CEO Melankolis

CEO Melankolis
Bab 47: Softlens Psywar!


__ADS_3

" Suruh orang memeriksa rumah Nino," CEO Rakhan menoleh pada Taksa. " Periksa sidik jari di seluruh rumah itu," perintah nya .


"Baik, CEO," angguk Taksa. Dia berjalan menjauh. Mencari tempat untuk menelepon.


Rhea mengernyitkan wajah. Ada apa ini? CEO Rakhan mengutus orang untuk mengantarkan Chayra makanan. Memaksa untuk ke apartemen melihat Chayra. Dan sekarang CEO kuatir terhadap Chayra. Meski CEO tidak mengatakan apapun, namun tergambar jelas dari sikap dan wajah nya. Apakah CEO tahu sesuatu yang aku tidak tahu? batinnya.


*****


Chayra menggeliat. Dia menggosok mata. Entah kenapa badan nya merasa lelah. kepalanya sakit. Pusing. Apa ini efek dari datang bulan? Tapi dia belum datang bulan.


Chayra meraih pinggiran ranjang, untuk membantunya bangun. Sinar matahari langsung menyambar matanya. Dia segera memicingkan mata. Kenapa sinar matahari bisa masuk ke dalam kamar? Bukan kah, kamarnya tidak ada jendela? Kenapa sekarang ada jendela? Dia memandang ke sekitar .


Haaaa... Chayra menjerit. Di mana ini?


Suara jeritan Chayra terdengar sampai ke seluruh ruangan di dalam rumah. Fendy Chow, kepala pelayan yang sedang berada di ruang tengah bergegas menuju kamar utama yang berada tidak jauh dari kamar Chayra .


(Semua percakapan di lakukan dalam bahasa Inggris, bahasa resmi di Negara S, ya readers)


"Nona sudah bangun, Tuan Eouin," kata Fendy Chow begitu dia membuka pintu kamar majikan nya.


"Suruh dia mandi, lalu temui aku di taman belakang," perintah Eouin sambil melepaskan jas yang tadi sudah di pakainya. Dia membatalkan niatnya untuk pergi ke kantor. "Suruh Nisa melayani dia, " perintahnya lagi.


"Baik, Tuan," Fendy Chow menutup pintu. Lalu pergi ke dapur mencari Nisa, pelayan perempuan satu-satunya yang bisa berbahasa Indonesia.


Sementara Chayra masih histeris di dalam kamar. Dia meracau tak jelas. Sudah berusaha kabur melalui jendela dan membuka pintu. Namun semuanya terkunci.


Ya, Tuhan! Oh, My God! Aku di mana ini? Kenapa aku bisa di sini? Tadi malam aku masih tidur di dalam kamar di apartemen. Apa ini ulah si nenek sihir itu? Pasti dia! Pasti dia pelakunya! Dia pasti ingin menikahkan aku secara paksa dengan laki laki tua itu! racau Chayra.


Dia berjalan ke arah pintu. Memukul mukul pintu dengan kencang. "Buka pintu! Kalau tidak aku tendang pintu ini!" teriaknya emosi.


"Jangan tendang pintunya ,Nona," sambut sebuah suara halus dari luar. " Ini saya datang untuk membantu anda," pintu terbuka dari luar.


Hahhh? Chayra melongo. Dia melihat seorang perempuan sebaya dirinya, berdiri di depan pintu. Mengenakan pakaian pelayan. Ini tidak mungkin suruhan nenek sihir, batin nya berkata. Pembantu di rumahnya,tidak ada satupun yang memakai pakaian seragam. Lagi pula kamar ini juga tidak mirip dengan kamarnya di rumah. Atau ini di rumah laki laki tua itu? pikirnya.


" Nona mandi dulu, setelah itu saya antar kan nona ke taman belakang, Tuan sudah menunggu di sana," kata Nisa memberitahu.

__ADS_1


Tuan? Apa maksud gadis ini ,laki laki tua itu? kata hati Chayra was was. "Tuan siapa? Aku ini di mana? Kenapa aku bisa ada di sini?" dia melancarkan pertanyaan bertubi tubi.


"Nanti anda bisa tanyakan pada Tuan, Nona," jawab Nisa. "Saya tidak tahu apa apa," lanjutnya lagi. Sebagai seorang pelayan, dia memang di haruskan tidak tahu apa apa. "Ini pakaian anda, Nona," dia membuka lemari di samping kamar mandi , lalu mengambil satu set pakaian dan meletakkan nya di atas ranjang.


"Baiklah," balas Chayra. Dia mengambil pakaian yang di letakkan di atas ranjang dan membawanya ke kamar mandi. Sedetik kemudian, dia membuka pintu kamar mandi," apakah ada pembalut?" tanyanya.


"Di sini ada ,Nona," Nisa kembali membuka lemari lalu mengeluarkan satu bungkus pembalut yang belum di buka. " Di dalam lemari ini sudah tersedia semua kebutuhan anda ,Nona," dia memberitahu.


Semua? Apa si tua itu berniat mengurung dia di sini selama nya? Chayra bergidik. "Terimakasih," dia mengambil pembalut yang di julurkan Nisa.


"Tidak perlu berterima kasih, tugas saya memang melayani anda," balas Nisa khidmat.


Bahkan si tua itu memberikan aku seorang pelayan? Apa dia bermaksud mengambil hatiku? bisik hati Chayra resah.


Setengah jam kemudian, Chayra sudah berjalan ke arah taman belakang bersama Nisa. Taman yang begitu memanjakan mata, tidak membuat Chayra tertarik untuk menatap. Dia ingin segera bertemu dengan Tuan. Siapa Tuan yang di maksud pelayan ini?


"Tuan di sana , Nona," Nisa menunjuk sebuah gazebo di tengah taman.


Gazebo itu berbentuk persegi panjang bergaya industrial. Terbuat dari rangka besi baja. Di dalamnya terdapat sofa dan alat barbeque.


"Ayo," Chayra menarik tangan Nisa.


"Maaf, Nona, saya menunggu di sini saja," Nisa melepaskan tangannya. " Kalau Nona butuh saya, lambaikan tangan saja, saya akan datang," katanya lagi.


Apa?? Chayra mengernyit. Dia akan sendiri menemui si Tuan itu. Meski gadis pelayan ini adalah pelayan si Tuan, tetap saja Chayra merasa ada yang menemani. " Kenapa kamu tidak mau ikut?" tanyanya.


"Saya tidak bisa, Nona," jawab Nisa. " Tuan ingin bertemu berdua saja dengan anda," sambungnya lagi.


"Tuan ini bagaimana orangnya? Apakah dia laki laki tua? Campuran Jawa dan Bali?" tanya Chayra mengorek keterangan.


"Anda bisa lihat sendiri, Nona," sahut Nisa.


Hih! Chayra mengerucutkan bibir. Dia sengaja bertanya untuk mempersiapkan diri. Jika Tuan ini adalah laki laki tua yang itu, dalam perjalanan menuju gazebo dia sudah punya rencana untuk melarikan diri .


"Ayo ,Nona, Tuan tidak suka menunggu," Nisa mendorong tubuh Chayra dengan pelan.

__ADS_1


"Iya, iya," sentak Chayra. Dia berjalan dengan langkah malas. Tuan ini pasti orang yang kasar. Pelayan nya saja sampai ketakutan begitu, batinnya.


"Chayra Minara?" sapa Eouin begitu melihat Chayra datang. Dia berdiri dari sofa.


Langkah kaki Chayra terhenti di depan gazebo. Oh, My God! Matanya terbeliak. Laki laki yang sangat tampan. Berwajah bule, dengan bekas cukuran di sekitar dagu. Tapi selaput pelangi nya berwarna hitam. Menimbulkan sedikit pertanyaan di benak Chayra. Seharusnya dengan rambut pirang, dia memiliki bola mata berwarna biru.


Selaput pelangi adalah sebutan lain dari iris, yaitu bagian berwarna pada mata.


"Sudah puas melihatnya?" sergah Eouin tak suka. Iris hazel gadis ini sungguh meresahkan hatinya.


Bisa bahasa Indonesia ternyata, desis Chayra. "Sudah," balas nya malu. Dia tidak pernah terpesona begini dengan wajah tampan. CEO Rakhan juga tampan, dia juga sempat terpesona. Namun Tuan ini memiliki aura misterius yang menakutkan. Tipe tipe cowok mafia yang suka dia baca di novel romantis.


" Kenapa anda bisa tahu nama saya? Apakah anda yang membawa saya ke sini? Tempat apa ini?" Chayra memuntahkan semua tanda tanya di otaknya.


" Kamu tidak punya hak untuk bertanya," balas Eouin dingin. Dia duduk kembali di sofa. "Duduk ," dia menunjuk sofa di hadapannya. " Makan ," dia menunjuk bubur nasi yang terhidang di atas meja.


Chayra ingin menolak. Tapi iris hitam milik Tuan begitu mengintimidasi. Memaksa dia patuh seutuhnya. Tanpa penolakan.


Chayra duduk di sofa di hadapan Eouin. Dia mulai makan bubur nasi di atas meja. Menghabiskannya tanpa sisa. Kemudian meminum habis susu full krim yang terletak di samping mangkuk bubur.


"Apa hubungan kamu dengan Nino," kata Eouin begitu Chayra selesai meminum susu. "Nino Embara."


"Nino Embara?" tanya Chayra bingung. Dia tidak punya kenalan bernama Nino. " Siapa dia?"


Eouin diam. Tidak menjawab. Dia menatap mata Chayra lekat lekat. Berusaha menemukan kebohongan. Tapi dia tidak menemukannya. Soflens Psywar yang membungkus irisnya menyerah mencari jawaban. Mata hazel itu terlalu memukau untuk di tatap dengan garang.


Softlens Psywar adalah Softlens temuan terbaru dari lab perusahaan milik Eouin.


Sesuai dengan namanya Softlens Psywar atau psychologis walfare, dia menggunakan softlens itu untuk memberikan ancaman melalui tatapan mata yang mengintimidasi sehingga bisa mempengaruhi pemikiran atau perilaku musuh.


"Ikut aku," Eouin bangkit dari sofa.


"Kemana?" tanya Chayra waspada. Apa Tuan ini ingin membawa aku ke tempat tidur? "Aku ingatkan ya, jangan macam macam, aku juga sedang datang bulan..."


"Sedang datang bulan ya?" Eouin mendekatkan badannya. Aura panas menyelimuti tubuh Chayra. " Kalau aku ingin, aku tak akan perduli meski kamu sedang datang bulan," sergahnya ketus.

__ADS_1


Chayra menggigil ketakutan. Tuan ini sungguh mengerikan.


__ADS_2