
"Sebaiknya kamu telepon Taksa sekarang, minta dia untuk mengirimkan dokumen kamu," kata Rhea begitu mereka di tinggal berdua.
"As soon as possible ( lebih cepat lebih baik)," katanya lagi. Dia ingin cepat cepat mengurus dokumen pernikahan dia dengan Rakhan. Takut efek bubuk kristal putih itu menghilang dan Rakhan tersadar dia telah tertipu.
"Kamu benar sayang," balas Rakhan sambil mengeluarkan ponsel dari kantong kemejanya. Dia menelepon Taksa mengikuti anjuran Rhea.
"Kamu tidak perlu mengantarkan dokumen itu ke rumah Rhea, cukup kirimkan saja fotonya lewat pesan singkat," perintahnya.
Astaga! Taksa memucat. Dia belum sempat mengurusnya. " Maaf CEO, saya belum sempat," jawabnya lirih.
"Belum sempat?" potong Rakhan kesal. Baru kali ini Taksa lalai mengerjakan perintah nya. " Kenapa?" tanyanya berbaik hati.
Dia memberikan kesempatan pada Taksa untuk membela diri karena mendengar suara asistennya itu terdengar panik.
CEO tidak ada hubungannya dengan menghilangnya robot itu, batin Taksa. Dia yakin karena suara CEO terdengar kesal.
"Itu CEO, barusan Jun menelepon mengabari jika robot humanoid 081212 menghilang dari lab. Saya menduga robot itu membawa Nona Chayra dari kantor anda," beber nya memberitahu
"Robot itu membawa Chayra?" ulang Rakhan. " Tapi Chayra ada di sini bersama ku," sambungnya sambil menatap Rhea yang duduk manis di sebelahnya.
Tunggu, dia menajamkan penglihatan. Kenapa wajah Chayra menjadi dua? Lalu perlahan wajah Chayra memudar berganti dengan .....wajah Rhea?
Argh .... dia meringis. Kepalanya sakit. Tidak hanya kepala tapi juga alis, mata ....bugh! dia terkulai di atas sofa. Ponsel di tangannya terhempas ke karpet.
"CEO?" panggil Taksa karena tidak mendengar lagi suara Rakhan.
"CEO?" panggilnya lagi. " CEOOO!!" panggilnya kencang.
Ini gawat, batinnya. Dia buru buru mematikan sambungan telepon dan berlari keluar dari ruangan CEO.
****
"Dimana ini?" tanya Chayra begitu Damon menjejakkan kakinya di rumput. Dia melihat ke sekeliling. Dia tidak melihat satupun rumah. Hanya sebuah lapangan bola dimana saat ini dia dan Damon berada.
"Lapangan bola,putri," jawab Damon.
"Iya, aku juga tahu," sentak Chayra kesal. Anak kecil pun tahu ini lapangan bola! gerutunya dalam hati.
"Tadi saya menelpon sebuah nomor ponsel yang ada di SIM card saya dan orang itu mengarahkan saya ke sini, putri," kata Damon menjelaskan.
__ADS_1
"Ada nomor ponsel di SIM card kamu? Apakah nomor ponsel Rakhan?" tanya Chayra ingin tahu.
"Entahlah , saya tidak tahu," geleng Damon. "Di sim card saya hanya ada nomor ponsel itu. Tanpa nama. Tidak ada nomor yang lain," sambungnya. "Katanya, dia akan menjemput kita di sini," lanjutnya sambil duduk di rumput.
Satu satunya nomor ponsel di SIM card Damon? Pastilah itu nomor ponsel Rakhan! batin Chayra bahagia.
"Saya duduk dulu ,putri," kata Damon lemah.
"Kamu kenapa?" tanya Chayra sembari membungkuk. Damon terlihat lemah. Apa karena membawa aku terbang membuatnya lelah? batinnya bertanya tanya.
"Karena saya melanggar instruksi orang yang sudah mengaktifkan saya, saya menjadi lemah," jawab Damon.
" Perbuatan saya membuat semua serat optik yang menyangga tubuh saya menjadi lemah. Saya butuh istirahat untuk memulihkan diri," sambungnya.
"Apa?" Chayra berteriak kaget. " Kenapa kamu tidak memberi tahu konsekuensi melanggar perintah?" lanjutnya dengan nada bersalah.
"Saya tidak bisa mengecewakan putri . Saya di buat untuk membuat putri bahagia. Kebahagiaan putri adalah yang paling utama," jawab Damon lemah. Tenaganya semakin terkuras .
"Kamu bodoh!" teriak Chayra sambil mengusap air mata yang mendadak menggenang di pelupuk mata.
"Putri jangan menangis, orang itu akan datang sebentar lagi. Dia dalam radius 5 kilometer," sahut Damon menenangkan Chayra.
"Radius 2 kilometer, 1 kilometer, dia sudah dekat ,putri. Anda selamat," sambungnya sambil menutup mata.
"Hah? Damon?" teriak Chayra sambil menggoyangkan tangan Damon . Robot itu diam tak bergerak.
"Hai!" sapa seorang laki laki tak jauh dari tempat Chayra bersimpuh di hadapan Damon. Suaranya terdengar kikuk. Tapi familiar.
Chayra buru buru menengadah. "Kamu?" serunya kaget.
***
Tiba tiba sekelompok laki laki berbadan tegap menerobos masuk ke ruang tengah. Salah seorang dari mereka menggapai tangan Rhea yang tengah berusaha membangunkan Rakhan yang terkulai di atas sofa.
"Lepaskan aku!" teriak Rhea . Dia bersiap hendak melawan , namun laki laki itu dengan sigap menempelkan sebuah sapu tangan yang penuh dengan obat bius.
Bugh! Rhea jatuh ke atas sofa tanpa perlawanan.
"Good!" laki laki itu tersenyum. " Tuan pasti akan senang," katanya dengan senyum tambah lebar.
__ADS_1
**"
"Kemana Damon?" tanya pak Bisma melihat Kevin masuk ke dalam ruang kerjanya .
"Mencari nona Chayra, Pak," jawab Kevin. " Anda tidak perlu kuatir, barusan Pak Damon mengirimkan pesan singkat kepada saya. Beliau sudah menemukan lokasi nona Chayra berada," jelasnya lagi .
"Baguslah," jawab Pak Bisma lega.
Tok ...tok ..
Pintu ruang kerja Pak Bisma di ketuk dari luar. Pak Bisma memberikan isyarat pada Kevin untuk membuka pintu. Pak Aditya masuk dengan langkah sopan. Beliau memberi tahu jika Pak Agung, ayahnya Chayra tengah menunggu di ruang tamu.
"Suruh dia pulang!" perintah Pak Bisma. Saat ini beliau tidak ingin melihat wajah mantan menantunya yang mengesalkan itu.
"Beliau mengatakan sudah membawa surat pengalihan hak wali nikah nona Chayra, Pak," lapor Pak Aditya.
"Suruh tinggalkan saja surat itu," perintah Pak Bisma lagi. " Lalu suruh dia pulang."
"Saya sudah mengatakannya Pak. Anda tidak ingin di ganggu tapi beliau memaksa untuk bertemu," kata Pak Agung lagi . Beliau merasa kewalahan untuk mengusir mantan menantu atasannya yang bermuka badak itu.
"Katakan pada dia, uang kompensasinya akan di transfer nanti malam," kata Pak Bisma.
"Beliau memaksa untuk bertemu anda karena menginginkan yang kompensasi yang lebih besar," sahut Pak Agung.
"Apa?" Sentak Pak Bisma kaget. Dasar laki laki sampah! omel beliau dalam hati.
"Apa yang dia inginkan?" tanya beliau menahan marah.
"Beliau akan mengatakan nya sendiri pada anda," jawab Pak Agung .
"Usir saja dia! Aku sedang tidak ingin bernegosiasi," sentak Pak Bisma marah. Sudah untung aku memberinya seratus juta dolar, harga perusahaan nya saja tidak bernilai sebanyak itu, desis beliau dalam hati. Orang serakah tetaplah serakah!
"Baik, Pak," kata Pak Aditya . Beliau segera keluar untuk menemui Pak Agung.
Di ruang tamu, Pak Agung menunggu dengan senyum bahagia. Terbayang oleh beliau lima puluh persen saham Orang Tua Group atas namanya. Yah, beliau akan meminta saham Orang Tua Group sebagai imbalannya.
Perusahaan beliau tidak bisa di selamatkan lagi. Uang seratus juta dolar akan menjadi sia sia di tangan istrinya yang boros. Anaknya masih kecil kecil, masih butuh uang yang banyak untuk membesarkan mereka.
Lima puluh persen saham orang Tua Group adalah harga sepadan untuk melepas perwalian Chayra!
__ADS_1