CEO Melankolis

CEO Melankolis
Bab 50: HPI Microchip Sudah Aktif


__ADS_3

Ethan menunggu sampai larut malam, barulah dia bersama Bowo masuk ke dalam unit apartemen Rhea. Mereka memanjat dinding lalu masuk melalui jendela samping. Karena di sisi itu lah tidak ada kamera CCTV.


Begitu masuk, Ethan langsung menemukan tas ransel yang di maksud. Tas itu tergeletak di atas sofa . Dia membuka ransel itu lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tas ransel .


"Sudah ketemu," Ethan mengacungkan ponsel itu ke udara.


"Okay, sekarang kita langsung ke bandara," putus Bowo dengan perasaan lega, karena tidak harus berlama lama di sana.


"Ayo," Ethan memasukan ponsel itu ke dalam kantong celana jeans-nya.


****


CEO Rakhan merasa frustasi. Melewati tengah malam, namun dia belum juga mendapatkan informasi mengenai keberadaan Chayra. Mengapa dia begitu mengkuatirkan gadis itu? Terbersit rasa heran di hatinya. Dia bahkan tidak perduli dengan robot itu. Padahal biaya pembuatan robot itu sudah menghabiskan puluhan juta dollar uang perusahaan ?


Dreet...dreet .. ponsel CEO Rakhan bergetar.


Dia mengambil ponsel dari atas nakas. Dari Dr. Jeremiah Thompson.


Dahinya berkerut. Ada apa Dr Thompson menelepon nya? Sejak beliau bekerja dua tahun yang lalu, beliau tidak pernah menghubungi nya secara pribadi. Biasanya melalui asisten pribadi nya.


(Percakapan selanjutnya dilakukan dalam bahasa Inggris ya readers ☺️)


"Maaf CEO, ini mungkin di luar wewenang saya, apakah anda memberikan HPI Microchip pada orang lain?" tanya Dr. Thompson begitu CEO Rakhan mengucapkan salam.


Human presence identification atau HPI microchip adalah Microchip seukuran butiran pasir yang menggunakan tekhnologi RFID Tag, yaitu alat yang melekat pada subjek yang akan di identifikasi oleh RFID circuit.


RFID circuit ini langsung terhubung dengan komputer di lab World Tech di Nevada.


Microchip ini di temukan di lab World Tech tahun lalu tapi sampai kini belum di jual di pasar internasional,karena masih dalam tahap pengembangan. Satu satunya microchip itu ada pada CEO Rakhan.


"Kenapa?" CEO Rakhan balas bertanya.


"Microchip itu sudah aktif," jawab Dr. Thompson.


"Aku menempelkan pada seorang pencuri," jawab CEO Rakhan dengan suara bergairah. Tadi di unit apartemen Rhea, dia menempelkan Microchip itu secara diam-diam di atas ponsel Chayra. Apa ponsel itu akan di bawa ke tempat Chayra berada? " Bisa di rinci identitas nya?" pintanya.


"Laki laki, berusia sekitar 27 tahun, tinggi lebih kurang 170 cm, golongan darah Ab resus negatif, dia sekarang sedang berada di atas ketinggian 45.000 kaki,"urai Dr Thompson menjelaskan.


Di dalam jet pribadi, batin CEO Rakhan.


Pesawat komersial hanya bisa terbang sampai 30.000 kaki ya readers.

__ADS_1


"Nanti setiap ada pergerakan dari Microchip tersebut, langsung kabari saya," pinta CEO Rakhan. "Anytime," tegasnya.


"Baik, CEO," angguk Dr Thompson. " Saya akan mengirimkan foto orang tersebut ke ponsel anda," katanya lagi.


Sesaat setelah CEO Rakhan mematikan telepon, sebuah pesan langsung di kirim ke ponselnya. Dia segera membuka pesan itu . Sebuah foto laki laki berwajah klimis dengan tatapan mata sayu. Namanya Ethan Joseph.


****


Setelah menyerahkan ponsel ke tangan Eouin , Ethan dan Bowo langsung balik ke Jakarta.


" Bangunkan gadis itu," perintah Eouin melalui telepon kepada Chen. Dia menggenggam ponsel Chayra di tangan kanannya.


"Okay, Bos," balas Chen segera.


Begitu Eouin mematikan telepon, Chen bergegas keluar dari ruang tunggu menuju private room, ruangan yang biasa di pakai Eouin untuk beristirahat.


Tidak perlu menunggu lama, Chen sudah datang dengan mendorong Chayra di kursi roda. Wajahnya kuyu, terlihat masih sangat mengantuk.


Eouin mengangkat sebelah alis. Sedikit kagum. Chen bisa membawa gadis ini di pagi buta, tanpa ada sedikit pun perlawanan dari dia.


"Kau katakan apa padanya?" tanya Eouin ingin tahu begitu Chen mendekat.


"Saya hanya mengatakan kalau anda ingin bertemu, " jawab Chen. Awalnya dia juga tidak menyangka jika mampu membawa gadis itu dengan mudah. Memang tadi dia agak kesusahan membangunkan nya tapi begitu gadis itu sudah bangun dan dia mengatakan Bos ingin ketemu, gadis itu langsung mengangguk dan duduk manis di atas kursi roda .


Eouin memberikan isyarat pada Chen untuk meninggalkan lab. Chen mengangguk lalu pergi dengan bergegas.


"Ini," Eouin meletakan ponsel di atas telapak tangan Chayra. " Eh apa ini?" mendadak dia melihat benda seukuran butiran pasir melekat di atas casing ponsel Chayra.


"Apa?" Chayra ikut melihat.


"Eh?" Lio ikut mengangkat muka. Dia terhenti sejenak dari kesibukannya. Dia tengah membuat program pengaktifan kembali robot. Jika berhasil, pengaktifan robot 81212, tidak perlu memindai QR code dari ponsel lagi. Dia akan mengubahnya dengan memasukan suara Eouin.


Eouin mengambil lagi ponsel yang masih berada di atas telapak tangan Chayra.


"Oh," Lio kembali lagi menekuni komputernya. Tidak tertarik untuk mencari tahu.


" Eh, mau apa?" tanya Chayra kaget. Mengapa Bos ini mengambil lagi ponselnya?


Eouin tidak menjawab. Dia mencopot benda itu dari atas casing ponsel Chayra. Lalu mengamati dengan teliti. Berbentuk seperti susunan lapisan wafer .Terbuat dari lapisan logam tipis. Dari bahan aluminium. Dia mengerutkan kening. Ini sebuah microchip!


Eouin memperhatikan Chayra dengan teliti. Apa gadis ini ada hubungannya dengan microchip ini? Tapi di lihat dari wajahnya yang bodoh, sepertinya dia tidak tahu apa apa . Apa Rhea Hadiyan yang menempelkannya?

__ADS_1


"Curtis!" Eouin memanggil Curtis yang tengah membetulkan letak kabel vibrating wire load cells.


Kabel itu harus di rekatkan lebih kuat lagi, takut terlepas jika robot itu di aktifkan. Demikian instruksi Boris Miah , kepala Lab. Curtis yang kebagian tugas tersebut, sementara enam orang peneliti termasuk Boris Miah, memeriksa kelengkapan alat yang lain.


"Ya, Pak," Curtis melangkah mendekat.


"Periksa ini," Eouin menyerahkan microchip sebesar pasir itu ke tangan Curtis.


"Baik, Pak," Curtis mengambil microchip itu kemudian kembali ke tempatnya semula.


"Apa itu?" tanya Chayra ingin tahu. Wajah Bos terlihat shock saat mengamati benda itu.


" Bukan urusanmu," tukas Eouin ketus. " Aktifkan robot itu," dia memberikan ponsel Chayra ke tangannya.


"Baik," Chayra berdiri dari kursi roda.


"Kau mau apa?" tanya Eouin bergegas.


"Mengaktifkan robot," pungkas Chayra. " Harus memindai QR code di tengkuknya," kata nya lagi.


"Oh iya," jawab Eouin seakan teringat. Dia terlalu panik saat menemukan microchip itu.


Chayra berjalan mendekati kotak kaca tempat Damon berada. Dia berjalan ke arah belakang lalu memindai QR code yang terdapat di tengkuk Damon. Kemudian dia memasukan ponsel ke dalam kantong celana panjangnya.


Semenit kemudian, Damon langsung bersuara, mulai mengaktifkan diri.


Seketika lab menjadi riuh. Para peneliti segera menajamkan mata mengamati goresan grafik naik turun yang menghiasi kertas di dalam kotak.


Program komputer Lio juga mulai mengirimkan sejumlah sandi dan simbol yang menggambarkan kondisi otak Damon.


Chayra kembali berjalan ke arah depan kotak. Dia mendekatkan wajahnya pada Damon. Supaya Damon mengenalinya.


"Memindai tuan, warna iris, hazel, ukuran bola mata 24,2 mm, ukuran sagital 24 mm," Damon bersuara. "Selamat datang ,Putri," dia tersenyum.


"Damon," Chayra mendekatkan matanya. Berusaha mengingat semua kejadian yang di alami selama Damon tidak aktif. Berharap visual Damon bisa menangkapnya.


Mata Damon terbelalak. Dia melihat Chayra di gotong Eouin, di bius Chen.


"Pak..." Boris melambaikan tangan. "Robot ini mengalami lonjakan emosi dan energi," serunya kaget.


"Apa?" Eouin berseru kaget.

__ADS_1


"Haaah.." Damon menggerakkan semua sendi dan tulang besinya. Seluruh kabel yang menempel di tubuhnya terlepas. Kemudian dalam satu kedipan mata, dia mengepalkan tangan kanannya lalu meninju kotak kaca sampai hancur berderai.


__ADS_2