
"Beres ,Bos," lapor Lio begitu membuka pintu kamar hotel. Di belakangnya berjalan Ethan dan Bowo .
"Bagus, Nanti aku transfer bonus ke rekening kalian," balas Bos. Wajahnya dingin, seperti biasa. "Apakah dia mengenali kalian?"
"Seperti nya tidak, Bos," kata Lio sambil melepas topeng kulit sintetis yang melekat di wajahnya. Bowo dan Ethan turut membuka topeng kulit sintetis di wajah mereka.
"Aku tadi juga memakai alat pengubah suara, voice changer ,Bos," lanjutnya menenangkan hati Bos.
"Bagus," Bos memuji. " Bagaimana tadi di sana?" tanyanya lebih lanjut.
"Lancar, Bos," Jawab Lio berusaha tenang. Dia menutupi kenyataan bahwa sebenarnya Didi mengetahui keberadaan mereka. Entah kenapa bisa.
"Lio," kata Didi waktu itu.
Lio teringat langsung menyanggah. Lalu dia memberitahu kalau mereka adalah pengacara yang datang untuk menyelamatkan nya.
"Aku tahu itu kamu ,Lio. Akting kalian jelek," sumringah Didi. " Aku berterimakasih kamu dan yang lain datang ke sini. Aku juga merasa senang mengetahui Bos sudah memaafkan aku," sambungnya dengan nada suara penuh kebahagiaan, yang membuat miris hati Lio .
Lio bimbang. Apa dia sanggup menjalankan tugas dari Bos? Aarrghh...kenapa begitu berat, Ini tugas pertama nya. Dan lawan yang harus di hadapi adalah teman sendiri.
"Keluarkan bungkusan yang ada di kantong mu," pinta Didi, seakan tahu pikiran Lio. " Ini di hirup atau harus di telan?" tanyanya begitu Lio mengeluarkan bungkusan dari kantong celananya. "Hmm...di hirup saja ya biar cepat," seringainya. "Langsung menuju pernafasan,"katanya memutuskan.
Fyi, ini ya tampilan pohon jaraknya readers, terdapat di seluruh Indonesia, dengan nama berbeda di setiap daerah. Biasanya sebagai tanaman pagar rumah.
Lio hanya diam. Tak kuasa bicara. Semua prolog yang dia hafalkan di dalam mobil, seketika menguap dalam otaknya. Seharusnya,kerja lapangan ini bukan bagiannya. Tapi Bos memerintahkan dia,karena dia adalah orang kepercayaannya.
"Aku tak menyangka, akhirnya aku merasakan zat bioteroris buatanku sendiri," Didi merasa sedih. "Sampaikan pada Bos, it was an honor serving with you,Sir," katanya lagi sebelum pergi meninggalkan ruangan.
Lio bergerak hendak mencegah. Namun dengan sigap Ethan dan Bowo mencekal tangannya.
"Mas,jangan gegabah. Didi sudah tahu risikonya," bisik Ethan berdesis.
Didi melemparkan senyum kemudian menutup pintu.
"Apa yang dia katakan?" kata Bos memutus lamunan Lio.
"Dia..." Lio terdiam. Kata kata terakhir Didi, haruskah dia sampaikan? Apakah Bos akan marah,jika tahu dia gagal menjalankan tugas?
"Katanya, It was an honor serving with you, Sir," Lio memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya.
__ADS_1
Ethan dan Bowo saling bertatapan. Bersiap melihat amukan Bos.
It was an honor serving with you, Sir. Suatu kehormatan bisa bekerja dengan mu,Pak! Bos menunduk. Menyimpan air mata. Kenapa dia bisa begitu tega terhadap Didi. Tapi, begitulah bisnis. Didi pasti paham.
"Ya, sudah, kalian keluar, aku mau istirahat," usir Bos .
Lio, Ethan dan Bowo saling melempar pandangan. Reaksi Bos sungguh di luar dugaan .
"Baik, Bos," kata Lio. Dia keluar kamar diikuti Ethan dan Bowo.
*******
"Retina sudah di dapatkan dan telah dalam perjalanan menuju Nevada, CEO," lapor Taksa melalui telepon.
"Bagus," jawab CEO Rakhan puas.
"Tadi ada sedikit kendala dalam pengambilan retina, karena harus ada izin dari pihak keluarga, untunglah tim sudah menemukan keluarga korban dan berhasil meminta persetujuan mereka, CEO," Taksa melaporkan lagi.
"Bagus," jawab CEO Rakhan merasa puas. "Besok pagi, kamu telepon Chayra. Suruh dia masuk kantor," sambungnya memerintahkan.
CEO menyuruh Chayra lembur? Ada apa ya? Hati Taksa bertanya. Namun, mana berani dia bertanya alasannya. " Baik, CEO," sahut Taksa.
Aku harus memastikan status nya. Sudah punya pacar atau belum. Kalaupun sudah punya, aku takkan perduli. Siapa yang bisa menghalangi aku? CEO Rakhan membatin . Penuh percaya diri.
*****
Kring...kring...
Ponsel yang tergeletak di atas nakas, berdering tanpa henti. Chayra membuka sebelah mata sembari berdecak kesal. Siapa yang menelepon ? Tidak mungkin Rhea. Dia tidak pernah bangun pagi di hari Minggu.
Tangan Chayra meraba raba pinggiran nakas untuk mengambil ponsel. Dengan mata sayup dia melihat nama Taksa sebagai penelepon. Ada apa ya? batinnya.
"Alloww...pak," kata Chayra dengan suara serak. Khas orang baru bangun tidur.
"Bu Chayra di suruh CEO masuk kantor. Saya jemput jam 8 pagi," Taksa menjawab.
"What?" tak sadar Chayra berteriak . " Ini hari Minggu, Pak!"
"Silahkan protes pada CEO," balas Taksa dingin. Di kira aku juga tidak kesal di suruh masuk kantor? sungutnya dalam hati. " Aku jemput jam 8 pagi," ulangnya. " Selamat pagi," dia mematikan telepon tanpa menunggu jawaban dari Chayra.
Hah! Chayra mengerang kesal. Dia menendang nendang selimut yang masih membungkus tubuhnya. Dia benar benar kesal. Dia sudah punya acara sendiri . Main game seharian sambil makan makanan ringan dan minum soft drink.Tapi apa boleh buat, dia tidak punya pilihan. Utang 3 triliun pengikat nya.
__ADS_1
Dia masuk ke kamar mandi dengan malas. Mandi asal asalan , bahkan hampir lupa menggosok gigi. Selesai mandi, dia mengambil sembarang baju. Kemudian keluar kamar dengan rambut masih bergelung handuk.
"Selamat pagi, Putri," sapa Damon. "Silahkan makan," dia menunjuk beberapa kotak makanan di atas meja makan.
"Dari mana makanan ini?" tanya Chayra heran. Kemaren seingatnya, dia tidak memesan makanan.
"Saya pesan, Putri," jawab Damon. "Saya memesan makanan dari Miaw miaw cafe, semua makanan yang saya pesan, adalah kesukaan Putri," lanjutnya.
"Bayarnya bagaimana?" tanya Chayra heran.
"Saya bayar lewat uang elektronik ,Putri. Saya punya ," sahut Damon.
Robot punya uang elektronik? Bagaimana bisa? Robot ini memang beda. Chayra menggaruk garuk rambutnya. "Apa pengantar makanan melihat kamu?" tanya Chayra kuatir. Bahaya jika ada yang melihat Damon.
"Aku memakai suara Putri, menyuruh dia meletakkan makanan di bawah pintu . Setelah dia pergi, baru saya keluar untuk mengambilnya," jelas Damon.
Chayra menarik nafas lega. Syukurlah.
"Ayo Putri," Damon membuka penutup masing masing kotak makanan itu.
Chayra melihat wrap style basil, seared scallops, tiramisu cake... Sungguh menggugah selera.
Kring...kring
Ponsel berdering. Chayra berbalik masuk kamar. Mengambil ponsel di atas meja. Dari Taksa!
Taksa memberitahu kalau dia menunggu di lobby utama apartemen.
Ugh.. Chayra melenguh. "Maaf ya ,Damon, aku harus berangkat kerja," katanya dengan penuh sesal.
"Saya simpan di kulkas,Putri bisa makan nanti," sahut Damon.
"Iya, aku akan memakannya sepulang kerja," timpal Chayra. Dia mencomot seiris tiramisu lalu langsung melahapnya. Sekedar untuk pengganjal perut. Aku pergi dulu ya," pamitnya sambil mengambil ransel di atas nakas di samping sofa.
"Hati hati Putri," senyum Damon.
"Ya," balas Chayra sembari menutup pintu apartemen.
Di lobby apartemen, Taksa sudah menunggu. Dari kejauhan dia melihat Chayra berjalan mendekat.
Apa itu? Mata Taksa melotot.
__ADS_1