
"Apakah anda yakin saya harus mengeceknya?" tanya Chayra memastikan. Siapa tahu dia salah dengar. Tidak mungkin lah dia seorang mahasiswi semester 2 di suruh mengecek laporan keuangan yang di buat akuntan profesional.
CEO Rakhan tidak menjawab. Dia berdiri dari kursinya.
Waduh, apakah dia akan menghukum ku? "Baik, baik, saya akan mengeceknya," kata Chayra panik ." Tapi saya butuh buku kas utama untuk mencocokkan pemasukan dan pengeluaran dan buku catatan inventaris ... Eh, tidak, saya tidak membutuhkannya," katanya setelah CEO Rakhan duduk di sebelahnya.
"Don't forget the rules," CEO Rakhan mengingatkan. Ketegasan terpancar kuat di wajah nya .
"Iya,iya," Chayra mengangguk cepat cepat. Jangan sampai dia menerima hukuman itu.
Chayra membuka lembaran dokumen itu. Meneliti angka angka yang tertera dengan wajah serius.
"Dalam Laporan neraca, aktiva dan passivanya seimbang. Balance," kata Chayra setelah mencocokkan total aktiva dan passiva perusahaan. Wah, 300 triliun, sambungnya dalam hati.
Laporan keuangan neraca adalah laporan keuangan yang berisi data mengenai kondisi keuangan sebuah perusahaan. Di dalamnya terdapat catatan utang, modal dan kewajiban perusahaan.
"Apa kamu yakin yang tertera adalah angka yang benar? tidak di mark up?" tanya CEO Rakhan menanggapi.
Ish, Chayra menggerutu dalam hati. Mana aku tahu? Aku hanya sekedar mencocokan angka.
" Ada kode etik akuntan manajemen , CEO. Akuntan profesional tidak mungkin curang," sahut Chayra memberitahu.
"Jika di temukan kecurangan, kamu juga harus tanggung jawab," timpal CEO Rakhan santai.
"Lah kok saya?" Chayra menunjuk dirinya sendiri dengan mimik heran . " CEO kan bisa lapor ke IAI, Ikatan akuntan Indonesia," imbuhnya lagi.
Ini CEO sepertinya sedang mencari cari kesempatan, dengus Chayra dalam hati.
"Tadi kamu mengatakan kalau aktiva dan passivanya seimbang," kata CEO Rakhan mengingatkan.
"Iya, saya. Tapi kan saya hanya sekedar mencocokan saja ,CEO," balas Chayra membela diri.
CEO Rakhan tidak menjawab. Dia memajukan wajahnya. Mendekatkan wajahnya ke arah wajah Chayra.
Aduh bagaimana ini, Chayra merasa gelisah. Jika dia melawan , CEO ini pasti akan marah. Jika dia diam saja, dia juga tidak rela.
Tok..tok.. seseorang mengetuk pintu.
Selamat... Chayra menarik nafas lega .
Ck, CEO Rakhan berdecak. kesal.
"Masuk," kata CEO Rakhan menyahut.
"Permisi, CEO," Ivan masuk dengan membawa makanan yang di pesan Chayra dari Miaw miaw cafe.
__ADS_1
"Taruh di sini," CEO Rakhan menunjuk meja di depan sofa.
"Baik ,CEO," Ivan meletakan makanan itu di atas meja. Kemudian dia minta diri sebelum keluar dari ruangan.
"Makan," CEO Rakhan menyuruh.
"Makan?" ulang Chayra heran.
"Iya makan, apa kamu mau aku meneruskan yang tadi?" seringai CEO Rakhan.
" Tidak mau," cetus Chayra spontan. Dia segera mengambil makanan yang dia pesan. Lalu membukanya .
"Kamu tidak menyiapkan makanan untukku?" tanya CEO Rakhan dingin.
"Ini ,CEO, " Chayra buru buru mendekatkan makanan pesanan CEO Rakhan. "Silahkan di makan CEO," senyum palsu nya.
" Kamu makan," CEO menunjuk makanan di depan Chayra.
"Iya, CEO," Chayra mengangguk.
Setengah jam kemudian, mereka selesai makan. Chayra membuang kotak makan dan botol bekas air mineral ke dalam tempat sampah yang terletak di samping pintu kamar mandi.
"Kamu boleh pulang," kata CEO Rakhan begitu Chayra duduk kembali di sofa.
"Besok di lanjut. Aku akan minta bagian keuangan untuk menyerahkan buku kas dan buku inventaris yang kamu minta," jawab CEO Rakhan .
"Eh, iya," Chayra menggaruk rambutnya. Ini serius CEO menyuruh dia mengecek laporan keuangan? Dia pikir CEO ini hanya ingin mengerjai nya?
"Kamu pulang di antar Pak Mawon saja, Taksa masih kerja di cafe," perintah CEO Rakhan.
"Eh, iya," sahut Chayra masih bingung. Kenapa dia di suruh pulang?
"Sebelum pulang, mampir di mall dulu. Beli beberapa setelan kantor. Yang sopan. Bahan tebal. Yang longgar," perintah CEO Rakhan lagi.
"Baik, CEO," Chayra segera berdiri dari sofa. Dia mengambil tas ransel dari dalam lemari buku. "Saya pulang dulu, CEO," pamitnya.
CEO Rakhan mengangguk. Menghadapi kucing kecil ini harus sabar. Pikat dengan perhatian lalu terkam, katanya sinis dalam hati
*****
Rhea terbeliak saat melihat Chayra masuk ke dalam kamarnya sambil menenteng kantong belanjaan.
"Kamu belanja apa?" Rhea menarik kantong belanjaan dari tangan Chayra dengan tidak sabar .
"Eh?" Chayra berusaha mempertahankan kantong belanjaan nya tapi kalah tenaga dari Rhea.
__ADS_1
" Blazer oversize, tunik, blus, celana bahan, semuanya ukuran besar," Rhea membongkar isinya lalu menebar nya di atas ranjang." Untuk siapa ini?" tanyanya heran.
"Untuk akulah," jawab Chayra seraya memasukkan kembali pakaian itu ke dalam kantong belanjaan. Berteman dengan Rhea tidak boleh terbawa perasaan . Bisa sakit hati.
"Kamu serius mau memakai ini ke kampus?" tanya Rhea tidak percaya .
"Ya, enggalah," Chayra merebahkan dirinya di atas kasur. Di samping Rhea.
"Terus?" Rhea bertanya lagi. " Kalau cerita jangan separo separo. Buat penasaran saja," dia menggerutu.
"Begini .." lalu Chayra menceritakan semua kejadian di kantor hari ini. Kecuali tentang hukuman aneh itu . Mana berani dia menceritakan nya pada Rhea.
" Jadi CEO Rakhan yang suruh?" kata Rhea setelah Chayra selesai bicara.
" Iya, Katanya, baju kamu yang aku pakai ini tidak cocok untukku," jelas Chayra hati hati. Semoga Rhea tidak berpikir macam macam, batinnya berharap.
Rhea memperhatikan dress selutut bahan sifon yang tengah di pakai Chayra. Sebenarnya ukuran dia dan Chayra tidak beda jauh, hanya saja Chayra lebih berisi di bagian dada. Kondisi yang kadang membuat dia iri .
"Iya betul, kamu tidak cocok pakai dress itu. Jelek," kata Rhea setuju. " Jadi kamu memakai pakaian kerja itu ke kampus?"
"Enggalah, mana betah aku pakai baju itu," jawab Chayra. " Nanti aku ganti di toilet kampus ."
"Kamu sudah bicara kepada CEO tentang tiket musik klasik yang sudah aku beli?" Rhea mengalihkan subjek pembicaraan.
"Belum," geleng Chayra.
"Kenapa belum? aku kan sudah berpesan sejak pagi," tukas Rhea menyesalkan.
"Aku kan baru dua hari kerja Re, nanti ya kalau aku sudah kerja beberapa hari," jawab Chayra menenangkan hati Rhea.
"Jangan lama lama, nanti tiketnya keburu kadaluarsa," Rhea mengingatkan.
"Oke," senyum Chayra. Bagaimana cara dia mengatakan pada CEO aneh itu? Setiap kali dia bicara sesuatu , CEO itu langsung mengambil ancang-ancang untuk menghukumnya. Chayra mendadak puyeng. Sakit kepala.
*****
krek... Didi membuka pintu kamar hotel dengan perlahan. Lalu berjalan keluar dengan langkah mengendap endap.
Sudah lima hari dia terkurung di dalam kamar hotel sejak dia di kalahkan secara tragis oleh Rhea.
Selama lima hari itu, dia hanya rebahan sambil menonton televisi. Sangat membosankan. Bos tidak pernah datang berkunjung. Padahal sebelahan kamar. Lio juga masih di rumah orangtuanya. Ethan dan Bowo hanya datang untuk mengantarkan makanan dan baju ganti. Pekerjaan mereka sebagai staf di hotel ini , tidak memungkinkan mereka untuk menemaninya berlama lama .
Didi menutup kepalanya dengan tudung jaketnya. Dengan langkah santai dan acuh, dia berjalan keluar dari hotel. Dia ingin berjalan-jalan keluar sebentar. Mencari udara pagi. Mungkin mampir sebentar di cafe desert di seberang hotel.
Didi melangkah ke arah zebra cross, bersiap siap hendak menyeberang jalan. Tiba tiba sebuah tangan mencengkram erat pergelangan tangannya.
__ADS_1