CEO Melankolis

CEO Melankolis
Bab 30: Kau Merusak Rencanaku!


__ADS_3

Orang yang ada dalam pikiran Rhea tengah bersembunyi di bawah kolong mobil BMW Touring Rhea. Dia berpegangan dengan erat pada kolong mobil Rhea.


Didi memang sengaja bersembunyi di sana. Belajar dari peribahasa Cina yang berbunyi, Tempat yang paling berbahaya adalah tempat yang paling aman. Tidak akan ada yang menyangka dia akan bersembunyi di sini.


Beruntung, dia pernah ikut pelatihan militer waktu di Afganistan ,sebelum menjadi tangan kanan Bos, jadi mencengkram kolong mobil untuk berapa lama,tidak jadi masalah buat dia.


Dalam keheningan parkiran basemen, tiba tiba Didi mendengar bunyi pintu mobil Rhea di buka lalu di tutup sedetik kemudian. Kemudian di susul dengan menyalakan mesin mobil.


Didi semakin erat mencengkram kolong mobil. Jangan sampai dia terjatuh ke bawah. Pandangan mata dia arahkan ke sisi kiri mobil, untuk mencari cari jalanan aman ,yang memungkinkan dia untuk berguling menyelamatkan diri.


Tidak berapa lama, begitu mobil keluar dari areal Apartemen Bougainville, Didi melihat di sisi kiri jalan ada sebuah parit yang di selimuti rumput. Dia segera melepaskan cengkraman jarinya, lalu berguling melewati kolong mobil. Dan mendarat dengan selamat di atas rumput.


Argh.. Didi mengeram sakit. Sepertinya dia merasakan nyeri di pergelangan tangan dan pinggangnya.


Dengan susah payah, Dia mengambil ponsel yang berada dalam kantong jaketnya. Dia akan menelepon Bos.


"Bos.." kata Didi begitu Bos mengangkat telepon. Dia segera mengabari keadaannya.


"Ya, kamu tunggu saja di sana,nanti kita jemput," balas Bos menyahut perkataan Didi. Kemudian dia mematikan ponsel.


"Nanti kita jangan masuk ke parkiran Hotel tapi lewat gerbang masuk apartemen Bougainville, lalu keluar dari gerbang keluarnya," perintah Bos pada pak Fendi


Masuk lewat gerbang masuk apartemen Bougainville lalu keluar dari gerbang keluarnya? Pak Fendi mencerna pelan pelan kalimat Bos dalam hati. Kenapa masuk terus keluar lagi? Bos kenapa ini ya? gumam Pak Fendi pelan.


"Kenapa Bos?" tanya Lio yang tak dapat menutupi rasa herannya.


"Menjemput Didi," tukas Bos dengan raut wajah berang. Kemudian dia menceritakan kembali apa yang di tuturkan Didi di telepon tadi. "Br*****k, dia mengacaukan semuanya," Bos memukul jok mobil dengan geram.


"Didi cedera? oleh gadis itu?" ulang Lio tak percaya. " Padahal gadis itu terlihat lemah lembut...." dia berhenti berkomentar karena wajah Bos terlihat makin suram.


Damn! Stupid! Foolish! Bos menceracau marah .


Lio bergidik. I hope you are safe, Didi! harapnya dalam hati .


*****


Di Gedung High World, lantai 9, di ruangan CEO, Chayra duduk terhenyak di atas sofa berlapis kulit punggung sapi yang berharga mahal.


Begitu Ivan, OB kantor, keluar ruangan setelah mengantarkan pesanan dari Miaw Miaw Cafe, CEO Rakhan langsung menyuruh Chayra duduk di sofa mahal itu. Chayra duduk dengan wajah bingung. Dia bertambah bingung setelah CEO Rakhan meletakan pesanan makanan itu ke atas meja.


"Habiskan!" perintah CEO Rakhan.

__ADS_1


"Ini untuk saya?" tanya Chayra terheran heran .


"Kamu yang pesan kan?" CEO Rakhan mengingatkan.


"Iya, saya, tapi kan anda yang menyuruh saya untuk..."


"Mau makan apa tidak?" sergah CEO Rakhan kesal. "Di suruh makan saja membantah terus ,apalagi di suruh kerja," omelnya jengkel.


"Eh iya, iya, saya makan," Chayra membuka Bungkus makanan yang terletak di atas meja itu.


"Makanan kesukaan kamu kan?" kata CEO Rakhan dengan suara menggoda. " Aku lihat kamu berliur waktu menawari aku menu itu," lanjutnya .


"Iya, kelihatan sekali ya?" balas Chayra malu.


"Karena kamu berliur itu aku jadi kasihan," CEO Rakhan menyeringai. " Minumannya jangan lupa di habiskan," dia menunjuk Betagros yang terletak di samping makanan. "Biar wajahmu itu terlihat sesuai umurmu," seringainya lebar.


"Iya, terimakasih," Chayra tidak membalas ejekan CEO Rakhan. Dia sedang tidak berdaya untuk bersilat lidah . Perutnya sudah terlalu lapar .


Dimana aku? Apa aku berada di ruangan yang salah? Kenapa sekarang CEO Rakhan terlihat begitu manis pada Chayra? Apa ini mimpi? Taksa mencubit telapak tangannya.


"Aw..." Taksa menjerit tertahan. Sakit. Ternyata ini bukan mimpi. "Maaf CEO, saya keluar dulu," dia meminta diri. Tidak ingin mengganggu kemesraan bos nya.


"Janji dengan Mr Smith, besok siang CEO," jawab Taksa. " Bukannya CEO yang meminta besok untuk bertemu," dia mengingatkan.


"Semua jadwal untuk dua hari di periksa ulang," perintah CEO Rakhan. " Selama kamu bekerja di cafe, aku akan di kantor saja," lanjutnya.


Taksa bekerja di cafe? Chayra yang tengah mengunyah makanan , menengadah ingin tahu . Kenapa asisten CEO perusahaan besar bekerja sambilan di cafe?


Aduh ini CEO, di pikir gampang re schedule ? Semua janji meeting sudah di persiapkan dengan teliti. Tidak mungkin bisa di ganti dengan seenaknya, rintih Taksa dalam hati.


"Cepat!" sentak CEO Rakhan. " Sebentar lagi sudah waktunya istirahat makan siang," sambungnya gondok, melihat Taksa berdiri termangu begitu.


Hanya tersisa beberapa menit lagi, mana sempat buat janji dengan Mr. Smith? Taksa mengeluh dalam hati. " Eh iya, Baik CEO," katanya patuh seraya mengeluarkan ponsel dari kantong kemejanya.


Dengan buru buru Taksa menelepon asisten Mr. Smith. Beruntung Mr. Smith tidak ada jadwal sampai sore. Sambil menarik nafas lega, Taksa membuat janji lunch di restoran favorit CEO Rakhan.


"Sudah CEO, saya sudah membuat janji di Ice Blue Restoran," lapor Taksa.


"Oke, ayo kita pergi," CEO Rakhan kembali ke meja kerjanya, mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja lalu memasukannya ke dalam kantong jasnya.


Melihat CEO Rakhan hendak pergi, Chayra buru buru berdiri. "Anda mau pergi, lalu saya bagaimana?" tanyanya bingung.

__ADS_1


Siapa yang tidak bingung berada dalam ruangan yang begini luas seorang diri? Mana ruangan di lantai 9 ini cuma ada pantry khusus CEO dan ruangan asisten CEO. Aku benar benar sendirian di lantai ini, desis Chayra lemas.


"Selesaikan dulu makan mu," CEO Rakhan menunjuk daging scallops yang menempel di bibir Chayra .


"Eh, iya," Chayra segera mengelap bibirnya dengan punggung tangan kanannya.


Astaga! Mata Taksa mencelang. Terbuka dengan lebar. Apa ini gadis yang di sukai CEO Rakhan? Lumayan manis, tapi table mannernya mengerikan.


"Selesai makan, kamu bersih bersih ruangan ini. Nanti Taksa akan memberitahu office girl untuk membawa peralatan kerjanya ke sini," ujar CEO Rakhan. "Ruangan ini sudah banyak debunya," sambungnya lagi.


Masa sih ruangan CEO banyak debunya? Chayra mengitari ruangan dengan matanya. Ruangan itu terlihat bersih mengkilap jernih, tanpa noda.


"Karpet di vacuum," CEO Rakhan menunjuk karpet yang di injaknya. " Kamar mandi juga jangan lupa di bersihkan, kasih wewangian," dia menjelaskan tugas yang harus di kerjakan Chayra.


Ruangan CEO ini kan tiap pagi di bersihkan , kenapa CEO menyuruh Chayra untuk membersihkannya lagi? Sebenarnya untuk apa Chayra di pekerjakan di kantor ini? Taksa menggaruk garuk rambutnya yang keriting.


"Baik, CEO, " balas Chayra. Dia tidak membantah. Hanya bisa pasrah. Utang 3 triliun sungguh membelenggu Harga dirinya.


Sebenarnya, CEO ini lumayan baik juga. Tadi membelikan dia makanan kesukaannya. Dalam hati, Chayra sedikit malu, sudah berprasangka jelek terhadap CEO Rakhan.


"Mari CEO," Taksa membuka pintu.


CEO Rakhan berjalan melewati pintu. Di susul Taksa di belakangnya.


********


Saat bersamaan di hotel Grand Duke, lantai 15 ,Room 28215, Bos sedang memelototi Didi yang masih tergolek lemas di atas sofa.


"Siapa yang menyuruh kamu menyerang dia?" Bos berkacak pinggang. "Use your brain to think," Bos melempar ponselnya ke dinding. Ponsel itu hancur. Semua spare part nya berguguran di lantai.


Semua yang ada di dalam kamar itu menundukkan wajah. Bos benar benar marah.


"Aku hanya menyuruh kamu untuk mengikuti dia, understand?" teriak Bos di telinga Didi.


Didi mengangguk. "Maaf Bos, saya tidak tahu," suaranya ketakutan. Dia belum pernah melihat Bos semarah ini.


"Kau mengacaukan semua rencanaku," kata Bos sambil mengambil sesuatu dari balik kantong jasnya. Sebuah pistol jenis Dessert Eagle. Pistol yang paling mematikan di dunia. Mampu membuat objek sasarannya tertusuk dan meledak.


" Ini terakhir kali kau berbuat salah, kesalahan berikutnya, ini bayarannya," Bos menempelkan pistol di pelipis Didi. " I Will blow up your brains out and peel it off," sambungnya dengan nada kejam.


Bos akan meledakkan o***ku dan mengu**snya? Didi mengigil ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2