CEO Melankolis

CEO Melankolis
Bab 120: Siaran Televisi yang menggemparkan


__ADS_3

"Apakah tidak apa apa Rhea di usir begitu saja dari kantor WT?" tanya Chayra gusar.


"Tidak usah urus dia," tukas Rakhan tak suka . " Bagaimana ceritanya kamu bisa keluar dari rumah Pak Bisma?"


"Bagaimana kalau dia berbuat kerusuhan? " tanya Chayra lagi. Wajah marah dan mulut Rhea yang tidak berhenti mengomel ketika di paksa petugas keamanan untuk keluar dari ruangan CEO masih menyita pikirannya.


"Tidak usah memikirkan dia, aku cemburu," cemberut Rakhan.


"Ish, jangan bercanda," ujar Chayra sambil tersenyum. Dia mengelus pundak Rakhan dengan lembut.


"Aku hanya takut dia akan berbuat hal hal yang merugikan kita," katanya menenangkan Rakhan.


"Kamu sudah memikirkan dia, tidak penting," jawab Rakhan.


" Sekarang jawab pertanyaan aku, bagaimana kamu bisa keluar dari rumah Pak Bisma? Aku sudah menyuruh orang memata matai rumah itu sejak dua hari yang lalu," sambungnya penasaran.


"Aku mengancam hendak bunuh diri, jadi kakek dan Damon terpaksa setuju aku pergi menemui kamu," sahut Chayra.


"Karena kamu sudah di sini, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini," bisik Rakhan.


"Apa maksud..." Kalimat Chayra terhenti karena Rakhan sudah menciumnya dengan brutal.


"Aku kangen padamu," bisik Rakhan setelah dia melepaskan bibirnya.


"Aku juga," balas Chayra. Dia merangkul leher Rakhan dengan lengannya. " Aku mau lagi," bisiknya dengan wajah merah menahan malu.


"Kucing kecil nakal," ujar Rakhan dengan senyum lebar. " Kamu suka ya?" godanya.


"Iya," angguk Chayra terus terang. Kalau memang suka kenapa harus malu? Toh dengan kekasih sendiri juga, batinnya.


Cup! Rakhan menempelkan bibirnya dengan ringan. Dia menunggu reaksi Chayra.


"Hanya begitu?" gerutu Chayra.


"Off course not ( tentu saja tidak) ," timpal Rakhan menggoda. " Sekarang ini yang sebenarnya," katanya kemudian sambil melahap bibir Chayra.


"UM...um.." Chayra menikmati ganasnya ciuman Rakhan. "Ah..." gumam nya. Astaga! Apa suara yang memalukan ini keluar dari mulutku? batinnya malu.


BraK! sekonyong konyong pintu ruangan CEO terbuka dari luar dengan hentakan keras di sertai suara Taksa yang panik.


"CEO.....UPS!" Taksa menutup mulutnya. Dia kaget melihat atasannya sedang sibuk bergumul dengan pacarnya.

__ADS_1


Sial! Kenapa aku bisa lupa kalau Chayra masih berada di dalam ruangan CEO? Auto bertugas di Somalia ini, rintih Taksa dalam hati.


"Ada apa?" kata Rakhan dengan wajah suram. Dasar pengganggu! Aku akan memotong gajinya bulan ini, batinnya kesal.


Chayra hanya bisa menunduk malu sembari merapikan bajunya yang terbuka oleh tangan Rakhan.


"Eh, anu, silahkan di lanjut saja CEO, " jawab Taksa rikuh. "Maaf, saya tidak tahu kalau ..."


"Katakan ada apa!" perintah Rakhan kesal. Sudah berani menganggu malah mau pergi begitu saja, geramnya dalam hati.


"Saya, itu CEO, sebaiknya anda lihat sendiri," kata Taksa sambil berjalan mendekati meja sofa . Dia mengambil remote televisi yang tergeletak di atasnya. Lalu menyalakan televisi.


Hm? Rakhan mengerutkan dahi melihat tayangan televisi yang terhampar di depan matanya.


Astaga! Chayra menutup mulutnya. Dia kaget luar biasa. Saking kagetnya sampai tidak bisa berkata kata.


****


Mama Rhea berjalan mondar mandir di dalam ruang tengah dengan gelisah. Sudah lewat dua jam sejak Rhea meninggalkan rumah, namun anaknya itu belum mengabarinya sedikitpun.


Apa rencana nya gagal? gumam beliau resah. Beliau juga sudah mencoba menelepon ponsel Rhea. Tapi ponsel itu tidak aktif.


Deg! Jantung mama Rhea seketika berhenti berdetak. Untuk apa Farras menelepon lagi? Bukankah satu jam yang lalu dia sudah menelepon mengabarkan kalau Rakhan setuju menikahi Rhea? batin beliau bertanya tanya.


"Ada apa sayang?" kata mama Rhea begitu beliau mengangkat telepon.


"Rhea mana?" tanya papa Rhea tanpa basa basi.


"Di kamarnya. Ada apa sayang?" tanya mama Rhea lagi. Perasaan beliau mendadak tak enak. Suara suaminya terdengar begitu marah.


"You are lying! ( kamu bohong padaku)!" sentak Papa Rhea marah.


"What? (Apa)?" ujar mama Rhea kaget. " Aku tidak berbohong sayang. Kenapa kamu mengatakan aku ..."


"Nyalakan televisi sekarang," potong papa Rhea. Lalu tanpa berkata lagi beliau mematikan sambungan telepon.


Ugh ...Mama Rhea menekan dadanya dengan tangan kanannya. Merasakan detak jantungnya semakin kencang.


Apa yang terjadi? Kenapa Farras menuduh aku berbohong? Apa yang telah di lakukan Rhea? gumam beliau bingung.


Dengan bergegas , beliau mengambil remote televisi yang tergeletak di atas nakas di samping sofa. Beliau menyalakan televisi.

__ADS_1


What? Apa ini? Mata beliau terbelalak. Tak menyangka akan melihat pemandangan yang paling memalukan dalam hidupnya!


*****


"What the hell ( Apa apaan ini)," seru Rayyan kaget. Dia melotot menonton siaran televisi itu. Jika dia tidak melihatnya sendiri dia tidak akan percaya.


"Tutup mulutmu!" sentak Pak Ravez. " Telepon ibumu, suruh dia menonton televisi," perintah beliau.


"Pa, menurut aku ini kesempatan bagus untuk merebut WT," kata Rayyan tanpa mengindahkan perintah ayahnya.


" Aku tahu perusahaan ayah sedang kesulitan saat ini," sambungnya sambil melirik tumpukan dokumen yang tersusun di atas meja kerja ayahnya . Dokumen itu adalah dokumen proposal penawaran proyek yang di revisi karena di tolak oleh partner bisnis.


"Maksud kamu apa? kamu itu bodoh atau apa ya, sudah jelas WT adalah perusahaan milik kakakmu. Sudah beruntung kita di hadiahi saham ," balas Pak Ravez getas.


Rayyan memang tidak seujung kuku Rakhan, nilai beliau dalam hati. Anak bungsunya ini tidak punya keahlian apa apa. Di taruh di posisi manager di perusahaan juga hanya duduk manis tanpa kerja.


"Aduh papa, entah itu saham hadiah atau apa, yang terpenting kita punya 30 persen saham WT," timpal Rayyan dengan mata berbinar.


Jika aku bisa memilik WT, aku perlu bekerja lagi. Apalagi perusahaan papa sekarang sekarang sekarat, batinnya .


"Jangan berpikir bisa merebut WT," tukas Pak Ravez. " Kamu pikir kakakmu tidak bisa menyelesaikan skandal kecil seperti ini," lanjut beliau kesal.


"Kenapa aku merasa papa tiba tiba begitu memihak Rakhan?" sentak Rayyan sewot.


"Telepon ibumu. Suruh dia menonton televisi," ulang Pak Ravez memerintah. Beliau mengambil remote di atas meja kerjanya lalu mematikan televisi.


"Setelah itu kembali ke ruangan kamu, kerjakan ini," lanjut beliau sambil mengansurkan tumpukan dokumen ke arah Rayyan.


"Bercanda Pa?" kata Rayyan kaget. "Itu kan bukan pekerjaan aku," elaknya.


"Kalau kamu bisa menyelesaikan semua dokumen ini baru boleh memikirkan untuk mengambil alih WT," pungkas Pak Ravez.


Dengan adanya Chayra di sisi Rakhan, posisi WT akan semakin kuat, batin beliau. Tapi itu jika Rakhan mampu mengambil kepercayaan Pak Bisma. Dan beliau percaya, Rakhan mampu melakukannya!


****


Tante Rauna sedang kumpul di cafe dengan teman teman arisannya ketika Rayyan menelepon.


Tanpa membuang waktu, beliau segera menyalakan ponsel lalu membuka pencarian panas di media sosial.


What? Mata beliau terbelalak. Nyaris keluar.

__ADS_1


__ADS_2