CEO Melankolis

CEO Melankolis
Bab 15: Siapakah dia?


__ADS_3

Fajar mulai menyingsing. Bulan perlahan memberi tempat pada matahari untuk hadir. Sinarnya masuk dengan garang menerjang gorden jendela kamar Rhea yang masih tertutup rapat.


Chayra menggeliat malas di atas ranjang. Terbangun dari tidurnya.Namun dia terbangun bukan karena cahaya matahari yang sudah memenuhi kamar tapi justru oleh riuhnya kicau burung Sikatan dari luar jendela.


Burung yang bulunya berwarna hitam dan putih ini bersarang di atas pohon bambu apus yang berada di dekat beranda kamar Rhea.


Kata Mang Danu, pengurus taman di rumah Rhea, burung sikatan ini hanya berkicau di pagi hari saja. Yaitu di antara jam 4 pagi sampai jam 6 pagi.


Chayra menggosok gosok mata. Sekarang jam 4 pagi atau sudah jam 6 pagi? Dengan tidak adanya Rhea, dia tidur sangat nyenyak semalam.


Chayra melihat jam dinding berhias kristal swarovski di atas foto Rhea yang berpigura super besar, di seberang ranjang.


Sudah jam 6 pagi! Chayra berteriak, Dia segera bangkit dari ranjang. Sebenarnya malas. Matanya masih menempel erat. Tapi dia ada kuliah pagi ini. Mata kuliah pengantar aplikasi komputer dan tekhnologi. Mata kuliah kesukaannya. Di ajar oleh dosen favoritnya.


Dia segera lari ke kamar mandi. Mandi ala kadarnya, memakai baju dan menuruni tangga dengan gerakan kilat.


Di bawah dia berpapasan dengan Mbok Iyem, salah seorang pembantu di rumah Rhea yang tengah menyapu lantai ruang tengah.


Dia menitipkan pesan kalau dia harus buru buru balik ke apartemen karena ada kuliah jam 8 pagi.


Sesampainya di luar pintu gerbang rumah Rhea, Chayra terperangah. Dia tidak membawa uang sepeserpun di dalam kantong celana jeansnya. Ponselnya juga ketinggalan di apartemen. Tanpa ponsel, dia tidak bisa memesan ojek online.


Bagaimana aku bisa pulang? Apa aku balik lagi ke rumah Rhea? Minta tolong di antar salah seorang supirnya? Berbagai pikiran berkecamuk di lobus frontalnya.


Dan tiba tiba, Chayra melihat seorang laki laki duduk di atas sepeda motor tak jauh dari tempatnya berdiri.


Laki laki itu memakai jaket bomber berwarna hijau army dan helm ojek online.


Chayra segera menghampiri laki laki itu. Menanyakan apakah dia sedang menunggu penumpang. Laki laki itu menggeleng.


Lucky me! Mi vere bonsancas! Chayra segera naik ke atas jok belakang.


"Tolong antarkan aku ke apartemen Bougenville... " dia menyebutkan alamat lengkap apartemen Rhea. "Kalau mau ngebut tidak apa apa, Pak. Aku buru buru," pesannya.

__ADS_1


Driver ojek mengangguk. Tanpa sungkan dia segera melarikan motor bebeknya dengan kecepatan maksimal. Angka yang tertera di speedometer digital 178 km/jam.


Rambut Chayra yang sebatas bahu berkibar kencang di tiup angin. Untuk menahan dirinya dari serbuan angin kencang, mau tak mau Chayra berpegangan erat pada jaket bomber driver ojek.


Untung saja tidak ada polisi yang melihat. Jika ada, di jamin kena tilang tanpa basa basi.


Tidak berapa lama, mereka sampai di depan apartemen Rhea.


Chayra segera turun dan berbicara pada driver ojek itu.


"Maaf, Pak, saya tidak bawa uang, " kata Chayra sambil memperlihatkan kedua kantong celana jeansnya. "Bapak tunggu di sini, saya naik ke atas. Sebentar Pak, tidak lama. Sekalian bapak tolong antarkan saya ke kampus. Nanti saya bayar doble. Bagaimana, Pak? " sambungnya lagi berusaha mengajak negosiasi.


Driver ojek menganggukkan kepalanya yang masih memakai helm full face.


"Sepuluh menit, Pak, tidak lebih, " janji Chayra, sebelum dia berlari kencang masuk ke dalam apartemen Rhea.


Dengan menggunakan kartu access, Chayra membuka pintu apartemen Rhea. Mengambil ransel lalu mengisinya dengan dompet dan buku untuk mata kuliah hari ini.


Kemudian dia bergerak menuju lemari pakaian. Dia mengambil sembarang baju yang terlihat oleh matanya. Dia tidak punya cukup banyak waktu untuk memilih milih baju. Setidaknya, dia tidak memakai baju yang sudah di pakainya tidur.


Sesuai janjinya pada driver ojek, sepuluh menit kemudian, Chayra sudah berada di parkiran motor.


"Kita ke kampus Universitas Bumi Persada ya, Pak, Ke Gedung E, Fakultas Ekonomi, " kata Chayra begitu dia sudah menghenyakkan pantatnya di jok belakang.


"Jangan sekencang yang tadi Pak, takut ada polisi, "pesannya beralasan. Sebenarnya, dia ngeri.


Driver ojek mengangguk. Dia segera menstarter motornya dan menjalankannya dengan kecepatan standart.


Selang 30 menit kemudian, Chayra sudah berada di parkiran Fakultas Ekonomi, di Gedung E.


"Terimakasih, Pak, " Chayra turun dari jok motor. "Berapa ongkosnya pak? " tanyanya.


Tanpa bicara, driver ojek segera melarikan motornya meninggalkan Chayra, yang hanya bisa berdiri melihatnya dengan mimik bingung.

__ADS_1


Aneh, Chayra membatin.


Driver itu tidak mau menerima ongkos?


Atau jangan jangan dia bukan driver ojek sungguhan?


Sebenarnya agak aneh juga, tetiba ada ojek online di depan rumah Rhea. Kawasan rumah Rhea merupakan pemukiman elit. Tidak mungkin memesan ojek online.


Dan lagi, driver tadi juga tidak menunggu penumpang.


Tampilan driver itu juga cukup mencurigakan. Seingatnya, dia belum pernah melihat driver ojek memakai jaket bomber berbahan fleece destiny, yang bergaya street style.


Bahan jaket terlalu tipis untuk di pakai oleh driver ojek yang bertarung dengan angin jalanan .


Berbagai pemikiran beradu argumen dalam lobus frontal dalam otak besarnya. Sebelum akhirnya dia menyerah. Berhenti memikirkan driver itu untuk sementara.


Dia harus bergegas. Pak Dosen terkenal tepat waktu. Sesiapapun yang telat, meski hanya 5 menit, tidak di izinkan masuk kelas.


Sekian puluh kilometer dari Universitas Bumi Persada, di sebuah gedung pencakar langit, di lantai 10, CEO Rakhan memandangi ponselnya dengan wajah geram.


Sekarang sudah jam 8 lewat 20 menit, tapi Taksa belum muncul juga. Di telefon juga tidak di angkat. Berani sekali, geram CEO Rakhan.


Sebentar lagi ada meeting dengan semua kepala cabang World Tech di seluruh Indonesia. Meski meeting secara virtual, melalui cloud zoom, tetap saja harus memperlihatkan data. Data itu tersimpan di USB flask drive yang di pegang Taksa.


Tok.. tok..tok


Suara ketukan di pintu terdengar pelan dan hati hati.


"Maaf, CEO, " suara Taksa terdengar lebih dulu sebelum dia masuk ke dalam ruangan CEO Rakhan. Hatinya berdebar keras, berharap tidak di amuk CEO Rakhan.


"Dari mana saja kamu? " CEO Rakhan menoleh. Gurat kemarahan kentara di wajahnya. "Tidak ingat kalau sebentar lagi ada meeting? telefon juga tidak di angkat, " tukasnya kesal.


"Maaf, CEO, " Taksa menggaruk garuk rambutnya yang keriting. "Itu karena.. " dia bingung untuk memulai.

__ADS_1


"Itu apa? "tukas CEO Rakhan tambah kesal. "Alasannya nanti saja.Kamu siap siap. Sepuluh menit lagi kita akan bergabung di zoom meeting. "


Taksa mengangguk patuh.


__ADS_2