
Mama Rhea menghempaskan badannya di atas ranjang di kamar hotel. Beliau benar benar merasa sedih. Tidak tahu bagaimana caranya untuk meneruskan hidup.
Rhea sudah berada di tangan Farras. Aku tidak boleh untuk menemuinya lagi. Lalu bagaimana hidupku ini? Aku hanya punya Rhea saat ini, batin beliau galau.
Sementara itu di lobby hotel tempat mama Rhea menginap, Efron duduk menanti dengan sabar. Beliau menunggu kesempatan untuk bisa menemui mama Rhea. Beliau sudah memerintahkan Edward untuk memata matai kamar tempat mama Rhea menginap.
Setelah menunggu beberapa lama, ponsel Efron berdering. Dari Edward. Edward memberitahukan jika sudah beberapa lama, dia tidak mendengar langkah kaki dari kamar sebelah, bahkan suara nafas pun tidak terdengar.
"Are you sure? ( apakah kamu yakin?) " tanya Efron memastikan.
"Ya, Tuan, " jawab Edward sambil telinganya tetap menempel pada dinding di sebelah kamarnya.
Dia memang di perintahkan Efron untuk tinggal di kamar di sebelah mama Rhea. Tujuannya, agar bisa memantau semua pergerakan Mama Rhea.
Untuk menunjang tugas memata matai nya, dia di berikan stetoskop yang bisa mendeteksi langkah kaki sampai puluhan kilo meter. Juga memakai hearing aid ( alat bantu dengar) yang di masukan ke dalam telinga.
Alat itu bisa mendengar bunyi nafas dalam jarak sekian kilo meter.
"Kamu tetap di sana, aku akan ke sana! " perintah Efron, kemudian beliau mematikan sambungan ponsel.
"Baik, Tuan! " sahut Edward patuh.
Jangan sampai sesuatu terjadi pada kamu, batin Efron gelisah. Beliau berdiri dari sofa dengan cepat lalu melangkahkan kaki menuju Lift. Ke lantai 10, tempat di mana kamar mama Rhea berada.
***
Rakhan di bawa menuju ruangan rawat intensif super VIP di mana dia akan di suntikan obat penawar peluntur ingatan yang telah berhasil di buat oleh Pak Thamrin bersama anggota team biologinya.
Oleh Pak Thamrin, Chayra di minta untuk tetap berada di dalam ruangan inap super VIP.
"Kami belum bisa mendeteksi efek dari obat penawar ini. Harap Nona menunggu di sini untuk memanilisir kemungkinan yang akan terjadi, " kata Pak Thamrin ketika Chayra hendak mengikuti langkah kaki Rakhan.
"Betul kata Pak Thamrin, kamu menunggu di sini saja, " kata Rakhan setuju. Meski sebenarnya dia tidak ingin berpisah dari Chayra walau sedetikpun, tapi dia tidak ingin mengambil resiko. Pak Thamrin meminta Chayra untuk tetap di sini pasti ada alasan yang tepat.
karena Rakhan yang meminta agar dia tidak ikut, akhirnya Chayra setuju. Dia menunggu di dalam kamar dengan perasaan resah. Dia berjalan bolak balik di dalam kamar dengan harap harap cemas. Besar keinginannya agar Rakhan bisa mengingat semua tentang dia.
Setelah penantian yang dia rasakan sangat lama, pintu kamar terbuka. Langkah kakinya terhenti. Pandangannya terarah menuju di pintu. Dari pintu yang terbuka lebar, dia melihat Rakhan masuk dengan langkah kaki tegap.
__ADS_1
Dia menunggu dengan dada berdebar. Apakah obat dari Pak Thamrin berhasil? Apakah Rakhan sudah bisa mengingat aku? batinnya bertanya tanya.
"Rakhan... " katanya lirih.
"Stt.... " Rakhan menutup bibir Chayra dengan bibirnya. Dia mencium gadis itu dengan kelaparan.
***
"Bagaimana , Dok? " tanya Efron sesaat setelah dokter memeriksa Mama Rhea.
"Sekarang pasien sudah dalam keadaan stabil. Akan sadar dalam beberapa jam lagi, " jawab Pak Dokter.
"Mohon anda jaga pasien jangan sampai mengambil tindakan nekad lagi, jika terjadi sesuatu anda segera beritahu kami, " lanjut beliau.
"Baik, dokter. Terimakasih," jawab Efron.
Sepeninggal dokter dan perawat, Efron memperhatikan wajah mama Rhea yang terbaring di atas tempat tidur pasien.
Wajah perempuan yang sangat di cintainya itu tampak sangat pucat. Helaan nafasnya terdengar pelan namun teratur.
Apakah aku tidak berarti untuk kamu, sampai kamu mengakhiri hidup mu? desis beliau sedih.
***
"CEO, " suara Taksa di depan pintu membuat Rakhan melepas bibirnya dari bibir Chayra.
"Ehm, maaf, saya salah ruangan," katanya begitu melihat kilat mata membunuh dari Rakhan.
Chayra menundukkan wajah. Pipinya memerah menahan malu.
"Kalau sudah kesini, jangan pergi lagi, " tukas Rakhan. "Ada apa? " tanyanya dingin.
"Damon sudah di tangani oleh dokter terbaik di rumah sakit ini, CEO. Dan dia sudah sadar beberapa waktu yang lalu, " jawab Taksa. " Apa anda ingin bertemu dengannya? "
"Iya, aku akan menyelesaikan masalah utang budi pada dia, " ujar Rakhan tegas.
"Kamu tunggu di sini, tidak usah ikut, " perintahnya pada Chayra.
__ADS_1
Dia tidak ingin hati Chayra yang lembut akan merusak negosiasi utang budi ini.
"Iya, " angguk Chayra patuh.
"Selain menahan peluru untuk aku, dia juga sudah mendonorkan sumsum tulang belakangnya pada aku, " katanya memberitahu. Dia tidak ingin Rakhan terkejut jika Damon mengungkit masalah ini.
"Ketika itu aku berumur 10 tahun, " lanjutnya. Kemudian dia menceritakan semua cerita yang dia tahu dari kakeknya. Dan juga awal mula dia bertemu dengan Damon di London eye, sekitar 8 tahun yang lalu.
Huh, ternyata Chayra banyak memiliki utang budi pada Damon. Pantas laki laki itu begitu percaya diri, batin Rakhan.
"Kamu tenang saja, aku akan menyelesaikan semuanya. Bye then, we must be happy ( saat ini waktunya kita bahagia, " katanya sambil meremas tangan Chayra dengan lembut.
Oh, jiwa ku yang jomblo, rintihan hati Taksa melihat romansa pasangan yang tengah di mabuk cinta di depan matanya.
"Kamu ikut aku! " perintah Rakhan pada Taksa.
"Baik, CEO, " jawab Taksa cepat.
****
Bugh! Papa Rhea melayangkan sebuah pukulan di wajah Efron. Di lanjutkan beberapa pukulan lagi. Efron tidak melawan. Dia membiarkan saja pukulan itu mampir di wajahnya. Dia menganggap menerima pukulan ini sebagai tanda permintaan maaf kepada Farras.
Sial! geram Papa Rhea sambil melemaskan pergelangan tangannya yang terasa sakit. Wajah laki laki brengsek ini keras seperti batu batin beliau.
"Bisa kita bicara sekarang?" tanya Efron sembari mengelap sudut bibirnya yang berdarah akibat pukulan papa Rhea.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Apa belum puas membuat keluarga aku berantakan? " tukas papa Rhea.
"Aku bisa saja membawa Aleaasa pergi. Aku punya segudang obat yang bisa membuat dia melupakan kamu, " kata Efron.
"Tapi aku tak bisa melakukannya. Aku ingin dia bersama aku dengan kesadarannya sendiri. Aku tidak ingin dia berbuat nekad seperti ini lagi, " sambung beliau.
"Beruntung aku menemukan dia tepat waktu. Sehingga obat tidur yang baru saja dia minum berhasil di muntah kan dari perutnya, " urai beliau lagi.
"Jadi apa mau mu? Aku harus mengucapkan terimakasih pada kau begitu? " ucap Papa Rhea sinis.
"Aku tidak ingin terimakasih. Aku hanya minta kamu bisa menjaga dia dengan baik, " balas Efron tanpa membalas cemoohan papa Rhea.
__ADS_1
"Jika kamu bisa menjaga keluarga mu dengan baik, Aleaasaa tidak akan menghubungi aku untuk meminta tolong, " sambung beliau.