
"Ikut," Eouin menarik tangan Chayra dengan paksa.
" Tidak mau," Chayra menghentakkan tangannya. " Tolong!!" dia melambaikan tangan ke arah Nisa yang masih berdiri di tempat dia berhenti tadi.
"Nona?" desis Nisa. Namun dia tidak berani mendekat. " Semoga Nona baik baik saja," harapnya sambil berbalik arah. Kembali ke rumah.
Apa? Chayra melotot. Bagaimana ini? Oh ya, Damon! Damon kan punya mata visual. Dia pasti tahu apa yang terjadi ... sial, tadi malam dia menyuruh Damon untuk mematikan daya.
"Merepotkan," sentak Eouin. Dia meraih pinggang Chayra lalu menggotong nya.
Hiyaa...Chayra menjerit. Dengan tinggi Eouin hampir 190 cm, dia serasa di gantung terbalik di menara Eiffel.
"Shut up (diam )!" hardik Eouin . Dia terus berjalan sembari menggendong Chayra di bahunya.
Chayra memicingkan mata. Pusing. Tidak berani lagi melawan. Takut di jatuhkan dari gendongan.
Eouin terus berjalan ke arah luar taman, menuju halaman belakang rumah, di mana mobilnya di parkir.
Begitu melihat Eouin datang, Pak sopir langsung membuka pintu belakang.
Bugh...Eouin meletakan Chayra tanpa kelembutan di kursi belakang.
"Aww..." Chayra mengelus kepalanya yang terbentur pinggiran jok. "Kasar sekali," sungutnya. "Aku mau di bawa kemana ini?" dia mendudukkan badannya. "Tolong, tolong ," dia kembali berteriak teriak. Berharap ada orang yang melintas di depan rumah, dan mendengar teriakannya.
"Berisik!" hardik Eouin . "Chen," panggil nya.
"Okay, Boss," Seraut wajah Asia muncul dari jok depan. Dengan gerakan cepat, dia menempelkan sebuah sapu tangan ke hidung Chayra.
"Mau apa?" Chayra hendak melawan namun dalam hitungan detik dia sudah hilang kesadaran dan terkulai lemas.
( selanjutnya semua percakapan di lakukan dalam bahasa Inggris ya readers ☺️)
"Chlo*****m nya tidak terlalu banyak kan? Aku tidak ingin dia masih pingsan setibanya kita di sana," tanya Eouin.
Chlo*****m adalah obat bius hirup. Obat yang sangat berbahaya ya readers.
"Hanya beberapa tetes ,Bos. Dia tidak akan sadar paling lama 3 jam," sahut Chen yang duduk di samping Pak Sopir.
"Bagus," Eouin merasa puas. Dia duduk di sebelah Chayra. "Jalan," perintahnya setelah dia menutup pintu.
"Baik, Bos," sahut Pak sopir. Dia menghidupkan mesin mobil.
Mobil pun melaju meninggalkan kediaman Eouin.
****
Rhea mencak mencak di dalam kamar. Semua yang terlihat di mata, di lemparkan ke dinding. Heels puluhan juta, tas limited edition, ponsel merk buah , semuanya merasakan kerasnya dinding.
Beberapa pembantu yang kebetulan lewat di depan kamar Rhea buru buru menyingkir. Takut terkena imbas. Di marahi tuan putri.
__ADS_1
Bagaimana tidak kesal, di apartemen tadi, CEO Rakhan sama sekali tidak mengacuhkan dia. Setelah menyuruh Taksa menelepon ke kota P, CEO Rakhan langsung pergi bersama Taksa. Meninggalkan dia begitu saja di apartemen. Tanpa berpamitan. Tanpa bicara. Membuat dia seperti orang bingung, karena tidak tahu apa yang terjadi.
Selama hidupnya , belum pernah ada orang yang berani mengacuhkan dia.
Ini semua karena Chayra!
****
"Sudah ada hasil dari kota P dan Kota L?" tanya CEO Rakhan.
"Belum ada, CEO, " jawab Taksa yang berdiri di samping CEO Rakhan.
Sejak kembali dari apartemen Rhea, CEO Rakhan terlihat kalut.
CEO Rakhan mengurut pelipis. Otaknya burn out. Serasa mau meledak. Tidak bisa di pakai untuk berpikir lagi. Tidak biasanya dia seperti ini.
"Tenang saja, CEO, Chayra tidak akan di apa apain, dia sedang datang bulan," hibur Taksa. Dia melihat keresahan yang kental di wajah CEO Rakhan.
CEO Rakhan segera memalingkan wajah. Menatap Taksa dengan ekspresi dingin.
Aduh, salah bicara, Taksa menutup mulutnya. "Maaf ,CEO," dia menunduk. Semoga tidak di lempar ke Somalia, bisik hati nya takut.
"Kamu tidak kenal Eouin," desis CEO Rakhan. Benar kata Taksa, dia mengkuatirkan Chayra. Tapi dari mana Taksa tahu? Apa terlalu kelihatan ya? kata hatinya.
"Batalkan Zoom meeting dengan investor dan semua jadwal hari ini," perintah CEO Rakhan. "Hubungi aku kalau ada perkembangan baru tentang Chayra, " dia berdiri dari kursi. "Hanya berita tentang dia, mengerti?" dia menatap tajam Taksa.
"Baik, CEO, mengerti," angguk Taksa lemas. Alamat kerja lembur lagi, keluh hatinya.
"Siap ,CEO," jawab Taksa tegas namun hatinya meringis.
*******
Setelah menempuh satu jam perjalanan, mobil Eouin berhenti di sebuah bangunan bergaya industrial. Bangunannya berwarna monokrom, yang terbuat dari beton dan baja. Memberikan kesan maskulin.
"Bangun!" Eouin menepuk kaki Chayra dengan tangannya.
(Percakapan selanjutnya dalam bahasa Inggris ya readers, namanya juga di negera lain😁)
Chayra diam saja, tak bergerak.
"Chen, bawa dia ke dalam," perintah Eouin.
"Siap , Bos," Chen segera keluar dari mobil. Lumayan juga, di suruh gendong gadis cantik, katanya dalam hati.
Eouin berjalan lebih dulu masuk ke dalam bangunan. Bangunan itu merupakan laboratorium rahasia perusahaan miliknya. Tempat para ilmuwan menciptakan penemuan penemuan baru.
Dia terus masuk ke dalam dan berhenti di depan pintu baja tebal yang tertutup rapat. Di samping pintu di letakkan sebuah alat mikrokontroler yang akan menggerakkan pintu secara otomatis,jika sistem biometrik subjek di kenali.
Eouin menempelkan jari ke arah mikrokontroler.
__ADS_1
Suara keluar dari mikrokontroler. Sidik jari di kenali.
Eouin mendekatkan wajah.
Suara keluar dari mikrokontroler. Wajah di kenali.
Eouin mendekatkan iris matanya.
Suara keluar dari mikrokontroler. Iris di kenali.
Pintu baja otomatis terbuka. Eouin masuk ke dalam. Langsung menghampiri beberapa orang yang tengah sibuk bekerja di depan komputer.
"Bagaimana?" Eouin bertanya pada kepala departemen IT.
"Masih belum ,Bos, kita belum bisa memecahkan modul pengoperasian nya," lapor Lio. Dia adalah kepala departemen IT perusahaan Eouin.
"Kenapa? Bukannya kita sudah punya print out panduan yang di temukan dalam kotak kardus itu?" tanya Eouin tidak mengerti.
"Iya, Bos, itu jika robot itu belum di aktifkan," timpal Lio.
"Maksudnya? Robot ini sudah di aktifkan?" Eouin ingin menegaskan.
"Betul , Bos," angguk Lio. " Kita harus menanyai gadis itu."
Eouin mengambil ponsel dari kantong celananya. " Bawa gadis itu ke ruangan penelitian," katanya begitu telepon tersambung.
"Oke,Bos," sahut Chen di seberang sana.
"Matikan sistem otomatisasi mikrokontroler, Chen akan datang membawa gadis itu," perintah Eouin setelah mematikan ponsel.
Ruangan penelitian hanya bisa di masuki oleh pimpinan perusahaan, Kepala IT dan para peneliti.
"Oke, Bos," Lio mematikan sistem otomatisasi mikrokontroler dari komputernya.
Beberapa menit berselang, Chen masuk sambil mendorong Chayra di atas kursi roda. Gadis itu masih tertidur. Setelah mengantarkan Chayra, Chen keluar dari ruangan penelitian.
"Wake up (Bangun)!" Eouin menepuk nepuk pipi Chayra.
Haish, Lio menarik nafas. Pantas jika Bos jomblo bertahun tahun, sikapnya terhadap gadis sangat kasar.
"Apa yang kamu lihat?" Eouin menoleh pada Lio. Tahu di amati diam diam.
"Eng, anu, tidak apa apa,Bos," Lio kembali menekuni komputer. " Modul algoritma, def from settings, debug settings ( self request), return ..." dia pura pura sibuk mengetik.-
"Bangunkan gadis ini," perintah Eouin. "Kamu kan ahlinya," seringai nya.
"Hehee...," Lio mengangkat muka. Dia tersenyum kecut. " Aku juga jomblo akut ,Bos," akunya malu.
"Kirain ahli," ejek Eouin . "Bangun!" dia menendang kaki kursi roda. Kursi roda itu meluncur ke depan dan berhenti ketika menabrak sebuah kotak pajangan dari kaca.
__ADS_1
Bugh! Kepala Chayra membentur pinggiran kotak pajangan itu. "Aduh," dia terbangun sambil mengusap kepalanya. " Dimana ini...Damon?" matanya terbuka lebar. Memancarkan rasa kaget. Sekaligus ngeri.