
Jika ini di rumah, ingin rasanya Chayra menempelkan chillow pillow pad, bantal air gel penurun panas di keningnya.
Meski dia hanya sekedar mencocokan angka yang terdapat di buku kas dan buku inventaris, dengan yang tertera pada laporan keuangan, tetap saja membuat pusing. Laporannya melibatkan banyak transaksi. Maklum saja, World Tech adalah perusahaan multinasional. Tentulah laporan keuangan nya sangat detail di banding dengan yang dia pelajari di kampus.
Sudah tiga hari ini Chayra berkutat dengan laporan keuangan perusahaan. Rasanya lebih melelahkan dari pada belajar di kelas. Terlebih lagi, CEO Rakhan menyuruhnya membuat jurnal penyesuaian setelah dia selesai mengecek semua laporan keuangan itu.
Jurnal penyesuaian adalah dokumen yang mencatat semua transaksi secara detail dan teliti.
What? Jurnal penyesuaian? Ingin dia menjerit. Bagaimana dia bisa membuatnya? Dia bahkan belum belajar??
"Jam makan siang," suara CEO Rakhan memecah kesunyian. Dia mengangkat wajahnya dari tumpukan dokumen yang terdapat di atas meja kerjanya.
"Iya, baik, CEO," Chayra buru buru berdiri dari sofa dan mengambil ponsel yang berada di dalam tas ranselnya .
"Anda ingin makan apa?" tanya Chayra .
"Terserah," jawab CEO Rakhan. Dia kembali mengalihkan mukanya ke tumpukan dokumen di atas meja.
Karena kata CEO Rakhan terserah, Chayra memutuskan untuk memesan makanan Korea. Tiga hari yang lalu sewaktu pergi ke mall dekat kantor untuk membeli baju sesuai arahan CEO Rakhan, dia melihat restoran Korea yang baru saja buka. Sebenarnya dia ingin mampir mencoba, namun melihat harga makanan nya, dia langsung berbalik arah . Sekarang ada kesempatan untuk mencoba makanan Korea dengan cara gratis. Dia terkikik pelan.
" Kamu kenapa?" tahu tahu CEO Rakhan mengangkat muka. " Tertawa sendiri begitu." Dia mengerutkan dahi. Merasa Chayra aneh .
"Tidak ada apa apa," geleng Chayra. Malu lah jika dia menceritakan nya pada CEO ini.
" Berbohong juga akan di hukum," tukas CEO Rakhan tak suka.
"Saya hanya senang bisa makan makanan Korea tanpa membayar," kata Chayra cepat. Oh ,My God! Betapa malunya dia melihat CEO Rakhan tergelak.
"Tuh kan? Saya malah di tertawakan," sungut Chayra. Wajahnya memerah menahan malu .
Deg! Jantung CEO Rakhan serasa berhenti berdetak. Mulut nya yang memberengut, wajahnya yang memerah, membuat CEO Rakhan terpana. Kucing kecil ini benar benar menggemaskan, kata hatinya.
"Ya, sudah. Pesankan satu menu yang sama untukku," pesan CEO Rakhan sambil buru buru membenamkan mukanya ke tumpukan dokumen. Menyembunyikan bibirnya yang tersenyum simpul.
"Baik, CEO," kata Chayra. Dia menelepon Ma-****- da Restoran. Dia memesan sup ikan, nasi tofu ,kimchi dan salad. Untuk minuman nya,dia memesan teh omija, teh Khas Korea.
Ini makanan Korea yang di pesan Chayra ya readers. Sepertinya enak jugaš¤¤
Baru saja Chayra mematikan sambungan telepon dengan Ma-****-da Restoran, ponselnya berbunyi. Dari Rhea.
" Maaf, CEO, saya mau menerima telepon dari Rhea dulu," lapor Chayra .
CEO Rakhan mengangguk. " Terima di sini," perintah nya.
__ADS_1
"Iya, CEO," kata Chayra menurut. Dia menekan tombol menerima panggilan di ponsel.
"Ra, ada berita bagus," suara Rhea langsung terdengar. Suara bahagia.
Lalu tanpa bisa di sela, Rhea menceritakan kabar baik yang di bawanya.
"Jadi aku bisa balik ke apartemen ya, Re?" kata Chayra setelah Rhea berhenti bicara.
"Boleh, tapi kamu sudah bicara tentang tiket konser itu belum?" jawab Rhea.
"Belum, nanti ya,kita bicara lagi, aku masih kerja. Bye Re," Chayra menutup telepon.
"Rhea memberitahu kalau laki laki yang menyerangnya sudah tertangkap," ungkap Chayra pada CEO Rakhan yang masih membaca dokumen nya.
"Baguslah," balas CEO Rakhan pendek. Dia mengambil ponsel di samping tumpukan dokumen. "Penyerang Rhea sudah tertangkap. Cari berita tentang dia," dia menulis pesan ke nomor ponsel Taksa.
Tak berapa lama, datang balasan dari Taksa. Detail profil lengkap dengan fotonya.
Didi Riyadi? inikan orang nya Euoin Finn. Kenapa dia menyerang Rhea? Apa jangan jangan barang itu ada pada Rhea? Tapi tidak mungkin di rumah nya, barang itu terlalu mencolok untuk di simpan di sana. Atau di apartemen nya? Berbagai pikiran berkeliaran tidak terkendali dalam otak CEO Rakhan.
"Bawa dia padaku," CEO Rakhan menelepon Taksa.
"Tapi CEO, dia ada di kantor polisi," kata Taksa berusaha membantah.
"Baik, CEO," jawab Taksa. Kemudian dia menjerit di dalam ruangannya.
****
Bos melempar ponselnya ke dinding sampai berantakan . Ini adalah ponsel kesekian yang menjadi korban amukan bos. "Damn, damn,damn, argh .." Bos berteriak kesal. "Si Didi itu kemana otak nya?" dia mencak mencak.
Semua yang berada di dalam kamar hotel tertunduk. Ngeri. Bos benar benar murka.
"Sepertinya aku memang harus meng***s otaknya!" Bos berseru marah.
Tidak ada satupun yang berani menyahut.
"Kalian," Bos menunjuk Ethan dan Bowo. " kenapa Didi bisa terlepas dari pengawasan kalian?" bos meradang .
"Maaf , Bos," Ethan dan Bowo menundukkan muka. "Setiap pagi, kami harus meeting dulu," sambung Ethan yang lebih senior.
"Haaahh," Bos mengeram dongkol. Tapi percuma juga marah marah pada dua orang ini, hati Bos berkata .
"Mulai hari ini, penyamaran kalian sebagai staf hotel selesai," perintah Bos. "Percuma, tidak ada gunanya," sentaknya geram.
" Kembalikan identitas dan wajah orang yang kalian pinjam," sambungnya lagi.
__ADS_1
"Baik, Bos," angguk Ethan dan Bowo patuh. Mereka juga di suruh Didi untuk menyamar menjadi petugas hotel, di hari Bos datang ke kota ini.
" Lio, kamu bawa Ethan dan Bowo untuk menemui Didi," Bos berpaling pada Lio yang berdiri di samping ranjang. " Urusan Didi aku serahkan padamu," perintah nya.
"Baik,Bos," Lio mengangguk. "Kami pergi," dia pamit di ikuti Ethan dan Bowo di belakang nya.
Bos menatap pintu yang di tutup perlahan oleh Bowo. Setitik air mata jatuh dari pelupuk matanya.
****""
Di dalam ruangan yang berukuran sekitar 3x 6 meter, Didi duduk di lantai di dekat pintu. Ada beberapa orang yang berada bersama nya dalam ruangan itu. Ruangan Tahanan Polisi.
Dia tidak menyangka jika tangan yang mencekal pergelangan tangannya adalah seorang polisi berpakaian preman. Dia berusaha untuk lari tapi ternyata dia sudah berada dalam kepungan polisi .
Dalam pengawalan ketat, dia di bawa ke kantor polisi. Sesampai di kantor polisi, dia sudah di tunggu Rhea.
"Benar dia!" kata Rhea tanpa ragu. "Siapa kamu? kenapa kamu menyerang aku? Gara gara kamu,hidungku hampir patah," sungutnya berang.
"Aku mau pengacara," kata Didi sambil menoleh pada polisi yang berdiri di sampingnya.
"Berani nya tidak menjawab aku," kata Rhea tambah marah. Hatinya mengkal. Jengkel.
"Mbak Rhea boleh pulang dulu, nanti kami beritahu kabar selanjutnya," ujar Pak polisi yang berdiri di sebelah Didi. Gadis yang panas hati ini harus di dinginkan dulu, sebelum dia mengacak acak kantor polisi dengan emosinya,batin pak polisi.
"Baik lah Pak Polisi," jawab Rhea. " Saya serahkan semuanya kepada anda," sambungnya sebelum keluar dari ruangan interogasi.
"Hanya boleh melakukan satu panggilan telepon," Pak polisi memberikan ponselnya ke tangan Didi.
"Terimakasih Pak," kata Didi. Beruntung dia tidak membawa ponselnya. Jadi para Polisi ini tidak bisa mencari informasi dari sana.
Didi memutuskan untuk menelepon Lio.
******
Menjelang sore, pintu kamar tahanan terbuka, seorang polisi masuk mengabari jika ada tamu yang mencari Didi.
Didi berjalan mengikuti Pak polisi menuju ruangan kunjungan. Di sana dia melihat tiga orang laki laki duduk di bangku panjang. Dia sama sekali tidak mengenali mereka.
"Waktu kunjungan 15 menit," kata Pak polisi memberitahu. lalu meninggalkan ruangan.
"Baik, Pak, terima kasih," jawab Didi. Dia duduk di bangku yang berada di seberang bangku panjang itu.
"Kami datang untuk menyelamatkan kamu," kata laki laki yang duduk di tengah.
Didi tersenyum. Ini pasti suruhan Bos .
__ADS_1