
"Apa maksud kamu?" tanya Mama Rhea. Entah kenapa perasaan beliau tidak enak.
"Just wait and see ( tunggu dan lihat saja)," jawab Efron santai.
"Apa yang kamu rencanakan?" tanya mama Rhea curiga.
"Nothing ( tidak ada)," jawab Efron sambil mengangkat bahu.
Orang ini pasti merencanakan sesuatu, batin Rhea waspada. Apa orang ini berencana akan melakukan sesuatu yang buruk pada kami? batinnya curiga.
Dia memalingkan pandangan ke sekitar. Selain mereka bertiga ,tidak ada orang lain. Nampaknya orang itu sudah menyewa cafe. Mungkin agar dia bisa berbuat jahat tanpa ada saksi mata, kata hati nya berprasangka.
Meski laki laki ini mengaku sebagai ayahku, tetap saja aku tidak merasa bahagia sebagai anaknya, hatinya berkata kata lagi.
"Apakah masih lama? Aku dan Rhea masih ada urusan," kata mama Rhea setelah berapa lama mereka hanya berdiam diri.
"Tunggu sebentar lagi," cegah Efron. " Nah itu dia datang," katanya sambil menunjuk ke arah pintu cafe yang terbuka otomatis dari luar.
Deg! Farras! Jantung mama Rhea seakan berhenti berdetak.
Papa! Deg ....deg ...Jantung Rhea berdetak sangat kencang. Sehingga dia sendiri tidak sanggup mendengar detak jantungnya.
Apa maksud orang ini meminta papa ke sini? Apa untuk memberitahukan kebenaran tentang aku? batinnya resah.
"Apa maksud mu ?" desis Mama Rhea marah. Berani sekali laki laki sampah ini mengundang Farras ke sini.
"Aku hanya ingin mengakhiri pernikahan kalian yang menjemukan itu," sahut Efron santai.
"Kurang ajar," geram Mama Rhea. Ingin beliau memukul laki laki sialan itu tapi beliau terpaksa menahan diri. Karena suaminya sudah semakin dekat.
"Good morning Mr Hadiyan," sapa Efron begitu melihat Papa Rhea mendekat.
Papa Rhea tidak menyahut. Beliau melewati Efron tanpa kata. Matanya tertuju pada istrinya.
Hah, dia tak melihatku sama sekali, geram Efron dalam hati. Baru sekali ini ada orang yang berani mengabaikan aku.
Tapi sudahlah, sepertinya dia sangat marah pada istrinya. Bagus sekali, batin beliau senang.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya papa Rhea.
Rhea menunduk tidak berani menatap ayahnya. Mamanya sebenarnya juga tidak sanggup menatap bola mata berwarna coklat terang itu .
"Makan," jawab Mama Rhea pendek.
"Bersama laki laki lain?" ujar papa Rhea cemburu.
"Duduk dulu sayang, kita bicarakan baik baik," kata mama Rhea berusaha tenang.
__ADS_1
"Tidak perlu, " tolak papa Rhea tegas. " Aku sudah menyuruh Mira untuk menyelidiki laki laki itu, dia mantan kamu bukan?" tunjuk beliau pada Efron yang sedang duduk dengan santainya.
"Iya, tapi sekarang aku tidak ada hubungan lagi dengan dia sayang," kata mama Rhea berusaha menyakinkan suaminya.
"Jika tidak ada kenapa kamu ke sini? Bersama Rhea juga," tuding papa Rhea. " Kalau mantan kamu itu tidak mengirimkan pesan singkat ke ponsel aku, aku tak akan tahu kelakuan kamu," lanjut beliau emosi.
Ternyata benar kelakuan laki laki sampah itu, geram Mama Rhea dalam hati.
" Sepertinya aku harus berterima kasih pada mantan kamu ini," sambung papa Rhea sambil kembali mengalihkan pandangan pada Efron yang terlihat santai mengamati.
"Tidak perlu," ujar Efron angkat bicara.
(Semua percakapan ini dalam bahasa Indonesia ya readers, Efron bisa berbahasa Indonesia karena punya darah Indonesia dari kakeknya)
"Aku hanya ingin mengambil kembali hak aku yang hilang!"
"Apa maksud kamu?" tandas papa Rhea.
"Ini," ujar Efron sambil mengeluarkan secarik kertas dari kantong celana lalu melambaikan nya di depan mata papa Rhea.
"Apa ini?" tukas papa Rhea penasaran. Beliau mengambil kertas yang di lambaikan Efron di depan mata nya.
Mata beliau membesar saat melihat tulisan yang tertera di dalam kertas itu. Test DNA? Rhea anak biologis laki laki ini?
"Jelaskan apa ini!" tukas beliau seraya meremas kertas itu lalu melemparkannya ke atas meja.
"Jadi benar?" tandas papa Rhea dengan nada bergetar marah. " Kamu sudah selingkuhi aku?"
"Tidak," bantah mama Rhea cepat. " Itu hanya terjadi sekali. Setelah fashion show di Paris. laki laki itu membius aku dan ..." ujar beliau berusaha membela diri.
"Kalau begitu kenapa sekarang kalian masih berhubungan?" potong papa Rhea.
"Itu...." ucap Mama Rhea berhenti sejenak. Beliau ragu. Tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya.
"kita ketemu di pengadilan agama," potong papa Rhea dingin . Hatinya sakit.
Dengan langkah bergegas, Ayah Rhea pergi keluar dari cafe. Istrinya berusaha untuk mengejar. Namun beliau di hentikan oleh anaknya.
"Ma, biarkan papa. Papa butuh waktu untuk sendiri," kata Rhea menahan mamanya.
"Ya, benar," sahut mama Rhea sambil kembali menghenyakkan pantat di kursi. Badan beliau terasa lemah hingga ke tulang tulang.
"Sekarang kita lanjutkan bisnis kita," kata Rhea pada Efron yang masih duduk dengan santainya.
"Mana obat penawar untuk Rakhan," sambungnya sambil menadahkan tangan.
"Sebentar," sahut Efron sambil mengeluarkan ponsel dari kantong kemeja. Beliau menelepon Edward.
__ADS_1
"Anak buahku akan membawanya ke sini," lanjut beliau sembari menutup ponsel.
"Sebaiknya kamu cepat cepat pergi, biarkan mama kamu tinggal di sini," saran beliau.
"Kenapa?" tanya Rhea curiga. Kenapa aku tidak boleh pergi bersama mama? Apa orang ini ingin menyandera mama? batinnya.
"Karena saat ini Rakhan bersama Chayra," sahut Efron memberitahu.
"Aku akan pergi bersama Rhea. Aku bukan orang cacat yang akan menghalangi Rhea," tukas Mama Rhea.
"Kalau kamu tidak mau tinggal, aku tidak akan memberikan obat penawar itu pada Rhea," ancam Efron.
**""""
"Turunkan aku!" teriak Chayra sambil menggoyangkan goyangkan badannya.
"Tidak," balas Damon sembari mempererat pelukan tangannya di tubuh Chayra.
"Lepaskan Chayra!" seru seseorang yang serta Merta membuat hati Chayra bergemuruh senang.
"Rakhan! " teriak Chayra.
"Tidak," tolak Damon sambil terus berjalan.
"Lepaskan Chayra!" ulang Rakhan seraya menempelkan pistol ke pelipis Damon.
Sial, aku baru saja menyingkirkan dua orang yang mengganggu. Sekarang datang satu lagi, geram Damon dalam hati.
"Cepat!" hardik Rakhan tak sabar.
"Iya," kata Damon setuju. Dia menurunkan Chayra dari gendongan nya.
"Taksa," panggil Rakhan pada Taksa yang berdiri tak jauh dari dia.
Melihat Rakhan lengah , Damon menendang pistol yang masih berada di sekitar pelipisnya.
BraK. Pistol itu terjatuh ke aspal.
Sepertinya akan terjadi perkelahian, kata hati Chayra. Aku harus pergi dari sini!
"Jangan, Mbak Chayra," cegah Taksa yang sudah paham gelagat Chayra. " CEO bisa marah pada saya jika kamu pergi ," sambungnya dengan nada memelas.
"Baiklah," kata Chayra mengalah.
Dengan terpaksa ,dia melihat perkelahian antara Damon dan Rakhan. Kedua laki laki itu silih berganti mengayunkan pukulan yang sesekali di iringi tendangan.
Setelah mereka berkelahi kurang lebih satu jam lamanya, Damon terlihat mulai kelelahan dan tidak mampu mengimbangi kegesitan pukulan dan tendangan Rakhan. Sepertinya tinggal menunggu waktu saja, dia akan mencium panasnya aspal.
__ADS_1