
"Kamu tidak ingin berjabat tangan?" kata Efron melihat Rhea mengabaikan uluran tangannya.
"Tidak," geleng Rhea tegas. "Om juga tahu kenapa," tandasnya tak suka.
"Okelah," balas Efron mengalah. " Sebagai awal dari kerjasama kita, aku akan memberikan sedikit bukti pada kamu," sambung beliau.
Hm? Rhea mengangkat sebelah alis matanya. Apa maksud orang tua itu?
Efron menyadari keheranan Rhea. Beliau mengambil ponsel dari kantong celana jeans nya. lalu menelepon Edward Cullen yang masih berada di ruang duduk di villa ini.
"Beri dia sedikit penawar itu," kata beliau begitu Edward mengangkat telepon.
"Baik ,Tuan," jawab Edward tanpa banyak tanya. Dia sudah paham siapa orang yang di maksud.
"Aku sudah memerintahkan anak buah ku," kata Efron sambil mematikan sambungan telepon. " Kamu tunggu saja kabar baiknya," sambung beliau.
"Ok," timpal Rhea. "Kapan aku bisa pulang?" katanya. "Aku tidak mau keluargaku mengkhawatirkan aku."
"Besok pagi. Setelah kamu menandatangani surat perjanjian dengan materai," jawab Efron memberitahu.
Surat perjanjian dengan materai? Rhea mengernyitkan. " Apakah itu perlu?" tukas nya kesal. Dia sudah tidak betah berada di rumah ini.
"Tentu saja perlu. Untuk berjaga jaga kamu mengingkari janji," balas Efron.
Orang ini jenis yang tidak gampang percaya orang lain, batin Rhea menilai. Orang yang sangat hati hati. Haizz, sepertinya akan sulit untuk menghadapinya, batinnya lagi.
"Sekarang kamu istirahat dulu. Sampai jumpa besok lagi," ujar Efron sambil melangkah pergi.
**""
Chayra di bawa Arfan ke sebuah motel yang terletak tidak begitu jauh dari kampung kakek dan neneknya. Motel itu lumayan bagus dan sepi. Chayra langsung setuju untuk menginap di sana. Setelah menyelesaikan pembayaran untuk beberapa hari menginap, Arfan meninggalkan Chayra di sana. Tak lupa, dia juga meninggalkan ponselnya untuk Chayra.
Begitu Arfan pergi, Chayra masuk kedalam kamarnya. Kamar itu tidak begitu luas. Tapi nyaman. Selain ranjang, ada sebuah televisi layar datar yang terletak di atas meja televisi dan sebuah kulkas satu pintu.
Baru saja Chayra hendak merebahkan diri di atas ranjang, ponsel Arfan yang dia letakkan di atas meja televisi berdering. Dia melihat layar monitor ponsel . Nomor yang tidak di kenal. Dia membiarkan saja ponsel itu berdering untuk berapa lama. Tapi karena ponsel itu terus berdering, dia mengangkatnya.
Chayra menarik nafas lega saat mendengar suara Arfan di seberang sana. Arfan memberi tahu jika ini adalah nomer ponselnya yang baru. Dia meminta Chayra untuk menyimpan nomor ponsel itu. Chayra segera mengiyakan.
__ADS_1
setelah Arfan selesai menelepon, Chayra membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Hah...dia menarik nafas panjang. Hari ini sangat melelahkan . Juga sangat tidak terduga. Siapa sangka sekarang dia terbaring di ranjang sebuah motel sederhana di tengah kampung. Dan tidak punya rencana apa apa untuk masa depannya.
Awalnya dia mengharapkan bisa hidup bersama Rakhan, namun ternyata siapa yang menyangka laki laki itu berselingkuh dari nya. Dia ingin menangis. Namun terlalu lelah untuk melakukannya. Akhirnya, dia tertidur di atas ranjang.
****
Sementara itu di rumah Pak Bisma di dalam ruang kerja beliau, Damon menceritakan bagaimana dia kehilangan Chayra. Namun dia berjanji akan segera menemukan gadis itu.
"Aku sudah mendapatkan titik koordinat tempat Chayra berada, " kata Damon menenangkan pak Bisma. Tapi bohong, kata hatinya.
"Aku percayakan semuanya pada kamu," jawab Pak Bisma. " Mulai sekarang Chayra adalah tanggung jawab kamu."
"Terima kasih, Kek," timpal Damon senang. Dengan pelimpahan wewenang ini, aku bisa mendapatkan kekuatan lebih besar untuk menemukan Chayra, batinnya.
"Sudah malam, kamu bisa tidur di sini malam ini," putus Pak Bisma.
"Baik, Kek, terimakasih," balas Damon.
****
Pagi pagi sekali Taksa sudah sampai di kantor. Walau masih terasa lelah karena sampai tengah malam masih berada di rumah sakit. Kondisi Rakhan yang masih tidak stabil membuatnya tidak bisa meninggalkan rumah sakit.
Taksa ingin marah tapi tak bisa. Dalam hati, dia merasa kasihan pada CEO Rakhan, karena ternyata bos nya itu tidak begitu di sayang oleh keluarganya.
Karena itulah, sebagai bawahan dan orang terdekat dari CEO Rakhan, dia menunggu bos nya itu sampai larut malam.
Sebenarnya dia ingin pergi ke rumah sakit pagi ini, tapi dia harus menyelesaikan dulu urusan di kantor .
Baru saja dia hendak memilah dokumen yang menumpuk di atas meja kerjanya, ponsel nya berdering.
Dia melirik ponsel yang terletak di samping dokumen. Dari rumah sakit!
Dia bergegas mengangkat telepon itu. Ternyata dokter sendiri yang menelepon. Dokter mengabari jika CEO Rakhan telah siuman.
CEO telah siuman! Taksa menjerit sendiri di dalam ruangannya. Nyaris tanpa sadar dia hampir melemparkan ponselnya karena gembira.
****
__ADS_1
"Rakhan telah sadar," kata Efron memberitahu begitu Rhea duduk di kursi di ruang makan. " Sekarang giliran kamu," sambung beliau sambil menyodorkan selembar kertas bermaterai.
Rakhan telah sadar? kata hati Rhea gembira. "Tapi apakah ingatannya tentang aku akan kembali hilang?" tanyanya ingin tahu.
" Dia tidak akan pernah mengingat kamu," timpal Efron. " Obat aku selanjutnya yang akan membuat dia melupakan gadis itu dan hanya mengingat kamu selamanya," sambung beliau.
"Benarkah?" tandas Rhea tak percaya.
"Apa pernah aku berbohong?" timpal Efron kesal. Anak ini berani meragukan dia!
"Sekarang tanda tangani dulu," perintah beliau karena melihat Rhea diam saja.
"Aku mau baca dulu," balas Rhea waspada. Dia harus tahu apa yang akan di tanda tangani nya.
"Baca saja," ujar Efron santai." Tapi ingat, Rakhan tidak punya waktu lama. Tadi malam dia hanya mendapatkan 10 persen dari takaran obat seharusnya. Bisa jadi nanti malam, dia akan koma. Dan kali ini akan selamanya," sambung beliau menukas.
Apa? Rhea terbelalak. Wajahnya menjadi ungu karena marah. Orang ini sangat keterlaluan dan tidak punya nurani!
"Yayaya...aku baca," tukas Rhea dengan mimik jemu. Dia mengansurkan surat perjanjian itu ke arahnya.
*****
Tak Sampai setengah jam, Taksa sudah sampai di rumah sakit. Beruntung pagi ini, lalu lintas Jakarta tidak terlalu ramai. Dengan langkah bergegas ,dia masuk ke ruangan khusus perawatan Rakhan.
Di dalam, dia melihat Rakhan sudah duduk di atas tempat tidur tanpa bantuan ventilator.
"Pagi CEO, anda sudah sembuh?" sapa Taksa dengan wajah bahagia.
"Ya, tapi masih sedikit pusing," balas Rakhan. " Apa yang terjadi padaku kemaren?" tanyanya ingin tahu.
Dengan ringkas Taksa menceritakan semua yang dia tahu.
Damn! Rakhan mengeram. Tangannya mengepal keras.
"Berani sekali Rhea melakukanya pada ku. Cari gadis itu!" perintahnya penuh amarah.
"Siap CEO," Jawab Taksa.
__ADS_1
"Cari tahu dari mana Rhea mendapatkan obat itu. Investigate It!" perintah Rakhan lagi.