CEO Melankolis

CEO Melankolis
Bab 78: Pada Akhirnya, Dia Tetap Akan Menjadi Suami Kamu


__ADS_3

Sebelum jam 2 siang, Damon dan Lio sudah hadir di lobby rumah sakit. Mereka duduk di sofa yang ada di lobby sambil membaca koran yang di sediakan di rak koran di samping sofa.


"Itu Pak Bisma datang," bisik Damon yang mengintip dari balik koran yang tengah di bacanya.


"Mana?" Lio ikut memunculkan sedikit matanya dari koran yang di pegangnya.


"Itu," Damon menunjuk ke arah pintu masuk lobby dengan ujung koran.


Lio melihat seorang laki laki berumur sekitar 75 tahun, berambut perak berkilau dan terlihat berwibawa. Di sebelahnya berjalan seorang laki laki berumur sekitar 40 tahun, berkulit sawo matang, wajahnya seperti orang Jawa. Tampaknya laki laki itu yang membawa Chayra dari Caliente.


"Ayo," Lio meletakkan koran kembali di raknya. "Kita sapa Pak Bisma," katanya lagi. Dia sudah tidak sabar menunggu.


"Tunggu Pak Bisma selesai konsultasi dulu," timpal Damon santai. "Kenapa justru kamu yang tidak sabar?" ejeknya.


"Aku memang sudah tidak sabar," tukas Lio sewot. "Aku sudah kangen masakan emak. Rendang jengkol, sambal goreng petai..." dia berliur sendiri membayangkan makanan itu.


"Nanti aku belikan satu kontainer rendang jengkol," seringai Damon sambil matanya terus mengikuti langkah Pak Bisma sampai menghilang dari pandangan.


"Aku hanya mau masakan emak," cibir Lio. "Kamu yakin Pak Bisma mengenalimu? Cucunya yang masih muda saja sudah lupa," tandasnya.


"Pak Bisma tidak mungkin melupakan aku," Damon menyeringai. Penuh percaya diri.


*****


Mama Rhea terus memperhatikan anaknya. Sepanjang mereka menyusuri semak berbunga di Highland Park dan sekarang berada dalam mobil menuju arah pulang ke hotel, wajah cantik anaknya sama sekali tidak tampak. Rhea terus memberengut. Dan tambah merengut begitu dia selesai menelepon.


"Bagaimana kalau kita ke Eastman Theatre?" kata mama menyarankan. "Dari komentar pengguna, mereka menuliskan amazing Theatre venue, konser The Philharmonic orchestra ....." mama membuka situs trivAdvisor di ponselnya.


Situs trivAdvisor adalah situs perjalanan yang membantu wisatawan dalam mencari tempat wisata di seluruh dunia.


"Dari tadi mama lihat kamu kelihatan bosan, mendengar konser musik bisa menaikkan mood lo," kata mama lagi.


Dih, siapa yang suka denger musik orkestra, omel Rhea dalam hati. "Aku pengen tiduran saja di hotel ma," putusnya. Setelah menelepon Pak Aditya, dia merasa tambah kesal.


"Kenapa? Kamu sakit?" tanya mama prihatin.


Rhea menggeleng. "Aku tadi menelepon Pak Aditya untuk membuat janji bertemu. Malah pak Aditya bertanya kenapa aku tidak datang tadi pagi? aku langsung bilang kalau Pak Aditya menelepon untuk membatalkan janji, tapi kata Pak Aditya beliau tidak menelepon aku," dia menggaruk kepala. " Suara orang itu mirip sekali dengan suara Pak Aditya."

__ADS_1


"Ya,sudah jangan di pikirkan lagi," hibur mama.


"Iyalah ma, aku di tuduh mengada ngada. Malah katanya kalau mau bertemu nanti saja di Jakarta, karena malam ini, kakeknya Chayra akan balik ke Jakarta," kata Rhea lagi.


"Baguslah, berarti besok kita juga bisa balik ke Jakarta," balas mama senang. " Kasihan papa di tinggal sendirian," ungkap mama.


"Iya," angguk Rhea resah. Dia tidak menceritakan pada mama, kalau Pak Aditya mengatakan jika CEO Rakhan datang berjumpa dengan Pak Bisma. Berarti sia sia saja dia ke Rochester ini!


"Eh, bukankah itu Rakhan?" mama menunjuk seseorang yang tengah berdiri di teras hotel. Sepertinya sedang menunggu jemputan mobil. "Ternyata dia menginap di hotel yang sama dengan kita," sambung mama kaget.


Ya iya lah ma, kan hotel ini yang terdekat dari rumah Pak Bisma, batin Rhea.


Tanpa menunggu Dorman, mama langsung turun begitu mobil berhenti. Mama bergegas mendatangi Rakhan yang sedang berbicara dengan Taksa .


"Kita bertemu lagi," sapa mama.


"Tante Aleeasa?" kata Rakhan. " Maaf Tante, saya harus segera ke bandara," lanjutnya sopan.


"Urusan kamu sudah selesai?" tanya mama lagi.


"Sudah," angguk Rakhan.


Ck, dia lagi, Rakhan berdecak dalam hati. "Tidak, mampir dulu ke Caliente, "pungkasnya. Mau mengambil buket bunga dari Chayra, batinnya. Sebenarnya dia malas menanggapi Rhea,tapi tidak enak ada mamanya . "Permisi, Tante," sambungnya sambil berjalan menjauh.


"Hati hati di jalan," kata mama .


Rakhan mengangguk dari kejauhan.


"Sudah, jangan cemberut," ujar mama pada Rhea yang berdiri di sebelahnya. "Meski sekarang Rakhan acuh padamu, tapi pada akhirnya dia tetap akan jadi suami kamu," hibur mama.


Rhea mengangguk. Semoga saja,harapnya.


****


"Dokumen tender Proyek pembangunan satelit multifungsi Gatotkaca siapa yang buat? Harga penawaran nya terlalu rendah,tidak masuk akal. Waktu pengerjaan nya juga terlalu lama. Ulangi lagi rancangan kontraknya!" suara Rakhan menggelegar di ruang rapat.


Semua yang ikut rapat menundukkan kepala. Takut kena amukan. "Proyek stasiun luar angkasa...." lanjutnya marah. Ada 20 dokumen tender proyek dan semuanya tidak memuaskan bagi Rakhan.

__ADS_1


Sejak pulang dari Caliente, satu bulan yang lalu, CEO terus saja marah marah. Tidak ada satupun pekerjaan yang memuaskan baginya. Semuanya salah . Jika tidak ingat belum dapat pekerjaan lain, aku sudah resign," batin Taksa sambil memandangi Rakhan diam diam. Mungkin seperti ini orang yang sedang patah hati, batinnya lagi.


Dan semakin bertambah marah, ketika Reindra melaporkan Chayra tengah berduaan dengan teman cowoknya di kantin kampus.


Kenapa juga si Reindra menelepon sebelum rapat di mulai? Jadinya CEO tambah uring uringan,sesal Taksa dalam hati.


*****


Arfan memandangi Chayra yang tengah makan soto ayam di hadapannya. Setelah kembali kuliah satu Minggu yang lalu, baru kali ini dia berani mengajak Chayra untuk sarapan di kantin. Dan ketika Chayra setuju, dia melompat kegirangan. Chayra sampai tertawa melihatnya.


"Apa ada kotoran di wajahku?" tanya Chayra sambil meraba raba wajahnya.


"Oh, tidak , tidak," Arfan buru buru mengibaskan tangan. Dia menundukkan muka. Malu ketahuan terpesona.


" Syukurlah," sahut Chayra. "Soalnya kamu menatap aku terus dari tadi."


Wajah Arfan berubah merah mendengar perkataan Chayra. "Kamu kemana saja selama hampir satu bulan?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Oh, itu, aku ke tempat kakekku di Amerika," jawab Chayra sambil memasukan sendok soto ayam terakhir ke dalam mulutnya.


"A..Amerika?" gagap Arfan.


"Iya, kakekku sedang dalam pengobatan setelah operasi jantung di Amerika," kata Chayra menerangkan.


"Kamu...aku ..." Arfan tidak tahu mau bicara apa. Bukankah Chayra ini anak tidak mampu?


Kabarnya, dia masuk universitas ini juga atas bantuan ayahnya Rhea. Untuk makan sehari hari dia bekerja paruh waktu di Cafe kecil depan kampus. Pakaian yang di kenakan nya juga bukan pakaian branded.


Apa jangan jangan Om senang itu yang telah membiayai Chayra dan kakeknya untuk berobat di Amerika?


Tapi memang sejak kembali kuliah seminggu yang lalu, penampilan Chayra berubah drastis. Meski penampilannya masih tetap kasual, namun barang yang di pakainya dari ujung kaki sudah barang berharga mahal. Hati Arfan sibuk berkata kata.


"Sudah jam masuk, ayok," kata Chayra sambil berdiri. Dia meletakkan tiga lembar uang seratus ribu di atas meja.


"Eh jangan, biar aku yang bayar," kata Arfan seraya mengeluarkan dompet dari kantong celananya. "Kan aku yang mengajak."


"Kamukan tidak ikut makan," tolak Chayra.

__ADS_1


"Kembaliannya buat ibu saja," ujarnya pada Bu kantin yang datang menghampiri.


Tiga ratus ribu untuk semangkuk soto ayam dan sebotol air mineral? Arfan melongo. Chayra sekarang sudah berbeda.


__ADS_2