CEO Melankolis

CEO Melankolis
Bab 62: Robot Itu Menolak Semua Perintah!


__ADS_3

Rakhan membuka pintu kamar. Matanya langsung tertuju pada ranjang yang berada di seberang pintu.


"Mana dia?" Rakhan melihat ranjang rapi dan bersih. Tidak ada tanda tanda habis di tiduri.


Saat dia menoleh ke arah sofa, yang terletak tidak jauh dari pintu, dia melihat Chayra tengah tertidur. Badannya di bungkus selimut tebal. Tampak seperti telur gulung.


"Apa dia sakit?" batin Rakhan sambil bergerak mendekati. Dia menempelkan telapak tangan ke dahi Chayra, satu satunya anggota tubuhnya yang masih terlihat. "Tidak panas," katanya pelan. Lalu dia melepaskan tubuh Chayra dari selimut dan menggendongnya.


Ugh ... Mata Chayra berkedip. Kenapa dia merasa badannya bergoyang goyang? Bukankah dia sedang tidur? Dia membuka sebelah mata. Apa? Matanya terbelalak saat melihat Rakhan tengah menggendongnya dan berhenti di sebelah ranjang.


"An..anda mau apa?" teriak Chayra kaget. Apa laki laki itu hendak mengambil kesempatan ketika dia tertidur? "Lepaskan aku!"


"Baik," Rakhan melepaskan gendongannya. Teriakan ketakutan Chayra membuatnya kesal.


Bugh! Chayra terhempas ke atas kasur. "Aduh," dia mengaduh sembari mengelus kepalanya yang terantuk di kepala ranjang yang terbuat dari kayu mahoni. " Kenapa anda menjatuhkan saya? Sakit," gerutunya.


"Bukannya kamu yang minta?" pungkas Rakhan.


"Iya, tapi setidaknya anda bisa membaringkan saya dengan perlahan," balas Chayra sewot.


"Jika aku membaringkan seorang perempuan di ranjang dengan lembut, itu berarti aku akan menidurinya," seringai Rakhan .


"Apa?" Chayra buru buru bangun dari ranjang. Rasa sakit di kepala karena terantuk seketika lenyap. "Jadi itu alasannya Anda memindahkan saya ke ranjang? Dan juga membelikan pakaian dalam dengan model yang mengerikan?" sambungnya.


"Pakaian dalam dengan model mengerikan?Apa maksud mu?" Rakhan mengerutkan kening.


"Sebentar," kata Chayra. Dia turun dari ranjang lalu berjalan menuju lemari yang berada di bawah jendela. Dia membuka lemari itu kemudian mengeluarkan sebuah paperbag berukuran kecil dan membawanya menuju ke tempat Rakhan berdiri


"Anda lihat sendiri," dia menyerahkan paperbag itu ke tangan Rakhan.


Rakhan mengambil paperbag yang di sodorkan Chayra, lalu mengeluarkan isinya. Seketika wajahnya menjadi ungu saat melihat rupa dan bahan pakaian dalam yang teraih oleh tangannya.


Dia memasukkan kembali pakaian dalam itu kemudian meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas di samping ranjang.


" Kamu yang sudah membelikan pakaian dalam Chayra?" kata Rakhan begitu Taksa menyahut .


"Iya, CEO," sahut Taksa cepat. "Anda tidak perlu mengucapkan terimakasih karena sudah kewajiban..."

__ADS_1


"Siapa yang ingin mengucapkan terimakasih?" potong Rakhan kesal. Apa sih pikiran Taksa sewaktu membelikan Chayra pakaian dalam itu? Baru sekali ini Taksa begitu berani padanya.


"A..apa saya melakukan kesalahan?" tanya Taksa gelisah. Di dengar dari suaranya, sepertinya CEO sangat kesal. Mungkin akan memakannya jika sekarang dia berdiri di hadapan CEO.


"Bicara dengan Chayra, " Rakhan memberikan ponselnya pada Chayra yang berdiri di sebelahnya.


Chayra mengambil ponsel itu dengan wajah heran. "Halo?" katanya begitu dia menempelkan ponsel di telinga kanan. " Jadi bapak yang membelikan pakaian dalam itu? " sambarnya setelah mendengar Taksa bicara.


" Iya , memangnya ada apa dengan pakaian dalam itu? Kenapa kamu dan CEO terdengar marah? Apakah modelnya tidak kamu suka?" tanya Taksa heran. " Itukan pakaian dalam dengan brand mahal," jelasnya tak mengerti.


" Memang brand mahal ,Pak. Tapi bahannya tipis seperti saringan terigu," balas Chayra gemas. " Model nya juga mengerikan," sambungnya lagi. Auto hilang ke******** jika dia nekat memakainya. "Apa perlu saya foto supaya bapak percaya?"


"Tidak usah," tolak Taksa. Pantas CEO terdengar marah. "Sebenarnya tadi saya minta pelayan toko untuk membantu memilihkan model dan bahannya, saya katakan untuk teman akrab CEO. Saya tidak tahu jika dia... Ya Tuhan," dia meremas rambutnya. " Aku mengatakan girl friend , pelayan itu mengira girlfriend!"


Girl friend artinya teman perempuan sedangkan girlfriend adalah pacar perempuan. Tapi biasanya orang Amerika atau Inggris menggunakan kata teman tanpa menyebutkan gender.


"Ya sudahlah," kata Chayra memahami. Lagipula mana ada laki laki yang membelikan pakaian dalam untuk temannya? Pastilah itu untuk pacarnya.


"Maaf ya," kata Taksa.


"Anda ingin bicara lagi?" tanya Chayra pada Rakhan yang masih memandangi. Rakhan mengangguk sebagai jawaban. "Iya, ini CEO mau bicara," katanya sambil mengembalikan ponsel itu pada Rakhan.


"Ya," sahut Rakhan kemudian mematikan ponsel. lalu meletakkannya ke atas nakas.


"See?" Rakhan menatap Chayra . "Tidak ingin minta maaf?" katanya lagi. "Sudah berprasangka jelek padaku. Jika aku memang ingin meni**ri kamu, aku tidak akan membelikan pakaian dalam. Karena kamu tidak akan membutuhkannya," bisiknya di gendang telinga Chayra.


Apa? Wajah Chayra memerah. " Dasar mesum!" dia memukul tangan Rakhan dengan kesal.


"Bukannya minta maaf malah memukul," tandas Rakhan sambil menahan tangan Chayra, menyentaknya dengan kuat sehingga Chayra kehilangan keseimbangan dan jatuh dalam pelukan Rakhan.


Kya...Chayra menjerit.


Rakhan mendekatkan wajahnya.


Jantung Chayra berdetak kencang. alih alih melawan, dia memutuskan untuk pasrah. Dia menutup kedua matanya. Bersiap menerima serangan.


Hmpf...Rakhan menahan tawa. " Kenapa tutup mata? " bisiknya di telinga Chayra.

__ADS_1


" Bukannya anda ingin..." Chayra membuka mata. "Eh, tidak ya?" katanya melihat Rakhan diam saja .Pipinya merah menahan malu.


"Iya," timpal Rakhan sembari melayangkan ciuman.


Saat dia akan memperdalam ciumannya, ponsel di atas nakas berdering.


Sial! Rakhan menggerutu. Siapa yang menelepon malam malam begini? Dia terpaksa melepaskan ciumannya lalu mengambil ponsel .


Di layar monitor ponsel tertera nama Geoff Steel. Apa ada masalah dengan robot itu? pikirnya. "Ada apa?" dia menekan tombol menerima.


"Robot itu menolak semua perintah, CEO," lapor Geoff. " Dia terus mengatakan Chayra Minara adalah tuannya. Dia hanya akan mengikuti perintahnya," sambungnya. " Jika dia tidak bertemu Chayra, dia akan menghancurkan lab ini," tutupnya dengan nada ketakutan.


"Baiklah, suruh sopir jemput aku sekarang di hotel," sahut Rakhan kemudian mematikan sambungan telepon.


"Ada apa?" tanya Chayra ingin tahu. Padahal baru saja dia akan menikmati ciuman itu.


"Robot itu menanyakan kamu," jawab Rakhan kesal. Eh? Sekarang dia cemburu pada sebuah robot? " Cuci mukamu, " dia menunjuk wajah Chayra. " Wajahmu wajah bantal, tidak enak di lihat," sambungnya.


"Kalau begitu jangan lihat," tukas Chayra sewot.


"Aku tidak bercanda, cepat cuci mukamu . Kamu akan ikut aku ke kantor cabang," balas Rakhan. "Nanti akan aku ceritakan semuanya di dalam mobil," sambungnya melihat Chayra masih tidak bergerak.


"Ganti pakaian?" Chayra menunjuk pakaian yang di kenakannya. " Tapi semua pakaian yang di belikan modelnya ini semua. Model sarung," jelasnya.


Rakhan menatap Chayra dengan teliti. Model pakaian yang di pakai gadis itu memang tidak menarik. Lebih mirip sarung sangkar burung.


" Tidak usah di ganti," putusnya. "Pegawai di kantor cabang laki laki semua. Tipe ikan piranha. Pemangsa," tukasnya.


"Baiklah," Chayra menurut. Jikapun di suruh ganti akan tetap sama saja. Semua pakaiannya model ini semua. Hanya beda di warna.


Setengah jam kemudian, mereka sudah sampai di kantor cabang. Chayra berjalan mengikuti Rakhan masuk ke dalam kantor. Mereka terus berjalan sampai kemudian berhenti di sebuah ruangan bertuliskan Lab.


Rakhan menempelkan retina matanya sebagai proses identifikasi di susul menekan beberapa kata sebagai password untuk membuka pintu baja laboratorium.


Setelah proses identifikasi dan kata password di kenali, pintu terbuka.


Chayra berjalan mengikuti Rakhan yang sudah lebih dulu masuk ke dalam.

__ADS_1


Begitu Rakhan menjejakkan kaki ke dalam, Damon melayang ke arahnya. Meninjunya dengan membabi buta.


__ADS_2