
Mama menunggu dengan gelisah di dalam kamar hotel. Nyaris 30 menit sejak Rhea minta ijin untuk pergi ke cafe di lantai bawah dan belum kembali.
Mama memutuskan untuk menyusul Rhea. Mama takut Rhea kenapa kenapa.
Mama naik lift yang keluar tepat di depan pintu masuk Elmer's cafe. Tanpa perlu mencari, mata mama langsung tertuju pada pasangan yang baru keluar dari pintu di sisi lain cafe.
Mata mama melotot. Mama melihat Rhea berjalan sambil menempelkan tubuhnya pada Taksa.
"Rhea!" Mama tak kuasa menjerit. Untung saja tidak banyak orang yang lewat. Pasti mereka akan terkena serangan jantung mendengar teriakannya mama .
Gawat, Nyonya Farras! Taksa terperanjat. Seketika dia melepaskan pegangannya pada tangan Rhea.
Sementara Rakhan masih duduk di dalam cafe. Dia tengah berbicara dengan Jun melalui sambungan telepon. Jun mengatakan melalui kamera CCTV di Hot spring hotel and Spa, tidak terlihat tanda-tanda kehadiran Chayra.
"Ok," Rakhan menutup telepon. " kucing kecil, kamu di mana?" dia meremas rambut ikalnya dengan frustasi.
Saking frustasi nya sampai tidak mendengar kehebohan di luar pintu cafe.
Rhea yang kaget karena tangannya di lepas tiba tiba oleh Taksa, terjatuh ke lantai. Sebelum terjatuh, dia menarik lengan kemeja Taksa.
Taksa pun ikut terjatuh, menimpa tubuh Rhea yang tertelentang di lantai.
Mereka bertindihan di atas lantai.
Mata mama tambah melotot. Posisi apa ini! "Rhea!" teriak mama. Mama buru buru datang menghampiri.
"Mama?" kata Rhea sambil mengusap kepalanya yang terasa sakit karena terantuk di dinding. Kemudian dia merasakan tubuhnya berat. Seperti tertindih sesuatu.
" Kamu?" serunya histeris. Matanya nyaris keluar saat melihat Taksa berada di atas tubuhnya. "Damn!" dia melayangkan pukulan ke pipi Taksa yang mulus.
"Aduh ...." Taksa meringis . Dia tidak sempat menghindar. Sambil mengusap usap pipi,dia bangkit dari tubuh Rhea.
Gilak! Tamparan gadis ini luar biasa keras. Sakitnya sampai ke telinga, rintih Taksa dalam hati.
"Ayo," Mama mengulurkan tangan. Membantu Rhea berdiri. "Maaf ya ,Nak," kata Mama pada Taksa yang masih mengusap pipinya.
"Kenapa mama minta maaf sama dia?" potong Rhea kesal. Kenapa laki laki ini yang pertama kali menyentuh dirinya yang masih perawan ini. " Dia itu berniat tidak baik ma, Mama bisa lihat tadi kan," omelnya kesal.
"Kamu itu mabuk," jelas mama. " Asistennya CEO Rakhan ini yang membantumu berjalan."
Mabuk? Rhea mengernyit. "Masa?" dia tak percaya.
"Kita bisa lihat kamera CCTV," jawab Taksa. Pipinya masih terasa sakit.
"Nanti saja," mama yang menyahut. "Sekarang tolong antarkan saja kami ke kamar," pinta mama. "Kami menginap di kamar ...."
Sebelah kamar Chayra, kata Taksa dalam hati. "Baik, Nyonya," angguknya.
"Aku mau lihat CCTV sekarang," tukas Rhea sewot. "Aku ingin lihat apa saja yang sudah kamu perbuat padaku," lanjutnya sinis.
"Nanti saja," ulang Mama. " Biar Aspri CEO ini yang mengirimkan rekaman itu ke ponsel mama," sambung mama. Mana mungkin aku membiarkan Rhea berkeliaran dengan kondisi seperti ini. Meski saat ini kelihatannya dia sudah sadar, tapi aku tidak mau mengambil resiko, batin mama.
"Ma ...." Rhea merajuk. " Baiklah," dia mengalah setelah melihat pancaran cahaya kemarahan dari mata mama. " Kirim ke ponsel aku saja," katanya sambil berjalan mendahului.
"Setelah di kirim, minta pihak hotel untuk menghapusnya," pinta mama. Mau di taruh di mana muka keluarga besar Hadiyan jika rekaman itu sampai tersebar, kata mama dalam hati.
__ADS_1
"Baik, Nyonya," angguk Taksa.
"Tidak usah mengantar kami,"Rhea menoleh ke belakang. Wajahnya masih terlihat marah.
"Baik," Taksa mengangguk. Senang. Andai tidak di suruh CEO, dia juga tak akan mau mengantarkan gadis itu.
Sementara itu, Rakhan bersiap hendak berdiri dari kursi ketika ponselnya bergetar. Dari Jun. Dia segera mengangkatnya.
"CEO, ada video inline yang di kirim ke website resmi WT, tidak ada gambar, hanya ada suara. Tapi salah satu suara itu mirip dengan suara Nona Chayra," kata Jun membuka percakapan." Anda bisa membuka website resmi WT untuk mengeceknya," katanya.
Video inline adalah video yang di masukan ke dalam halaman web.
"Oke, aku buka dulu websitenya, sementara kamu cek di mana lokasi tempat pengambilan video itu," ucap Rakhan sambil mematikan sambungan telepon. Dia segera membuka website WT. Penasaran dengan apa yang di katakan Jun. Tampilan website WT baru saja muncul di layar monitor ponsel ketika Taksa datang mendekat
"CEO," Taksa menyapa.
"Kamu kenapa?" kata Rakhan sambil mengangkat sebelah alis. Pipi Taksa yang bengkak menyita pandangannya.
"Di tampar Mbak Rhea," sahut Taksa. Kemudian dia menceritakan kronologis kejadiannya.
" Hm ...." Rakhan hanya bisa menahan senyum. "Sudah ke ruang kontrol hotel?" tanyanya sembari membuka website di ponselnya.
"Sudah, CEO, ternyata CCTV samping hotel rusak dan sekarang sedang di perbaiki," lapor Taksa.
Hah...Rakhan menarik nafas. Kecewa. Semoga video yang di katakan Jun bisa membawa titik terang keberadaan Chayra,harapnya dalam hati.
"Nah ini dia," Rakhan melihat sebuah video yang beberapa belas menit yang lalu terkirim. Dia menekan tombol putar yang berada di tengah-tengah video.
"Di lihat dari dekat kamu lumayan juga," suara seorang laki laki.
"Ngawur," suara seorang perempuan terdengar.
Jantung Rakhan mendadak berhenti berdetak. Chayra! Itu suara kucing kecil! " Cepat telepon Jun, apa dia sudah menemukan lokasinya!" perintahnya pada Taksa. "Cepat!"
"Baik, CEO," sahut Taksa cepat. Melihat raut muka CEO yang panik, dia ikut merasa panik juga.
"Selama ini Rakhan selalu mengambil barang...." Rakhan masih terus mendengarkan rekaman itu. " Sudah di angkat Jun?" dia berpaling pada Taksa.
"Bel...eh, sudah ini ,CEO," Taksa memencet tanda speaker, supaya CEO bisa ikut dalam percakapan.
"Bagaimana?" tanya Rakhan cepat.
"Sudah ketemu ,CEO, "jawab Jun. "Sepertinya orang tersebut tidak sengaja memencet tombol terkirim, karena sampai sekarang videonya masih berputar," lapornya.
"Alamatnya?" sela Rakhan. Dia tidak tertarik mendengar penjelasan Jun.
"900 Font St, itu di selatan Caliente, sekitar 45 menit dari hotel tempat CEO menginap, " kata Jun memberitahu.
"Ok, beritahu supir untuk menjemput aku di sini," perintah Rakhan.
"Baik, CEO," Jawab Jun.
"Good job," kata CEO Rakhan.
"Terimakasih ,CEO," balas Jun sumringah. Selama setahun berkarier di WT ,ini adalah kali pertama dia di puji CEO.
__ADS_1
"Ya," kata Rakhan sambil memberikan isyarat pada Taksa untuk mematikan sambungan telepon. "Telepon Tom ,suruh ke sini," katanya lagi setelah sambungan telepon di matikan Taksa.
"Baik,CEO," kata Taksa sembari menelepon ponsel Tom.
Menunggu supir datang menjemput, Rakhan terus mendengarkan rekaman video itu. Dia ingin tahu kelanjutannya. Meski jantungnya terus berdetak kencang. Berharap kucing kecil baik baik saja.
"Aku bukan barang!" suara perempuan itu berteriak kencang, tak berapa lama terdengar Eouin berteriak nyaring. Penuh kesakitan.
"Sepertinya Pak Eouin terkena jurus pecah telor pemutus keturunan, CEO," Taksa ikut berkomentar.
Rakhan tergelak mendengarnya. " Sudah telepon?" dia mengingatkan.
"Sudah, CEO," jawab Taksa. " Sebentar lagi mereka akan ke sini."
Di tempat lain, terjadi kejar kejaran antara Chayra , Lio dan beberapa anak buah Eouin.
Chayra berlari secepat dia bisa. Sampai di ujung jalan , dia berhenti. Dia sudah terlalu lemas untuk berlari. Dia belum makan dari pagi.
"Mau lari kemana," senyum Lio. Di belakangnya, berjalan tiga orang berbadan kekar. Chayra langsung mengenali sebagai penculiknya.
Chayra melihat berkeliling. Berusaha mencari bantuan. Namun kompleks ini terlalu sepi.
"Tangkap dia," Lio memberi isyarat pada ketiga orang yang berdiri di belakangnya .
Tiga orang itu mengangguk. Mereka berjalan mendekati Chayra.
Wajah Chayra memucat. Ya Tuhan, apa aku akan di tangkap lagi? Rakhan, please help me, teriaknya dalam hati.
"lepaskan gadis itu!" terdengar suara tegas dari punggung Chayra di sertai tembakan peluru. Peluru itu melesat kencang bak anak panah.
Peluru itu mengenai kepala laki laki yang berjalan paling depan. Laki laki itu roboh.
Di susul peluru kedua yang menyasar dada laki laki kedua. Laki laki itu rubuh.
Suaranya! Tubuh Lio membeku. Suaranya suara orang itu. Dia tak akan pernah lupa.
"Stop!" teriak Lio. Dia menahan tangan laki laki terakhir. Memberi isyarat untuk berhenti.
Chayra memutar tubuh ke belakang. "Rakhan!"
serunya. Senyum bahagia menghiasi wajahnya.
"Hai!" laki laki yang berdiri di belakangnya membalas senyumnya.
Deg! Chayra mendadak lemas. Laki laki itu bukan Rakhan! Dia laki laki berwajah Melayu yang dulu menyekapnya sewaktu di Negara S. Kenapa dia ada di sini? Mau apa dia? Bukankah dia sudah di tangkap anak buahnya Rakhan?
"Hai, Lio!" Laki laki itu menyapa Lio yang masih terdiam terpaku. Dia membuka topeng kulit sintetis yang melekat di wajahnya.
"Damon?" ucap Lio lirih. Tak percaya.
***
Halo readers tercinta, mulai Minggu depan, akan kembali up 2 kali seminggu ya readers, di karenakan otor akan kembali menjalani rutinitas semula. Mengantarkan anak sekolah.
Have a nice weekend 🤩🤗
__ADS_1