CEO Melankolis

CEO Melankolis
Bab 122: Aku akan menikah dengan Chayra


__ADS_3

"Kenapa kamu mengikuti kami?" toleh Rhea sambil berjalan menggandeng Rakhan menuju basement, dimana mobilnya sedang di parkir.


"Anda akan membawa CEO kemana?" tanya Taksa . " Pekerjaan CEO masih banyak," lanjutnya. Termasuk membawa Chayra pergi dari Pak Bisma, batinnya.


"Sekarang pekerjaan CEO sudah selesai," putus Rhea. " Bukankah begitu sayang?" katanya pada Rakhan yang berdiri kaku di sebelahnya.


"Ya," angguk Rakhan. " Ayo kita pergi ke suatu tempat," sambungnya.


"Tapi CEO, pekerjaan anda belum selesai," kata Taksa mengingatkan.


"Kamu selesaikan sendiri," kata Rakhan. Wajahnya menoleh dingin. Berani sekali Taksa menganggu saat aku bersama Chayra, batinnya.


"Kamu masih mau menjadi asisten CEO?" katanya menandaskan.


"Baik CEO," jawab Taksa patuh. Ada apa dengan CEO? Kenapa jadi aneh begini? Bukannya CEO tidak menyukai Rhea? Kenapa sekarang tiba tiba begitu patuh pada gadis itu? batinnya bingung.


Keheranan yang sama juga di rasakan Damon yang begitu Rakhan muncul , langsung bersembunyi di balik pohon rindang tak jauh dari tempat Rhea berdiri.


Namun dia tak ambil pusing dengan perubahan sikap Rakhan. Justru merasa senang. Karena dengan begitu, dia tak akan menemui penghalang untuk mendekati Chayra.


Begitu Taksa berbalik arah menuju gedung WT, dia menelepon Kevin menanyakan kelanjutan penyelidikan nya.


"Belum ketemu Pak," jawab Kevin melalui earphone yang terpasang di telinga kanannya .


Dia masuk ke dalam gedung WT dengan menyamar menjadi office boy.


"Sudah periksa ruangan CEO?" tanya Damon.


"Saya tidak bisa ke ruangan CEO,Pak. Ruangan CEO terletak di lantai 9," jelas Kevin.


"Ya, sudah, kamu keluar dari sana," perintah Damon.


"Siap ,Pak," kata Kevin lega. Dia memalingkan pandangan ke arah sekitar. Saat melihat tidak ada orang, dia masuk ke dalam ruangan peralatan dimana seorang office boy tergeletak.


Dia membuka seragam office boy lalu melemparkan ke samping tubuh office boy yang masih terkulai lemas itu.


Sementara itu, Damon masih berada di luar gedung WT. Dia tidak berniat untuk pergi sebelum bertemu Chayra.


Hah, tidak ada jalan lain, gumamnya. Terpaksa meminta bantuan dia, batinnya lagi.

__ADS_1


***


Taksa melangkah memasuki gedung WT dengan perasaan galau. Dia mengalami stres level maksimum. Bagaimana tidak stres? Chayra terbaring di dalam ruangan CEO, sedangkan CEO sendiri malah pergi bersama Rhea. Belum lagi ada beberapa meeting dan perjanjian bisnis yang membutuhkan kehadiran CEO.


Saat hendak memasuki lift menuju lantai 9, dia berpapasan dengan seorang office boy yang keluar dari ruang penyimpanan peralatan dengan wajah linglung.


Office boy itu bahkan nyaris menabrak Taksa.


"Kamu tidak apa apa?" tanya Taksa kuatir.


"Maaf Pak," jawab office boy itu gelagapan.


Taksa mengangguk tanpa bersuara. Pikirannya kembali kepada masalah CEO yang sekarang mendadak jadi masalah nya.


Tunggu, office boy itu keluar dari ruangan penyimpanan tapi dia tidak membawa apa apa, kan masih jam kerja, gumamnya seakan tersadar. Dia berhenti berjalan.


"Pekerjaan kamu sudah selesai?" tanyanya sambil menoleh ke belakang.


"Belum pak," jawab office boy itu. " Saya sedang mencari carry Caddy saya," lanjutnya.


Carry caddy adalah sebuah kotak yang di gunakan untuk menyimpan berbagai peralatan serta pembersih yang biasa di gunakan oleh office boy.


"Maksudnya kamu kehilangan carry Caddy?" tanya Taksa heran. Bagaimana bisa seorang office boy kehilangan carry caddy? Carry Caddy adalah nyawa seorang office boy.


Ini aneh, pasti ada seseorang yang tadi sempat menyamar menjadi office boy untuk masuk ke WT, gumam Taksa. "Ya ,sudah, kamu cari saja carry caddynya," perintahnya.


"Ya, Pak," angguk office boy itu.


Taksa berjalan menuju lift umum. Dia menekan lantai 3. Menuju ruangan kontrol.


***


"Kamu akan membawa aku kemana?" tanya Rakhan begitu dia masuk ke dalam mobil Rhea.


"Ke KUA," jawab Rhea sambil meletakkan ponsel ke atas dashboard.


Dia baru saja selesai menelepon ibunya. Dia meminta ibunya untuk bergegas mempersiapkan pernikahannya. Yang terpenting mengikat Rakhan secara agama dan negara. Untuk pesta pernikahan bisa menyusul kemudian.


"Maksudnya kakek mu sudah setuju kamu menikah dengan aku?" tanya Rakhan tak percaya.

__ADS_1


"Ya," jawab Rhea sembari menyalakan mesin mobil.


"Apa kamu bisa meminta asisten kamu untuk mempersiapkan dokumen pernikahan? Seperti surat pengantar RT dan RW?" lanjutnya.


"Bisa," jawab Rakhan. " Kamu juga sekalian ambil dokumen untuk mengurus pernikahan, biar Taksa yang mendaftar ke KUA," sambungnya lagi.


Incredible! Tak bisa di percaya! Akhirnya pak Bisma setuju menikahkan Chayra dengan aku! batinnya dengan perasaan bahagia.


"Ehm, tidak usah, biar aku saja yang urus," elak Rhea. Dia takut jika Rakhan melihat dokumen pernikahan itu atas nama dirinya, Rakhan akan tersadar. Dia tidak tahu sampai kapan efek bubuk kristal putih itu bisa membuat Rakhan menurut padanya.


"Kamu kan banyak pekerjaan," sambungnya untuk menghindarkan kecurigaan Rakhan.


"Mana ada artinya pekerjaan aku di Banding kamu. Kamu itu lebih berharga," kata Rakhan sambil membelai jemari Rhea.


"Eh, iya, tapi aku tidak bisa membuat kamu repot," timpal Rhea.


"Ya sudah kalau kamu bersikeras," jawab Rakhan mengalah. Dia merogoh saku kemejanya untuk mengambil ponselnya. Dia menelepon Taksa.


Sementara itu,Taksa sedang berada di dalam ruang kontrol untuk mengamati kamera CCTV. Setelah melihat semua rekaman CCTV di semua lantai, akhirnya dia melihat hal yang mencurigakan.


Seorang laki laki memukul pundak office boy itu lalu memasukkan nya ke dalam ruang penyimpanan. Tak lama orang itu keluar dengan memakai seragam office boy. Terlihat orang itu berada di semua lantai WT, kecuali lantai 9. Gelagat nya sangat mencurigakan. Seperti sedang mencari seseorang.


"Minta Pak Samuel untuk mencari identitas laki laki itu," perintah nya pada Aghas Pratama, kepala ruang kontrol.


"Baik, Pak," angguk Aghas.


****


"Rhea ini," omel Mama Rhea. " Bagaimana bisa mengurus dokumen pernikahan secara mendadak? Pusing!" sambung beliau sambil menepuk kening.


Tapi jika tidak menikahi Rakhan dengan cepat, siapa yang tahu sampai kapan Rakhan akan menurut pada Rhea. Kecuali Tuhan dan tentu saja si Efron itu.


Efron! Mama Rhea seakan tersadar. Haruskah aku minta bantuan dia lagi?


****


dert...dret...Ponsel Taksa yang berada dalam kantong kemejanya bergetar. Dari CEO Rakhan, gumamnya heran .


"Apa?" dia tak kuasa berteriak begitu Rakhan menyuruhnya untuk mengurus dokumen pernikahan.

__ADS_1


"Maaf CEO, apa anda serius untuk menikahi Nona Rhea Hadiyan?" tanyanya mengingatkan.


"Ngawur!" sentak Rakhan. " Aku tidak mungkin menikahi Rhea. Siapa yang mau menikah dengan dia? Yang ingin aku nikahi itu Chayra!" tegasnya.


__ADS_2