
"Bagaimana lab Nevada? Apa sudah ada perkembangan?" tanya Rakhan lagi.
"Belum CEO, mereka masih dalam perjalanan," jawab Taksa.
"Maksudnya?" tanya Rakhan tak mengerti.
"Maksudnya kami dalam perjalanan ke mari, CEO," kaya seseorang seiring dengan terbukanya pintu ruang perawatan.
Seorang laki laki masuk di ikuti sejumlah laki laki berwajah bule berjalan di belakangnya.
"Pak Thamrin? Ada Doktor Thompson juga," kata Rakhan kaget.
Pak Thamrin adalah kepala biologi Nevada, asli orang Indonesia.
"Maaf CEO, Kami baru saja sampai, jadi belum bisa memberikan anda kabar mengenai kelanjutan perkembangan penyelidikan kami," kata Doktor Thompson mengambil alih pembicaraan.
"Kami bersyukur anda sudah kembali siuman," sambung Pak Thamrin lega.
"Entahlah, tapi aku merasa belum baik baik saja, belum fit 100 persen," jawab Rakhan.
" Itu biasa terjadi dalam masa pemulihan, CEO," balas Doktor Thompson.
"Saya akan bertemu dengan tim dokter rumah sakit ini CEO, kami ingin bertanya banyak hal," kata Pak Thamrin.
"Tim dokter juga merasa heran ,Pak. Karena mereka tidak memberikan obat kepada CEO, hanya memberikan ventilator sebagai alat bantu pernafasan," kata Taksa memberitahu .
"What?" Mata Pak Thamrin dan Doktor Thompson serempak membesar.
"Maaf CEO, saya akan mengambil darah anda untuk di periksa," kata Pak Thamrin begitu beliau pulih dari rasa kagetnya.
Beliau memberikan isyarat kepada seorang laki laki muda yang menenteng tas untuk datang mendekat.
Laki laki itu berjalan mendekati Rakhan. Kemudian dia membuka tas nya lalu mengambil tourniquet dan memasangkannya di pergelangan tangan Rakhan. Kemudian dia mengambil jarum suntik dari dalam tas lalu menusukkannya ke pergelangan tangan Rakhan. Dalam sekejap , keluar sejumlah darah yang dia masukkan ke dalam tabung vakum.
Tourniquet atau tali pembendung terbuat dari tali elastis yang bisa meregang yang di gunakan saat penusukan untuk mengambil sampel darah.
Tabung vakum adalah tabung steril pengumpul darah.
"Sudah selesai, CEO," kata laki laki itu sambil melepaskan tourniquet yang tadi di pasang di pergelangan tangan Rakhan.
__ADS_1
"Terimakasih," jawab Rakhan. " Aku ingin di rawat di Rumah sakit WT," lanjutnya . " Tapi jangan ada satupun media yang tahu. Biarkan mereka tahu kalau aku tetap berada di rumah sakit ini," perintahnya.
"Baik, CEO," angguk Taksa.
***
Begitu keluar dari mobil yang di kendarai Edward Cullen, Rhea berjalan berjinjit memasuki rumahnya. Dia membuka pintu depan dengan perlahan lalu menutupnya kembali dengan gerakan tanpa suara.
"Apa yang kamu janjikan pada Efron sampai dia mau melepaskan kamu?" suara mama Rhea mengangetkan Rhea.
"Astaga mama, bikin kaget saja," timpal Rhea sambil mengelus dada.
Dia melihat mama nya berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri. Beliau berdiri sambil bersidekap. Tampak terlihat wajahnya tidak suka.
"Apa?" tegas Mama Rhea lagi. " Apa yang sudah kamu janjikan pada nya?"
"Ma, bisakah kita bicara sebentar lagi? Aku baru saja pulang dan lagi bagaimana jika papa mendengarnya?" elak Rhea. Sebenarnya dia belum siap melihat reaksi mama. Mamanya pasti akan sangat marah padanya.
"Papa kamu sudah pergi ke kantor dari tadi. Susah payah mama menyuruh papa ke kantor. Papa kuatir sekali pada kamu," jawab mama Rhea.
"Sekarang katakan pada mama, apa yang kamu janjikan pada orang itu?" tukas beliau kesal karena Rhea tak kunjung menjawab.
"Seperti yang mama tahu. Itu lah yang aku janjikan pada dia," jawab Rhea dengan suara lirih. " Aku terpaksa ,Ma. Aku tak bisa membiarkan hidup Rakhan berakhir sebelum menikah dengan aku," sambungnya berusaha menjelaskan.
Apa yang sudah di perbuat anak itu? Bagaimana mungkin dia asal menyetujui tanpa bertanya dulu pada aku? jerit batin beliau.
"Tapi orang itu menepati janjinya ma, aku melihat berita jika Rakhan sudah sadar dari koma. Tapi kata orang itu, Rakhan hanya menerima beberapa persen saja dari dosis yang seharusnya. Jadi ...." ujar Rhea berusaha menjelaskan. namun suaranya tercekat di tenggorokan. Dia tidak sanggup melihat wajah mamanya yang memucat.
*****
Meski sudah bangun dari tadi, Chayra tidak berani keluar kamar. Perutnya terasa perih karena lapar. Matanya sudah berkunang kunang. Dia merasa sebentar lagi akan pingsan karena kelaparan.
Tok...tok...pintu kamar di ketuk dari luar.
Waduh, Chayra melihat ke arah pintu dengan perasaan was was. Siapa itu?
"Ra, ini aku," terdengar bisikan di dekat pintu.
Arfan! batin Chayra lega. Dia bergegas membuka pintu.
__ADS_1
Dia melihat Arfan masuk ke dalam kamar sambil menenteng beberapa bungkusan. Dia berharap salah satu bungkusan itu adalah makanan.
"Aku membawakan makanan untuk kamu," kata Arfan sambil meletakkan sebuah bungkusan di atas nakas, sementara bungkusan yang tersisa dia taruh di atas kasur.
"Terimakasih ," jawab Chayra cepat. Dia segera membuka bungkusan itu dan melihat sekotak nasi box di dalamnya.
"Kamu makan dulu," kata Arfan paham. Dia bisa melihat wajah Chayra yang kelaparan.
"Ya," angguk Chayra. Tanpa basa basi, dia memakan nasi yang terletak di depan matanya.
Beberapa menit kemudian, dia sudah menghabiskan makanannya tanpa sisa.
"Kamu sudah punya rencana?" tanya Arfan setelah Chayra duduk manis di atas sofa.
"Belum," jawab Chayra. " Aku tidak mungkin kembali pada Rakhan, dia sudah mengkhianati aku, aku juga tidak akan bersama Damon, dia laki laki yang tidak aku suka," bebernya terus terang.
Hm, apa perlu aku beritahu jika Rakhan tak sadarkan diri saat berada di rumah Rhea? Dan sekarang dia sudah siuman dan tengah di rawat di rumah sakit? batin Arfan dilema.
Tapi, kalau aku memberi tahu Chayra, bisa bisa gadis ini memaksa untuk membezuk Rakhan. Ini adalah kesempatan aku untuk bisa berada dekat dengan Chayra, kata hatinya lagi.
Aku tidak akan memberi tahu Chayra. Ini salahnya Rakhan karena bermain api dengan Rhea, putus nya dalam hati.
"Ya kamu betul," angguk Arfan setuju. "Apapun keputusan kamu, aku akan selalu bersama kamu," katanya lagi.
" Aku ingin kamu tetap bersama ku. Jangan tinggalkan aku, " pinta Chayra . "Because i can't trust anyone except you ( karena aku tidak akan mempercayai seorangpun kecuali kamu," lanjutnya.
Oh my God! Jantung Arfan meloncat bahagia. Akhirnya, Chayra lebih memilih bersama aku. Di banding dengan Rakhan!
"Hm... aku tidak akan mengecewakan kepercayaan kamu," timpal nya dengan sikap sewajar mungkin. Dia takut berekspresi berlebihan. Takut Chayra akan menjadi waspada melihatnya.
****
Bingo! Mata Damon bercahaya begitu melihat lokasi GPS tempat Chayra berada di aplikasi snap map di laptopnya.
Gotcha you! ( aku menemukan kamu)! serunya senang sembari menutup laptopnya.
Dengan setengah berlari dia keluar kamar menuju garasi mobil.
Di depan pintu garasi, dia nyaris bertabrakan dengan Pak Aditya.
__ADS_1
"Anda mau kemana ,Pak Damon?" tanya pak Aditya heran.
"Menjemput Chayra, Pak," sahut Damon bahagia.