang lalu menutup pintu.
"Anda mau apa?" tanya Chayra memucat.
"Memangnya mau apa?" balas Rakhan sambil berjalan menghampiri Chayra.
Chayra berjalan mundur. Hatinya tak tentram dengan situasi ini. Berdekatan dengan CEO Rakhan sungguh tak baik bagi kondisi jantungnya.
"Memangnya aku menakutkan?" Tukas Rakhan tak suka. Kenapa kucing kecil ini menjadi begitu ketakutan? Padahal tadi mereka berciuman tanpa kenal tempat.
"Bu...bukan begitu.." Chayra mencoba mengeluarkan kata kata, namun tercekat di tenggorokan karena tidak tahu mau bicara apa .
"Tadi di kamu tidak seperti ini," potong Rakhan mengingatkan.
"Tadi itu ...itu sebagai ucapan terima kasih,iya, ucapan terima kasih," jawab Chayra tidak yakin.
"Jadi, jika yang datang bukan aku, kamu juga akan bersedia di cium ?" tukas Rakhan marah.
"Tentu saja tidak!" jawab Chayra cepat. Ups, dia mengigit bibir. Dia bicara tanpa berpikir.
Rakhan menggertakkan gigi. Kucing kecil ini sungguh menguji kesabaran. Jelas jelas suka tapi masih membantah!
Tanpa bicara, Rakhan meraih pinggang Chayra lalu memeluknya dengan erat.
Dug..dug...dug...jantung Chayra berdetak sangat kencang. Dia berusaha melawan dalam pelukan Rakhan.
"Diam," bisik Rakhan pelan di dekat telinga Chayra. "Jika kamu terus bergerak, aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi selanjutnya," sambungnya lagi dengan suara serak.
"I...iya," angguk Chayra patuh. Jika terjadi pergulatan di dalam kamar ini, pastilah aku yang akan kalah, batinnya.
"Aku hanya ingin memelukmu," desis Rakhan. Perasaan galau tak menentu selama Chayra menghilang, membuat dia ingin mendekap gadis itu , merasakan kehangatan tubuhnya. Menyadari perasaannya yang sebenarnya.
"Hanya ini?" tanya Chayra memastikan.
__ADS_1
"Apa kamu ingin yang lain?" goda Rakhan menatap mesra ke mata Chayra. Pelukannya makin erat.
"Ti...tidak, memangnya aku memikirkan apa?" toleh Chayra dengan wajah merah.
"Siapa yang tahu?" Rakhan mengangkat sebelah alisnya. " Jantungmu berdebar sangat kencang," godanya.
Chayra menundukkan wajah. Melihat dadanya menempel erat pada tubuh Rakhan. "Iya," akunya malu.
"Kenapa?" tanya Rakhan pura pura tak tahu.
"Aku tidak tahu," geleng Chayra. " Setiap kali berada di dekat anda, jantungku...." dia tidak melanjutkan kalimatnya karena segera tersadar. Ya Tuhan! Hampir saja aku mengatakan kalimat yang memalukan diriku sendiri, syukurnya dalam hati.
"Gadis bodoh," Rakhan mencium kening Chayra dengan gemas. Dia belum pernah bertemu dengan perempuan sepolos ini.
******
"Bagaimana, Pak?" tanya Danny pada Taksa yang berdiri di sebelahnya.
Sejak Taksa sampai di Kantor cabang World Tech di Kota S, setengah jam lalu, dia hanya berdiri di sebelah Danny, tanpa bicara.
"Apa?" Taksa menoleh.
"Apa anda sudah menghubungi CEO?" tanya Danny lagi.
Menghubungi CEO? Saat CEO tengah berduaan dengan Chayra? Melihat ciuman panas mereka tadi, itu namanya cari mati, batin Taksa. " Tunggu saja CEO yang menghubungi," jawabnya. " CEO sedang ada tugas penting sekarang," tegasnya.
"Oh begitu," Didi mengangguk paham. " Pak, ATC memberitahu jika Pak Simon Yaww meminta kejelasan sampai kapan mereka berputar putar di angkasa," katanya sambil menatap layar monitor laptop nya.
"Suruh balik saja," perintah Taksa.
"Baik, Pak," jawab Danny.
******
"Pak, heli ini sepertinya mempermainkan kita," kata Larry memberitahu pada Eouin yang duduk di belakang nya.
"Iya," balas Eouin dingin. Dia sudah tahu dari tadi. Tapi tetap membiarkan. Karena ingin tahu sampai kapan helikopter di depan mereka berputar putar tidak jelas arah.
"Terus bagaimana kita ,Pak?" tanya Larry minta pendapat. " Masih terus ikuti atau balik ke Desa M?"
"Terus saja ikuti," perintah Eouin. "Chen," dia menggerakkan wajah ke arah Chen yang duduk di sebelah nya.
"Siap,Pak," angguk Chen mengerti. Dia mengeluarkan sebuah senapan Laras panjang dari samping kursinya.
"Kamu tetap lihat ke depan, kontrol heli dengan baik, jangan sampai oleng," perintah Eouin.
"Ya, pak," angguk Larry. " Eh? kenapa pintu heli di buka? Apa yang .."
"Diam!" sentak Eouin. "Fokus saja pada tugasmu!" tegasnya lagi.
" Baik, Pak," jawab Larry. Apa yang mau di lakukan Chen? batinnya resah.
__ADS_1
Chen membuka pintu helikopter lalu dengan tenang mengangkat senapan nya dan menembak helikopter yang terbang di depan mereka.
Oh, My Good! Larry menutup mulutnya. Tapi tak sanggup bersuara. Siapapun tahu, betapa kejamnya Pak Eouin Finn jika mendapati bawahannya tidak menuruti perintah. Didi Riyadi, kanan tangan terpercaya pak Eouin bahkan di singkirkan begitu saja.
Tanpa menunggu lama, helikopter di depan berasap lalu jatuh.
****
"An..anda mau apa?" Chayra bergidik ketika Rakhan mengelus wajahnya.
"Bukankah kita sudah sepakat untuk memanggil 'sayang'?" kata Rakhan mengingatkan.
"Itu jika di depan umum, " timpal Chayra. " Tapi ini kan kita hanya berdua."
"Oh, jadi kamu tidak ingin jadi pacar aku yang sesungguhnya?" tanya Rakhan sewot.
"Maksud anda?" Chayra balas bertanya.
Hah! Apa saat pembagian lobus frontal , gadis ini terlewatkan? Rakhan membatin kesal.
Lobus frontal adalah bagian otak depan yang berperan dalam fungsi intelektual seperti berpikir, penalaran dan pengambil keputusan.
Tanpa basa basi bibir Rakhan langsung ******* bibir menggemaskan yang berada di depan wajahnya. Dia sudah malas untuk bicara.
"Ap..Arg..." Chayra berusaha melawan, namun bibir Rakhan begitu kuat menerkam. Aduh, bagaimana ini, batinnya panik.
Sepertinya CEO begitu kalap, bahkan tidak membiarkan dia mengambil jeda untuk bernafas. Mungkin karena sifat barbarnya ini yang membuat Blossom memutuskan dia, batinnya lagi.
Kring...kring...tiba tiba ponsel di saku celana Chayra berbunyi. Terus berdering. Memaksa untuk di angkat.
Rakhan terpaksa melepaskan ciumannya. " Matikan," perintahnya.
"Ya," angguk Chayra. Sebenarnya dia juga sama kesalnya dengan Rakhan. Sungguh, ternyata CEO ini good kisser," kata hatinya malu malu.
Chayra mengeluarkan ponsel dari kantong celana panjangnya. "Dari Rhea," katanya meminta pertimbangan.
" Jawab saja seperlunya," balas Rakhan kesal. Hah, mengganggu saja. Menciumi gadis ini ternyata membuatnya candu.
"Ra? Kamu di mana? Kenapa aku telepon kamu kena biaya roaming? Kamu di luar negeri?" berondong Rhea begitu Chayra mengucapkan salam.
"Hah?" Chayra melongo. " Roaming? Luarnegeri? Kamu bicara apa?" balasnya kaget.
Rakhan menyembunyikan tawa. Gadis ini benar-benar gadis yang lucu. Apa dia tidak menyadari jika orang orang di sekelilingnya berbicara dengan bahasa Inggris?
Mendadak ponsel di kantong celana kiri Rakhan bergetar. Sambil berdecak kesal, dia mengeluarkan ponsel lalu mengangkatnya.
Di seberang sana, terdengar suara Taksa yang terbata bata meminta maaf karena sudah menelepon.
"Ya, ada apa?" kata Rakhan dingin. "Apa?" serunya kaget. " Lalu bagaimana keadaan mereka?"
****
__ADS_1
Maaf y readers, otor agak telat update di karenakan otor lagi sakit. Alhamdulillah ,sekarang otor sudah mendingan dan bisa menulis lagi.