
"Kamu?" tunjuk nya heran. " Apa kamu sudah mengingat aku?"
"Belum," geleng Rakhan. Dia duduk dengan penuh kharisma di atas sofa di seberang Chayra.
Chayra mengalihkan mata dari tatapan Rakhan yang penuh selidik. Tatapan itu membuatnya salah tingkah.
Dia menatap ruangan di sekitar nya. Dia mengenali tempat itu sebagai ruang tamu di rumahnya Rakhan.
"Kalau kamu tidak mengingat aku untuk apa aku di bawa ke sini? Biarkan aku kembali. Aku akan menikah! " tegasnya.
"Apa kamu sungguh ingin menikahi laki laki itu? " timpal Rakhan ingin tahu. " Bukankah kamu mencintai aku? "
"Aku sudah memutuskan untuk melupakan kamu! " tukas Chayra.
"Benarkah? " balas Rakhan tak percaya. Dia bangun dari sofa lalu berjalan menuju dekati Chayra.
"Kamu mau apa? " ujar Chayra waspada. Dia menutupi tubuhnya dengan tangannya. Berjaga jaga jika Rakhan berani menyentuhnya.
"Aku hanya ingin tahu, " kata Rakhan dengan suara nya yang berat dan dalam.
"Ingin tahu apa? " balas Chayra.
Rakhan tidak menjawab. Wajahnya menunduk dan tiba tiba bibirnya mencium bibir Chayra.
Chayra terkejut. Dia ingin melawan namun Rakhan memperdalam ciumannya.
"Putri! " teriak Damon kaget. Dia melihat Chayra dalam bahaya. Dia segera menghambur ke arah Rakhan. Tangannya mengepal bersiap memukul kepala Rakhan.
Huh, Rakhan menggeram. Dia mengeluarkan sebuah pistol dari kantong celana. Lalu tanpa melihat, dia menembakkan sebuah peluru ke arah belakang.
Bugh! Damon terlempar beberapa meter. Di kepala nya bersarang sebuah peluru. Dia terkulai lemas.
"Apa yang kamu lakukan padanya? " teriak Chayra. Dia memukul tubuh Rakhan secara spontan.
"Itu hanya peluru bius. Dia tidak mati. Hanya tertidur, " jawab Rakhan sambil menahan tangan Chayra dengan sebelah tangan, sementara tangan yang lain tengah memasukkan pistol kembali ke kantong celana nya.
"Robot itu menganggu aku, " lanjutnya membela diri.
"Kenapa kamu lebih kuatir pada robot itu? " tanyanya heran.
"Karena hanya dia yang paling perduli padaku, " sahut Chayra.
"Lepaskan tanganmu, kamu menyakiti aku, " pintanya sambil meringis.
Rakhan melepaskan cengkeraman tangannya pada tangan Chayra.
"Kalau kamu sudah selesai, bawa aku kembali, " pinta Chayra.
__ADS_1
"Aku belum selesai, " jawab Rakhan pendek.
"Kamu mau apa? Awas kalau berani cium lagi! " kata Chayra kesal.
"Kamu begitu menggemaskan. Kenapa aku bisa melupakan kamu? " tanya Rakhan tak habis pikir.
"Karena Rhea memberimu obat, " tandas Chayra. " Apa lab biologi WT tidak memberitahu kamu? " tanyanya juga ingin tahu.
"Ya, mereka juga memberitahu kalau mereka belum menemukan penawarnya, " jawab Rakhan muram.
"Karena itu aku ingin bertemu kamu, siapa tahu jika kita berduaan , aku akan mengingat sesuatu, tapi aku tidak ingat apapun. Bahkan saat aku mencium kamu, aku juga tidak merasakan apapun, " lanjutnya panjang lebar.
Deg, jantung Chayra serasa berhenti berdetak. Dia merasa lemas. Rakhan ternyata benar benar telah lupa padanya.
"Kenapa juga aku mengikuti saran Pak Rangga, " desis Rakhan putus asa.
"Pak Rangga? Maksud kamu... "
"Iya, Pak Rangga yang Om kamu itu. Kata beliau, jika aku meluangkan waktu berduaan dengan kamu, aku akan mengingat sesuatu, " kata Rakhan.
"Berarti sekarang semuanya sudah berakhir, kamu tidak perlu menahan aku di sini, " kata Chayra dengan suara pilu.
"Kata Rhea kamu mengejar ngejar cinta aku, apakah itu betul? " tanya Rakhan ingin tahu.
"Rhea mengatakan begitu? " tanya Chayra heran.
"Dan kamu percaya? " tukas Chayra.
"Ya, kamu mengirimkan buket bunga alastromeria, " jawab Rakhan. "Kamu yang mengirimkan buket bunga itu kan? "
"Ya aku, eh... kamu ingat pada buket bunga itu? " tanya Chayra seperti tersadar.
"Buket bunga itu di simpan di dalam lemari di ruangan kerja aku, " jawab Rakhan.
Hah, aku menyimpan buket bunga itu. Jika video yang di perlihatkan di acara pernikahan aku itu editan, bagaimana dengan buket bunga yang di simpan di dalam lemari? Tidak mungkin gadis itu yang melakukannya kan? batin nya mereka reka.
Apa Rhea berbohong? Apa sebenarnya aku yang berpacaran dengan Chayra dan Rhea merupakan orang yang berusaha memisahkan kami? batinnya lagi.
"Permisi, aku mau pulang! " kata Chayra sambil berdiri dari sofa.
Dia merasa tidak perlu menunggu Rakhan lagi. Kalau lab biologi WT yang begitu hebat saja tidak bisa menemukan obat penawarnya, sampai kapan dia harus menunggu ingatan Rakhan kembali.
"Jangan pergi, " pintar Rakhan pelan. Lalu dengan lembut, bibirnya meraih bibir Chayra. Merasai bibir itu dengan sepenuh hati.
Bibirnya seperti jeli. Lembut, halus dan dingin. Kenapa aku bisa melupakan bibir yang begitu lembut? kata hatinya bertanya tanya.
Terbuai oleh kelembutan Rakhan, Chayra merangkul kan lengannya melingkari leher Rakhan.
__ADS_1
Rakhan memperdalam ciumannya. Dia belum pernah berciuman dengan bibir lembut menggoda ini.
"CEO! " teriak Taksa menggema di dalam ruang tamu yang hening itu.
"Ops! " dia menutup bibirnya. Kaget. Dia tidak menyangka akan melihat bosnya berciuman dengan begitu ganas dengan Chayra. Apa CEO sudah mengingat Chayra? batinnya ingin tahu.
"Maaf, CEO, saya pergi dulu! " pamitnya.
"Sudah masuk mengapa mau keluar? " tandas Rakhan kesal. Dia terpaksa harus mengakhiri sesi ciuman hangatnya dengan Chayra.
Mencium gadis ini ternyata membuat aku ketagihan, kata hatinya heran. "Aku belum pernah seperti ini pada perempuan lain, lanjutannya membatin.
" Drone kita mendeteksi kedatangan Damon ke rumah ini, CEO, " lapor Taksa.
"Hm.... " Rakhan hanya menggumam.
"Bagaimana langkah kita, CEO? " tanya Taksa menunggu arahan.
"Biarkan dia masuk! " perintah Rakhan.
"Biarkan dia masuk? " ulang Taksa kaget. Bagaimana bisa CEO menyuruh Damon untuk masuk ke rumah ini?
"Ikuti saja perintah aku! " tegas Rakhan.
"Baik, CEO, " angguk Taksa.
"Kamu tunggu di luar. Aku masih ada urusan dengan Chayra, " kata Rakhan memerintah.
"Baik, CEO, " kata Taksa patuh. Lalu tanpa menunggu waktu lama dia segera keluar dari ruang tamu.
"Kamu ada urusan apa dengan aku? " kata Chayra.
Dia meraba bibirnya yang bengkak. Rakhan selalu lupa diri jika menciumnya. Bahkan meski laki laki itu lupa pada dirinya.
"Mungkin kita harus berbuat lebih dari ciuman agar aku bisa mengingat kamu, " goda Rakhan.
"Apa? " mata Chayra membulat sempurna. "Apa maksud kamu? Awas jika berani menyentuh tubuhku! " ancam nya ketakutan.
Meski dia mencintai Rakhan, tapi dia tidak akan menyerahkan tubuhnya. Malam pertama nya setelah akad nikah.
"Aku tidak pernah memaksa seorang gadis untuk tidur denganku, " kata Rakhan menjelaskan. " Jadi kamu tidak perlu takut! "
"Lalu apa maksud kamu dengan mengatakan harus berbuat lebih dari sekedar ciuman? " kata Chayra meminta penjelasan.
"Bagaimana dengan ciuman di tempat lain? " goda Rakhan. Matanya menatap dada Chayra yang begitu menantang di balik balutan baju pengantennya. Dada itu lebih menggoda dari pada milik Rhea.
"Jangan coba coba! " tukas Chayra sambil menutup dadanya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Rakhan tersenyum. "Siapa yang berani menolakku? "