CEO Melankolis

CEO Melankolis
Bab 83 : Saling Menyusun Rencana


__ADS_3

"Kenapa CEO?" tanya Taksa dengan hati berdesir. Perasaan nya tidak enak. Firasat nya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi.


"Kamu ingin naik gaji? Dua kali lipat?" tanya Rakhan.


Akhirnya! Mata Taksa mendadak melihat jejeran bintang di tata Surya terhampar di Eternit ruangan .


"Mau tidak?" ulang Rakhan karena Taksa tak jua bersuara. Tapi jika di lihat dari sorot matanya yang berbinar seperti nya asistennya itu mau.


"Mau CEO," angguk Taksa cepat. Siapa yang tidak mau naik gaji? Apalagi ini dua kali lipat!


Tok .. tok


ketukan sopan di pintu di lanjutkan dengan pintu terbuka dari luar seiring suara Rakhan menyuruh masuk.


Aquila Hydra, sekretaris CEO yang baru, masuk ke dalam. Dia membawa sebuah undangan di tangan kanannya.


"Ada undangan untuk CEO," kata Aquila begitu dia mendekat. Dia meletakkan undangan itu ke atas meja kerja Rakhan.


Rakhan melihat undangan segiempat berwarna keemasan dengan nuansa alam. Jenis font Kalista typeface membuat undangan itu terlihat unik.


Font Kalista typeface adalah jenis font yang tampak seolah olah seperti tulisan tangan asli.


"Undangan ulang tahun perusahaan Orang Tua group yang ke 100 tahun pada tanggal 18 bulan ini," baca Rakhan dalam hati.


Tidak biasanya Orang Tua Group mengadakan pesta untuk merayakan ulang tahunnya. Biasanya dengan menggelar bakti sosial atau malam dana, lanjutnya membatin. Pasti ada sesuatu di balik acara itu, kata hatinya lagi.


"Permisi, CEO," Aquila undur diri setelah dia meletakkan undangan itu.


Sebelum sekretaris nya itu pergi, mata jeli Rakhan melihat Taksa dan Aquila saling melirik.


Rakhan mengernyitkan dahi. Selama menjadi asisten nya dua tahun lalu, Taksa tidak pernah melirik seorang perempuan pun, secantik apapun dia. Jika sekarang Taksa melirik Aquila, pasti dia tertarik pada gadis itu .


"Jauhi gadis itu," tukas Rakhan sesaat setelah Aquila menutup pintu.


Eh? Taksa menoleh. Melihat Rakhan dengan kaget. Jauhi gadis itu? Apa maksud CEO, Aquila? batinnya. Bagaimana CEO bisa tahu? Namun dia tak berani bertanya.

__ADS_1


"Iya itu, Aquila," Rakhan memperjelas ucapannya. "Begitu kamu ketahuan menjalin hubungan dengan dia, kamu bisa memilih di pecat atau pindah ke Somalia," tandasnya.


Seingatku, hanya larangan hubungan suami istri yang tertera dalam peraturan perusahaan, batin Taksa. Tapi tentu saja dia tidak berani membantah. " Iya, CEO," katanya menurut.


"Atur jadwal sore ini dengan Pak Asep Sunarya, jam 5 sore," kata Rakhan sambil menekan interkom yang tersambung ke meja Aquila.


Pak Asep kan pakar public speaking dan communication skill? batin Taksa heran. Apa CEO masih butuh pelatihan lagi untuk tampil sebagai seorang profesional?


*****


Blossom mengangkat sebelah alis. Sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Dari nomor ponsel yang tidak tersimpan dalam ponselnya. Tidak ada foto profilnya. Tapi dari pesan yang di kirim, bisa di simpulkan kalau itu dari Nyonya Aleeasa.


"Kalau sempat, besok siang jam 1..." Blossom membaca pesan itu. Owh, sebuah undangan makan makan di restoran mewah.


"Baik, Bu," Blossom mengirim pesan balasan. Hari ini hari terakhir dia melakukan kegiatan offline Chanel. Untuk Online Chanel di lanjutkan besok pagi. Jadi dia bisa keluar sebentar untuk memenuhi undangan itu.


Kegiatan offline Chanel seperti hadir dalam pameran,seminar dan kegiatan yang berhubungan dengan promosi perusahaan.


"Besok pas jadwal istirahat siang, aku pergi sebentar. Ada seorang kenalan mengajak bertemu," kata Blossom sambil memasukan ponsel ke dalam Tote bag nya. " Kamu tidak usah ikut," ujarnya pada asistennya yang berdiri di sebelahnya.


Aku ingin tahu, kenapa Nyonya CEO mengajak bertemu secara pribadi, batin Blossom dalam hati.


****


"Dalam dua Minggu ini, saya harap asisten saya ini sudah bisa berlaku dan berbicara seperti seorang profesional," kata Rakhan. Acara ulangtahun orang tua Group tanggal 18, berarti dua minggu dari sekarang, aku tidak boleh membuang waktu, batinnya. Itu saatnya untuk dia menampilkan Taksa ke permukaan!


"Saya jamin sebelum dua minggu,Pak Taksa ini tindak tanduknya sudah seperti profesional sejati," balas Pak Asep memberikan garansi.


Asisten CEO ini memang sedikit kolot, kurang percaya diri dan minim kemampuan mengolah kalimat, tapi aku adalah master di bidang public speaking dan communication skill, kata hatinya menilai.


"Jangankan orang, jika CEO menginginkan seekor hamster mahir public speaking, saya bisa melakukannya," sambungnya dengan nada jumawa.


Meski kata kata Pak Asep terlalu berlebih-lebihan tapi Rakhan percaya padanya.


"Baik, saya serahkan pada anda," sahut Rakhan puas. " Jadwalnya sepulang kerja biar tidak menganggu pekerjaan di perusahaan," putusnya.

__ADS_1


"Baik, Pak," jawab Pak Asep. Semua jadwalnya pada jam tersebut otomatis di majukan atau kalau tidak bisa, di hilangkan. Mendapat job dari CEO Rakhan ini merupakan keberuntungan untuknya. Apalagi jika tidak menyangkut nominal honor yang menggiurkan.


"Ikut aku," Rakhan berdiri dari kursi begitu Pak Asep meninggalkan ruangan CEO.


Bukankah CEO tidak punya jadwal lagi? Ini sudah saatnya pulang, pekik Taksa dalam hati. "Baik, CEO," katanya menurut.


***


Mama membuka pintu kamar Rhea dengan perlahan. Beberapa pelayan sudah bolak balik memberitahukan pada Rhea untuk turun ke bawah. Tapi anaknya itu tidak juga turun. Padahal sudah waktunya untuk makan malam. Karena kuatir, Mama Rhea memutuskan untuk naik ke atas melihat anaknya.


Mama melihat Rhea tengah telentang di atas ranjang. Dia tidak tidur. Matanya terbuka. Seperti memikirkan sesuatu. Pasti sedang memikirkan Rakhan, batin beliau. Kasian sekali!


"Re," Mama duduk di bibir ranjang. "Mama sudah membuat janji dengan Blossom besok siang," kata beliau sambil mengusap rambut anaknya.


"Mama yakin itu akan berhasil?" Rhea menoleh menatap mamanya.


"Setidaknya kamu bisa menimba ilmu dari dia," bisik mama. "Bagaimana cara menaklukkan hati Rakhan."


"Bagaimana kalau dia berbohong, Ma?" tanya Rhea. "Bisa saja kan dia berbohong."


"Kita akan tahu jika dia berbohong," kata mama tegas. "Kamu tidak usah kuatir," lanjut beliau sambil mengeluarkan sebuah pil dari kantong roknya. "Ini namanya Pil kebenaran," sambung beliau seraya mengacungkan pil itu ke arah Rhea.


"Mama memang hebat," timpal Rhea sambil bangkit dari ranjang. Dia memeluk mamanya dengan wajah sumringah.


"Apa yang tidak buat kamu," senyum mama. Meski itu harus mengorbankan harga dirinya sebagai seorang istri.


*****


Taksa mengikuti Rakhan masuk ke dalam sebuah butik pakaian pria. Butik langganan Rakhan. Semua bajunya baik yang formal ataupun casual berasal dari butik ini.


Archemi Tikdal, pemilik dari butik ini bergegas keluar begitu melihat Rakhan duduk di sofa di ruangan customer VIP.


"Selamat sore ,CEO," sapa Archemi ramah. Senyum menggantung di bibirnya. "Maaf saya tidak menyambut Anda di pintu depan. Biasanya anda menelepon dulu sebelum ke sini," katanya meminta maaf.


Rakhan adalah pelanggan VIP yang paling setia dan tidak banyak permintaan. Selain itu wajahnya juga sangat tampan. Dia idola di butik ini.

__ADS_1


****


Kira kira mau apa Rakhan membawa Taksa ke butik langganan nya? tulis di kolom komentar ya readers 🥰


__ADS_2