CEO Melankolis

CEO Melankolis
Bab 128: Jangan dengarkan mereka


__ADS_3

Lio dan Chayra serempak berbalik. Melihat asal suara. Meski sebenarnya walaupun tak melihat mereka sudah tahu siapa itu.


Arfan? Mata Chayra terbelalak. Bagaimana dia bisa ada di sini?


Arfan? Dahi Lio mengernyit. Kenapa anak itu bisa sampai di sini?


"Lepaskan Chayra, Kak!" pinta Arfan karena melihat kakaknya masih mencekal pergelangan tangan Chayra.


Kakak? Chayra mengerutkan kening. "Apakah Lio ini kakak kamu?" ujarnya tak kuasa bertanya.


"Ya," angguk Arfan. " Kakak mau bawa Chayra kemana?" tanyanya.


"Bukan urusan kamu," balas Lio ketus. "Kamu pulang dan belajar. Besok harus kuliah lagi," perintahnya menggunakan status sebagai kakak.


"Tidak mau," tolak Arfan. "Apa yang mau kakak perbuat dengan Chayra? Lepaskan Chayra kalau tidak aku akan melaporkan perbuatan kakak ini pada mama ," ancamnya.


"Diam!" sentak Lio. Dia paling tidak suka di ancam. Apalagi jika di laporkan pada mamanya. Dalam hidupnya, mama adalah orang yang paling tidak ingin dia kecewakan.


"Dengar, aku akan membawa Chayra pada Damon. Kamu sudah tahu kan kalau Damon adalah calon suami Chayra," katanya akhirnya.


"Aku tidak mau," teriak Chayra menolak. "Kamu harus tahu Fan, waktu aku menghilang dua bulan yang lalu, kakakmu ini salah satu pelaku yang menculik aku dan membawa aku ke negara S," katanya memberitahu.


"Damon juga bukan orang yang baik. Dia menyekap dan menjadikan aku tameng hidup di desa M," sambungnya lagi.


"Apa?" pupil mata Arfan membesar. "Kakakku dan Mas Damon bukan orang baik? "


****


"Bagaimana dengan tawaranku?" tanya Efron melihat Rhea diam saja.


"You are crazy( kamu sudah gila!)!" teriak Rhea. " Bagaimana mungkin aku mengaku jika Om adalah ayah ku? Bagaimana dengan papa? Dengan keluarga Rakhan? Mereka pasti tidak akan setuju anaknya menikah dengan anak haram," sambungnya marah.


"Kamu tidak perlu memikirkan itu. Semua itu urusanku!" jawab Efron menyakinkan Rhea.


"AKU TIDAK MAU!" jawab Rhea tegas. Setelah dua puluh dua tahun di besarkan sebagai anak tunggal Farras Hadiyan bagaimana bisa sekarang aku tiba tiba menjadi anak haram? Apa kata dunia?


"Kamu jangan mengambil keputusan dulu, pikirkan baik baik," kata Efron. Dia mengambil lonceng kecil di atas nakas di samping sofa. Dia membunyikan lonceng itu beberapa kali. Kemudian tak lama muncul seorang perempuan berwajah lokal berpakaian pelayan.


Lalu Efron menyuruh pelayan itu untuk membawa Rhea ke kamar tamu di samping ruang tengah itu.

__ADS_1


Rhea berusaha melawan. Tapi entah kenapa tiba tiba tubuhnya terasa lemah. Dengan suara tenang yang terdengar menakutkan di telinga Rhea, Efron memberitahu jika Rhea masih dalam pengaruh obat bius.


****


Sesampainya di rumah sakit , Rakhan segera di masukan ke UGD. Taksa meminta dokter spesialis terbaik untuk merawat Rakhan. Rumah sakit segera membentuk tim dokter yang terdiri dari beberapa dokter spesialis untuk menangani Rakhan.


Taksa menunggu di luar ruangan sambil menanti hasil diagnosa dokter. Dia belum memberi tahu keluarga Rakhan. Karena dia tidak tahu mesti berkata apa jika di cecar dengan berbagai pertanyaan.


Saat merasa kalut dengan berbagai pikiran yang jelek, ponsel Taksa yang berada di dalam kantong kemejanya bergetar. Dari Dr Thompson.


"Dimana CEO?Kenapa aku tidak bisa menghubungi beliau?" tanya Dr. Thompson begitu mendengar suara Taksa.


"CEO sedang di rawat di rumah sakit. Tiba tiba tak sadarkan diri," jawab Taksa ringkas.


"Apa hasil diagnosa dokter?" tanya Dr. Thompson ingin tahu.


"Entahlah, dokter belum keluar ruangan," jawab Taksa resah.


"Semoga saja CEO tidak apa apa," harap Dr Thompson. " Hasil lab jas CEO baru saja keluar. Di temukan samar samar bubuk kristal putih yang nyaris menguap secara sempurna. Untung saja peralatan lab kita tercanggih di dunia," sambung beliau memberitahu.


"Bubuk kristal putih? Terbuat dari bahan apakah bubuk itu?" tanya Taksa penasaran.


"Bubuk apa itu?" tanya Taksa heran. Dia tidak pernah mendengar nama bubuk itu.


"Sejenis bubuk pemikat," urai Dr. Thompson.


"Bubuk pemikat? apa jika kita terkena bubuk itu kita...."


"Kita akan menurut pada orang yang memberikan bubuk itu ke kita," sela Dr. Thompson. " Melihat jas yang di kirim, apakah jas itu milik CEO?" tanya beliau mengira ngira. Jas sebagus dan semahal itu pastilah milik CEO.


Bingo! Apa bubuk itu yang membuat CEO melupakan Chayra? Pasti Rhea yang telah menaburkan bubuk itu ke jasnya CEO! batin Taksa yakin.


"Ya," jawab Taksa. " Apa lab kita sudah bisa menemukan penawarnya?"


"Belum, ini merupakan bubuk yang belum bisa kita buatkan penawarnya karena bubuk ini adalah bubuk produk ilegal dan baru keluar , Pak ," kata Dr. Thompson.


"Kerahkan tenaga terbaik kita untuk menemukan penawarnya ,Pak. Karena ini menyangkut keselamatan CEO," kata Taksa dengan nada mendesak.


"Tunggu, Pak. Ada kabar terbaru dari lab Biologi," ujar Dr. Thompson. Beliau diam sejenak. Sepertinya sedang mendengarkan laporan dari ketua lab biologi.

__ADS_1


"Pak," ujar beliau setelah beberapa menit kemudian. "Dari laporan lab biologi, di temukan lagi satu bahan lagi dalam bubuk itu. Gas sarin!" lanjutnya dengan suara bergetar.


"Apa? Gas Sarin?" teriak Taksa. Tubuhnya menggigil ketakutan. Pantas CEO sekarat! Rhea Hadiyan benar benar keterlaluan!


"Segera, segera, segera temukan obatnya!" perintahnya panik.


"Siap pak," sahut Dr Thompson. Beliau segera mematikan sambungan telepon.


Gas Sarin! Batin Taksa sedih. Matanya menerawang. Tak ada satupun orang yang bisa terbebas jika menghirup gas itu !


Sekarang apa yang harus aku lakukan? kata hatinya bimbang.


Krek...pintu ruangan perawatan Rakhan terbuka. Semua dokter spesialis yang merawat Rakhan keluar.


"Bagaimana hasilnya dok?" tanya Taksa.


"Bapak bisa ikut kami ke ruang konsultasi?" kata ketua tim dokter.


"Baik, dok," angguk Taksa dengan dada berdebar.


***


"Kamu tidak perlu percaya pada gadis ini," tukas Lio.


"Aku bisa saja tak percaya tapi melihat kelakuan kakak dan Mas Damon pada Chayra, aku jadi percaya pada semua perkataan Chayra," timpal Arfan.


"Bodoh!" teriak Lio marah.


"Kak, tolong lepaskan Chayra. Kakak tidak usah ikut campur dengan urusan mereka," pinta Arfan.


"Sudah cukup yang kakak lakukan selama ini untuk Mas Damon. Mama memberitahu aku kalau kakak bercerita pada mama, alasan kakak menghilang selama ini. Dengan di temukan nya Mas Damon, kakak sudah memenuhi janji. Sekarang tidak perlu lagi kakak mencampuri urusan Mas Damon," tutur Arfan panjang lebar.


Ternyata kakaknya Arfan ini begitu setia pada janji, batin Chayra. Sayangnya dia berteman dengan orang yang salah.


"Kak ...." kata Arfan karena melihat kakaknya diam saja.


"Benar kata Arfan. Kamu tidak usah ikut campur masalah ini," timpal Chayra sembari menghempaskan tangan Lio yang masih mencengkeram erat pergelangan tangannya.


"Jangan dengarkan mereka, Lio," suara laki laki lain menyeruak diantara mereka.

__ADS_1


__ADS_2