CEO Melankolis

CEO Melankolis
Bab 25: Tanda tangani Atau Akan Berlanjut Ke Kantor Polisi


__ADS_3

Di meja resepsionis di lantai dasar,sudah menunggu Miku, sekretaris CEO Rakhan. Dengan wajah penuh senyum, dia menyambut Rhea dan Chayra lalu mengantarkan mereka ke lantai 9, di mana ruangan CEO Rakhan berada.


Begitu keluar dari lift, Rhea mendadak berhenti. Dia mengeluarkan sebotol parfum dari tas clutchnya yang menggantung di bahu kirinya. Kemudian menyemprotkan parfum itu ke seluruh tubuhnya tanpa sisa.


Miku dan Chayra melotot melihatnya.


"Gila , itu parfum seharga belasan juta langsung di habiskan,"batin Miku berdecak kagum.


"Kenapa Rhea tidak mandi parfum saja tadi sekalian," kata Chayra dalam hati.


"Ayo," Rhea menoleh ke samping. Risih melihat dua orang yang terpaku menatapnya. Belum pernah melihat orang memakai parfum ya?


"Eh, iya, mari ,Bu Rhea," Miku menjawab gagap. Dia merasa tidak enak hati. Sudah membuat calon istri CEO Rakhan menjadi gusar.


Mereka mulai berjalan lagi. Sesampainya di depan pintu ruangan CEO, Miku mengetuk dengan sopan. Begitu terdengar suara CEO Rakhan menyuruh masuk, dia segera membuka pintu lalu mempersilahkan Rhea dan Chayra masuk terlebih dahulu. Kemudian menyusul masuk ke dalam sambil menutup pintu.


"Bu Rhea sudah datang, CEO," lapor Miku setelah dia mendekat.


"Silahkan duduk," CEO Rakhan menunjuk kedua kursi di hadapannya .


"Terimakasih," Rhea memberikan senyum terbaiknya sambil menarik kursi. Senyum yang sama ketika membawanya menjadi pemenang Putri kampus tahun kemaren.


Sedangkan Chayra langsung duduk tanpa mengangkat muka. Dia tidak terlihat bahagia. Siapa yang bisa bahagia menghadapi situasi ini? Entah apa yang di rencanakan oleh CEO ini kepadanya.


"Kamu boleh keluar," ujar CEO Rakhan kepada Miku.


"Baik,CEO," Miku mengangguk . "Permisi, Bu Rhea," sebelum keluar ruangan, dia memberikan senyumnya yang semanis gula pada Rhea .


"Iya, terimakasih," balas Rhea tersenyum. Kenapa sekretaris CEO Rakhan ini selalu bersikap terlalu ramah padaku ya? dia bertanya dalam hati.


Aish, kenapa sekretaris ini tersenyum seperti orang gila pada Rhea? batin Chayra heran.


Setelah Miku meninggalkan ruangan, CEO Rakhan memberikan isyarat pada Taksa yang berdiri di sebelah kanannya.


"Ini ,CEO," Taksa memberikan sebuah amplop berwarna coklat yang dari tadi di pegangnya, pada CEO Rakhan.


CEO Rakhan mengambil amplop itu lalu menyodorkannya pada Chayra.


"Baca dan tanda tangani," perintah CEO Rakhan sambil meletakkan sebuah pulpen di samping amplop itu .

__ADS_1


"Apa ini?" tanya Chayra was was. Dia menatap CEO Rakhan dengan wajah waspada.


"Surat perjanjian kerja," Jawab CEO Rakhan pendek.


"Surat perjanjian kerja? Siapa yang mau bekerja? Aku masih kuliah dan punya pekerjaan paruh waktu. Aku tidak perlu pekerjaan lain lagi," balas Chayra cepat. Hih, siapa yang bekerja pada CEO sombong ini,dengusnya dalam hati.


"Tanda tangani atau akan berlanjut ke kantor polisi. Terserah mau yang mana," kata CEO Rakhan dingin.


"Sudah, Ra. Baca dan tanda tangani saja," Rhea menyikut Chayra yang berusaha membantah. Dia ingin permasalahan ini segera selesai.


Semalam Rhea sudah membeli dua tiket konser klasik London Symphoni Orchestra secara online. Konser itu akan di laksanakan dua minggu lagi. Dia akan memberitahu CEO Rakhan tentang tiket itu .


Tapi sepertinya, selama urusan dengan Chayra belum selesai, CEO Rakhan tidak tertarik dengan yang lain.


"Ya," dengan malas, Chayra mengambil amplop itu lalu mengeluarkan isinya. Berisi 3 lembar kertas yang merupakan surat perjanjian kontrak kerja.


Isi perjanjian kontrak kerjanya tidak ada yang memberatkan, di kontrak selama 1 tahun dengan jam kerja setengah hari. Malah dia di beri gaji 2 kali lipat dari bekerja di cafe. Tapi entah kenapa dia merasa bekerja dengan CEO ini nantinya tidak akan semudah itu.


"Kalau aku bekerja di sini,bagaimana dengan pekerjaanku di cafe? Aku baru bekerja beberapa bulan di sana dan sisa kontrak kerja yang tersisa masih lama," Kata Chayra mencari cari alasan.


"Kalau begitu kamu bisa bekerja di rumahku sebagai asisten rumah tangga sepulang kerja dari cafe. Kebetulan aku tinggal sendiri," seringai CEO Rakhan memberikan solusi.


CEO Rakhan melihat sekilas surat itu lalu memberikannya pada Taksa. "Simpan surat ini kemudian kamu pergi ke cafe tempat dia bekerja untuk mengurus pengunduran dirinya," perintahnya pada Taksa .


Sebenarnya pekerjaan aku ini apa? rintih Taksa dalam hati. Dia adalah asisten pribadi CEO di kantor. Mengurusi segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan CEO di kantor. Tapi sejak ada gadis ini, pekerjaannya semakin tidak jelas. Namun apalah dia tidak berdaya untuk melawan. "Baik, CEO," angguknya patuh.


"Sudah selesai kan? Aku mau pulang dulu, Yuk, Re," Chayra menarik tangan Rhea. "Terimakasih ya ,Pak Taksa, sudah membantu mengurus pengunduran diri aku," tambahnya.


"Siapa yang mengizinkan kamu pulang?" tukas CEO Rakhan . "Kamu langsung bekerja."


"Lang,langsung bekerja?" gagap Chayra tak percaya. " Mana ada baru tanda tangan langsung kerja, lagipula jam kerjanya juga mulai jam 1 si....." dia mencoba protes. "Ehm...baiklah," dia menyerah. Ngeri melihat perubahan ekspresi wajah CEO Rakhan.


"Nanti kamu telepon ya, biar aku jemput," Rhea berdiri dari kursi.


"Tidak usah," kata CEO Rakhan. "Taksa yang akan mengantarkannya pulang kerja."


Aku? Me?Kulo?Abdi? Taksa hanya bisa merasa keberatan dalam hati.


"Ya, sudah,aku tunggu kamu di apartemen," kata Rhea akhirnya . "Saya pulang dulu," dia pamit pada CEO Rakhan.

__ADS_1


CEO Rakhan hanya mengangguk. Dia juga tidak membalas senyum yang di berikan Rhea. Dia tidak ingin memberi hati pada gadis itu.


Begitu Rhea meninggalkan ruangan, aroma parfumnya seketika menyebar ke seluruh ruangan. Wangi nya yang begitu menyengat, membuat CEO Rakhan tersedak .


"Parfum apa yang dia pakai ini?" tukas CEO Rakhan sambil terbatuk batuk.


Sebotol parfum wangi vanilla, Chayra menjawab dalam hati. Aroma base notes, yang akan tahan di udara bisa selama sekitar 6 jam, kikiknya dalam hati. Rasain...dia menyumpahi dalam hati.


Aroma base notes adalah level tertinggi dalam tingkatan aroma parfum. Base notes akan tercium setelah sekitar 30 menit di semprotkan .


"Kenapa diam saja? Ambilkan aku minum," kata CEO Rakhan di sela batuknya.


"Aku?" Chayra menunjuk dirinya dengan heran.


"Tentu saja kamu," tukas CEO Rakhan ketus. Hidungnya bertambah gatal. "Kamu itu pembantuku sekarang."


"Bukannya itu ada minuman?" Chayra menunjuk sebotol air mineral ukuran sedang yang berada di atas meja CEO.


"Ambil, buka untukku," perintah CEO Rakhan.


Apa?? Mata Chayra membulat kesal. Dasar manja.


"Biar saya saja ,CEO," tangan Taksa bergerak hendak mengambil botol air mineral itu.


"Kamu itu asisten pribadi. Kerjanya mengurusi masalah kantor,bukannya membukakan botol air mineral ," sergah CEO Rakhan pada Taksa.


Syukurlah CEO masih ingat, jawab Taksa dalam hati. Dia malah mengira jika CEO sudah lupa kalau dia adalah asisten pribadi CEO di kantor.


"Iya, CEO," Taksa menarik tangannya yang sudah terlanjur terulur.


"Cepat berdiri," CEO Rakhan mendelik marah pada Chayra yang masih duduk dengan santai.


"Iya,iya," Chayra berdiri dengan malas. Dia mengambil botol air mineral itu lalu membuka tutupnya dan menyerahkannya pada CEO Rakhan.


"Aku tidak pernah meminum air mineral langsung dari botolnya," Kata CEO Rakhan menolak.


"Lalu?" Tanya Chayra heran. CEO ini terlalu bertele tele. Bikin pusing saja!


Apa CEO ingin Chayra menyuapi dengan mulut seperti yang dia baca di novel 21+? Taksa bergidik. " Maaf CEO, saya akan mengurus masalah pengunduran diri Mbak Chayra dulu," Katanya bergegas. Dia segera meninggalkan ruangan dengan secepat kilat.

__ADS_1


__ADS_2