
"Arghh..." Chayra menjerit. Beberapa serpihan kaca itu ada yang mengenai dirinya. Dia tidak sempat bergerak menghindar.
Eouin segera berlari ke depan kotak kaca, berusaha menjangkau Chayra. Namun, dia kalah cepat dari gerakan Damon.
Damon meraih pinggang Chayra dengan tangan kanannya, mendekap ke dadanya dengan erat. Kemudian dalam sekali sentakan, dia membawa Chayra melayang ke atas. Melewati plafon yang dia hancurkan dengan kepalan tangan kirinya.
"Da..Damon?" kata Chayra ngeri. Kenapa Damon tiba tiba menjelma bak iron man?
"Putri jangan bergerak jika tidak ingin jatuh," balas Damon mengingatkan.
"I..iya,"Chayra menurut. Dia memicingkan mata sembari batinnya sibuk berdoa. Minta keselamatan diri.
Damn! Eouin menendang pinggiran kaki meja. Kesal. Marah. Robot itu bisa melarikan diri dengan sangat mudah. Padahal daerah ini tidak bisa menerima sinyal dari luar. Seharusnya robot itu langsung mati. Tapi kenapa ini tidak?
"Apa saja yang sudah kalian dapatkan?" Eouin menoleh ke sisi kiri dan kanan, tempat para peneliti berdiri.
" Belum dapat apa apa, Pak," Boris menyahut, mewakili para bawahannya.
"Sial!" Eouin menggebrak meja. Semua peneliti menundukkan wajah. Takut melihat kemarahan Eouin. " Apa yang kau dapatkan?" serunya pada Lio.
"Tidak banyak, " sahut Lio merasa kecewa. "Robot itu memiliki milyaran sel syaraf otak yang menyerupai manusia. Otaknya memiliki sistem neuromorfis. Dia bisa bertindak secara mandiri dengan otak digitalnya, bukan layaknya robot yang di program , ini bukan robot biasa,Bos," sambungnya dengan mimik ngeri.
Mengenai robot yang memiliki sistem neuromorfis ini, otor terinspirasikan dari tesis seorang dosen di universitas Petra,Surabaya.
What? Eouin mengernyit. Dulu, dia dan Rakhan memulai membuat robot 081212 dari prototipe 2012, dengan gagasan awal ,membuat robot ramah lingkungan yang akan di program membantu manula.
Hal mana yang membuat Eouin dan Damon, kepala peneliti di Lab World Tech, merasa geli.
Tiga tahun kemudian, Eouin memutuskan hengkang dari World Tech karena tidak memiliki kesepahaman dengan Rakhan. Dia menginginkan memproduksi pasukan robot yang akan menggantikan fungsi tentara sebagai penjaga kedaulatan negara. Dia akan membuat robot yang eksesif, yang super canggih dan tidak memiliki kelemahan.
Namun, Rakhan tetap berpegang teguh pada misi mulianya. Membuat robot sebagai teman manula. Yang bisa menemani berjalan jalan atau menggantikan popok.
Lalu kenapa sekarang robot itu bisa seganas itu dan mampu melayang terbang di udara? Apa Rakhan sudah berganti misi? Melihat peluang mengeruk keuntungan lebih banyak jika memproduksi robot super? dia menduga duga.
Eouin mengeluarkan ponsel dari kantong celana panjangnya. " Aku menginginkan robot itu, tangkap dia," ucapnya dingin.
"Siap , Bos," Arthur Cony, pemimpin pasukan Mercenaries, menjawab perintah Eouin.
****
Grrrr...CEO Rakhan mengaduk aduk rambutnya. Dia di landa keputusasaan. Barusan, Dr.Thompson mengabari jika HPI microchip tidak terdeteksi lagi. Terakhir di ketahui subjek berada di kota L dalam perjalanan menuju kota P.
__ADS_1
"Dia menghilang di 106o48'28" - 107o27'29" BT, 6o10'6" - 6o30'6" LS," kata Dr. Thomas memberitahu .
CEO Rakhan segera menelepon Samuel untuk mencari tahu lokasi nya. Samuel mengatakan kalau itu sebuah daerah terpencil di pedalaman di Negara S, daerah yang tidak bisa di jangkau oleh jaringan internet. Daerah yang di tutupi oleh sebuah mangkuk virtual yang menghalangi gelombang elektromagnetik yang di pancarkan oleh internet.
"Eouin," desis CEO Rakhan. "Tidak bertemu selama 3 tahun, kemampuan teknologi nya semakin berkembang, bahkan mampu memblokir jaringan internet untuk satu daerah," geramnya.
"CEO, Pak Jalled ingin bertemu," Taksa membuka pintu ruangan CEO.
Ini lagi, dengus CEO Rakhan. "Suruh masuk," perintahnya.
"Selamat pagi, sobat," Jalled menerobos masuk. "Wajah Lo kusut amat, makan yuk," ajaknya ceria. Hari ini, dia akan menjadi salah satu pemilik World Tech.
"Iya, makan kepala Lo," dengus CEO Rakhan. " Hari ini urusan kantor kamu yang handle," katanya pada Taksa yang masih berdiri di depan pintu.
Again?? Taksa ingin memasang wajah keberatan tapi tak berani. "Siap, CEO," angguknya. "Permisi," dia pamit lalu menutup pintu.
"Perjanjian dua hari yang lalu bagaimana?" Jalled menarik kursi yang tersedia di hadapan meja kerja CEO Rakhan.
"Oh ,itu ya?" CEO Rakhan menjawab santai. " Baca ini," dia meletakkan sebuah map di depan Jalled.
"Sudah Lo persiapkan ?" Jalled merasa takjub. Tak di sangka, Rakhan semudah itu menyerah.
"Okay, it's up to you," kata Jalled sembari membuka map itu. "Gue janji akan berusaha memajukan perusahaan kita ..apa ini?" senyum sumringahnya berganti senyum kecut.
Mata Jalled nanar saat melihat tulisan yang terdapat di atas kertas.
"Account most (dana) : 50 miliar, meminjam pada fasilitas trading limit: 10 miliar, forced sell..." Jalled mengangkat muka. " Lo dapat dari mana ini?" tanyanya panik .
Forced sell yaitu jual paksa saham karena kewajiban aset turun.
" Hacker," pungkas CEO Rakhan singkat .
"Baiklah, gue nyerah," Jalled menutup map itu. " Gue terima pinjaman modal dari Lo," putusnya kemudian.
"Pinjaman itu sudah kadaluwarsa," tegas CEO Rakhan. " Sejak Lo meminta 20 persen saham World Tech," sambungnya. "Silahkan keluar," dia menunjuk ke arah pintu.
"Setidaknya Lo ingat pertemanan kita," kata Jalled memelas.
"Justru gue ingat Lo teman lama gue, Lo gue ijin kan pergi, kalo ga, gue udah laporin Lo ke polisi atas tuduhan, mengancam dan pemerasan, " CEO Rakhan menimpali dengan wajah dingin.
"Okay," Jalled berdiri dari kursi. "Lo akan menyesal sudah memperlakukan gue seperti ini," dia mengancam .
__ADS_1
"Silahkan," CEO Rakhan menunjuk pintu keluar.
Jalled menuju kearah pintu dengan ekspresi muka marah. Aku akan mengingat penghinaan ini, dendamnya dalam hati.
Sesaat setelah Jalled keluar dari ruangan, CEO Rakhan mengambil ponsel dari atas meja. Dia menelepon Samuel, memberinya tugas untuk mencari informasi mengenai orang yang bernama Ethan Joseph.
*****
"Masih lama kah?" tanya Chayra.
Dia merasa pusing. Tangan dan kakinya yang terkena serpihan kaca mulai terasa perih. Badannya juga merasa dingin.
"Sebentar lagi sampai, Putri," balas Damon. "Aktifkan navigasi, mulai mencari lokasi.." perintahnya pada otak digitalnya.
Aktifkan navigasi? Chayra melotot. " Jadi dari tadi kamu belum mengaktifkan navigasi?" protesnya keras . Aku melayang layang di udara tanpa tahu mau di bawa kemana?
"Sudah ,putri. Tapi navigasi tidak bisa di aktifkan, sepertinya tidak ada sinyal," Damon membela diri.
"Lah, kenapa tadi mereka bisa memakai komputer?"tanya Chayra heran. Dia ingat bagaimana Lio mencari informasi dirinya melalui internet.
"Mereka memblokir jaringan internet dari luar, Putri. Sepertinya, mereka memiliki jaringan internet sendiri," jawab Damon.
"Terus sekarang bagaimana ini?" Chayra nyaris berteriak frustasi. Seandainya tahu begini jadinya, lebih baik bersama bos kejam itu. Setidaknya dia masih menapak tanah. Bukannya melayang layang tidak jelas di angkasa.
"Saya akan memakai intuisi saja ,Putri," ujar Damon menenangkan.
Intuisi? Chayra mengernyit. Sejak kapan robot punya intuisi? Intuisi atau firasat bukannya milik manusia?
"Sudah Sampai, Putri," ujar Damon mengagetkan Chayra. " Kita akan turun di sana," dia menunjuk sebuah rumah minimalis yang terletak di ujung blok.
"Ru..rumah siapa itu?" Chayra bertanya gugup.
"Rumah tempat saya di buat," jawab Damon.
"Kamu di buat di sebuah rumah? Aku pikir kamu di buat di laboratorium yang canggih dan keren," timpal Chayra heran. "Orang yang membuat kamu pasti super jenius," sambungnya kagum.
"Saya tidak tahu, saya tidak pernah bertemu dengannya," jawab Damon. " Kita akan mendarat, Putri," lanjutnya memberitahu.
Chayra mengangguk lega. Akhirnya, dia bisa menjejakkan kaki di tanah juga.
Baru Chayra memijakkan sebelah kaki di tanah, sebutir peluru datang ke arahnya. Melesat kencang bak anak panah.
__ADS_1