
Tiba tiba ponsel Chayra berdering. Terus berdering. Minta di angkat.
"Cepat angkat," kata CEO Rakhan gusar. Suara deringan ponsel itu menganggu pendengarannya. Nanti dia akan menyuruh kucing kecil ini untuk mematikan ponselnya di saat jam kerja.
"Iya, CEO," Chayra mengangguk. Dia mengeluarkan ponsel dari dalam tas ranselnya.
Privat number? Chayra mengernyit saat melihat layar monitor ponsel. Biasanya dia tidak pernah mengangkat telepon yang tidak di kenal.
"Kenapa?" tanya CEO Rakhan melihat Chayra diam saja.
"Privat number, CEO," balas Chayra.
"Sudah, angkat saja," putus CEO Rakhan tidak sabar. " Pencet tombol speaker, " perintahnya.
"Baik, CEO," Chayra menurut. Dia menekan tombol menerima panggilan dan memencet tombol speaker.
"Putri ," suara Damon langsung terdengar.
"Damon?" balas Chayra kaget. Dia tidak menyangka. Dia segera menonaktifkan tombol speaker dan menempelkan ponsel di telinga kanannya .
Damon? Dia memanggil kucing kecil ini dengan panggilan Putri. Siapa dia? CEO Rakhan menatap curiga. Apalagi begitu melihat Chayra buru buru menempelkan ponsel di telinga dan berbicara dengan berbisik.
"Kenapa kamu bisa menelepon? Kamu di mana? Kamu tahu dari mana nomor ponsel aku?" berondong Chayra.
"Saya di apartemen. Putri kan sudah berpesan untuk tetap tinggal di apartemen," Jawab Damon. "Saya menelepon melalui sistem yang ada di dalam otak. Nomor ponsel Putri kan sudah terdaftar dalam sistem," sambungnya menjelaskan.
"Oh begitu," kata Chayra paham. " Kenapa menelepon? Aku sedang kerja."
"Putri tidak apa apa?" Suara Damon terdengar kuatir. " Jika Putri membutuhkan bantuan, saya akan datang."
"Aku baik baik saja. Sudah ya, aku mau kerja," Chayra segera mematikan sambungan telepon.
"Pindahkan ke mode pesawat atau matikan ponselnya," perintah CEO Rakhan dengan raut muka suram.
Eh? Chayra berpaling . Wajah CEO Rakhan tidak enak untuk di lihat. "Iya,CEO," jawabnya sambil mematikan ponsel. Kemudian menyimpannya di dalam tas ranselnya.
"Siapa itu?" CEO Rakhan mulai menginterogasi
"Eh? itu, itu dia ...," Chayra berhenti bicara, mencari kata yang tepat. "Dia ..dia itu teman," katanya akhir nya.
"Teman?" Mata CEO Rakhan menatap tak percaya.
__ADS_1
"Teman main game," jawab Chayra lagi. Dia berharap, CEO Rakhan percaya.
"Teman main game di apartemen?" tukas CEO Rakhan.
Hah? Kenapa CEO Rakhan berkata seperti itu? batin Chayra. Dia sekedar menebak atau tahu sesuatu? batinnya lagi .
"Aku tahu semuanya tentang kamu," ujar CEO Rakhan seakan tahu pikiran Chayra.
"Anda memata matai saya?" tanya Chayra curiga.
"Aku harus tahu orang seperti apa yang akan bekerja dengan ku," tukas CEO Rakhan santai.
"Apa saja yang anda ketahui tentang saya?" tanya Chayra lagi. Amarahnya di kalahkan oleh perasaan ingin tahu nya.
Neck :15, bust :35, waist :30, hip :35 , jawab CEO Rakhan dalam hati. Hah, Kenapa dia masih ingat? "Kamu tidak perlu tahu," tolaknya.
"Saya bisa lapor polisi karena anda memata matai saya tanpa izin," balas Chayra kesal.
"Dimana mana memata matai itu memang tanpa izin ,Nona," gelak CEO Rakhan. " Kamu tidak perlu memikirkan nya. Hasil penyelidikan pasti bagus, kamu kan sudah bekerja di sini," tandasnya.
"Oh, begitu," timpal Chayra. Namun tetap saja dia merasa tidak nyaman. " Kalau boleh saya tahu, menjadi pacar anda ini , kontrak nya berapa lama? Karena kontrak saya di perusahaan ini selama satu tahun," katanya meminta kepastian.
Enam bulan? Berarti ada pengurangan selama 6 bulan dari kontrak semula, pikir Chayra. Tapi masalahnya, kinerja memuaskan itu bagaimana? "Kinerja memuaskan itu bagaimana, CEO?" dia menyuarakan suara hati nya.
"Berdasarkan penilaian aku lah," jawab CEO Rakhan santai. " Yang terpenting, kamu bekerja sesuai arahan aku," sambungnya lagi. "Sudah cakap cakapnya, Sekarang kamu ke sini. Pelajaran nya akan segera di mulai."
"Iya," kata Chayra ogah-ogahan.
"Pasang wajah yang membuat aku malas melihat, nilai di kurangi minus 20," kata CEO Rakhan cepat.
Sial! CEO ini jeli sekali matanya, rutuk Chayra dalam hati. "Baik ,CEO," dia mengeluarkan senyum terbaiknya.
"Pegang tangan ku," kata CEO Rakhan begitu Chayra sudah berdiri di dekat nya.
Chayra mengulurkan tangannya. Meraih tangan kanan CEO Rakhan. lalu memegang ujung jemarinya.
CEO Rakhan menahan senyum. Dia merasakan tangan Chayra yang gemetaran ketika memegang ujung jari nya .
"Sampai beberapa lama ini, CEO?" Chayra bertanya karena melihat CEO Rakhan diam saja .
"Cukup," CEO Rakhan menjawab. "Tapi jika di luaran,kamu harus memegang tanganku selama kita berjalan," putusnya. "Sekarang cium aku," perintah nya.
__ADS_1
"Ci...cium?" Chayra merasa salah dengar.
"Iya, cium. Sebagai pacar,aku pasti membelikan kamu hadiah. Ucapan terima kasih tidak cukup kan?" balas CEO Rakhan lugas. "Apa kamu tidak pernah mencium pacarmu?" selidik nya sambil memperhatikan wajah Chayra.
"Saya tidak punya pacar. Tidak pernah," timpal Chayra seraya membuang muka. Tatapan CEO Rakhan membuatnya jengah.
Nampaknya dia tidak bohong, batin CEO Rakhan. Entah kenapa dia merasa girang. "Pantas saja kamu kaku seperti patung," cela nya. "Sepertinya aku harus mengajarimu," katanya sambil membalikkan tubuh. Menghadap Chayra.
CEO Rakhan mengangkat wajah Chayra yang tertunduk dengan tangan kanannya. Dia merapikan rambut yang menutupi muka Chayra. Mengelus pipinya.
OH , God! Hati Chayra merintih tak kuat. Belaian tangan CEO Rakhan menggetarkan hati nya. Belum pernah ada laki laki yang menyentuh wajahnya.
CEO Rakhan menundukkan wajahnya, sejajar dengan wajah Chayra. Kemudian dia memajukan wajahnya. Mendekati wajah Chayra yang seperti pasrah menunggu.
Deg ...deg..
Jantung Chayra berdetak kencang. Apa yang harus dia lakukan? Dia diam saja? Atau menghindari ciuman dari CEO Rakhan? Ini bukan tempat yang dia idamkan sebagai tempat untuk melepas keperawanan bibirnya. CEO Rakhan juga bukan laki laki yang dia inginkan sebagai pangerannya . Tapi jika dia menghindar, utang 3 triliun mendesak harus di bayar .
Chayra memutuskan untuk pasrah. Lagipula CEO Rakhan tidak mungkin melebihi batas. Paling cuma kecup kecup sekilas, katanya dalam hati.
CEO Rakhan membelai pipi Chayra lalu turun ke bibirnya. Bibir Chayra berbentuk hati yang sempurna. Berwarna merah alami sewarna buah cherry.
Jari CEO Rakhan mengikuti garis bibir Chayra yang membentuk indah, dengan gerakan lembut.
Oh, God! Teriak Chayra dalam hati. Sampai kapan acara belai membelai ini selesai? Jantungnya sudah tidak kuat.
"Sepertinya kamu sudah tidak sabar," goda CEO Rakhan.
"Cepat selesai kan saja,CEO," timpal Chayra cepat. " Maksud saya tidak seperti itu, anda mengerti kan? Saya hanya...." dia meracau tidak jelas.
Cup! CEO Rakhan mencium pipi Chayra sekilas . " Sudah, " katanya.
"Sudah? Hanya begini saja?" tanya Chayra tidak percaya.
"Kenapa? Kamu ingin lebih?" tantang CEO Rakhan.
"Tidak, tentu saja tidak," geleng Chayra cepat. Thanks God, bibirnya selamat. Masih perawan.
"Sekarang kamu lakukan seperti yang aku contohkan tadi," ujar CEO Rakhan. Dia memasang ekspresi serius. Tidak bisa di bantah.
Apa? Chayra menjerit dalam hati. Seharusnya dia curiga. Tidak mungkin ,CEO ini begitu murah hati.
__ADS_1