CEO Melankolis

CEO Melankolis
Bab 61: Kamu Jangan Pergi Kemana Mana


__ADS_3

"Jemput aku di hotel, bawa juga baju ganti 4 stel untuk Chayra ukuran...." perintah Rakhan sambil melirik Chayra yang tengah duduk di sofa.


"Model nya sopan, lebar dan panjang," sambungnya lagi kemudian dia mematikan sambungan telepon begitu Taksa mengiyakan.


"Sudah selesai meneleponnya?" dia berjalan mendekati Chayra.


"Ponselnya mati, low bat," jawab Chayra sembari menggoyang goyangkan ponselnya.


"Sudah bicara apa saja tadi?" tanya Rakhan. Dia duduk di sebelah Chayra. Ponsel yang ada di tangannya di letakkan di meja di depan sofa.


"Tadi Rhea menanyakan aku di mana, tahu tahu baterai low bat dan mati," jawab Chayra. " Pasti Rhea sedang mengomel sekarang."


Baguslah! Takutnya Rhea menyusul datang ke sini, kata hati Rakhan. Kemaren begitu turun dari jet pribadi, Taksa memberitahu jika Rhea mengirimkan pesan menanyakan kabar Chayra. Dia menyuruh Taksa mengabaikan pesan itu ." Aku pergi sebentar ke kantor, ada urusan," dia membelai rambut Chayra dengan lembut. " Kamu tunggu di sini, jangan kemana mana," katanya dengan nada memerintah.


Mau pergi ke mana? Aku saja tidak tahu ini di mana, balas Chayra dalam hati. " Iya," angguknya.


"Tadi aku sudah memesan room service," kata Rakhan sambil berdiri. "Ini ponsel ku, jika ada apa apa bisa telpon aku," dia mengambil ponsel di atas meja lalu memberikannya pada Chayra.


Hah? Chayra kaget. Kenapa Tiba tiba CEO ini memberi aku ponsel? Mana ponsel dia pula, batin nya heran.


"Ambil," Rakhan meletakkan ponselnya di telapak tangan kanan Chayra. " Ponsel kamu kan mati, jadi kalau kamu ada apa apa, bisa hubungi aku," katanya menjawab keheranan Chayra. " Tidak di password, nanti tinggal telepon Taksa, ya," dia membelai puncak kepala Chayra.


"Eh,iya," angguk Chayra malu. Perlakuan lembut Rakhan membuat dia salah tingkah.


"Sebenarnya aku ingin membawamu, tapi.." Rakhan menggantung kalimatnya. "Bibirmu bengkak," dia berbisik di telinga Chayra.


Blash...pipi Chayra memerah. Bengkak juga karena kamu! ingin dia bersuara tapi malu.


"Aku tidak lama, nanti kita sambung lagi," pungkas Rakhan sambil menahan senyum.


"Sambung apa? Aku tidak mau," tolak Chayra sambil berdiri menjauh.


"Seriously?" goda Rakhan menyeringai. Dia berjalan mendekat Chayra.


"Jangan dekat dekat!" perintah Chayra cepat. Untuk keselamatan jantungku!


Hm! Ingin rasanya Rakhan memeluk Chayra lalu menaklukkannya dengan tubuhnya. Sikap membangkang gadis itu membuatnya kesal. Tapi sekarang dia tidak punya waktu.


Tok ..tok..pintu di ketuk seseorang.


Rakhan berjalan ke arah pintu.Lalu dengan menggunakan cardlock, dia membuka pintu.

__ADS_1


"Selamat siang, CEO," Taksa masuk ke dalam kamar. " Ini pesanan anda," dia menyodorkan beberapa paperbag ukuran besar.


"Serahkan pada dia!" perintah Rakhan menunjuk Chayra yang masih berdiri di dekat sofa.


"Baik," sahut Taksa seraya berjalan menuju sofa. " Ini ," dia menyerahkan paperbag itu ke tangan Chayra.


"Terimakasih," sahut Chayra . Dia menengadah.


Wah! Taksa terbelalak. Bibirnya Chayra bengkak. Mirip adonan roti di kasih ragi. Sepertinya CEO tidak pernah puas menciumi gadis ini, dia terkikik dalam hati. Seingatnya, dulu CEO tidak pernah membuat bibir Blossom bengkak begini.


"Hm..." Rakhan berdehem. Dia merasa cemburu melihat Taksa memelototi Chayra .


"Eh, iya, ada apa ,CEO?" Taksa menoleh.


"Kamu keluar ," perintah Rakhan. "Kamu jalan duluan, tunggu aku di lobi," perintahnya lagi.


"Baik,CEO," kata Taksa . Dia menggerakkan kaki keluar kamar hotel. Silahkan di lanjut, ingin dia berkata begitu, tapi tentu saja dia tidak berani.


"Aku pergi dulu," Rakhan menghampiri Chayra begitu Taksa menutup pintu.


"Eh, iya, hati hati," jawab Chayra.


"Hanya itu saja?" ujar Rakhan menggoda.


"Belum," sahut Rakhan sambil meraih pinggang Chayra yang ramping. Lalu dengan cepat dia mencium bibir Chayra.


"Heh, lepas," Chayra menggeliat. Berusaha melepaskan diri.


Namun Rakhan tidak melonggarkan ciumannya sampai suara ******* lolos keluar dari bibir Chayra. Dia buru buru melepaskan bibirnya. Takut. Takut hilang kendali.


"Ehm ..aku pergi dulu," Rakhan mengelus rambut Chayra sebelum keluar dari kamar.


******


"Chayra ada di Negara S," kata Rhea pada diri sendiri. Kenapa dia bisa ada di sana? Bersama siapa? otaknya berpikir keras. Dia sudah berusaha menelepon Chayra kembali. Tapi tidak tersambung.


Dia juga sudah menelepon Miku, sekretaris CEO Rakhan. Namun Miku hanya menjawab tidak tahu setiap kali dia bertanya tentang CEO Rakhan.


Rhea berjalan mondar mandir di dalam kamar.


Ayahnya memberi tahu jika semua pekerjaan CEO sementara di ambil alih oleh asisten CEO, Pak Baskara Sadana.

__ADS_1


Tapi ayahnya tidak tahu CEO Rakhan ke mana. Setahunya, World Tech punya cabang di Negara S, tepatnya di Kota L. Apakah CEO Rakhan berada di sana? Bersama Chayra?


*****


"Pfth ...." Chayra menggelembung pipi. " Baju apa ini?" dia mengeluarkan semua baju dari dalam paperbag lalu meletakkannya di atas ranjang. Semua modelnya lebar, seperti sarung. Bahannya tebal. Warna nya gelap. Pak Taksa ini tidak punya selera, omelnya.


"Apa ini?" dia melotot ketika melihat beberapa helai pakaian dalam yang dia keluarkan dari paperbag berukuran paling kecil. Pakaian dalam itu tipis transparan. setipis jala nelayan. ****** ******** berbahan satin berenda berbentuk G string.


Pakaian dalam apa ini! dia memasukan kembali ke dalam paperbag. Dasar CEO mesum! dia berteriak kesal.


****


"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Rakhan setibanya di kantor cabang. Sepanjang perjalanan, dia memang tidak melakukan percakapan dengan Taksa, menghindari kuping lain yang mungkin akan membocorkan.


" Heli terbakar dan hancur bersepihan di sebuah bukit dekat Kota L, CEO," Taksa mengeluarkan laporan pendahuluan. " Mengenai Pak Ralf dan Pak Simon, kami belum mendapatkan kabar," lanjutnya lagi.


" Sudah kirim drone ke sana?" tanya Rakhan sambil terus berjalan memasuki kantor. Beberapa pegawai yang berpapasan membungkukkan badan,memberi hormat.


"Danny sudah mengirim drone, anda bisa tanya dia lebih detail," Jawab Taksa sembari menjejari langkah cepat Rakhan.


"Lalu bagaimana dengan robot itu?" tanya Rakhan lagi.


"Sudah di dalam lab, sedang di periksa oleh Geoff Stell," jawab Taksa.


Geoff Stell adalah wakil kepala robotika di kantor cabang.


"Persiapkan robot itu untuk di bawa ke Nevada," perintah Rakhan. " Peralatan di sana lebih lengkap," sambungnya lagi. " Untuk laki laki itu, bawa dia ke penjara atas tuduhan penculikan dengan kekerasan dan pelecehan, pastikan hukumannya lebih dari 20 tahun," perintahnya lagi.


"Lalu bagaimana dengan laki laki yang koma dan pelayan perempuan itu ,CEO?" tanya Taksa.


"Pilih rumah sakit terbaik dan pengamanan ketat untuk laki laki koma itu. Aku harus jadi orang pertama yang tahu begitu dia sadar," pungkas Rakhan tegas. " Untuk Pelayan perempuan itu, masukan dia ke dalam penjara. Atas tuduhan, kaki tangan penjahat, membantu kejahatan menculik dengan kekerasan," tutupnya.


"Baik,CEO," angguk Taksa.


*****


Menjelang malam, Rakhan balik ke hotel. Pikirannya sudah tenang setelah mengetahui Ralf dan Simon telah di temukan. Mereka tersangkut bersama parasut nya di dahan pohon, beberapa kilometer dari jatuhnya pesawat.


Dia yakin, Eouinlah yang sudah menembak jatuh helikopter yang di naiki mereka. Dia harus menemukan cara untuk menyeret kawan lamanya itu ke bilik penjara.


Hfh...Dia mengurut pelipis. Dia butuh sesuatu untuk mengendurkan syaraf otaknya yang tegang. Sesuatu itu bernama Chayra.

__ADS_1


Dia tersenyum membayangkan malam yang akan di lewati bersama gadis itu.


__ADS_2