CEO Melankolis

CEO Melankolis
Bab 46: Sekarang Kita Ke Apartemen Kamu!


__ADS_3

Taksa mendekatkan muka. "Chayra?" desisnya. " Itu Chayra, CEO," sentaknya kemudian. " Tahi lalat di punggung telapak tangan kanan, itu mirip dengan milik Chayra," urainya.


CEO Rakhan memandang Taksa heran. "Kamu yakin?"


"Yakin, CEO. Itu, anu, waktu Chayra mengambil kantong plastik dari tangan saya, saya melihat dengan jelas tahi lalat itu," jelas Taksa cepat. Dia tidak ingin CEO Rakhan salah sangka terhadapnya.


Untuk apa Eouin membawa Chayra? Bukankah dia ke sini untuk bertemu Rhea? Otak CEO Rakhan berpikir keras. Apa karena Rhea susah di dapatkan, Eouin menggunakan Chayra untuk menekan Rhea? Tapi Eouin bukanlah jenis orang yang seperti itu. Jika memang dia menginginkan Rhea, dia pasti akan berusaha untuk mendapatkan nya. Tapi jelas tujuan awal Eouin adalah Rhea. Lalu kenapa jadi beralih pada Chayra? " Telepon Rhea, suruh dia kesini bertemu aku," dia berkata pada Taksa.


"Baik, CEO," angguk Taksa.


"Coba periksa ATC, jet itu mau kemana," CEO berpaling ke arah Samuel.


ATC atau air traffic control bertugas mengatur atau memandu lalu lintas udara.


"Baik , CEO," kata Samuel. Dia mulai meretas komputer ATC. " Ke kota L, ibukota negara S, CEO," katanya kemudian.


"L tidak berapa jauh dari kota P, suruh orang kita di kota P untuk datang ke Kota L, jangan semuanya, beberapa orang saja," perintah CEO Rakhan pada Taksa yang di balas Taksa dengan anggukan. " Good job, Sam," dia menepuk bahu Samuel.


"Terimakasih , CEO," Samuel sumringah. Jarang jarang dia mendapat pujian dari CEO Rakhan.


"Aku tunggu di ruangan ku," CEO Rakhan beralih pada Taksa sebelum pergi meninggalkan ruangan Samuel.


*****


Rhea nyaris jatuh dari ranjang karena melompat lompat kegirangan. Bagaimana tidak gembira? Barusan Taksa menelepon, memintanya ke kantor, CEO Rakhan ingin bertemu.


Pasti CEO Rakhan setuju untuk pergi bersama dia ke konser musik klasik itu. Meminta dia ke kantor pasti hendak membicarakan detailnya. Chayra benar benar tidak mengecewakan, batin Rhea.


Rhea bergegas menuju walk in closed yang berada di sebelah kamar mandi. Dia sibuk memilih pakaian ,tas ,dan sepatu yang akan di pakainya. Setelah hampir membuat ruangan itu seperti gempa bumi karena berantakan, akhirnya dia memutuskan memakai dress mini import bahan brokat vintage berwarna merah, dengan tas dan sepatu berwarna senada. Dia bertekad akan memikat CEO Rakhan dengan penampilannya itu.


Walk in closed adalah ruangan yang menyimpan pakaian dan aksesoris lainnya.


Satu jam kemudian, Rhea tiba di kantor CEO Rakhan dengan penampilannya yang menyilaukan mata. Dia di ikuti sejumlah bodyguard.


Miku yang sudah menunggu di lantai dasar, di meja resepsionis, tidak dapat menyembunyikan kekagumannya.


Calon istri CEO memang luar biasa," kata hati Miku.


Pandangan memuja Miku membuat Rhea tambah percaya diri.


"Ikut saya,Bu," kata Miku ramah. " Pengawal anda tunggu di sini saja," sambungnya.


"Iya," sahut Rhea. " Tunggu di sini," perintahnya yang di balas anggukan serentak bodyguard.


Rhea berjalan beriringan dengan Miku menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai 9.


Ish, CEO Rakhan memicingkan sebelah mata begitu Rhea masuk di ikuti Miku. Jika tidak ingat ingin mencari informasi, dia pasti langsung menyuruh Rhea pulang. Penampilan nya sangat menganggu matanya.


"Selamat pagi, CEO," senyum Rhea, sesaat setelah Miku meninggalkan ruangan.

__ADS_1


"Pagi," sahut CEO Rakhan cepat. " Sebelum kamu di serang korban yang bernama Didi Riyadi, apakah kamu mendapat kiriman atau menerima telepon atau melihat sesuatu yang mencurigakan?" dia langsung bertanya tanpa basa basi.


"Hah?" Rhea melongo. Pertanyaan apa ini? "Bukannya anda setuju untuk pergi menghadiri musik klasik bersama saya? Saya sudah membeli tiketnya," kata nya mengutarakan pikirannya.


" Tiket konser apa?" giliran CEO Rakhan yang merasa ganjil.


"Tiket menonton konser London symponi orchestra, bukankah Chayra sudah memberitahu anda?" jawab Rhea.


"Tidak," geleng CEO Rakhan.


"Tidak?" dahi Rhea berkerut. Aku akan memarahi Chayra habis habisan, sungutnya dalam hati.


"Ada yang lebih penting dari itu," tukas CEO Rakhan. "Jawab pertanyaan aku yang tadi," tandasnya mengingatkan.


"Pertanyaan yang tadi?" Dahi Rhea berkerut. Berusaha mengingat ingat. "Tidak ada, " gelengnya. "Eh, kira kira seminggu yang lalu, Minggu pagi, Chayra mendapat kiriman dari orang asing."


"Kiriman apa?" sambar CEO Rakhan. Seketika hatinya merasa tidak enak.


Hm? katakan tidak ya? hati Rhea meragu. Dia takut jika robot itu ternyata ilegal dan malah akan merepotkan dia. Tapi, robot itukan di kirim kan untuk Chayra. Tidak ada hubungannya dengan dia. " Sebuah robot humanoid," sahut nya akhirnya. "Itu di tujukan untuk Chayra, saya tidak tahu apa apa, CEO," dia membela diri.


Robot humanoid! Apakah itu humanoid yang sama? " Siapa pengirimnya ?" tanya CEO Rakhan berusaha tenang.


"Namanya Nino, tapi tidak ada alamat pengiriman. Chayra juga tidak punya kenalan bernama Nino," jelas Rhea.


Betul, itu humanoid yang dia dan Eouin inginkan. Ada pada Chayra ternyata. Kenapa Nino mengirimkannya pada Chayra? Apakah dia mengenal gadis itu? " Sekarang kita ke apartemen kamu," putus CEO Rakhan sambil berdiri.


"Kenapa?" Rhea ikut berdiri.


" Tentu saja masih di sana, dia hanya bergerak jika di perintah Chayra," ucap Rhea sedikit sewot. Setiap kali mengingat hal itu dia merasa kesal.


"Maksudmu, robot itu sudah di aktifkan?" tanya CEO Rakhan kaget.


"Iya, dengan memindai QR code di lehernya. Pemindaian itu di lakukan dengan ponselnya Chayra, makanya...."


Robot itu sudah aktif, bahaya! batin CEO Rakhan. "Ayo pergi," dia berdiri dari kursi. "Sekalian untuk melihat apakah Chayra masih ada di apartemen," sambungnya sambil melangkah menuju pintu.


"Eh, iya," Rhea mengikuti di belakang. Kenapa CEO mengkuatirkan Chayra?


Selang setengah jam kemudian, mereka sampai di apartemen Rhea. Dua orang satpam yang berjaga di lobi utama memandang tak percaya melihat orang yang berjalan mendekati mereka. Seorang nona jelita yang di ikuti beberapa bodyguard dan seorang laki laki tampan berkarisma.


Ada apa ini? Apakah ada syuting film? pikir mereka.


" Maaf,pak, nona, ada urusan apa?" salah satu satpam mencegat.


"Bapak tidak kenal saya?" tanya Rhea heran. Tidak pernah dia di cegat oleh satpam.


" Maaf nona, kami satpam baru," jawab seorang lagi.


"Pak Yuri mana?" tanya Rhea .

__ADS_1


"Pak Yuri sedang di ruangan interogasi, ada seorang pengantar makanan yang sangat mencurigakan," sahut satpam yang pertama. " Dia bersikeras mengantarkan makanan ke unit 812, padahal tidak ada bukti pemesanan makanan oleh unit tersebut," urainya.


CK, pasti Reindra," CEO Rakhan berdecak dalam hati.


Rhea mengeluarkan ponsel dari Tas hobo yang menggantung di pundaknya. Dia menelepon pak Yuri.


Tidak berapa lama Pak Yuri muncul di lobi utama. Bersama dia tampak seorang laki laki berperawakan kurus tapi cukup kekar. Wajahnya tidak terlihat karena dia menundukkan kepala.


"Selamat pagi CEO, mbak Rhea? Ada apa?" sapa Pak Yuri heran. Sebelumnya, Rhea tidak pernah menelepon.


" Saya ingin ke unit saya tapi di cegat Kedua satpam ini, Pak," lapor Rhea dengan suara tidak nyaman.


"Maaf mbak, mereka satpam baru, akan saya tegur," balas pak Yuri cepat.


"Maaf mbak Rhea, maaf CEO," kedua satpam itu buru buru meminta maaf sebelum Pak Yuri menegur. Demi keselamatan jabatan, batin mereka.


"Maaf atas ketidak nyamanan nya, Mbak Rhea, CEO Rakhan," Pak Yuri meminta maaf lagi.


CEO Rakhan? laki laki yang berdiri di samping Pak Yuri menengadah. Wajahnya seketika pucat. Mati aku! " CEO," desisnya.


"Anda kenal?" tanya Rhea heran.


"Petugas keamanan di kantor," sahut CEO ringkas. " Kamu balik ke kantor, " perintah nya.


"Makanannya, CEO?" tanya Reindra sambil menunjuk satu kantong plastik yang tergenggam di tangan kanannya.


"Makan saja," perintah CEO Rakhan lagi.


" Baik, CEO," sahut Reindra pelan. "Maaf, CEO," sambungnya.


"Maaf, saya tidak tahu kalau bapak ini anak buah anda, CEO," kata Pak Yuri minta maaf.


"Bapak kenal dengan CEO Rakhan?" tanya Rhea kaget.


"Siapa yang tidak kenal CEO Rakhan?" senyum Pak Yuri. " CEO perusahaan teknologi terbesar di Indonesia," katanya lagi.


"Kita langsung saja ke unit kamu," ucap CEO Rakhan tegas. Dia tidak ingin membuang waktu untuk berbasa basi.


"Eh, iya, mari," jawab Rhea. " Kalian tunggu di sini saja," perintah nya pada bodyguard yang di balas anggukan.


"Silahkan, CEO, mbak," kata Pak Yuri di ikuti senyuman dua satpam di belakangnya.


Rhea, CEO Rakhan dan Taksa berjalan masuk ke dalam apartemen dan langsung naik lift ke lantai 9.


Sampai di unitnya, Rhea segera membuka pintu. Dia bergegas masuk. Memeriksa kamar. Masuk kamar mandi. Tidak ada siapa siapa di dalam.


"Chayra kemana? Bahkan Damon juga tidak ada," ucapnya heran. "Tas nya bahkan tidak di bawa, ponselnya juga," dia membuka ransel yang tergeletak di atas sofa. Anehnya, Kotak yang dulu berisi Damon yang di letakkan Chayra dekat jendela malah tidak ada.


Chayra di apartemen bersama Damon? Bukanlah itu orang yang menelepon Chayra kemaren di kantor? hati CEO Rakhan terusik. "Siapa Damon?" balasnya ingin tahu.

__ADS_1


"Robot itu, Chayra menamainya Damon," sahut Rhea.


Hanya kebetulan atau Chayra memang mengenal Damon? batin CEO Rakhan.


__ADS_2