
Brak! Pintu ruangan kerja Efron di buka bergegas.
"Bagaimana, Om? " ujar Rhea begitu dia masuk ke dalam ruangan.
Huh, anak ini, sangat menganggu dan tidak sopan, dengus Efron dalam hati. "Ada apa? " jawab beliau sambil mematikan laptopnya.
Beliau sedang mengadakan rapat dengan jajaran direktur Clouds melalui zoom meeting.
"Apakah Om sudah mendapatkan berita tentang Rakhan? Apakah Om sudah berhasil menyuntikkan dosis tambahan obat peluntur ingatan? " cecar Rhea tak sabar.
Ugh, anak ini, desis Efron dalam hati. Jika tidak mengingat Euoin masih terbaring koma di ruangan ICU dan Cloud butuh pewaris, mungkin beliau akan memikirkan untuk mengenyahkan gadis berisik ini.
Dan juga ada Aleaasaa yang membuat beliau bertahan dengan kehadiran Rhea yang begitu menguras kesabaran beliau.
"Belum, " jawab beliau singkat.
"Belum? Kenapa belum? Ada kendala apa? " teriak Rhea dengan suara tinggi.
"Pengawalan di gedung WT dan juga di rumahnya sangat ketat . Tidak ada yang bisa masuk ke dalamnya, " urai Efron.
" Lalu bagaimana jika Rakhan mengingat semuanya? " tanya Rhea dengan raut muka cemas.
" Untuk sementara ini dia tidak akan mengingatnya, " timpal Efron menenangkan.
"Lalu apa tindakan Om selanjutnya? " tanya Rhea tak sabar.
"Dari drone yang di kendalikan Mike Morris, terlihat ada beberapa mobil menuju daerah di pinggiran Jakarta, menuju pemukiman elit... " beber Efron memberitahu.
"Daerah di pinggiran Jakarta... perumahan elit, hanya ada satu perumahan elit di sana, itu perumahan tempat tinggal Rakhan! " teriak Rhea. " Apa maksud Om, Chayra di bawa pergi oleh Rakhan? "
"Seperti nya begitu, " timpal Efron mengangkat bahu.
"Heh, kamu mau kemana? " teriak beliau begitu Rhea pergi meninggalkan ruang kerja nya tanpa pamit.
"Tentu saja pergi ke rumah Rakhan. Jika Rakhan belum mengingat Chayra, dia pasti masih menganggap aku sebagai calon istrinya, " jawab Rhea. Tangannya memegang gagang pintu.
"Aku masih punya kesempatan untuk memberikan dosis tambahan obat peluntur ingatan itu! " lanjutnya tegas.
*****
Tok... tok..
Taksa mengetuk pintu depan. Dia tidak mau mengambil resiko untuk langsung membuka pintu. Takut melihat hal hal yang tidak di inginkan.
"Masuk! " terdengar suara Rakhan dari dalam rumah.
__ADS_1
"CEO, mobil Damon sudah berada di depan gerbang, " lapor Taksa begitu dia membuka pintu. Dia melihat Rakhan dan Chayra duduk di atas sofa tapi dengan jarak yang berjauhan.
Tapi entah kenapa dia melihat reaksi aneh dari wajah Chayra dan Rakhan yang tampak kaku.
"Suruh saja dia masuk, aku ingin lihat apa yang akan di lakukannya, " jawab Rakhan dengan suara tenang yang membuat bulu kuduk Taksa merinding.
"Baik, CEO, " angguk Taksa. " Apakah saya sudah boleh kembali ke kantor? Ada banyak pekerjaan yang masih terbengkalai, " lanjutnya.
"Kamu tetap di sini! " perintah Rakhan.
Waduh, aku harus melihat perkelahian antara dua orang love rivals, pesaing cinta, desis Taksa dalam hati . Ngeri sekali!
"Baik, CEO, " angguknya pasrah. Dia menutup kembali pintu dengan pelan.
"Calon suami kamu sudah datang, " kata Rakhan sambil berjalan mendekati Chayra yang duduk di atas sofa.
"Apa kamu ingin ikut dengan dia? " tanyanya ingin tahu.
"Aku sebagai tahanan kamu, apakah aku bisa memilih? " balas Chayra.
Kenyataan Rakhan belum mengingat dirinya membuat hatinya sakit. Meski dia tahu itu karena efek obat peluntur ingatan yang di berikan Rhea tetap saja hatinya merasa sakit.
"Bagaimana kalau aku tidak mengizinkannya?" kata Rakhan menguji perasaan Chayra.
"Karena aku merasa sayang jika kamu menikah dengan laki laki itu," bisik Rakhan di telinga Chayra.
"Meski aku tidak mengingat apa hubungan kita selama ini, tapi tubuhku suka dengan kamu," lanjutnya berbisik yang serta Merta membuat wajah Chayra memerah.
"Kamu yang sudah memaksa aku!" teriak Chayra menahan malu.
"Tapi kamu tidak menolak. Kamu juga suka kan?" bisik Rakhan merasa senang. " Jika Taksa tidak mengetuk pintu mungkin kita sudah tidur bersama," lanjutnya.
"Jangan bicara lagi!" ujar Chayra melengos. Dia mengutuk tubuhnya sendiri yang tidak mengelak menerima sentuhan dari Rakhan.
Hah, kenapa aku membiarkan tangan dan bibir laki laki itu merajai tubuhku? sesalnya dalam hati.
"Mungkin memang kita pernah ada hubungan," kata Rakhan sambil mengerutkan dahi.
"Bersama dengan Rhea aku tidak memiliki hasrat apapun. Aku bahkan tidak mengingat pernah menciumnya seperti aku mencium kamu," urainya heran.
"Bisa tidak untuk jangan membahasnya lagi?" pinta Chayra sebal.
"Baiklah," senyum Rakhan. Dia menjauhkan wajahnya yang tampan.
Tok..tok..pintu di ketuk lagi.
__ADS_1
"Masuk!" perintah Rakhan. Dia berjalan kembali ke sofa tempat dia duduk.
"Rapihkan baju kamu!" katanya pada Chayra.
Chayra buru buru menunduk kan kepala. Dia melihat beberapa kancing gaun pengantinnya terbuka. Dia segera memakaikan kembali kancing bajunya.
"CEO, saya datang bersama Damon. Dia ingin bertemu dengan anda," kata Taksa begitu dia membuka pintu.
" Tidak usah basa basi, aku datang menjemput pengantin ku!" sentak Damon marah.
"Beraninya menculik pengantin aku di acara pernikahanku!" geramnya.
Hih, ngeri, desis Taksa dalam hati. Dia ingin keluar dari ruangan ini. Tapi tak bisa. Pekerjaannya sebagai taruhannya.
"Bagaimana jika aku tidak mau?" tantang Rakhan santai. Dia berdiri dari sofa.
"Apa kamu mau lapor polisi?" tanya nya.
"Lapor polisi? Tentu tidak. Semua tahu kamu memegang semua kekuasaan ,tidak hanya di kota ini tapi juga di negeri ini. Aku tidak akan membuang energi ku untuk melakukanya," balas Damon berusaha tenang.
"Tapi jangan salahkan aku jika aku tidak sungkan pada kamu!" sentaknya sambil mengeluarkan sebuah pistol dari kantong celana nya.
What? Mata Taksa terbelalak. Kenapa harus ada adegan kekerasan di sini?
"Damon jangan," pinta Chayra. " Kamu tidak perlu melakukannya. Aku akan ikut dengan kamu," sambungnya sambil berdiri dari sofa.
"Siapa yang mengizinkan kamu pergi dari sini?" tukas Rakhan cepat. Dia bergerak secepat kilat ke arah Chayra lalu memeluk gadis itu sekuat tenaga.
"Lepaskan calon istriku!" hardik Damon marah. "Kamu tidak pantas untuk dia!" Ujarnya sambil menodongkan pistol.
"Biarkan aku pergi, untuk keselamatan kamu," bisik Chayra.
"Tidak," jawab Rakhan bersikeras.
"Lepaskan Chayra!" kata Damon sambil terus berjalan mendekat.
Astaga, bagaiman ini? gumam Taksa resah. Dia menatap Rakhan berusaha mencari arahan. Namun Rakhan sama sekali tidak melihat ke arahnya.
"Tidak!" balas Rakhan dengan keras kepala. Meski dia tidak mengingat Chayra, tapi dia merasakan jika gadis itu adalah orang penting baginya. Dan dia tidak mau kehilangan gadis ini.
"Jangan salahkan aku!" geram Damon kesal. Dia mulai menarik pelatuk pistolnya. Membidik dengan tepat ke arah jantung Rakhan.
****
Maaf ya readers, otor lama tidak up, di karenakan anak otor masuk rumah sakit dan harus di rawat beberapa hari di sana🙏
__ADS_1