
Caliente, di sebelah tenggara Nevada di pagi hari. Mendung. Matahari tertutup awan. Chayra mengintip dari jendela hotel. Ini pertama kalinya dia ke luar negeri sejak bertahun tahun. Terakhir kali ketika dia berumur dua belas tahun. Bersama mama ,kakek dan nenek. Mereka menjelajahi indahnya musim semi di sepuluh negara di Eropa Barat.
Chayra tidak menyangka dia bisa keluar negeri juga. Dan itu dengan paspor kilat yang di berikan CEO Rakhan. Sejenis paspor palsu. Paspor yang mungkin di gunakan bos kejam bernama Eoiun ketika membawanya ke Negara S.
Chayra menundukkan kepala ke bawah. Dia berada di lantai 90, kamar super VVIP. Pemandangan di bawah terlihat seperti semut yang berjalan. Ada hasrat ingin menjelajahi beberapa tempat di sekitar hotel. CEO Rakhan pun telah mengizinkan. Dia bahkan sudah menyewa beberapa pengawal yang akan langsung bergerak begitu Chayra keluar dari kamar hotel.
"Jangan terlalu jauh," pesan Rakhan sambil meletakkan ponsel terbaru di telapak tangan Chayra. " SIM card nya sudah aku pindahkan ke sini, aku juga memasukkan nomor telepon aku," senyumnya misterius.
"Iya, terimakasih," angguk Chayra menurut. Dia mengambil ponsel itu lalu memasukannya ke dalam kantong baju sarungnya. Hm, Siapa sih yang suka menjelajahi tempat asing seorang diri?
"Begitu robot itu selesai di perbaiki, aku akan menemanimu," bisik Rakhan mesra di gendang telinga Chayra. "Ada tempat permandian air mineral di sini," sambungnya memberitahu.
Suara bariton nya membuat bulu kuduk Chayra berdiri. "Eh,iya," dia bergerak menjauh.
"Tidur yang nyenyak," Rakhan membelai rambut Chayra. " Aku akan ke laboratorium dan akan tetap di sana sampai robot itu selesai di perbaiki."
"Iya, hati hati," balas Chayra. Dia menyungging senyum.
"Ya," Rakhan balas tersenyum. Ingin dia mendaratkan ciuman di bibir itu tapi takut tidak bisa mengendalikan diri. "Aku pergi dulu," dia menutup pintu.
Setelah Rakhan pergi, Chayra melirik jam dinding kristal di seberang ranjang. Jam 7 pagi. Sebenarnya dia tidak ada rencana untuk tidur. Di dalam jet pribadi tadi dia tidur sepanjang perjalanan. Baru terjaga ketika CEO Rakhan membangunkannya. Dan itu sudah sampai di lobi hotel.
Akhirnya Chayra memutuskan untuk mandi. Selesai mandi dan berpakaian, dia melangkahkan kaki menuju jendela. Dia membuka sedikit gorden jendela. Mengintip suasana di sekitar hotel melalui jendela.
****
Rhea baru saja keluar dari kelas ketika ponselnya berdering. Dia mengambil ponsel dari tas selempangnya. Saat membaca nama penelepon nya, dia tersenyum.
"Ada apa?" Rhea menyahuti suara yang menyapa sopan di seberang sana. "Hm...apa kamu yakin? " balasnya.
"Iya,Bu," jawab suara sopan itu.
"Ok, terimakasih," Rhea menutup sambungan telepon.
Chayra bersama CEO Rakhan di Caliente, Nevada. Apa yang mereka lakukan di sana? Bukankah kemaren Chayra masih di Negara S? Kening Rhea berkerut. Dia akan mendatangi mereka di Caliente!
Sementara di tempat lain, Miku mematikan ponselnya. Ada rasa was was mendera. Apakah tindakannya sudah benar? Bagaimana jika CEO Rakhan mengetahuinya? Tapi Bu Rhea adalah calon istri CEO. CEO pasti tidak akan marah.
__ADS_1
*****
Menjelang siang, Chayra turun ke bawah. Menuju restoran yang terletak di lantai bawah. Tiga orang pengawal langsung mengikutinya dari belakang.
Atas rekomendasi pelayan, dia memesan bubur farro . Bubur ini merupakan makanan khas Nevada yang terbuat dari gandum. Di atasnya di taburi telur, jamur dan kulit ruftle hitam.
Untuk lidah Indonesia seperti dirinya, bubur ini terasa tidak enak. Andai tidak ingat tempat, bubur ini pasti sudah keluar dari kerongkongannya. Jadi terpaksa dia telan dengan bantuan segelas air.
Akhirnya bubur itu habis juga. Namun, perutnya bergejolak. Menahan mual. Tiba tiba ponselnya berdering . Chayra mengeluarkan ponsel dari kantong bajunya.
Chayra membaca nama yang tertera di layar ponsel . Sayangku? dia mengernyit.
"Hallo," Chayra bersuara. Dia menanti suara yang akan membalas sapaannya.
"Sayang, kamu ke laboratorium ya? Sebentar lagi Taksa datang menjemput," suara lembut Rakhan mengalun di ujung telepon.
CEO Rakhan? Dia memasukkan sendiri namanya di daftar kontak. Pantas, tadi senyumnya begitu misterius, batin Chayra.
"Iya," balas Chayra. "Apa Damon sudah sadar?"
"Sudah selesai di perbaiki, pengaktifan nya menunggu kamu," jawab Rakhan. "Kamu ada di mana? sepertinya ramai," lanjutnya.
"Sudah makan?" tanya Rakhan dengan suara mesra yang mendalam.
"Sudah, bubur farro ..uwek ..." Chayra teringat lagi tampilan dan rasa bubur yang tidak enak di lidahnya.
"Kenapa sayang?" suara Rakhan terdengar kuatir.
"Ti..tidak, hanya aku ...bubur itu..uwek," Chayra menahan mulutnya dengan sebelah tangannya. Takut bubur itu tersembur dari mulutnya.
"Are you okay, Miss?" seorang pelayan yang melintas, mampir di meja Chayra.
"I'm okay," Chayra buru buru menjawab. Lalu mendorong bubur yang sudah naik ke tenggorokan dengan segelas air.
"Bagaimana sekarang?" tanya Rakhan. Ternyata dia masih setia di ujung telepon.
"Ak...aku tidak apa apa," balas Chayra.
__ADS_1
"Lainkali, pilih menu yang kamu biasa makan saja," saran Rakhan. Dia masih teringat bagaimana Chayra makan creme Foie grass brulee waktu itu. Memaksa makan dengan mimik mau muntah.
"Iya," kata Chayra menurut.
"Tunggu Taksa datang sebentar lagi. Semua makanan yang kamu makan itu sudah termasuk paket kamar yang aku pesan," kata Rakhan memberitahu.
"Iya, terimakasih," balas Chayra.
"Aku tidak menerima ucapan terimakasih melalui telepon," timpal Rakhan.
"Melalui apa?" tanya Chayra heran. " Melalui transfer?"
"Transferan Saliva," goda Rakhan.
"Apa itu transfer Saliva?" Chayra mengernyit.
"Nanti aku beritahu ," timpal Rakhan menahan tawa. Gadis ini benar-benar lugu.
Beberapa orang yang berada di dalam laboratorium saling berpandangan. Mereka belum pernah melihat CEO begitu sumringah.
Setengah jam kemudian, Chayra sudah berada di dalam laboratorium. Dia masuk bersama Rakhan yang sudah menantinya di pintu depan laboratorium.
Sejumlah orang yang berada di dalam laboratorium bertukar pandangan. Gadis itu memang manis, tubuhnya juga bagus, sayangnya selera fashionnya buruk . Pakaian karung berwarna abu gelap yang di pakainya membuat dia seperti terbenam dalam lumpur.
Tanpa perlu mencari, Chayra langsung melihat Damon. Robot itu berdiri tegak dengan di pasangi berbagai kabel. Posisinya mirip ketika berada di dalam laboratorium bos kejam itu. Bedanya hanya, di sini Damon tidak di masukan ke dalam kotak kaca.
Chayra melangkah mendekat. Dia memindai tengkuk Damon dengan ponselnya. Kemudian berjalan ke arah depan. Berdiri berhadapan muka dengan Damon. Bersiap di pindai irisnya oleh Damon.
"Pemindaian selesai, tuan telah di kenali," kata Damon. Matanya terbuka.
Dreetttt..rettt..rett...mendadak sejumlah gambar dari otak Damon muncul di layar proyektor di dinding laboratorium.
"What the hell..." Mata Rakhan terbeliak.
"Apa?" Chayra terbelalak. Nyaris keluar.
"Wah..." Lima belas laki laki yang berada di dalam laboratorium melotot.
__ADS_1
kira kira apa itu ya readers?