CEO Melankolis

CEO Melankolis
Bab 148: Don't look!


__ADS_3

Sebuah peluru melaju kencang menuju Chayra.


Chayra terbelalak. "Hutang apa? Aku punya hutang apa pada kamu? " serunya kaget.


Damn! Rakhan mengutuk dalam hati. Di saat dia tidak bisa menyelamatkan Chayra, kenapa Rhea justru berulah?


Gawat! gumam Taksa. Bagaimana ini, batinnya bingung. Satu satunya cara untuk menyelamatkan Chayra adalah menjadi tameng untuk peluru yang tengah melaju deras ke arah gadis itu, dan terus terang dia tidak mampu.


s***t! gumam Damon. Dia melompat ke arah Chayra dan melindungi gadis itu dari terjangan peluru.


Argh... dia bergumam pelan. Sejurus kemudian dia terkulai dalam pelukan Chayra.


****


Brak! Pintu ruangan kerja Efron di buka dengan keras. Mama Rhea masuk ke dalam ruangan dengan wajah marah. Seumur hidup , beliau tidak pernah tindak sekasar ini pada orang lain.


"Ada apa sayang? " kata Efron. Beliau mendongakkan kepala. Memindahkan perhatian dari laptop ke wajah perempuan cantik yang tengah marah di hadapannya.


"Kemana Rhea? Tadi dia ke ruangan ini dan tidak pernah kembali ke kamar, " kata Mama Rhea gusar.


"Oh, itu. Rhea pergi ke rumah Rakhan, " jawab Efron santai.


"Apa? " mata Mama Rhea terbelalak. " Kamu membiarkan dia ke sana? "


"Tenang saja, Rakhan belum mengingat masa lalunya, " sahut Efron menenangkan.


"Kenapa Rhea tiba tiba pergi ke rumah Rakhan? " tanya mama Rhea heran. "Tidak biasanya dia pergi tanpa meminta izin. "


"Karena di rumah Rakhan ada Damon dan Chayra, " jawab Efron.


"Apa? " mata mama Rhea terbelalak lagi. " Apa kamu punya pikiran? Bagaimana bisa Rhea kamu biarkan ke sana? Bagaimana jika Chayra dan Damon menyakitinya? " teriak beliau marah.


"Tenang saja, Rhea sudah membawa smart hand gun ( pistol pintar) punya aku, " jawab Efron dengan santai.


"R-h-e-a b-a-w-a pistol? " kata mama Rhea lamat lamat. "Are you crazy? Bagaimana mungkin kamu biarkan Rhea membawa pistol? Bagaimana jika dia mencelakai Chayra? " cerocos beliau panik.


"Rhea tidak akan mencelakai orang. Tidak perlu jago menembak, kita hanya perlu menyuruh pistol itu menembak orang yang kita mau dan peluru nya langsung menuju sasaran tembak dengan pas dan akurat, " terang Efron berusaha menenangkan Mama Rhea.


"Apa? " mata mama Rhea nyaris keluar. Malah itu lebih berbahaya, Rhea akan mengarahkan pistol itu sesuka hati ke arah orang orang yang tidak dia suka, gumam beliau kuatir.


"Tenang saja, smart hand gun itu hanya isi satu peluru, " kata Efron seakan mengerti pikiran mama Rhea.

__ADS_1


Orang ini gila! dengus mama Rhea dalam hati. Bagaimana dia bisa tenang mengatakan hal mengerikan semacam itu?


Aku harus pergi mencari Rhea sebelum dia bertindak aneh, tekad beliau.


"Kamu jangan pergi, " cegah Efron sambil berdiri dari kursi.


"Rhea pergi bersama Mike Morris, " sambung beliau lagi.


"Aku tetap akan pergi, " tukas Mama Rhea seraya mengibaskan tangannya.


"Baiklah, pergi bersamaku, " ujar Efron menyerah. Beliau tidak ingin membiarkan Aleaasa pergi sendiri ke sana. Siapa yang tahu apa yang akan di lakukan perempuan yang sedang kalut?


"Ayo cepat kita pergi, " ajak mama Rhea cepat . Beliau tidak ingin membuang waktu. Beliau takut Rhea akan bertindak sembarangan.


"Ayo, " kata Efron setuju. Secepat apapun kamu ke sana untuk mencegah Rhea, semuanya sudah terlambat, " seringai beliau dalam hati.


*****


"Damooon.. " jerit Chayra panik. Dia merasakan tubuh Damon yang lemah memeluk tubuhnya.


"Don't look ( jangan lihat) , don't looked me, " pinta Damon dengan suara lirih. Dia benci melihat keadaan dia saat ini. Dia begitu lemah, bahkan butuh rangkulan tangan Chayra agar tidak jatuh tersungkur.


"Damon kamu jangan bicara lagi, " balas Chayra cepat. " Pak Taksa, tolong telefon ambulans, cepaaatt... " teriaknya melihat Taksa hanya terdiam.


"Telepon, " perintah Rakhan dengan suara yang mulai pelan. Darah yang mengucur dari perutnya semakin banyak. Menggenang di bawah kakinya. Seakan membentuk sebuah pulau.


"Baik, CEO, " jawab Taksa patuh. Dia segera menelepon layanan rumah sakit WT untuk meminta ambulans satu buah lagi.


"Tidak perlu, " tegas Damon. "Aku tidak mau berhutang budi pada kamu! " teriaknya.


"Kamu sudah menyelamatkan Chayra, anggap saja hutang budi ini impas, " timpal Rakhan sedikit merasa sesak. Seharusnya dia yang berada dalam rangkulan Chayra, bukannya Damon. Namun apalah daya, dia lengah terhadap serangan pisau jagdkommando Damon.


Ada apa dengan perasaan aku ini? apakah aku merasa cemburu melihat Chayra merangkul laki laki lain? batinnya heran.


"Jangan keras kepala," tukas Chayra kesal.


"Baik, " sahut Damon patuh. "Begitu aku sembuh, aku akan memperhitungkan hutang budi ini, " lanjutnya.


"Terserah lah, " timpal Rakhan acuh. Andaikan laki laki itu tidak menyelamatkan Chayra, dia mungkin akan membiarkan laki laki itu menanti ajalnya di sini.


Ada apa dengan dua laki laki tua ini? kata hati Rhea heran. Seharusnya mereka di periksa matanya. Perempuan seperti Chayra tidak layak di perebutkan. Apalagi oleh Rakhan!

__ADS_1


"Rakhan, " serunya sambil berjalan mendekati Rakhan. "Kamu terluka, pasti ini gara gara Chayra, " katanya lagi.


"Pergi kamu! " usir Rakhan. "Jika tidak pergi, aku akan mendakwa kamu sebagai pembunuh, " ancam nya.


"Aku tidak akan pergi, " tolak Rhea. Dia meraih tangan Rakhan. " Aku tak akan pergi tanpa kamu! " tekadnya.


Bugh! Taksa memukul tengkuk Rhea dengan tangan kanannya sekuat tenaga. Rhea yang tidak siap dengan serangan Taksa yang diam diam, seketika jatuh tersungkur.


Tengkuk adalah tulang rawan bagian belakang leher.


"Ayo CEO, ambulans anda sudah datang, " kata Taksa sambil menggandeng lengan kanan Rakhan.


"Tunggu dulu, " cegah Rakhan. "Geledah perempuan itu. Siapa tahu dia membawa obat peluntur ingatan itu. "


Menggeledah seorang perempuan? Dan itu adalah Rhea? Calon istri CEO? meski CEO yang menyuruh, tapi tetap aku tidak merasa nyaman, batin Taksa ragu.


"Tapi CEO... " sahutnya berusaha mengutarakan keberatannya.


"Tidak ada tapi tapi, cepat lakukan, aku sudah tidak bisa bertahan lagi! " hardik Rakhan.


"Baik, baik CEO, " jawab Taksa begegas. Dia membuka tas tangan yang masih menggantung di bahu Rhea. Tas tangan itu kosong.


Lalu dia meraba kantong celana jeans yang di pakai Rhea. Di kantong sebelah kanan dia tidak menemukan apa apa. Sebuah pouch kecil teraba di kantong sebelah kanan.


Dia segera mengeluarkan kantong itu. Sebuah pouch berwarna silver terangkat keluar. Dia tidak berani membuka pouch itu. Takut akan isinya.


pouch adalah sebuah tas kecil.


"Saya hanya menemukan ini, CEO, " lapor Taksa seraya mengacungkan pouch berwarna silver itu.


"Berikan pouch itu pada Chayra, " perintah Rakhan.


Eh? Taksa mengangkat rahangnya heran.


"Kamu gantikan Chayra menggandeng laki laki itu, " perintah Rakhan lagi. " Chayra sini, kamu temani aku ke rumah sakit WT, " sambungnya menutup perintahnya.


Aku tinggal di sini bersama Damon dan Rhea? sungut Taksa tak suka. Tapi apalah daya, dia hanya seorang bawahan.


"Baik, CEO, " angguknya patuh.


"Pastikan laki laki itu berada dalam perawatan rumah sakit dengan fasilitas terbaik, " kata Rakhan.

__ADS_1


Aku akan membuat hutang balas budi ini semakin jelas, tekadnya dalam hati.


__ADS_2