CEO Melankolis

CEO Melankolis
Bab 81 : Om tidak mengizinkan kamu membatalkan perjodohan!


__ADS_3

Pak Bisma? Papa Rhea terkesiap. Kenapa Pak Bisma bisa masuk ke kamar ini?


Pak Bisma? Rakhan sontak berdiri dari sofa.


"Kakek?" Chayra berdiri dari sofa. Dia melirik Pak Aditya meminta jawaban.


Pak Aditya memberi isyarat mata jika Pak Bisma lah yang memaksa untuk datang.


Kakek? Papa Rhea kaget. Jadi Chayra adalah anaknya Garvita?


"Maaf, saya kakeknya Chayra, saya datang untuk menjemput dia," kata Pak Bisma setelah mendekat. "Farras? " Pak Bisma terkesiap.


"Iya, saya ,Pak," jawab Papa Rhea pelan. "Silahkan duduk," papa Berdiri dari sofa.


"Ternyata dunia ini kecil ya," Pak Bisma tersenyum miris. "Tidak usah, saya buru buru," tolak nya. " Ayo, Ra!" beliau mengamit tangan Chayra.


"Dan kamu, aku sudah memperingatkan untuk tidak mendekati cucuku sebelum urusanmu dengan anak CEO In Tech selesai," beliau menunjuk Rakhan dengan marah.


"Maaf, Pak, aku memang salah," aku Rakhan.


Wah, CEO di marahi, gumam Taksa takjub. Baru sekali ini dia melihat ada orang yang berani memarahi CEO .


"Kakek jangan marah marah, nanti jantungnya kambuh lagi," kata Chayra menyelamatkan Rakhan. Dia tidak ingin melihat Rakhan di marahi di depan umum.


"Iya, kamu betul," angguk Pak Bisma setuju. "Rara sudah cerita jika selama ini kalian telah banyak membantu dia. Saya ucapkan terima kasih," ujar beliau sembari menoleh ke arah papa dan mama Rhea.


"Baguslah jika Chayra sudah menceritakan pada an...." mama Rhea ingin berkata pedas tapi terhenti oleh kerlingan suaminya.


"Chayra dan anak saya adalah teman, sudah sepatutnya lah saling membantu," balas papa Rhea bijak.


"Semoga anak anda cepat sembuh. Maaf tidak bisa lama lama, ada rapat di kantor," timpal Pak Bisma cepat.


"Silahkan," Papa Rhea mempersilahkan dengan sikap sopan.


*****"


Seorang perempuan muda bermata biru dan berwajah cantik menuruni tangga pesawat pribadi. Sebuah mobil sudah menunggunya tak jauh dari sana. Dia memandang berkeliling. "Here I am ( Di sini aku sekarang) Rakhan ," desisnya pelan.


*****

__ADS_1


" Apakah mamanya Chayra itu , Garvita Dewangga mantan pacar papa?" tanya mama Rhea sesaat setelah Pak Bisma dan Chayra meninggalkan ruangan.


Papa Rhea mengangguk.


"Jadi apakah Chayra itu anak papa?" tanya mama minta kepastian.


"Maaf Om, Jika betul Chayra anak Om, berarti aku bisa menikahi dia. Papa hanya meminta aku menikahi anak CEO Farras. Tidak khusus menyebut nama Rhea," sambar Rakhan. Biarlah Chayra anak di luar nikah juga tak masalah, batinnya.


"Sembarangan!" ketus mama. "Tetap saja kamu harus menikahi Rhea, karena dia anak sah CEO Farras," sembur mama lagi. Jika tidak ingat laki laki itu adalah seorang CEO berpengaruh dan juga calon mantu nya, bisa habis dia pukul dengan ujung Stiletto nya yang runcing .


"Kalian bicara apa ini," tukas papa tak senang. " Maaf mengecewakan CEO Rakhan, Chayra bukan anak saya," tegas papa.


Yah, bukan, desis Rakhan kecewa dalam hati.


"Syukurlah,mama juga yakin kalau papa tidak akan mengkhianati mama," ucap mama lega.


"Kalau mama yakin papa setia kenapa menanyakan apakah Chayra anak papa ?" papa menimpali sewot.


"Papa jangan marah," senyum mama manja. " Papa bukanlah seperti laki laki lain yang suka menebar cinta sana sini," sambung mama seraya melirik Rakhan.


Rakhan yang tidak merasa suka menebar cinta tetap duduk dengan santai.


"Bagaimanapun juga terima kasih sudah mengantarkan Rhea ke rumah sakit. Tapi tetap Om tidak akan mengizinkan kamu membatalkan perjodohan ini," tegas Papa Rhea.


"Kita lihat saja nanti ,Om," tukas Rakhan. Dia paling tidak suka di intimidasi. Oleh siapa pun itu. "Permisi."


****


Sesampainya di rumah, Chayra langsung masuk ke kamar. Duduk di bibir ranjang. jarinya mengelus bibirnya. Perlahan. Seakan masih terasa hangatnya bibir Rakhan di sana.


Dia mendesah. Akankah dia sanggup melupakan Rakhan?


Setelah melihat Chayra masuk ke dalam kamar, Pak Bisma masuk kedalam ruang kerja. Sambil menutup pintu, beliau mengeluarkan sebuah ponsel dari kantong celananya. Hendak menelepon seseorang.


Telepon di angkat pada deringan pertama. Suara laki laki sopan menyapa di ujung sana. "Segera siapkan diri kamu. Sudah saatnya kamu tampil," kata Pak Bisma lalu menutup sambungan telepon.


****


Rhea membuka mata. Hm... dimana ini?

__ADS_1


"Kamu sudah sadar?" terdengar teriakan girang mama Rhea. "Mama sedang di kantor papa ketika Taksa menelepon mengabari."


"Mana CEO?" Rhea melihat berkeliling. Dia tidak menjawab mama. Dia kecewa ketika hanya melihat kedua orangtuanya.


"Barusan pulang," jawab mama. "Sekarang apa yang kamu rasakan? Apakah perutmu sakit? Kepala pusing?" tanya mama bertubi tubi. Meski tadi dokter mengatakan kondisi Rhea tidak apa apa, tetap saja mama merasa kuatir.


"Aku lihat Chayra mencium CEO ,Ma," kata Rhea mengindahkan kekuatiran mama. "Di areal parkir kampus! Dasar perempuan tidak tahu malu itu ma!" teriak nya kesal.


"Kamu jangan memikirkan itu dulu," papa angkat bicara. "Sehatkan dulu badan kamu, baru mengurus yang lain."


"Betul kata papa , sayang, kamu sehat dulu," kata mama setuju.


"Aku begini juga karena Chayra, pa, ma," tukas Rhea. " Kalau tidak mana mungkin aku menabrakkan diri. Mereka tidak memandang aku," gusarnya.


"Iya ,sayang," Mama mengelus rambut Rhea yang terurai lemas di atas bantal. Hatinya sedih melihat anaknya menderita karena cinta sepihak. Tak ayal, mama menyimpan amarah terhadap Chayra.


"Pokoknya, aku harus menikah dengan CEO Rakhan," kata Rhea tegas. "Aku tidak mau tahu bagaimana cara nya."


"Tentu sayang," timpal mama.


"Pa?" kata Rhea karena papa diam saja. "Aku akan menjamin ini bukan yang terakhir jika CEO tidak jadi suamiku," ancamnya.


"Rhea!" pekik mama. "Bicara apa kamu!" Teriak mama tak suka. "Pa..." mama menoleh pada papa yang berdiri di sebelahnya.


Papa mengurut pelipisnya. Pening. Bagaimana cara aku bisa memaksa Rakhan? Perusahaan miliknya bahkan lebih kuat daripada perusahaan aku," batin papa.


"Pa, bicaralah sesuatu," ujar mama gelisah. Mama mengguncang guncang tangan papa. " Rhea sudah kehilangan akal sehat nya ."


"Nanti kita bicarakan kalau kamu sudah sehat," kata papa akhirnya. " Kita akan mencari cara agar Rakhan mau menikah dengan kamu," papa menepuk nepuk bahu Rhea untuk menenangkan anaknya itu.


"Terimakasih, Pa," sahut Rhea senang. Jika papa sudah berkata demikian, pasti papa akan menepati nya.


Tok...tok


Pintu di ketuk pelan di susul di buka dari luar.


Semua yang berada di dalam kamar sontak melihat ke arah pintu. Seorang perempuan, berumur sekitar pertengahan 20, berwajah bule melangkah masuk. Di belakangnya berjalan seorang perempuan yang berumur lebih tua.


Blossom? Rhea yang terbaring di ranjang pasien langsung duduk. Matanya terbelalak. Terbuka lebar. Bukankah itu Blossom Brianna? Mantan pacarnya CEO? Mau apa dia ke sini?

__ADS_1


__ADS_2