CEO Melankolis

CEO Melankolis
Bab 31: It This Really Him?


__ADS_3

"Apa kau tidak mendengar yang aku katakan? Aku suruh apa?" hardik Bos berang.


"Bos suruh mengikuti. Biasanya kalau mengikuti itu berarti juga membawanya ke sini untuk di interogasi," jawab Didi lemah.


"Damn!" Bos menendang pinggiran sofa.


Didi nyaris terjatuh karena kaget. Bos benar benar murka.


"Kau tidak baca data pribadi yang di kirim Lio?" sentak Bos. Wajah nya yang putih berubah ungu.


"Gadis itu anak CEO In Tech group," cicit Didi. Dia menundukkan wajah.


"Sudah tahu kenapa nekat mau menculik dia? CEO Farras itu orang berpengaruh di kota ini, di negara ini. Putrinya di sakiti, dia tidak akan tinggal diam," tandas Bos geram. " Untuk sementara kau jangan kemana mana, Rhea sudah mengenalimu. Kita juga diam di sini saja, setelah berita ini redam, baru kita bergerak," putus Bos. Dia melemparkan tubuhnya yang tegap di atas ranjang.


Damn! Damn! Bos memukul ranjang dengan kepalan tangannya. Kesal. Marah. Jengkel . Awalnya ,dia berpikir sudah selangkah di depan Rakhan. Nyatanya, sekarang zonk!


"Mung..mungkin Lio bisa membantu Bos," Didi memberanikan bicara. Dengan susah payah , dia berhasil duduk. Efek berguling dari kolong mobil Rhea membuat tubuhnya sedikit ngilu. Di tambah lagi perut dan lehernya masih berasa sakit akibat di serang Rhea.


"Apa maksudmu?" sambar Bos. " Kerja lapangan adalah bagianmu. Lio urusannya dengan komputer," mata Bos menyala merah.


"Itu...maksud saya, anu, ternyata Rhea satu kampus dengan adiknya Lio. Saya melihat adiknya Lio di kampus itu juga. Mungkin Lio bisa..." Didi tidak menuntaskan kalimatnya. Dia takut melihat reaksi Bos.


"Hm...adiknya Lio?" Bos mengerutkan dahi berpikir. "Terserah Lio," putus Bos akhirnya.


Seluruh mata dalam kamar itu mengarah pada Lio. Menanti jawaban dari nya.


Lio berdiri kaku di samping ranjang Bos. Sial! Kenapa pula Didi mengutarakan usul aneh itu. Mereka semua, yang bekerja pada Bos, sudah tahu jika dia telah memutuskan hubungan dengan keluarga nya secara sepihak. Sejak dia memutuskan untuk mengikuti Bos pindah ke Kota P.


"Please.." Didi menggerakkan mulut tanpa suara. Matanya memberi isyarat memohon. Jika misi ini gagal, bisa di pastikan hidupnya berakhir di ujung pistol Bos.


" Baiklah, aku akan mencoba,tapi aku tidak jamin," kata Lio akhirnya.


Didi menarik nafas lega.


"Jangan sampai membuat adikmu curiga," pesan Bos yang langsung di balas Lio dengan anggukan.


Bos berpaling pada Didi. " Kasih kunci motornya pada Pak Fendi, biar Pak Fendi yang ambil," perintah nya pada Didi . " Bisa menimbulkan kecurigaan jika motor itu tetap di parkiran apartemen," lanjut nya .


"Baik ,Bos," sahut Didi lega. Menilik dari suara dan ekspresi wajah, sepertinya bos sudah tidak marah lagi.


Pak Fendi yang berdiri di dekat pintu, berjalan mendekati Didi untuk mengambil kunci motor yang baru saja di keluarkan Didi dari dalam kantong celana jeans-nya.


"Sekarang semuanya keluar, aku mau istirahat," usir Bos. Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang .

__ADS_1


"Baik , Bos," semua yang berada di dalam kamar menyahut serentak.


Bos memiliki temperamen yang kurang sabar dan pemarah. Jika sedang timbul emosi nya, jangan coba coba mendekati nya. Keselamatan diri taruhannya!


Tanpa bicara, Ethan dan Bowo ,yang merupakan anak buah Didi , membantu Didi berdiri lalu memapahnya keluar kamar.


Di belakangnya, menyusul Lio dan Pak Fendi. Mereka keluar dari kamar Bos dan masuk ke kamar di sebelahnya. Kamar itu sebenarnya di booking Bos untuk Lio. Namun karena mereka di suruh untuk bersembunyi, kamar itu menjadi markas mereka sekarang.


*********


Selesai meeting dengan Mr. Smith di Ice Blue Restoran, CEO Rakhan bergegas kembali ke kantornya. Dia ingin tahu apa yang tengah di kerjakan Chayra saat ini .


Taksa yang berjalan di belakang CEO Rakhan hanya bisa mengelus dada. Belum pernah dia melihat CEO Rakhan sangat bersemangat seperti saat ini .


Begitu sampai di ruangannya, CEO Rakhan segera membuka pintu. Dia mendapati pemandangan yang tidak di sangka nya.


OH--MY---GOD!! Taksa terbelalak kaget. Dia melihat Chayra tertidur dengan kepala menelungkup di atas sofa sementara badannya terkulai di kaki sofa. Sungguh bukan pemandangan yang artistik.


Taksa melirik CEO Rakhan yang tangannya tertahan di gagang pintu. Dia melihat CEO Rakhan mengulum senyum.


It this really him? Taksa mulai meragukannya.


Atau jangan jangan orang yang berdiri di sebelahnya sekarang ini adalah kloning CEO Rakhan.


Kloning adalah proses menghasilkan individu identik secara genetik tanpa melalui proses pembuahan.


Topeng kulit bionik adalah topeng yang di buat seperti kulit manusia. Sangat tipis dan memiliki pori pori.


"lihat apa?" CEO Rakhan menoleh ketus.


"Kamu ke ruangan mu, atur kembali semua jadwal untuk dua hari ini. Cepat kerjakan!" perintahnya tegas.Tidak bisa di ganggu gugat.


"Baik, CEO," jawab Taksa menurut. Ini Benar CEO Rakhan . Bukan kloning. Bukan alien.


"Jangan ke ruangan ku sebelum kamu selesaikan tugas yang aku suruh," lanjut CEO Rakhan lagi.


"Baik, CEO," Taksa mengangguk. Lagipula siapa yang mau ke ruangan CEO Rakhan dengan suka rela? batinnya berkata. Apalagi saat ini. Entah apa yang akan di lakukan oleh CEO Rakhan pada Chayra yang sedang tertidur itu.


CEO Rakhan melangkah masuk lalu menutup pintu .


Taksa berbalik badan. Berjalan menuju ruangannya yang terletak tidak berapa jauh dari lift.


CEO Rakhan berjalan ke arah sofa. Dia menunduk mengambil kemoceng microfiber berwarna hijau cendol yang tergeletak di samping kaki Chayra yang telanjang. sepatunya tergolek di samping sofa.

__ADS_1


CEO Rakhan menggunakan kemoceng itu untuk menusuk nusuk kaki Chayra. Berusaha membangunkannya .


"Ish...," Dengan mata yang masih terpejam, tangan Chayra secara refleks menepis ujung kemoceng yang menusuk kejam kedua kakinya secara bergantian. Bukannya berhenti, ujung kemoceng itu malah menusuk punggung dan tangannya.


"Ish..." Chayra membalikkan badan lalu menangkap kemoceng yang mengganggu tidur nya dengan ke dua tangan nya. " Siapa yang meng...." saat matanya terbuka, dia menjadi gagap tiba tiba. " CEO? An..anda ..." dia buru buru melepaskan kemoceng microfiber yang tengah di cengkeramnya.


"Kenapa kamu tidur di jam kantor?" potong CEO Rakhan . Dia meletakkan kemoceng itu di atas meja di depan sofa. "Apa pekerjaan mu sudah selesai?".


Waduh! Chayra lekas lekas berdiri. Matanya yang masih merapat di buka dengan paksa. "Saya..." Dia menggaruk garuk rambutnya Sedang memikirkan alasan.


"Aku lihat kamu tidak cocok bekerja di kantor, terlalu santai," nilai CEO Rakhan. "Mulai besok, kamu tinggal di rumahku. Kerja sebagai pembantu aku," lanjutnya yang di balas belalakan mata Chayra.


"Tidak mau," jerit Chayra. Di kantor saja, CEO ini sulit di hadapi, apalagi kalau di rumahnya! " Tadi saya sudah membersihkan semua debu di ruangan ini. Kamar mandi tidak saya bersihkan karena kata Mbak Melina, itu office girl, sudah di bersihkan nya tadi pagi," urainya menjelaskan. "Selesai mengelap dengan kemoceng, tiba tiba saya merasa mengantuk, Maaf ,CEO, saya tidak bermaksud tidur di kantor," dia menundukkan wajah penuh penyesalan.


"Kamu kurang tidur?" CEO Rakhan menelisik wajah Chayra dengan teliti. Dia mendapati puffy eyes yang membayang di bawah mata Chayra.


Puffy eyes adalah mata panda atau lingkaran hitam di bawah mata.


"Kenapa?" tanya CEO Rakhan begitu Chayra mengangguk.


"Ini semua karena anda," tunjuk Chayra cepat.


"Aku?" CEO Rakhan menunjuk dirinya sendiri dengan heran.


"Karena anda, saya terpaksa harus mendengarkan puluhan lagu lagu klasik sampai pagi," jawab Chayra menumpahkan kekesalannya.


"Kapan aku menyuruh kamu mendengarkan lagu lagu klasik?" CEO Rakhan mengernyitkan dahi. Lama lama kucing kecil ini menjadi aneh.


"Bukan anda, tapi ...ah, sudahlah, anda tidak akan mengerti," Chayra mengibaskan tangan. " Ini masalah hati, perasaan perempuan," sambungnya tanpa sadar .


Masalah hati? Perasaan perempuan? Jangan jangan kucing kecil ini suka pada ku? CEO Rakhan menduga duga dalam hati.


"Kenapa anda melihat aku seperti itu?" Chayra mendadak tersadar. Tatapan CEO Rakhan membuatnya risih. "Perempuan itu bukan aku, anda pasti tahu siapa dia," jelasnya buru buru.


Rhea? Entah kenapa CEO Rakhan merasa sedikit kecewa. "Lalu apa hubungan aku dengan musik klasik?" tanyanya ingin tahu.


"Anda tidak suka musik klasik?" Chayra balik bertanya.


"Siapa yang memberitahumu aku suka musik klasik?" CEO Rakhan balas bertanya.


"Siapa ya?" Chayra menggaruk garuk rambutnya. Tidak mungkin kan dia menyebut Damon? "Permisi ,CEO, saya mau melanjutkan pekerjaan dulu," katanya seraya mengambil kemoceng di atas meja.


" Siapa yang memberitahu mu?" tanya CEO Rakhan penasaran. Dia menarik tangan Chayra dengan keras, sampai Chayra terhuyung ,hilang keseimbangan. Lalu terjatuh dalam pelukan CEO Rakhan.

__ADS_1


"Maaf ,CEO," mendadak pintu terbuka. Wajah Taksa muncul. Matanya terbelalak. Dia melihat Chayra di peluk erat oleh CEO Rakhan.


"Maaf, CEO," Taksa menutup lagi pintu.


__ADS_2