
"Bawa pulang ke rumah Pak Bisma," perintah Damon melalui earphone.
"Baik," angguk laki laki itu. Tangannya memeluk Chayra dengan erat. Sudah lama dia tidak bertemu Chayra. Seakan dia meluapkan rasa rindu yang terpendam. Selama ini dia hanya bisa mengingat Chayra dalam ingatan. Ingatan yang hanya sedikit. Itupun berupa siluet hitam yang tak berbentuk.
Siluet adalah gambar manusia atau bentuk lain berwarna hitam.
Dia yakin orang yang memerintahkan untuk menghapus Chayra dalam benaknya adalah pemilik dia yang asli. CEO Rakhan, CEO WT!
****
"Bagaimana?" tanya Efron. Beliau masih menunggu jawaban mama Rhea dengan sabar.
Beliau yakin peluangnya kali ini untuk kembali pada Aleasaa sekitar 90 persen.
"Hm ..." mama Rhea menggumam. " Aku...nanti aku telpon lagi, Rhea sudah pulang," beliau langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Efron.
"Damn! Sial," pekik Efron sambil meninju dinding. Aleasaa benar benar menguji kesabaran nya .
Beliau menelepon Edward Cullen.
"Ada apa Tuan?" tanya Edward. Dia masih berada di dalam mobil, di basement parkiran mobil hotel Grand Duke, tempat Efron Finn menginap.
"Kamu pergi ke...." ujar Efron menyebutkan sebuah alamat. " Jemput gadis itu!" perintah beliau .
"Tapi tuan, komplek perumahan itu bukan perumahan yang bisa di masuki sembarang orang," jawab Edward cepat.
" Lagipula bukankah anda tadi mengatakan aku tidak usah membawanya?" tanyanya mengingatkan.
"Itu tadi. Sekarang aku menginginkan gadis itu," ujar Efron. " Kamu kan mantan prajurit pasukan khusus. Masa masuk ke perumahan saja tidak bisa?" sembur beliau kesal.
"Baik tuan," sambut Edward cepat. Dia tidak ingin menjadikan dirinya sasaran kemarahan bos nya itu.
****
Chayra mengernyapkan mata. Dia serasa melayang di udara. Bukankah tadi aku berada di dalam kantor Rakhan? gumamnya bingung.
Dia membuka mata lebih lebar. Matanya melihat sesosok dada bidang yang terlihat keras. Sepertinya dari baja. Ini bukan Rakhan!Siapa ini? desisnya heran. Kenapa aku bisa bersamanya?
"Putri sudah bangun?" bisik laki laki itu ketika dadanya merasakan gerakan tubuh Chayra .
__ADS_1
Putri? Suara itu! Damon? gumam Chayra. Dia berusaha melihat lebih jelas.
"Ya, I'm back," ujar Damon seakan mengerti pikiran Chayra.
Hah? Ternyata benar Damon! Robot humanoid itu. Kenapa dia bisa berada di sini? Bukankah seharusnya dia berada dalam lab WT di Nevada? gumam Chayra bingung.
Apakah Rakhan yang membawa Damon ke sini? batinnya lagi.
"Sabar putri, sebentar lagi kita sampai," kata Damon pelan.
"Sampai? Kamu membawa aku kemana?" tanya Chayra heran.
"Seperti yang di perintahkan, ke rumah Pak Bisma, komisaris Orang Tua Group," jawab Damon.
Orang itu menyuruh Damon membawa aku ke rumah kakek. Pastilah orang itu bukan Rakhan . Rakhan tidak mungkin menyuruh Damon membawa aku ke rumah kakek, kata Chayra dalam hati.
"Siapa orang yang menyuruh kamu?" tanyanya ingin tahu.
"Entah lah, aku tidak kenal," sahut Damon. " Di dalam memori ku tertulis nama Damon Alterio, mirip dengan nama aku," lanjutnya. " Apa Putri mengenal orang itu?"
"Ya, aku kenal," sahut Chayra singkat. Hm, ternyata Damon . Tapi kenapa dia bisa mengaktifkan Damon? Bukankah Rakhan sudah mengganti metode pengaktifan dengan nada suara dan Irish Rakhan? batinnya heran.
Akhirnya, Chayra menghela nafas. Sia sia saja aku berusaha keras untuk kabur dari rumah karena pada akhirnya akan kembali juga ke rumah.
***
Ugh, Taksa melenguh. Dia mengusap usap tengkuknya . Sakit sekali, rintihnya .
"Siapa yang berani memukul leher aku sampai aku pingsan? Awas saja kalau ketemu!" omelnya sambil tangannya bertumpu diatas karpet, sebagai tumpuan untuk berdiri.
Sial! Tenaga orang itu kuat sekali. Sampai sekarang leherku masih sakit, dia terus mengomel.
Bagaimana dengan Chayra? Matanya dengan cepat tertuju pada sofa yang berada di seberang tempat di tergolek.
Sofa itu kosong. Chayra tidak ada. Kemana gadis itu?
Setelah berhasil berdiri stabil, dia mengeluarkan ponsel dari kantong kemeja nya. Dia menelepon Aghas Pratama.
"Liat rekaman CCTV ,Pak. Apakah ada orang yang keluar dari lift VIP khusus CEO," perintahnya pada Aghas.
__ADS_1
"Siap ,Pak," sahut Aghas sambil memperhatikan layar monitor CCTV. Ada sekitar 30 jumlah tampilan kamera di layar monitor CCTV. Dia fokus pada kamera 28, yaitu kamera yang di letakkan di depan pintu keluar lift VIP khusus CEO.
"Tidak ada ,Pak," jawabnya setelah melihat dengan teliti tampilan pada kamera 28.
"Kamu yakin?" tanya Taksa.
"Yakin pak. Karena sejak anda keluar dari lift khusus CEO, tidak ada orang lain lagi yang keluar dari lift itu," pungkas Aghas menyakini.
"Hm, baiklah," jawab Taksa kemudian dia mematikan sambungan telepon.
Tidak ada jalan lain ke ruangan CEO kecuali lift khusus itu, gumamnya sambil melihat sekeliling. Hah, jendela terbuka! batinnya heran.
Jendela ruangan CEO tidak pernah terbuka sejak dia mulai bekerja sebagai asisten CEO.
Apa ada orang yang membukanya? Apa orang itu masuk dan keluar dari jendela itu? Tapi ini lantai 9! Tidak mungkin ada orang yang bisa masuk lalu keluar melalui jendela itu. Apalagi sambil membawa Chayra!
****
Rakhan berjalan mengikuti Rhea masuk ke dalam rumah. Dia kaget ketika melihat foto keluarga CEO Farras terpampang di dinding ruang tamu. Ini rumah CEO Farras! Kenapa Chayra membawanya ke sini?
"Ayo duduk," kata mama Rhea yang baru masuk ke ruang tamu.
"Maaf Tante. Kenapa Chayra membawa saya ke rumah anda, bukannya ke rumah dia?" tanya Rakhan bingung.
"Itu anu, Pak Bisma yang meminta untuk bertemu di sini. Rumah beliau sedang di renovasi," jawab mama Rhea berbohong.
Oh ,God! Maafkan aku, ringis beliau dalam hati.
"Oh begitu," sahut Rakhan sambil duduk di atas sofa .
Dia menatap mama Rhea dengan mata elangnya yang tajam. Tante Aleasaa berbohong, batinnya. Dia dapat melihat dengan jelas perempuan yang sebaya ibunya itu terlihat gelisah.
"Kamu mau minum apa?" tanya Rhea sambil tersenyum manis. Dia ingin mengambil kesempatan untuk pergi meninggalkan Rakhan. Berduaan di dalam mobil bersama Rakhan membuatnya berkeringat dingin.. Rakhan bertanya terlalu detail membuat dia kewalahan untuk menjawab. Dia ingin rehat sejenak dari perbincangan penuh dusta ini.
"Tante sudah mempersiapkan minuman kesukaan kamu," mama Rhea yang menjawab. Beliau tidak mau di tinggal berdua saja dengan Rakhan
****
Damon melarikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Menuju rumah Pak Bisma. Dia tidak sabar untuk menerima ucapan terima kasih dari Pak Bisma. Khayalan indahnya sudah melayang layang di awan. Perasaan bahagia nyaris memenuhi hatinya.
__ADS_1
Namun, kebahagiaan itu seketika sirna begitu dia sampai di rumah Pak Bisma.