CEO Melankolis

CEO Melankolis
Bab 127: Satisfying ( Memuaskan)


__ADS_3

Apa yang terjadi? batin Taksa heran begitu melihat halaman depan rumah Rhea di penuhi sekelompok orang. Bahkan ada sebuah mobil ambulans di parkir tak jauh dari depan pintu gerbang.


Dia segera melayangkan pandangan mencari Rakhan. Tapi sejauh mata memandang dia tidak menemukan bos nya itu. Dia hanya melihat CEO Farras tengah memeluk istrinya yang menangis.


Dengan bergegas dia mendatangi suami istri itu. Dia perlu tahu di mana CEO Rakhan berada. Demi kelangsungan hidup WT.


"Maaf CEO Farras, apa anda melihat CEO Rakhan? Saya tidak melihat dimana pun," katanya bertanya sopan.


"Di sana!" jawab Papa Rhea ringkas sambil menunjuk ke arah ambulans.


"Dimana?" tanya Taksa lagi. Dia tidak melihat CEO di dekat ambulans.


"Di dalamnya," sahut Papa Rhea sembari terus memeluk istrinya yang menangis. Hati beliau pedih melihat tangisan istrinya.


Di dalam ambulance? teriak Taksa dalam hati. " Apa yang terjadi? Kenapa CEO bisa berada dalam ambulance?" cecarnya bertanya.


"Sebaiknya kamu cari tahu sendiri. Sebelum ambulans itu berangkat ke rumah sakit," kata Papa Rhea singkat.


Beliau juga tidak tahu apa yang terjadi pada Rakhan. Beliau hanya melihat Rakhan terkulai di atas sofa dan Rhea menghilang. Dari petugas keamanan yang terbaring lemah di teras rumah, beliau di beritahu jika ada sekelompok laki laki berbadan tegap menerobos masuk kemudian membawa Rhea tanpa bisa mereka cegah.


Taksa buru buru melangkah mendekati ambulans itu. Dia melihat Rakhan terbaring lemah di atas ambulance strecher dan memakai ventilator manual untuk membantu pernafasan.


Ambulance strecher adalah tempat tidur yang alasnya terbuat dari bantalan bisa untuk memindahkan pasien ke dalam ruangan rumah sakit.


Ada apa ini? Kenapa CEO menjadi seperti ini? Bukankah beberapa jam lalu CEO baik baik saja? batin Taksa heran.


"Anda keluarganya?" tanya seorang laki laki berpakaian perawat.


"Saya asisten beliau," kata Taksa memperkenalkan diri.


"Silahkan naik ke dalam ambulans, kita akan membawa pasien ke rumah sakit," kata perawat itu memberi tahu.


"Baik," angguk Taksa cepat. Dia pun masuk ke dalam ambulans itu.


***


"Good! Satisfying," kata Efron begitu melihat Edward Cullen masuk ke dalam ruang tengah membopong Rhea.

__ADS_1


Sejak memutuskan tinggal beberapa lama di Jakarta, Efron pindah dari hotel Grand Duke lalu menyewa sebuah villa di atas gunung di kawasan Bogor.


Villa ini hanya satu satunya di atas gunung itu sehingga memudahkan beliau untuk menyusun rencana. Seperti menculik Rhea.


"Letakkan di sana!" tunjuknya pada sebuah sofa panjang yang berada tak jauh dari tempat beliau berdiri.


"Baik Tuan," jawab Edward Cullen cepat. Dia segera merebahkan Rhea dengan perlahan di atas sofa itu kemudian dia pergi begitu Efron menyuruhnya meninggalkan ruang tengah itu.


"Anakku," kata Efron sambil membungkuk ke arah Rhea. Dia membelai rambut Rhea dengan lembut.


"Mau apa kamu," sergah Rhea begitu dia membuka mata. Dengan sigap dia menepis tangan Efron yang masih membelai rambutnya.


"Sejak kapan kamu bangun?" tanya Efron takjub. Anak ini luar biasa. Bisa cepat sadar setelah di bius dengan kadar obat seperampat dosis lebih banyak dari orang bisa. Di perkiraan dia baru akan sadar malam hari nanti.


Hm, memang pantas jadi anakku, gumam beliau dalam hati.


"Baru saja!" Tukas Rhea seraya bangun dari sofa. " Kenapa Om menculik aku? Apa mau Om?" tandasnya marah. Dia hampir saja menjadi istrinya Rakhan jika tidak di kacaukan oleh orang tua itu .


"Jangan marah dulu," balas Efron santai. Anak ini sangat pemarah. Mirip dengan Eouin.


"Tentu saja aku marah! Gara gara om aku batal menikah dengan Rakhan," sergah Rakhan sebal.


"Rakhan sudah terbebas dari bubuk kristal putih itu?" ulang Rhea . " Tapi sebelum dia pingsan ,dia masih menganggap aku sebagai Chayra. Om jangan mengada Ngada," tukasnya kesal.


"Dia pingsan itu karena otaknya sudah tidak bisa mencerna keadaan. Dia butuh obat penawar,jika tidak, nyawanya dalam bahaya," balas Efron santai.


"Maksud Om apa?" tanya Rhea curiga. "Mama tidak mengatakan apa apa mengenai efek samping bubuk kristal putih itu. Om jangan membodohi aku," sambungnya tambah curiga.


"Mamamu juga baru aku kasih tahu," timpal Efron. Kemudian beliau menjelaskan efek samping bubuk kristal putih itu pada Rhea.


"Apa?" teriak Rhea kaget. Dia menutup mulutnya. "Apa Om bisa menyelamatkan Rakhan?"


"It' s easy ( itu mudah)," seringai Efron. "Aku juga bisa membuat dia selamanya dengan Kamu. Ingatan tentang Chayra bahkan tidak pernah muncul dalam ingatan Rakhan," lanjutnya menyakinkan.


"Apa? Om yakin?" ujar Rhea tak percaya. Orang ini bisa menghapus ingatan Chayra di otaknya Rakhan?


"Ya," Efron mengangguk.

__ADS_1


"Apa imbalannya?" tanya Rhea cepat. Orang ini membantu tentu menginginkan sesuatu. Tidak mungkin dia membantu dengan cuma cuma.


"Seperti yang sudah kamu tahu, aku ingin menikahi mamamu dan kamu mengakui aku sebagai ayah kandungmu," timpal Efron memberikan syarat.


Apa? Mata Rhea terbuka lebar. Orang ini sudah gila!


*"****


"Kamu?" tunjuk Chayra tak percaya. "Oh ya, tentu Damon memasukkan nomor ponsel kamu ke nomor darurat di SIM card nya Damon," katanya lagi setelah menyadari.


"Ayo ikut aku," balas Lio, laki laki yang datang itu.


"Aku tidak mau. Kamu pasti akan membawa aku ke tempat Damon," tolak Chayra.


"Tentu saja ke tempat dia. Bukankah dia adalah calon suami kamu?" balas Lio tak mengerti.


"A-k-u T-id-a-k m+a-U!" tolak Chayra lebih tegas. Bagaimana mungkin aku kembali lagi pada Damon setelah menjalani perjalanan panjang ini? batinnya tak rela.


"Harus mau!" balas Lio tak kalah tegas. Dia menarik tangan Chayra dengan kencang. " Ikuti aku!" perintahnya.


"Lepaskan dia!" sebuah suara seorang laki laki membuat tangan Lio yang sedang menarik tangan Chayra menjadi kaku.


****


Suara langkah kaki berat masuk ke ruang tamu. Tanpa melihat ,ayahnya Chayra sudah tahu jika itu langkah kaki mantan mertuanya.


"Aku tidak akan menukar surat perwalian itu dengan saham orang tua grup!" kata Pak Bisma sesaat wajah beliau muncul di ruang tamu.


"Anda jangan langsung menolaknya," timpal Pak Agung bermanis mulut.


"Saham orang tua yang ada padaku, telah aku pindah namakan atas nama Chayra," jelas pak Bisma.


Apa? Mata Pak Agung terbelalak. Lima puluh persen saham orang tua grup sekarang menjadi milik Chayra?


"Tinggalkan surat perwalian itu lalu kamu pergi!" perintah Pak Bisma.


"Tunggu dulu,Pak," jawab Pak Agung cepat. " Kita belum selesai bernegosiasi," sambungnya lagi.

__ADS_1


****


Maaf ya readers,otor telat up date. Di karenakan otor sedang sakit🙏


__ADS_2