CEO Melankolis

CEO Melankolis
Bab 123: Maaf aku sedikit terlambat


__ADS_3

What's going on? Apa yang terjadi? Kenapa CEO mengatakan akan menikah dengan Chayra padahal CEO sedang bersama Rhea? kata hati Taksa berkata kata.


Tapi mungkin CEO bersama Rhea untuk membahas pembatalan pernikahan. Ah sudahlah, urusan pribadi CEO, buat apa aku pusing, katanya lagi dalam hati.


"Baik, CEO," kata nya. " Apa dokumen Nona Chayra juga di urus oleh saya?" sambungnya memastikan.


"Tidak , Chayra akan mengurusnya sendiri," balas Rakhan.


"Baiklah," sahut Taksa. "Maaf CEO, bagaimana dengan Nona Chayra? Apa tidak apa apa jika dia masih tidur di ruangan anda?" tanyanya hati hati.


"Tidur bagaimana! Sekarang aku sedang berada bersama Chayra," tukas Rakhan kesal. Bagaimana sih dengan mata Si Taksa ini? Jelas jelas tadi dia melihat aku pergi bersama Chayra, gerutunya dalam hati.


"Eh iya, CEO," sahut Taksa sambil menggaruk rambut. Apa aku salah lihat ya? Apa sebenarnya CEO memang pergi dengan Chayra?


Begitu Rakhan mematikan sambungan telepon, ponsel nya bergetar lagi. Kali ini dari Samuel. Dengan ringkas ,Samuel mengatakan kalau laki laki yang terlihat di dalam rekaman CCTV berkeliaran di gedung WT adalah salah seorang pengawal Pak Bisma .


Pengawal Pak Bisma? Jika memang Chayra bersama CEO, tidak mungkin pengawal Pak Bisma berkeliaran di dalam gedung WT, gumam Taksa setelah Samuel mematikan sambungan telepon.


Satu satunya cara untuk memastikan nya adalah pergi ke ruangan CEO, katanya lagi.


****


Sebelum mama Rhea memutuskan untuk menelepon Efron, laki laki itu terlebih dahulu menelepon.


"Hallo!" kata mama Rhea ketus. beliau terpaksa mengangkat telepon karena memang butuh laki laki itu saat ini.


"Sampai kapan bubuk kristal putih itu bereaksi?" tanya beliau to the point.


"Bukankah aku sudah memberitahu kamu?" Jawab Efron. " Bagaimana obat dari aku? Manjur bukan?" sambung beliau sambil tersenyum.


Efron sudah memberitahu? batin mama Rhea . Beliau mengerutkan kening berusaha mengingat ingat.


Oh, ya, Efron pernah berkata jika serbuk itu bisa bertahan selama satu hari, selama serbuk itu masih tertempel di pakaian atau di kulit korban, gumam beliau begitu teringat.


Efron memberikan dua bungkus serbuk kristal putih itu. Rhea baru memakai satu bungkus. Jadi kami tidak butuh laki laki itu, desis beliau lagi.


"Jangan di kira karena kalian masih ada serbuk itu kalian tidak membutuhkan aku," pungkas Efron seakan mengerti pikiran mama Rhea.


"Apa maksud kamu?" sergah mama Rhea.


"Pemakaian bubuk itu secara terus menerus tanpa jeda akan membahayakan nyawa Rakhan," jelas Efron.

__ADS_1


"Kulit akan mengalami kemerahan,bengkak lalu senyawa yang mengikat serbuk kristal putih itu akan menyerang saraf pernafasan. Bisa menyebabkan pasien mengalami gangguan pernafasan akut," bebernya.


"Apa? Obat apa yang kamu berikan?" teriak Mama Rhea ngeri.


"Gas sarin. Yaitu gas syaraf yang sangat beracun. Tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa dan mampu menyebar dengan sangat cepat," ulas Efron dengan suara dramatis.


"Apa?" teriak Mama Rhea lemah. Tubuhnya menggigil ketakutan. Apa aku akan menjadi seorang pembunuh?


"Obat apa yang sudah kamu berikan? Dasar penjahat!" teriak beliau lagi.


"Kamu kan sudah tahu. Aku ini seorang ilmuwan biologi. Perusahaan aku juga bergerak di bidang farmasi dan senjata," balas Efron santai.


"Lalu? Bagaimana dengan nasib Rakhan?" jerit Mama Rhea.


****


Taksa bergegas menuju ruangan CEO. Dia ingin memastikan apakah penglihatan nya masih berfungsi.


Dan benar saja! Di dalam ruangan CEO, di atas sofa, dia melihat Chayra masih terbaring.


Lalu kenapa CEO mengira CEO bersama Chayra? Memang sejak CEO berjalan mendekati Rhea, CEO seketika berubah 180 derajat. CEO mengira Rhea adalah Chayra. Dan CEO juga lupa jika Chayra masih tertidur di dalam ruangan CEO.


Jangan jangan Rhea memberikan sesuatu yang bisa merubah CEO? Hipnotis Kah? atau apa?


Argh! Taksa menjerit .Seseorang memukul tengkuk nya. Dia terjatuh di karpet. Pingsan.


"Maaf ,aku sedikit terlambat," ujar laki laki itu pada Chayra yang masih pulas di atas sofa. Dia meraih tubuh Chayra . Menggendongnya erat dalam pelukan. Lalu dengan cepat dia keluar meloncat dari jendela yang memang tadi sudah dia buka.


****


"Yang pasti dead lah," jawab Efron santai. "Kamu tidak ingin putrimu menjadi janda muda kan? Atau mungkin saja Rakhan sudah died sebelum mereka sempat menikah," sambungnya lagi.


"Apa mau kamu?" tukas Mama Rhea cepat.


"Tinggalkan Farras," jawab Efron singkat. " Jika kamu tinggalkan dia, maka aku akan memberimu obat penawarnya," lanjutnya memberi jalan keluar.


Apa? Meninggalkan Farras? batin Mama Rhea menjerit tak rela. Bagaimana bisa aku meninggalkan Farras untuk kembali pada laki laki laknat itu. Dalam mimpi pun aku tidak pernah membayangkan, dengusnya dalam hati.


Tapi ini menyangkut Rhea. Bagaimana aku sanggup melihat dia menangisi cintanya? batin beliau dilema.


"Bagaimana?" tanya Efron. " Rakhan tidak bisa menunggu lama," lanjutnya menegaskan.

__ADS_1


"Apa kamu mau bersama seorang perempuan yang hatinya untuk laki laki lain?" tanya mama Rhea menegaskan.


"Aku tidak keberatan," balas Efron tak kalah tegas.


Bagaimana ini, batin Mama Rhea meragu.


*****


"Kita mau kemana ini?" tanya Rakhan.


"Pulang ke rumah aku dulu ya," jawab Rhea sambil menyetir. "Aku akan mengambil dokumen yang akan di daftarkan ke KUA," sambungnya.


"Kalau begitu dokumen aku di antar kan Taksa ke rumah kamu saja ya," kata Rakhan mengambil keputusan.


"Aku ingin mengobrol dengan Pak Bisma sekaligus berterima kasih karena akhirnya beliau mengizinkan kamu menikahi aku," sambungnya memberikan penjelasan.


"Oh itu, kakek tidak ada di rumah," jawab Rhea cepat. "Hanya ada, ada Tante Aleasaa."


"Tante Aleasaa?" Rakhan mengerutkan dahi. "Kenapa Tante Aleasaa bisa ada di rumah kamu?" tanyanya heran.


"Itu, itu, Kakek meminta bantuan Tante Aleasaa untuk memperpersiapkan pernikahan kita," jawab Rhea berusaha tenang .


Astaga! Desis Rhea dalam hati. Susah sekali menjadi seorang pembohong, gumamnya.


"Bagaimana dengan Rhea? Apa Rhea sudah memaafkan kamu?" tanya Rakhan.


"Tentu saja, Rhea itu teman yang baik. Juga cantik. Aku tidak bisa menemukan seorang teman yang begitu baik. Dia sangat royal sekaligus penyayang," sahut Rhea memuji diri sendiri.


"Syukurlah kamu sudah berbaikan dengan dia," Jawab Rakhan lega.


"Iya," angguk Rhea sekuat tenaga.


****


"Aku perlu bicara dengan Rhea dulu," jawab mama Rhea mencoba mengulur waktu.


"Tidak perlu bicara," tandas Efron. " Dia pasti akan setuju. Yang penting bagi dia bisa menikah dengan Rakhan," sambungnya.


Hm, betul juga, batin mama Rhea terpaksa setuju. Rhea bahkan tidak menginginkan nyawanya sendiri jika dia tidak bisa memiliki Rakhan.


"Bagaimana?" tanya Efron menunggu jawaban.

__ADS_1


Hm, Mama Rhea meragu. Dia bimbang.


__ADS_2