
Bugh! Pukulan terakhir Damon di hidung Lio mengakhiri perlawanan sahabatnya itu. Lio terjerembab mencium dinginnya aspal.
"Mengingat persahabatan kita, gue ampuni Lo . Tapi lain kali, tidak ada kesempatan kedua," ujar Damon sambil membungkuk menatap wajah Lio yang bengkak.
"Selama Lo ga ganggu Arfan, gue ga akan mencampuri urusan Lo," jawab Lio sambil mengerjapkan matanya yang bengkak.
Gila! Pukulan Damon bahkan lebih keras dari pukulan petarung smackdown di UFC, batin nya meringis.
"Selama bocah itu tidak menganggu Chayra, aku juga tidak akan mengganggunya," balas Damon sambil melangkah meninggalkan Lio.
***
"Kenapa kita harus ke sini?" tanya Chayra ingin tahu.
"Apa kamu tidak menonton live streaming Rhea siang tadi?" ujar Arfan balik bertanya.
"Tidak," geleng Chayra. Saat itu dia masih berada di dalam ruangan CEO bersama Rakhan.
"Sepertinya aku harus memberi tahu kamu," putus Arfan sembari mengeluarkan ponsel dari dalam kantong celana jeans nya.
"Apa?" Chayra mengernyitkan heran. Keheranan nya segera terjawab begitu melihat tayangan video yang muncul di layar monitor ponsel Arfan.
"Apa??" matanya terbelalak. Dia kaget luar biasa saat melihat Rakhan tengah berciuman dengan Rhea. Kenapa bisa? batinnya tak mengerti.
"Karena itu aku sengaja membawa kamu ke sini. Aku yakin tidak hanya Mas Damon yang akan mencari kamu. Rakhan juga. Aku tidak ingin kamu terperdaya oleh orang itu. Kamu terlalu baik," kata Arfan sembari mematikan ponsel dan memasukkan nya lagi ke dalam kantong celana jeans nya.
"Tempat ini sangat aman. Mereka semua tidak akan menyangka aku akan membawa kamu ke sini. Ayo turun," ajak nya seraya membuka pintu mobil.
"Ya," angguk Chayra masih dengan wajah linglung. Dia tidak menyangka akan melihat kembali Rakhan berciuman dengan Rhea. Kali ini malah di tonton oleh jutaan orang. Sangat memalukan!
****
"Bagaimana kabar Rakhan?" tanya Rhea cepat.
"Dia tidak akan baik baik saja jika tidak di beri obat penawar," jawab Efron santai.
"Aku tidak percaya sebelum ada buktinya," tantang Rhea. Bisa saja orang tua ini mengelabuinya untuk mendapatkan keinginan nya , batinnya.
"Lihat ini!" kata Efron sambil mengambil remote tipi di atas nakas di samping tempat tidur. Lalu beliau menyalakan televisi yang di tempel di dinding di seberang ranjang.
Rhea melihat siaran televisi yang di putar Efron. Dia melihat keramaian di halaman rumah nya. Dia melihat papa dan mamanya. Kemudian dia melihat Rakhan di tandu di atas ambulance strecher. Tubuhnya tergolek lemah. Dia memakai ventilator, alat bantu pernapasan.
Separah itukah? batinnya terhenyak.
"See? ( lihat?)" kata Efron dengan wajah puas karena mendapati Rhea tampak tertekan.
__ADS_1
"Apa, apa dia bisa di selamatkan?" tanya Rhea terbata bata.
"Itu semua tergantung padamu," timpal Efron.
"Aku mau bicara dengan mama," putus Rhea.
"Aku sudah menelepon mamamu beberapa kali. Selalu di tolak. Aku rasa mamamu bersama dengan papa mu sekarang," jawab Efron menahan rasa cemburu.
"Rakhan tidak akan bertahan lama," lanjut beliau lagi. " Yes or no?"
*****
Sambil membuka pintu mobil, Damon menelepon Kevin menyuruhnya untuk datang membawa robot 081212 yang masih tergeletak di tanah. Sepertinya robot itu perlu perawatan, katanya dalam hati.
"Sial!" sentaknya sambil mematikan ponsel. Dia tidak melihat Chayra dan Arfan. Pasti bocah itu membawa pergi Chayra saat dia tengah berkelahi dengan Lio.
Kemana bocah itu membawa pergi Chayra? batinnya. Lio pasti tahu, kata hatinya lagi.
Dia berbalik arah. Kembali ke tempat di mana Lio masih terbaring lemah di tanah.
"Kemana adikmu membawa Chayra?" tanyanya dengan tatapan mengintimidasi.
Lio mengangkat bahu.
Dia sudah gila, batin Lio. Dia belum pernah melihat temannya seperti ini sebelumnya. Cinta buta nya pada Chayra sudah mengubahnya menjadi jahat.
"Cari saja sendiri," balas Lio tak perduli.
Damn! Damon menendang debu. Tapi percuma juga memaksa Lio. Mungkin juga Lio tidak ada ide kemana adiknya pergi membawa Chayra, kata hatinya menyabarkan.
"Cepat pergi ke rumah sakit. Rawat luka Lo!" kata nya akhirnya.
***
"Aku ga mau," putus Chayra setelah berpikir agak lama.
"Kenapa?" tanya Arfan heran.
"Aku takut merepotkan kakek dan nenek kamu," timpal Chayra.
"Jangan kuatir, kamu tidak akan merepotkan mereka. Mereka pasti senang bertemu kamu," bujuk Arfan.
Jika Chayra bersedia tinggal bersama kakek dan nenek, aku punya kesempatan untuk lebih dekat dengan dia. Siapa tahu, dia akan menyukai aku lebih dari teman, harapnya dalam hati.
"Kamu kan tahu bagaimana Damon," kata Chayra. " Aku tidak ingin kamu terluka lagi," tambahnya.
__ADS_1
"Lalu kamu mau kemana?" tanya Arfan.
" Tolong sewakan aku sebuah kamar di penginapan dekat sini. Aku perlu tempat untuk memikirkan langkahku selanjutnya," jawab Chayra.
Rakhan sudah tidak bisa di harapkan, batinnya. Tapi untuk kembali pada Damon, aku tidak berminat, batinnya lagi.
Arfan melirik Chayra. Dia melihat keresahan di mata gadis yang di cintainya itu. Pasti karena gadis itu baru saja melihat video Rakhan dan Rhea, katanya dalam hati.
"Masih ada aku," katanya lembut. Lalu dengan berani dia meraih telapak tangan Chayra dan menggosok nya dengan lembut.
Chayra melihat telapak tangan Arfan yang membelai jemarinya. Dia membiarkan beberapa saat sebelum menarik tangannya dari belaian jari jari Arfan.
"Maaf," kata Arfan hati hati. Dia takut perbuatannya itu membuat Chayra marah.
"Tidak apa," balas Chayra. " Ayo kita pergi dari sini," sambungnya.
"Baik," jawab Arfan cepat sembari menyalakan mesin mobilnya.
****
"Kamu sudah menemukan mereka?" tanya Damon melalui headset. Dia menyalakan mesin mobilnya.
"Belum Pak," balas Agus Marto, asisten IT di orang tua grup.
"Cari terus," perintah Damon. Mereka tidak mungkin jauh, batinnya. Sekarang aku harus ke rumah Pak Bisma. Aku harus membuat beliau mempercepat pernikahan aku dengan Chayra, katanya dalam hati.
***
"Bagaimana?" tanya Efron dengan suara mendesak. " Ingat, Rakhan tidak bisa menunggu lama," katanya mengingatkan.
"Jika kami mengakui Om, bagaimana dengan papa ? Dengan keluarga nya Rakhan? Mereka pasti tidak menginginkan menantu dari anak haram," tanya Rhea ragu.
"Kamu tak perlu memikirkan itu," tegas Efron. " Aku sedang mengembangkan obat pengendali pikiran. Sudah pada tahap percobaan pada objek makhluk hidup. Akan kita coba saja pada mereka," seringai beliau.
Damn, orang tua ini sangat mengerikan, batin Rhea bergidik. Kenapa mama yang begitu elegan bisa bertemu dengan orang yang begitu mengerikan seperti ini?
"Lalu bagaimana dengan papa? Om harus berjanji tidak akan menyakiti papa," tuntut Rhea.
"Janji," kata Efron sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke wajah Rhea.
Aku tidak akan menyakiti dia, aku akan langsung mengirim nya ke istana bidadari, katanya dalam hati.
"Baiklah," putus Rhea.
"Happy cooperation ( Selamat bekerja sama)," balas Efron seraya mengulurkan tangan.
__ADS_1