CEO Melankolis

CEO Melankolis
Bab 27: Jangan Pulang Ke Apartemen!


__ADS_3

Sesampai di parkiran basemen apartemen, Rhea keluar dari mobilnya. Perasan kesal masih menggelayuti hatinya. Tadi dia sama sekali tidak di berikan kesempatan oleh CEO Rakhan untuk berbicara.


Dandan mahal nya terasa sia sia. Tiket konser mungkin akan menyusul nasib yang sama. Dia harus mencari kesempatan untuk bisa berbicara dengan CEO Rakhan. Memberitahu CEO Rakhan tentang tiket konser musik klasik yang sudah dia beli.


Siapa tahu , tiket itu bisa membuka pintu ke hati nya CEO Rakhan, harap Rhea dalam hati.


"Bos, Nona Rhea sudah keluar dari mobilnya," si pengendara, mata mata suruhan Bos, kembali menelepon Bos.


"Ikuti dia," jawab Bos. "Jangan sampai ketahuan," pesan Bos. "Hati hati," sambungnya lagi.


" Baik, Bos," si pengendara mematikan ponsel lalu memasukkannya ke dalam kantong jaketnya . Dia mencabut kunci motor memasukannya kedalam kantong celana jeans-nya, kemudian menanggalkan helm full face yang menutupi wajahnya. Seketika menampakan wajah dingin yang kejam.


Dia adalah Didi Riyadi. Tangan kanan Bos yang paling terpercaya. Dia biasa menangani tugas tugas yang kotor. Jika kali ini dia di beri tugas membuntuti seorang gadis, pasti ini bukan tugas sembarangan.


Didi menggerakkan kaki mengikuti Rhea yang sudah berjalan cukup jauh didepannya. lingkungan apartemen masih terlihat sepi dan lengang. suasana yang sangat mendukung jika dia bergerak sekarang.


Didi melangkahkan kaki lebih cepat, semakin mendekat ke arah Rhea yang berjalan pelan karena mengenakan high heels 10 cm. Begitu semakin mendekat, dia menggerakkan tangan kiri untuk membekap mulut Rhea dan tangan yang lainnya menahan perutnya.


"Stt..diam, jika ingin selamat," bisik Didi dengan suara berat di dekat telinga Rhea.


Si..siapa itu ? Rhea terperanjat kaget. Dia tidak bisa bicara karena mulutnya di tutup oleh tangan kiri Didi yang berbulu. Dia juga tidak bisa menoleh untuk melihat siapa yang membekapnya.


Kerena Rhea diam tak bergerak, Didi menggerakkan tangan kanannya untuk memukul kepalanya. Dia akan melumpuhkan gadis ini, kemudian menyembunyikannya di pepohonan di samping jalan ini lalu menelepon anak buahnya untuk datang membawa mobil. Dia akan membawanya ke tempat Bos untuk di interogasi .


Rhea mengangkat kaki kanannya lalu menginjakkan kakinya kuat kuat ke telapak kaki Didi .


"Aw..." Didi menjerit. Kakinya sakit di injak high heels Rhea yang runcing. Seketika dia melepaskan tangannya dari badan Rhea.


Rhea segera melepaskan diri dari Didi lalu dia bergerak mundur agak jauh untuk kemudian melepaskan tendangan berputar setengah lingkaran menggunakan telapak kaki. Tendangan nya mengincar area perut Didi.


Tendangan ini dalam karate di sebut Ushiro mawashi Geri.

__ADS_1


Bug! Didi terjengkang ke belakang. Dia tidak sempat menghindar dari tendangan Ushiro mawashi Geri nya Rhea.


"Aw .." kali ini Didi memegang perutnya yang sakit terkena tendangan Rhea. ****! dia menyumpah. Gadis ini ternyata jago beladiri!


"Siapa kamu?" Rhea berjalan mendekat. Perasaan marah dan kesalnya akan dia lampiaskan pada orang ini.


Didi menundukkan kepala. Dia menyembunyikan wajahnya. Takut di kenali. sekalian bersiaga untuk memberikan pukulan balasan.


"Kenapa diam saja?" Rhea semakin mendekat.


Begitu jarak Rhea dan Didi semakin dekat, tiba tiba Didi berdiri, melupakan sakit di lambungnya, lalu dia mengayunkan pukulan ke arah wajah Rhea. Menyasar mata dan hidungnya. Titik terlemah dan paling sensitif yang ada pada wajah.


Rhea tidak sempat menghindar. Dia kaget terkena serangan mendadak itu. Dia berpikir lawannya telah berhasil di lumpuhkan, trnyata tidak.


"Argh .." Rhea menjerit. Tulang hidungnya terasa sakit di tinju tangan yang kekar dan berbulu itu. Seketika,hidungnya mengeluarkan darah segar.


Melihat hidung Rhea berdarah dan gadis itu terlihat mulai goyah, Didi mengayunkan lagi tangannya. Kali ini menuju ke arah dada. Tepat ke ulu hati Rhea. sebuah serangan yang paling mematikan. Karena tidak perlu pukulan keras untuk membuat jantung berhenti berdenyut, ketika terkena ulu hati.


Di sela rasa pusing akibat hidungnya yang berdarah, Rhea berusaha tetap konsentrasi menghadapi Didi. Bertepatan dengan Didi yang mengarahkan tinju ke arah ulu hati nya, Rhea men***kan jarinya ke arah leher Didi. Dia menenggelamkan jarinya di sana. Makin lama makin dalam,sampai akhirnya Didi berteriak kesakitan dan terjatuh mencium aspal.


Untuk mempercepat larinya, Rhea melepaskan high heels lalu menjinjing nya .


Sampai di depan apartemen, Rhea meminta kepada tiga orang security untuk menemaninya menghadapi Didi.


"Di sana!" tunjuk Rhea ke arah jalan setapak menuju parkiran basemen apartemen.


"Di mana Mbak?" tanya seorang security berkumis, di bagian dada pada seragamnya terpasang badge Yuri Yurianto. Dia merupakan kepala security apartemen.


"Di sa...." suara Rhea terhenti. Dia tidak melihat sesiapapun di sana. Jalan setapak itu kosong.


Kemana dia ya? Rhea menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan.

__ADS_1


"Mungkin bersembunyi di antara pepohonan,Pak," kata Rhea sambil menunjuk deretan pohon Tabebuya yang di tanam di sisi kiri kanan jalan setapak .


"Bersembunyi di antara pohon?" ulang Pak Yuri setengah tidak percaya.


Batang pohon Tabebuya tinggi dan langsing, tidak ada tempat untuk bersembunyi. Tempat yang mungkin bisa untuk bersembunyi adalah pada bagian bunganya. Bunga Tabebuya tumbuh bergerombol dan rimbun pada satu batang .


Tapi apa mungkin orang terluka bisa memanjat sampai 20 meter? Apalagi bunga Tabebuya tumbuh di bagian pucuk pohonnya? Pak Yuri tidak henti hentinya berpikir dalam hati.


"Tidak ada ya..." kata Rhea bingung. Bagaimana mungkin orang yang terluka itu bisa menghilang dalam waktu 10 menit saja?


" Sebaiknya Mbak Rhea mengobati luka pada hidungnya," ujar Pak Yuri menyarankan. " Sementara kami akan menyisir jalan ini untuk mencari orang yang mencurigakan itu," sambungnya lagi. " Bagaimana rupanya, Mbak?" tanyanya.


Rhea mengerutkan dahi. Berusaha mengingat ingat. " Suaranya berat. Rambutnya lurus bergelombang. Wajahnya biasa. kulitnya agak hitam, umurnya sekitar 30 tahun atau lebih sedikit," katanya setelah berapa saat. " Tidak terlalu tinggi,tapi badannya kekar," lanjutnya.


"Baik, Mbak," Pak Yuri mengangguk paham. "Ayo kita cari orang itu," katanya pada 2 orang security yang berdiri di belakangnya.


"Baik,Pak," Ke dua orang security itu mengangguk lalu berjalan mengikuti Pak Yuri yang sudah mulai melangkahkan kaki.


Rhea berbalik arah menuju ke apartemen. Dia akan mengobati hidungnya di klinik Mutiara, klinik 24 jam yang praktek di lantai dasar apartemen. Sambil berjalan, dia mengeluarkan ponsel dari dalam tas clutch yang sedari tadi di menggantung di pundaknya.


Dia menelepon ayahnya. Minta di jemput di apartemen. Dia tidak berani menyetir mobil. Hidungnya terasa nyeri. Hidungnya juga terus mengeluarkan darah segar. Pukulan laki laki tadi benar benar kuat, dia mendengus kesal.


Setelah menelepon ayahnya, Rhea menelepon Chayra.


"Ra...Kamu jangan pulang ke apartemen!" seru Rhea begitu Chayra mengangkat telepon.


"Hah?" Chayra terperangah. "Kenapa?" tanyanya heran.


"Aku di serang begitu keluar dari parkiran basemen," jawab Rhea memberitahu. " Sudah ya, aku mau memeriksakan hidungku dulu, semoga hidungku tidak patah," sambungnya sambil memutuskan sambungan telepon. Dia telah sampai di depan klinik Mutiara .


" Iya," balas Chayra seraya mematikan telepon. Siapa orang yang telah menyerang Chayra? Kenapa?.

__ADS_1


****


Maaf, ya readers , agak tersendat updatenya. Padahal sudah ada niat update seminggu 3 kali. Di karenakan author sedang menginap di rumah mertua🙏.


__ADS_2