CEO Melankolis

CEO Melankolis
Bab 49: Selama Damon Belum Bergerak, Aku Akan Tetap Aman


__ADS_3

Chayra melihat Damon berada dalam kotak kaca dalam posisi berdiri. Tubuhnya dari kepala sampai kaki ,di tempeli beberapa kabel yang berbeda ukuran dan jenis yang menyambung ke meja kiri dan kanannya. Meja tersebut panjangnya hampir sepanjang ruangan.


Kabel yang agak besar, yang di rekatkan di kepala Damon tersambung ke komputer Lio yang berada di meja sebelah kanan, untuk proses analisa setiap kali otak Damon berpikir.


Kabel yang kecil ukurannya yang di tempelkan di sekujur tubuh sampai kaki, di sebelah kanan dan kiri, adalah vibrating wire load cells. Kabel yang terhubung dengan alat berbentuk segiempat. Di samping alat itu di rekatkan segulungan kertas. Di atasnya tergantung sebuah jarum. Ujung jarum itu akan bergerak mengikuti irama gerakan Damon. Setiap kali Damon bergerak, ujung jarum itu akan menggerakkan roll pita yang akan menghasilkan goresan berupa grafik pada kertas.


Vibrating wire load cells ini sebenarnya adalah peralatan untuk mengukur kekuatan bendungan ya readers. Jenis instrumen geoteknik. Tidak ada hubungannya dengan robot 🤭


Otor hanya meminjam namanya saja, sedangkan bentuk dan cara kerjanya hasil rekayasa otor sendiri terinspirasi dari alat seismograf.


Hasil dari vibrating wire load cells ini akan di olah menjadi data analog lalu kemudian di transfer ke komputer Lio.


Namun sampai saat ini, kertas itu masih kosong. Karena Damon belum bereaksi .


"Damon!" Chayra menjerit. Kenapa Damon bisa ada di sini?


Damon? Lio tersentak. Kaget.


Damon? Dahi Eouin berkerut.


Damon? Lio dan Eouin saling bertatapan.


Siapa gadis ini? Beberapa penelitian yang tengah berada di meja sisi kiri dan kanan saling melempar pandangan.


Satu orang berinisiatif mendorong kursi roda Chayra kembali ke Eouin yang berdiri di ujung meja.


"Eh, mau apa? Lepaskan aku," Chayra terus berteriak. Dia hendak melawan tapi badan masih lemas.


"Shut up! Diam!" hardik Eouin. Gadis ini sungguh merepotkan!


"Apa ada cara lain untuk menggerakkan robot itu?" tanya Eouin pada peneliti yang mendorong kursi roda Chayra .


"Kita bisa membelah otak robot itu mengambil serat optik nya," jawab Curtis Ley, si peneliti. " Tapi kami tidak bisa menjamin, otaknya akan berfungsi seperti semula, karena hanya pencipta asli yang bisa melakukannya."


Damn! Eouin menggertakkan gigi. Andai tidak ingat gadis ini masih berguna, akan dia buang jauh jauh tanpa pikir panjang.


Jadi mereka menginginkan Damon? bisik hati Chayra. Selama Damon belum bergerak, aku akan tetap aman, katanya lagi dalam hati. Meski tidak terlalu mahir bahasa Inggris, Chayra masih mengerti secara garis besarnya. Belajar otodidak dari game.


"Ya, sudah, kembali ke tempat mu," perintah Eouin.


"Baik, Pak," jawab Curtis. Kemudian dia berjalan kembali ke meja nya.

__ADS_1


"Katakan, bagaimana cara mengaktifkan robot itu," kata Eouin pada Chayra yang masih terduduk lemas di kursi roda.


"Aku tidak tahu apa yang kamu katakan," jawab Chayra acuh. Dia harus mengulur waktu untuk memikirkan cara melarikan diri.


Argh! Eouin mengeram. Ingin dia cubit ginjal gadis ini. Tapi tak bisa. Gadis ini masih berguna.


"Selidiki dia, cari kelemahannya," Eouin berpaling pada Lio.


Hehehe...percuma, Chayra tertawa dalam hati. Identitas pribadinya sudah di privat oleh papanya Rhea. Tidak akan ada yang mampu membukanya.


"Identitas gadis ini di privasi, Bos," Jawab Lio sambil mengangkat muka.


Chayra menatap Lio. Kenapa wajahnya terasa familiar? dia mengerutkan kening.


Eh? Lio buru buru menunduk. Takut di kenali. Tapi...gadis itu cantik sekali. Pantas, Arfan sangat menyukainya.


"Itukan dulu," sergah Eouin. " Sekarang dia ada di sini, dia akan memberitahu password nya," pungkasnya.


Itukan dulu? Chayra mengernyit. Jadi orang-orang ini sudah pernah menyelidikinya? Huh, sekarang sama saja," dengus nya dalam hati. Dia juga tidak tahu password nya.


"Tidak di kunci lagi ,Bos," kata Lio heran. Dia melihat identitas lengkap Chayra di dalam layar monitor komputer.


Hah? Chayra tersentak. Data dirinya sudah tidak di privasi? Bagaimana bisa?


"Bagaimana jika salah satu orang itu , aku jadikan jaminan?" Eouin mendekatkan wajah ke arah Chayra. Suaranya terdengar kejam. Ekspresi nya dingin menakutkan.


"Lakukan saja," balas Chayra acuh. Sejak papa menikah lagi, dia sudah tidak di anggap.


"Ibunya sudah meninggal dan ayahnya menikah lagi ,Bos," lanjut Lio. "Dia punya dua orang adik tiri yang masih kecil," lanjutnya melaporkan.


"Oh .." Eouin seakan mengerti. " Periksa orang tua ayah dan ibunya," dia menyuruh Lio.


"Orang tua dari ayahnya sudah meninggal. Nenek dari pihak ibunya juga sudah tidak ada. Tapi Bos, kakeknya Bisma Darya Dewangga, pemilik Pak Tua grup, dan sekarang sedang menjalani perawatan di Amerika," Lio melanjutkan pencariannya. "Jantung koroner," sambungnya lagi.


"Sakit jantung ya?" Eouin tersenyum licik.


"Apa yang akan kamu lakukan?" Chayra bergidik.


"Bagaimana jika foto cucu tersayang, aku kirimkan ke kakekmu?" tandas Eouin mengancam.


"Kamu mau apa?" Chayra bertanya dengan suara di paksa tegas. " Jika kamu sedikit saja menyentuh kulit ku, aku akan bunuh diri," ancamnya. Makhluk kejam ini pasti tidak akan membiarkan dia bunuh diri. Selama Damon masih belum bergerak, dia akan aman .

__ADS_1


"Tanpa menyentuh kamu, aku tetap bisa membuat foto asusila," kekeh Eouin. "Banyak aplikasi Photoshop, tinggal pilih , " dengusnya.


Enam bulan yang lalu ,kakek baru selesai operasi bypass jantung, karena usia tua dan pikiran yang sedih akibat di tinggal nenek dan mama, kakek butuh waktu lama untuk pemulihan. Jika sekarang, Tuan aneh ini mengirimkan foto dirinya yang tidak senonoh...pikiran Chayra berkecamuk. Jiwa kakek mungkin tidak selamat, dia membatin.


Tapi, siapa tahu kalau Damon sudah aktif, Damon bisa menolong aku kabur dari sini, kata hatinya berharap.


"Sudah pikir pikirnya?" tandas Eouin. Dia sudah cukup sabar menghadapi gadis ini. "Selain mengirimkan foto asusila ,aku akan menyertakan sepotong jarimu sebagai identitas diri," seringainya.


Hii...Chayra bergidik. " Baik, tapi kamu harus berjanji padaku," katanya lagi.


" Aku tidak pernah berjanji, jikapun aku berjanji, aku tidak pernah menepati," tukas Eouin.


Huh, salah satu ciri orang munafik, kata hati Chayra. Andaikan Damon sudah aktif, nasib aku bagaimana? Apa Damon bisa menyelamatkan aku? Apa dia punya kekuatan iron man yang bisa memecahkan kotak kaca? Lalu membawa aku terbang melayang di angkasa?


"Hoooiii..." teriak Eouin kesal.


" Kalau aku mengaktifkan robot itu, nasibku bagaimana?" kata Chayra meminta kepastian.


"Menurut mu?" tandas Eouin.


"Mati?" tanya Chayra ngeri.


"Jangan uji kesabaran ku," Eouin mencengkram dagu Chayra. Kencang dan kuat . Matanya tajam menghujam. Iris hitam nya mengintimidasi.


Gawat, Lio berdecak sendiri. Bos sudah di ambang batas kesabaran. Dia ngeri membayangkan kelanjutannya jika gadis itu terus membangkang.


"Iy..iya ..iya ..baiklah," kata Chayra akhirnya. Orang ini sungguh menakutkan. "Bisa ..bisa lepaskan tanganmu? Aku susah bicara," sambungnya dengan nafas tersengal.


Eouin melepaskan cengkraman nya. "Speak up!"


"Mengaktifkan nya dengan men-scan QR code yang terdapat di tengkuknya," Chayra memberitahu.


"Do it!" perintah Eouin tidak sabar.


"Tidak bisa, " geleng Chayra. "Scan nya dengan ponsel, ponselku ketinggalan di apartemen," lanjutnya buru buru karena melihat Eouin seakan ingin menerkamnya.


"Katakan dimana ponsel itu," balas Eouin seraya mengeluarkan ponsel dari dalam kantong celananya.


"Di dalam tas, di atas sofa,di apartemen," jawab Chayra pelan. Semoga nanti ada orang yang melihat ketika suruhan Bos ini mengambil tas itu , harapnya dalam hati. Lalu memberi tahukan pada Rhea, atau pada siapapun yang akan menolong nya.


"Ke Apartemen Bougainville, unit 812, ada tas ransel di atas sofa, di dalam nya ada ponsel, ambil ponselnya saja," perintah Eouin begitu telepon nya tersambung. " Bawa ke sini, naik jet pribadi malam ini," perintahnya lagi.

__ADS_1


"Baik, Bos," jawab Ethan di ujung sambungan telepon.


Chayra terkesiap. Naik jet pribadi? Oh my God! Ini di mana??


__ADS_2