
Siapa ya? Pikiran Chayra mengembara. Kaos ini sudah lama tidak dia pakai. Sudah lusuh. Telah jadi penghuni lemari sejak awal kuliah.
Oh, tidak... Tiba tiba dia teringat sesuatu...
"Kamu tahu siapa pelakunya? " tanya Rhea tidak sabar.
"Eh, iya.. anu.. " Chayra menundukkan kepala. "Aku.. aku yang mengguntingnya, " cicitnya rikuh. "Seminggu yang lalu, aku menggunting kaos ini. Aku hendak menjadikannya kain lap. Tapi tidak jadi," dia menundukkan kepala makin dalam. Tidak berani menatap. Malu.
"Aduh, Ra! " Rhea menepuk keningnya.
"Hmmm," CEO Rakhan bergumam. Dasar ceroboh, batinnya.
Taksa tidak berani berkomentar. Hanya bicara dalam hati. Sedikit bahagia. Bisa melihat dada mulus di depan mata. Gratis pula.
"Kemudian kamu mengajak pergi, jadi aku masukan lagi kaos itu dalam lemari, " Chayra berusaha membela diri.
"Ya sudah lah, " balas Rhea. "Lainkali kalau mau ambil baju dalam lemari, di perhatikan lagi dengan teliti. Ada bekas guntingan apa tidak, " tandasnya. Gara gara kaos tergunting ini, Chayra mendapat perhatian lebih dari CEO Rakhan. Dan dia tidak suka itu.
"Kalau aku tahu, aku juga tidak mau pakai kaos ini,Re," timpal Chayra sedikit kesal. Kenapa Rhea mengira dia sengaja memakai kaos yang sudah di gunting?
"Iya, aku tahu... " sahut Rhea.
Percakapan mereka terhenti ketika seorang pelayan perempuan datang membawa bill tray dan meletakkannya di atas meja.
Bill tray adalah baki kecil khusus untuk meletakkan nota pembayaran.
CEO Rakhan segera meletakan black card miliknya di atas bill tray.
"Kenapa anda yang membayar? " Rhea bertanya kaget. "Aku yang mengajak makan siang, artinya, akulah yang akan membayarnya, " terangnya.
"Aku tidak suka di bayari perempuan, " jawab CEO Rakhan cepat.
"Kartu kreditnya saya bawa dulu ya, Pak, " si pelayan menyela.
CEO Rakhan mengangguk.
"Permisi, " si pelayan buru buru pamit. Dia melihat CEO Rakhan sudah menggerakkan tangannya menyuruh dia pergi.
"Lainkali aku yang akan membayar, " kata Rhea tidak enak hati.
"Tidak ada lainkali, " sahut CEO Rakhan malas. Dia mau di ajak makan juga karena ada kucing kecil itu.
"Maaf CEO Rakhan, aku tidak suka berhutang, " Rhea membalas cepat. Dia tidak percaya CEO Rakhan menolak ajakan makan dari dirinya.
Dia adalah Rhea Hadiyan, putri konglomerat dan bergelar putri kampus dari kampus paling elite di negeri ini. Tidak ada seorangpun yang bisa menolak pesonanya. laki laki ataupun perempuan.Tapi kenapa CEO Rakhan begitu acuh padanya?
__ADS_1
"Aku tidak menganggap kamu berhutang, " timpal CEO Rakhan .
"Tapi.. " Rhea berusaha membantah.
"Masalah hutang ini aku anggap selesai, " potong CEO Rakhan kesal. Perempuan di depannya ini benar benar keras kepala. Kasian sekali yang akan menjadi suaminya kelak. Untungnya, itu bukan dirinya!
"Untuk temanmu, besok sebelum istirahat makan siang, sudah harus sampai di ruangan aku ," CEO Rakhan beralih pada Chayra yang masih menunduk.
"Kenapa tidak di sini saja? "sahut Chayra keberatan. Dia mengangkat wajahnya. "Besok pulang kuliah aku harus bekerja. Hari ini aku sudah tidak masuk kerja, " sambungnya.
"Pembicaraan itu terlalu memalukan di bahas di tempat umum," tukas CEO Rakhan beralasan.
Dia enggan membahas masalah omong kosong itu di sini. Apalagi cafe ini mulai ramai di kunjungi orang yang hendak makan siang.
"Tapi..." Chayra berusaha membantah.
"Baiklah, kami setuju, " Rhea menyela.
"Tapi Re... " Chayra masih berusaha menyatakan keberatannya. "Aku tidak enak dengan Pak bos, hari ini sudah libur... "
"Tidak apa, nanti aku yang menelfon Pak Fatih, meminta ijin libur hari ini dan besok, " potong Rhea lagi. Dia tidak ingin membuang kesempatan untuk bertemu CEO Rakhan.
"Tapi aku... " Chayra masih berusaha membantah. Dia enggan bertemu CEO sombong ini lagi.
"Ayo, Ra, kita pulang, " dia menarik kuat tangan Chayra, yang membuat Chayra terpaksa mengikutinya.
"Suruh Reindra mengikuti mereka, " perintah CEO Rakhan pada Taksa begitu Rhea dan Chayra menghilang dari balik pintu.
"Lalu kamu carikan apartemen di seberang apartemen Rhea untuk tempat tinggal Reindra . Cari di lantai 9 , dan jendelanya berhadapan dengan apartemen Rhea." lanjutnya memerintah. "Belikan juga sebuah teropong ."
Tambah kerjaan lagi, keluh Taksa dalam hati. Tapi apalah, dia tidak berdaya.
"Baik, CEO, " sahut Taksa patuh.Dia mengeluarkan ponsel dari kantong kemeja dan menelfon ke nomor telponnya Reindra.
"Ikuti mobil BMW portimao blue yang tadi," instruksi Taksa.
"Baik, Pak, " jawab Reindra sambil menutup ponsel.Dia sudah siaga satu setengah jam lamanya diparkiran motor.
Parkiran motor berada tidak berapa jauh dari pintu masuk Wine Hotel. Tempat yang sangat cocok untuk memata matai orang yang masuk keluar hotel.
Dia menundukkan kepala saat melihat Rhea dan Chayra berjalan melintasinya.
Sesaat kemudian dia mengutuk kebodohannya.
Kenapa aku menundukkan kepala? Aku kan masih memakai helm full face!
__ADS_1
Tak berapa lama berselang, mobil Rhea keluar dari parkiran mobil, Reindra pun mengikuti dari belakang.
Sekitar satu jam kemudian, Rhea dan Chayra sudah tiba di apartemen.
"Kamu menginap di sini? " tanya Chayra begitu melihat Rhea langsung berganti baju.
"Iya, "Rhea membenarkan. "Aku akan memastikan besok kamu bertemu CEO Rakhan tidak memakai kaos yang di gunting lagi,"lanjutnya tegas.
"Ha.. ha.. lucu, " timpal Chayra ketus. Dia berjalan menuju nakas, hendak mengambil ponselnya.
Eh, kenapa sweater hoodie ku tergantung di sini? tanya Chayra dalam hati. Gantungan apa ini? tanyanya makin merasa ganjil.
Dia menarik hoodie dari gantungan asing itu dan berteriak kaget ketika melihat benda di dalamnya.
"Ada apa Ra? " Rhea berlari ke luar dari kamar. Wajahnya kaget.
"I.. itu... aku lupa kalau kita punya sebuah robot, " aku Chayra kikuk.
"Haduh.. " Rhea menepuk keningnya. "Teriakan kamu membuat aku kaget, aku sampai menumpahkan sebotol micerral water ke atas meja, "semburnya kesal.
Micerral water adalah cairan untuk membersihkan make up wajah.
Tidak heran, Rhea menjadi kesal. Micerral water miliknya import dari Paris dan berharga mahal.
"Maaaf... " seringai Chayra.
"Ya, di maafkan, " sahut Rhea datar."Ra.. kenapa kita tidak minta bantuan pada robot ini? " tiba tiba dia mendapat sebuah ide.
"Damon? Bantuan apa? " tanya Chayra heran.
"Besok kita akan bertemu CEO Rakhan, kita minta bantuan Damon untuk mencari informasi tentang CEO Rakhan," Rhea mengemukakan idenya.
"Buat apa? " tanya Chayra makin heran. Aneh aneh saja ini si Rhea. Buat apa juga mencari informasi CEO aneh itu.
"Buat apa? ya itu, buat CEO Rakhan terkesan lah, " tukas Rhea. "Kita minta Damon mencari tahu informasi lengkap dia. Hobi, makanan kesukaan, apa yang di sukai nya, apa yang di bencinya, " sambungnya.
"Untuk apa? " tanya Chayra lagi.
" Hah sudah, aktifkan saja Damon, terus suruh dia seperti yang aku katakan tadi, " kata Rhea kesal. Susah bicara sama bayi besar macam Chayra.
"Baiklah, " Chayra menurut. Dia mengambil ponsel yang tergeletak pasrah di atas nakas, lalu menscanner QR code di tengkuk Damon, kemudian meletakkan kembali ponsel itu di atas nakas.
"Welkam bek Damon, "sapa nya begitu mata Damon mengerjab terbuka.
Tiitt... mata Damon mulai memindai wajah yang ada di hadapannya.
__ADS_1