
Hah, dia datang lagi. Pasti ingin mengiyakan yang tadi di tolaknya," bisik hati CEO Rakhan .
Hanya orang tidak waras yang menolak pinjaman ratusan juta rupiah tanpa bunga, dengan tempo pelunasan 8 tahun.
Siapa itu? Apa dia teman CEO Rakhan yang tadi? Di tilik dari suaranya, sepertinya memang dia, hati Chayra berkata.
Tanpa mengindahkan pandangan dua orang yang melotot padanya , Jalled berjalan penuh percaya diri mendekati CEO Rakhan dan Chayra yang tengah berdiri bersisian di dekat sofa.
"Chayra Minara?" tanya Jalled begitu dia berdiri di hadapan Chayra. Dia ingin memastikan penglihatannya. Mata hazel. Rambut lurus kecoklatan. Yup, ini memang dia. Chayra Minara.
"Iya..." Chayra mengangguk heran. Dari mana orang ini tahu namanya? Dia bukan selebgram atau selebriti.
"Lo kenal?" tanya CEO Rakhan heran sembari menunjuk Chayra. Kenapa dia tidak tahu Jalled mengenal Chayra?
" OTW kerabat," seringai Jalled.
"Maksudnya apa?" balas Chayra kaget. " Maaf ya ,Pak, saya tidak mengenal anda. Jangan mengaku aku saudara," tandasnya.
"Maksudku , kamu akan menjadi kerabatku," Jalled menjelaskan perkataan nya.
"Ngomong yang jelas," tukas CEO Rakhan tidak sabar. " Apa ini cuma modus Lo aja untuk deketin dia," sambungnya tidak senang .
"Mana beranilah," Jalled tergelak. Sedetik kemudian dia menghentikan tawanya. Hatinya getir di tatap dingin oleh CEO Rakhan. " Chayra ini kan pacarnya CEO Rakhan, CEO world Tech, perusahaan teknologi terbesar di Indonesia, " sambungnya. "Mana berani gue bersaing," dia menyeringai.
Blush...wajah Chayra memerah. Malu. Karena di kira pacarnya CEO Rakhan
"Terus?" CEO Rakhan menantikan kalimat berikut nya dari Jalled. Nada suaranya dingin.
Berarti memang pacar! Rakhan tidak mengelak, batin Jalled. "Chayra ini anaknya CEO Agung Prameswari, CEO PT. Multi Pangan Semesta Alam, perusahaan yang bergerak di bidang impor pangan, betulkan?" Dia menatap Chayra.
"Iya," angguk Chayra makin heran.
Jalled berpaling pada CEO Rakhan. "Mau lanjut di sini atau ke Blue ice Restoran ? Kebetulan sudah jam makan siang," imbuhnya. "Let 's have a chin wag," sambungnya.
CEO Rakhan mengangkat sebelah alisnya. Let's have a chin wag? Meski artinya berbincang bincang santai dalam waktu yang lama, tapi ucapan itu saat dia kuliah kerap digunakan jika ingin mengajak dua temannya itu untuk membahas tentang bisnis. "What do you wanna chat about?" tanyanya enggan. Dia tidak sedang ingin pergi makan di luar. Apalagi bersama Jalled.
"It's about your girl," balas Jalled cepat. " Her," matanya mengerling pada Chayra .
Your girl? Me? Chayra melongo. Apa yang hendak laki laki itu bicarakan mengenai dia ?
"Mau bicara apa? Bicara saja di sini," balas CEO Rakhan malas. kenapa pula ini si Jalled sok berahasia, batinnya kesal.
"Are you sure?" timpal Jalled memastikan.
"Ya sure lah," CEO Rakhan balas menimpali.
"Aku tahu alasan dia pergi dari rumah," ujar Jalled bak petir di telinga Chayra .
__ADS_1
"Apa..apa maksud anda ,Pak?" kata Chayra cepat. Dari mana laki laki ini tahu?
CEO Rakhan melirik Chayra. Wajah gadis itu terlihat pucat dan takut. Nampaknya, Jalled memang tahu sesuatu.
"Bagaimana?" Jalled menatap CEO Rakhan. Dia tidak menjawab Chayra.
"Okay, lanjut Blue ice," CEO Rakhan memutuskan.
"Come on," Jalled berjalan mendahului.
"Kamu di sini ya, pesan makanan online saja ," perintah CEO Rakhan pada Chayra.
"Tapi..." Chayra berusaha membantah. Dia ingin tahu apa yang akan di bicarakan oleh laki laki itu.
" Ya ,sudah, kamu boleh pulang, aku akan menyuruh Taksa untuk mengantarkan," putus CEO Rakhan.
Lah, kok malah di suruh pulang? batin Chayra kecewa. tapi dia juga takut untuk membantah. " Baik, CEO," angguknya.
Jalled memperhatikan dari jauh. Rakhan benar benar perduli pada gadis itu. Dia tidak akan sungkan untuk membuka harga. Harus sebanding dengan resiko yang akan dia terima.
*****
Chayra meminta Taksa untuk berhenti di pertokoan di seberang apartemen Rhea. Mendadak dia merasakan perutnya sakit. Terasa di peras. Sakit perut khas ketika dia datang bulan.
"Aku akan menunggu di parkiran," kata Taksa. Dia menghentikan mobil di depan lobby utama pusat pertokoan.
"Tidak usah,Pak," tolak Chayra . "Aku jalan kaki saja ke apartemen." Dia merasa tidak enak jika Taksa harus menunggu.
"Ya," balas Chayra sambil memegangi perutnya.
Taksa keluar dari mobil lalu membukakan pintu mobil. Untung lobby pertokoan ini sepi, jadi tidak ada yang melihat dia membuka pintu. Malu kan, di kira sopir.
"Terimakasih, Pak," kata Chayra sambil keluar dari mobil.
"Kamu tidak apa apa?" tanya Taksa saat melihat wajah Chayra yang pucat. Tangannya juga meremas perutnya.
"Perutku sakit," desis Chayra.
Taksa mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dia melihat sebuah kursi di dekat pintu lobby utama. "Kamu tunggu di sana sebentar," dia menunjuk kursi yang terletak beberapa depa dari tempat mereka berdiri . "Aku parkir mobil dulu," katanya lagi.
Chayra mengangguk pasrah. Jika di rumah, dia akan bergelung di kasur dengan perut di tempeli heat pad,atau bantal penghangat perut dan minum obat pereda nyeri. Dengan tertatih dia melangkah ke arah kursi lalu duduk di sana.
Tak berapa lama, Taksa menghampiri nya. "Bagaimana perutnya?" tanyanya kuatir.
"Masih sakit, bapak bisa tolong beliin obat?" pinta Chayra sambil meringis .
"Obat apa?" tanya Taksa.
__ADS_1
Chayra menyebutkan obat pereda nyeri yang biasa dia minum.
"Ok, kamu tunggu di sini," kata Taksa cepat. Dia bergegas masuk ke dalam pertokoan.
Selang beberapa menit, Taksa sudah datang membawa obat dan sebotol air mineral.
"Kata orang apotik,obat ini untuk pereda nyeri haid," kata Taksa dengan wajah aneh. "Bukannya kamu sedang hamil?" tanyanya. Tangannya masih memegang kantong plastik dari apotik.
"Aih, aih, ada yang hamil rupanya," celetuk seorang gadis.
Chayra menoleh. Mencari asal suara. Dia melihat seorang gadis berambut panjang hitam mengkilat. Rambutnya di biarkan tergerai melambai, mirip iklan shampo. Karena merasa tidak kenal, Chayra mengacuhkannya.
"Aku tidak hamil," Chayra menjawab pertanyaan Taksa. "Kata siapa aku hamil?" tanyanya heran.
"Kamu mengatakan nya sendiri," Jawab Taksa. " Waktu di ballroom hotel Grand Duke," dia mengingatkan.
"Ternyata sudah main sampai ke hotel ya?" gadis itu menyeletuk lagi. "Hati hati di tangkap polisi," seringainya menyebalkan.
"Maaf, kamu siapa ya? Tidak sopan ikut percakapan orang lain," tukas Chayra tidak suka.
What? Gadis udik ini tidak kenal dirinya? Gadis berambut panjang itu shock. "Aku Alsava Beatarisa," dia memperkenalkan diri dengan sikap jumawa. Menunggu reaksi kagum dari gadis yang duduk di hadapannya.
"Terus?" tanya Chayra. Dia mendadak lupa pada sakit perutnya.
"Kamu tidak kenal aku?" jerit Alsava kesal.
Chayra menggeleng. "Kenapa aku harus kenal kamu?"
Taksa melirik gadis yang berdiri tak jauh dari nya dengan sudut mata. Siapa gadis yang meresahkan ini? Sepertinya ingin mencari perkara dengan Chayra.
"Aku primadona kampus, dari Jurusan Sastra Inggris," Alsava memberitahu sambil menggertakan gigi.
"Oh..." Chayra menyahut pendek. " Mana Pak,obatnya, aku mau minum," dia berpaling pada Taksa.
"Obat ini tidak boleh di minum ibu hamil," Taksa bersikeras.
"Laki laki itu tidak mau bertanggungjawab ya?Jadi kamu ingin menggugurkannya," celetuk Alsava. " Ternyata benar ya,gosip di kampus, kamu itu peliharaan om om, pantas kamu bisa punya Hermes Lindy yang harganya ratusan juta," dia memandang Chayra dengan tatapan meremehkan.
Peliharaan om om? Taksa nyaris terjengkang mendengarnya. Apa kata CEO Rakhan jika mengetahuinya?
"Eh, siapa ya peliharaan om om? Hermes Lindy itu juga punya ku sendiri," tukas Chayra. " Sepertinya otakmu harus di reparasi," sambungnya sewot.
"Kamu yang otaknya harus di perbaiki," Alsava balas menukas. "Lalu siapa laki laki ini? Korban kamu berikutnya? Jangan mau,Om, dia bekas pakai," dia mengerling pada Taksa.
Biarpun bapak ini penampilannya sedikit old, tapi sepertinya lumayan berduit. Kemeja yang di pakainya itu merk Hermosa, harganya sekitar 3 juta, celana leninnya sekitar 4 juta, dia mulai menghitung harga outfit yang di pakai Taksa.
Om? Otak Taksa serasa di sengat listrik. Umurnya baru 25 tahun, dan dia di panggil om?
__ADS_1
"Sayang, kamu dari mana saja?" seorang laki laki berperawakan tambun dengan perut sedikit buncit merangkul Alsava dari belakang.
Mata Taksa menjegil. Nyaris keluar. "Samuel Herring?" katanya setengah berteriak.