CEO Melankolis

CEO Melankolis
Bab 87: Saatnya Taksa beraksi


__ADS_3

Taksa melangkah masuk mengikuti Rakhan. Ballroom Hotel Minerva, hotel berbintang lima di kaki bukit itu sudah di sulap dengan begitu indah. Bernuansa alam dengan pemandangan pedesaan yang menyejukkan mata.


Malam ini, ballroom hotel tersebut telah di sewa untuk merayakan ulang tahun ke 100 tahun Pak Tua Group.


Setelah pelatihan selama lebih kurang 2 Minggu, sekarang adalah saatnya untuk melihat hasilnya, batin Rakhan.


"Jangan kecewakan aku," Desis Rakhan. Dia menoleh sedikit ke belakang .


"Baik, CEO," balas Taksa. Semua orang juga tahu kalau aku ini asisten pribadi CEO, kenapa mesti berlagak sebagai seorang pengusaha? batinnya bingung. Tapi apalah mau di kata. Karena ini perintah, dia terpaksa setuju.


Mereka datang tepat waktu. Sesuai jam yang tertera di dalam undangan. Namun ballroom sudah di penuhi para undangan.


Orang orang yang mengenal Rakhan bergegas menghampiri nya. Mengucapkan beberapa patah kata untuk beramah tamah.


Mereka sebenarnya ingin berlama lama berbincang dengan Rakhan, seorang pengusaha muda yang fenomenal, tapi Rakhan tidak ingin menghabiskan waktu dengan mereka. Dia ke sini punya tujuan. Dan itulah tujuannya!


Mata elangnya menangkap sosok CEO Farras beserta istri dan anaknya. Mereka tengah berdiri membelakangi pintu masuk ballroom, jadi tidak mengetahui kedatangan Rakhan.


Rakhan memutuskan mendatangi mereka. "Saatnya kamu beraksi," desisnya pada Taksa yang berjalan di belakang nya.


"Iya, CEO," cicit Taksa lirih. Kenapa pula aku di serahi tugas ini? Memikat gadis biasa saja aku tak sanggup apalagi ini memikat pewaris tunggal In tech, rintihnya dalam hati. Selain itu masih terbayang tamparan sadis Rhea di pipinya di depan Elmer's cafe , ketika di Caliente waktu itu.


"Selamat malam,CEO Farras," Rakhan menyapa ramah.


"Selamat malam, CEO Rakhan," Papa Rhea segera menoleh.


"Rakhan," sapa mama Rhea.


"Malam, Tante," balas Rakhan sopan.


"CEO," Rhea turut menyapa.


"Ada Rhea juga," timpal Rakhan pura pura kaget. Tentu saja, di acara ini Rhea pasti tidak mau ketinggalan. " Maaf CEO Farras dan Tante, bisa saya pinjam Rhea sebentar?" sambungnya sopan.


Meminjam Rhea? Kening papa Rhea berkerut. Kenapa tiba tiba Rakhan ingin berduaan dengan Rhea?

__ADS_1


Meminjam Rhea? Mata mama Rhea berbinar. Apa Rakhan ingin bicara sesuatu secara pribadi ?


Meminjam aku? Dada Rhea berdebar senang. Apa CEO ingin mengenalnya lebih dekat?


"Silahkan, bicaralah sepuasnya," sahut Mama Rhea sembari mendorong anaknya lebih dekat dengan Rakhan.


"Mama..." ucap Rhea malu malu.


Rakhan bergidik melihatnya. Perutnya mual melihat sikap Rhea yang malu malu itu. Tapi terpaksa di tahannya .


"Ya, silahkan," ujar Papa Rhea setuju.


"Ayo," Rakhan memberikan isyarat tangan pada Rhea untuk mengikutinya.


"Iya," balas Rhea mengangguk. Dia berjalan mengikuti Rakhan.


"Semoga Rakhan setuju untuk menikahi Rhea ya, Pa," ucap mama Rhea dengan mata masih terus mengiringi punggungnya Rhea.


"Ya," papa Rhea mengangguk. Beliau belum memberitahu istrinya jika beberapa hari yang lalu, ayahnya Rakhan menelepon. Mengajak bertemu untuk membicarakan sesuatu. Namun belum bertemu waktu yang pas. Tapi entah kenapa firasatnya tidak enak.


"Biarkan saja," balas Mama Rhea santai. "Jika Rakhan macam macam, tinggal kita nikahkan saja," kikik beliau.


Dahi Papa Rhea berkerut mendengarnya. Kenapa pemikiran istrinya menjadi aneh begini? Siapa yang mau anak perempuannya di acak acak laki laki? Biarpun di iming imingi mau di nikahin juga.


Sementara itu, Rakhan mengajak Rhea keluar dari Ballroom menuju teras samping ballroom.


"Kita bicara di sini saja, ya," kata Rakhan.


"Iya, CEO," angguk Rhea. Hatinya tambah berdebar. Apa yang ingin di katakan CEO? Di lihat dari sikapnya yang ramah, sepertinya sesuatu yang baik.


"Ada telepon," kata Rakhan kemudian. Dia mengeluarkan ponsel dari kantong jasnya yang bertahtakan berlian. " Kamu tunggu di sini dulu, jangan kemana mana, ada Taksa yang menemani," pesannya sebelum pergi.


Ha? Rhea terperangah. Bagaimana bisa dia di tinggalkan begitu saja dengan Taksa? Tapi, jika dia pergi, bagaimana kalau CEO datang lagi?


"CEO hanya sebentar," kata Taksa seakan mengerti pikiran Rhea. " CEO tidak pernah mengingkari janji," sambungnya lagi. Tapi jika tidak bertemu Chayra, lanjutnya dalam hati.

__ADS_1


"Aku tidak perlu di temani," ujar Rhea sinis. Dia menatap Taksa. Meski sekarang asisten CEO itu memakai jas mahal tetap saja dia hanya seorang asisten. Mana bisa di bandingkan dengan CEO Rakhan.


"CEO berpesan untuk menemani Nona Rhea, saya tidak mungkin membantah CEO," balas Taksa. Hm...tatapan nona besar ini sungguh melukai hatiku, batinnya. Namun apalah di kata, CEO sudah mengeluarkan banyak uang untuk hari ini. Belum lagi di janjikan naik gaji dua kali lipat!


"Baiklah, kamu boleh di sini. Tapi jangan banyak omong," putus Rhea.


Tidak bicara juga tidak mengapa, batin Taksa. Kebetulan selain ilmu publik speaking dan communication skill, Pak Asep juga mengajarkan ilmu yang lain.


Rakhan yang sadar jika Taksa tidak memiliki pengalaman bercinta, meminta Pak Asep mengajari Taksa kemampuan memikat lawan jenis dengan keahlian merangkai kata. Awalnya Pak Asep menolak , karena itu di luar jangkauan ilmunya . Namun, Rakhan menambahkan honor yang langsung membuat Pak Asep menganggukkan kepala.


"Baiklah, jika itu yang nona inginkan," timpal Taksa. "Saya tidak akan banyak bicara," dia menggerakkan tangan kanannya di atas bibir membentuk isyarat bibirku terkunci. "My lips are sealed, " senyumnya.


What? Rhea tak bisa menahan rasa kagetnya. Nyaris dua Minggu tak bertemu, kenapa Taksa begitu berbeda? Terlihat lebih berwibawa. Lebih menguasai keadaan.


Rakhan masuk kembali kedalam ballroom. Dia menjelajahi ballroom mencari orang yang paling di rindukannya.


Ternyata acara akan di mulai. Rakhan di arahkan oleh penyelenggara acara ke sebuah meja bundar di dekat panggung. Dia duduk di sana dan melihat papa dan mamanya Rhea duduk tak berapa jauh dari mejanya. Bersama mereka, juga duduk papa dan mamanya. Terlihat mereka serius bicara.


Rakhan mengangkat sebelah alis. Apa yang mereka bicarakan? Apakah tentang dia dan Rhea? batinnya bertanya tanya.


"Mengenai rencana perjodohan anak anak kita," kata Pak Ravez membuka kata. "Bagaimana jika kita batalkan saja?" lanjut beliau yang membuat mata papa dan mama Rhea serentak terbelalak kaget.


"Ada apa ini ,Pak Ravez? Kenapa anda tiba tiba mengatakan demikian?" sahut Papa Rhea kaget.


"Iya betul," Mama Rhea turut bicara.


Kenapa mereka kelihatan kaget begitu ya? kata hati Rakhan. Dia jadi penasaran ingin tahu.


Setelah melihat semua mata orang dalam ballroom itu terfokus pada pembawa acara yang juga seorang aktris populer, dia melemparkan sebuah pin tipis berbahan aluminium ke punggung kanan ayahnya. Pin itu pun mendarat mulus di sana.


Rakhan mengambil headset dari dalam kantong jasnya dan mulai menyalakannya. Suara ayahnya pun memasuki gendang telinganya.


"Maaf Pak Farras, saya juga baru tahu keadaan yang sebenarnya . Jika ternyata Rakhan sudah punya pacar. Gadis itu sangat di cintai Rakhan, rasanya saya sebagai orang tua ..."


Hm, ini lebih baik dari yang aku duga, senyum Rakhan.

__ADS_1


__ADS_2