CEO Melankolis

CEO Melankolis
Bab 54: Siapa Yang Lebih Penting, Gadis Itu atau Robot Itu?


__ADS_3

Rhea melamun di bibir ranjang. Sudah beranjak malam. Namun dia tidak merasa mengantuk. Dia sedang resah. Sudah 2 hari ini tidak ada kabar dari Chayra. Dari bagian IT di perusahaan papa, yang dia suruh buka data pribadi Chayra, dia di beritahu, jika 2 hari yang lalu, ada yang mencari identitas pribadi Chayra, tapi tidak di ketahui dari mana. Dan siapa.


Tadi di kampus, Rhea di hampiri Arfan yang menanyakan Chayra. Kelihatannya kuatir. Katanya, Minggu pagi, sekitar jam sebelas lewat, dia melihat Chayra dengan seorang laki laki di pertokoan seberang apartemen. Ciri ciri laki laki itu mirip Taksa.


Tapi Taksa juga tidak tahu keberadaan Chayra. Rhea meremas rambutnya. Kamu kemana,Ra? teriaknya kesal.


****


Setelah menempuh perjalanan dari Kota L selama kurang lebih dua jam, akhirnya CEO Rakhan dan Taksa tiba di Desa M. Lab eksperimen Eouin berada di ujung desa M, berbatasan dengan Desa C. Lab itu tidak bisa di temukan di peta. Namun dari alat penguat sinyal yang ada di ponsel CEO Rakhan, lab itu bisa di temukan letaknya.


"Ini tempatnya," kata CEO Rakhan kata Pak supir. Dia melihat sebuah bangunan berbentuk persegi panjang bergaya industrial, berwarna monokrom. Memancarkan Kesan dingin dan kejam .


"Iya,CEO," sahut Pak Supir sambil menghentikan mobil.


"Turun,"perintah CEO Rakhan pada Taksa.


"Turun?" tanya Taksa. Matanya terasa sepet dan mengantuk. Sudah beberapa hari ini dia kurang istirahat. Lembur. Mengerjakan semua tugas yang diberikan oleh CEO Rakhan.


"Turun!" ulang CEO Rakhan lagi. Nada suaranya tegas. Tidak terbantahkan.


"Iya, iya,CEO," sahut Taksa cepat. Matanya yang terasa sepet menghilang tiba-tiba.


"Tunggu di sini, Pak," kata CEO Rakhan sebelum turun dari mobil.


"Baik, CEO," sahut Pak Supir. Semoga tidak lama, tempat ini menyeramkan, harapnya.


Di depan pintu masuk, CEO Rakhan di sambut sejumlah penjaga keamanan berbadan tegap, mereka menyapa ramah lalu beberapa dari mereka mengantarkan CEO Rakhan sampai bagian front office. Di sana sudah menunggu seorang laki laki berwajah dingin. Namun kali ini dia tersenyum ramah.


"Hallo teman lama," sambutnya sambil mengulurkan tangan. Mengajak bersalaman.


"Eouin," tukas CEO Rakhan. Dia menyambut uluran tangan Eouin.


Mereka bersalaman. Cukup lama. Terkesan hangat. Walau sebenarnya saling waspada.

__ADS_1


"Hanya berdua?" EOuin mengedarkan pandangan. Sedikit kecewa, karena mengira Rakhan akan membawa beberapa bodyguard. Dia merasa Rakhan tidak menganggapnya lawan yang berat .


"Iya,"CEO Rakhan menyahut. "Kenapa? Lo berharap gue bawa siapa?" seringainya. Berhadapan dengan Eouin tidak perlu bawa banyak orang, batinnya.


"Tidak apa apa," Eouin mengangkat bahu. "Ayo ke ruangan ku," dia mengayunkan tangan ke bawah. Memberi isyarat CEO Rakhan untuk mengikutinya.


CEO Rakhan berjalan bersisian dengan Eouin. Sementara Taksa berjalan mengiringi mereka.


Ruang kerja Eouin bersebelahan dengan private room. Ruangan itu berisi perabotan minimalis. Hanya ada seperangkat kursi kerja dan meja dan sebuah sofa panjang untuk tamu.


Ruangan kerja itu minimalis karena Eouin jarang menerima tamu di ruangan kerja ini. Biasanya dia langsung membawanya ke dalam lab Eksperimen.


Eouin mempersilahkan CEO Rakhan duduk di sofa, sedangkan Taksa berdiri di samping CEO Rakhan.


"Ada urusan apa Lo ke sini?" tanya Eouin sembari duduk di sebelah CEO Rakhan. Wajah dinginnya terkesan polos. Tidak tahu apa apa.


"Mengambil apa yang menjadi milik gue," tandas CEO Rakhan lugas.


"Maksud Lo?" Eouin pura pura tidak mengerti.


Wah, CEO Rakhan sudah mengakui Chayra menjadi miliknya, gumam Taksa dalam hati.


"Gadis itu mungkin milik Lo tapi robot itu juga milik gue," sinis Eouin.


"Lo sudah menjual bagian saham Lo ke gue, jadi Lo ga ada sangkut pautnya lagi dengan robot itu," ungkit CEO Rakhan mengingatkan.


"Baiklah," Eouin mengalah. " Gue mau tanya, apakah Lo sudah tahu lama kalau robot itu bersama gadis itu atau baru saja setelah kejadian ini?" dia melontarkan pertanyaan. Menunggu jawaban Rakhan lalu membalas nya dengan kalimat menyombongkan diri.


"Gue juga mau tanya kenapa Lo berniat menculik Rhea Hadiyan? Salah sasaran?Sampai mengorbankan anak buah Lo?" balas CEO Rakhan menyindir.


"Setidaknya, gue lebih dulu tahu kalau robot itu di kirim ke Chayra Minara," tukas Eouin menyombongkan diri.


"Tapi salah mengira jika Chayra Minara adalah Rhea Hadiyan," gelak CEO Rakhan.

__ADS_1


"Bisa saja kan, itu nama lainnya," timpal Eouin tak mau kalah. " Di banding Lo, Chayra sudah di depan mata tapi tidak tahu kalau robot itu ada bersama dia," kekehnya tak mau kalah.


Ternyata benar, Eouin mengira Rhea adalah Chayra, batin CEO Rakhan. Tapi, setidaknya dia berhasil memecahkan password AR ekspedisi. Dia selangkah di depan aku, IT nya lebih unggul, kata hatinya lagi. Dia memang lebih berbakat di bidang IT, akunya dalam hati.


"Sudah basa basinya, mana gadis dan robot itu," tukas CEO Rakhan tak sabar.


"Sabar dulu lah, bro," Seringai Eouin. "Biar gue jadi tuan rumah yang baik dulu, mau minum apa?" tanyanya lagi. Dia berusaha mengulur waktu. Tadi dari Bluetooth yang di tempelkan di lubang telinga kanannya, Boris memberitahu jika gadis itu belum selesai di persiapkan.


"Tidak perlu," tandas CEO Rakhan cepat. Dia merasa curiga. Eouin tidak pernah seramah ini. Dia pasti menyembunyikan sesuatu. " Jangan menguji kesabaran gue," sambungnya ketus.


"Baiklah, " balas Eouin. Sepertinya Rakhan tidak bisa menunggu lagi. " Gue beri Lo pilihan, siapa yang lebih penting, gadis itu atau robot itu?" tanyanya.


"Maksud Lo apa? Keduanya sama pentingnya," balas CEO Rakhan cepat.


" Gue ga akan menyerahkan keduanya dengan gratis, Lo tau kan gue ini pebisnis," sambar Eouin dingin.


"Lo mau apa?" tantang CEO Rakhan.


"Gue mau robot itu, gadis itu boleh Lo bawa dengan percuma," jawab Eouin. " Tapi berikan dulu gue akses untuk membuka perintah pengaktifan robot," sambungnya lagi. " Selain dengan QR code, karena QR code hanya bisa di pindai dengan ponsel milik gadis itu dan robot itu juga sudah memindai wajahnya sebagai tuan robot," lanjutnya lagi. " Kalau Lo ga mau, robot dan gadis itu tetap di sini," dia mengakhiri kalimatnya.


"Gue tidak pernah memilih, siapa yang gue suka, itu jadi milik gue," balas CEO Rakhan angkuh. "Gue mau gadis dan robot itu," sambungnya tegas.


"Gue akan memaksa Lo untuk memilih," timpal Eouin. "Bawa gadis itu ke sini," dia menekan bluetooth di telinga kanannya.


"Lo ga akan bisa," kata CEO Rakhan . Bibirnya menyunggingkan senyum miring.


"Kita lihat saja," balas Eouin tenang. Apakah temannya ini akan tahan jika melihat gadis yang di sukai nya memohon untuk di selamatkan?


Tak sampai semenit, pintu ruangan berderit. Pintu di buka dari luar.


Semua mata yang berada di dalam ruangan, sontak menoleh ke arah pintu.


****

__ADS_1


Maaf ya readers, otor agak telat up date, karena sibuk di real life 🙏


__ADS_2