CEO Melankolis

CEO Melankolis
Bab 26: Kelemahan CEO Rakhan


__ADS_3

Ada apa dengan dia? Chayra menatap heran.


"Jangan pedulikan dia," tukas CEO Rakhan mengikuti arah pandangan Chayra . " Kerjakan saja tugasmu," dia mengingatkan.


"Iya," balas Chayra. kalau tidak minum langsung dari botol, mungkin CEO ini minum dengan bantuan sedotan, pikirnya.


"Kenapa masih diam?" usik CEO Rakhan tak sabar.


"Aku sedang mencari sedotan," timpal Chayra. Dia berjalan mendekat ke meja CEO lalu mulai meraba raba meja kerja itu. Tanpa sadar, bahu CEO terkena gesekan dadanya .


Haaahhh ..CEO Rakan menahan nafas. Gadis ini betul betul menguji iman nya. Jika tidak mengingat wibawanya sebagai seorang CEO, mungkin sekarang Chayra sudah berada di bawah tubuhnya .


"Aku tidak minum air mineral pakai sedotan," tukas CEO Rakhan cepat .


"Lalu pakai apa? " tanya Chayra lagi. Ish,, CEO ini sungguh merepotkan, gerutunya dalam hati


" Aku sudah tidak mau minum," balas CEO Rakhan . "Sana, jauh jauh dari aku," usirnya sambil mengibas ngibaskan tangannya.


Hah? Chayra terperangah. Benar benar CEO aneh ini. Tadi mau minum,sekarang sudah tidak mau minum , dia mengomel dalam hati.


"Iya, aku juga tidak mau dekat dekat," timpal Chayra sewot . Dia berjalan menjauh, lalu duduk di sofa, yang terletak di sudut ruangan.


"Kenapa kamu duduk di situ?"CEO Rakhan menoleh dingin. "Itu buat duduk tamu ."


"iya,iya," Chayra buru buru berdiri.


"Kenapa diam saja?" tukas CEO Rakhan melihat Chayra hanya diam termangu. " kerja!"


"Kerja apa? Anda kan belum memberitahu detail pekerjaan saya," ujar Chayra membela diri.


"kamu itu pembantu aku. Pekerjaan kamu itu membantu aku," jawab CEO Rakhan tegas.


"Iya, tapi apa? saya lihat anda tidak butuh bantuan," timpal Chayra merasa tidak bersalah. CEO Rakhan terlihat baik baik saja di matanya. Tidak sesak nafas, tidak kelaparan,tidak pingsan.

__ADS_1


"Sekarang lihat jam," CEO Rakhan menunjuk jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Sudah hampir jam makan siang, kamu pesankan aku makanan untuk makan siang," perintahnya. "Kamu harus tahu hal hal seperti ini. Tidak perlu aku beritahu," tukasnya lagi.


"Baiklah, anda mau makan apa?" tanya Chayra sabar.


"Kenapa aku harus memikirkan aku mau makan apa? Itu tugas kamu," tunjuk CEO Rakhan ketus. " Kamu cari semua daftar menu makanan yang di jual di semua restoran dan cafe di seluruh Jakarta, kemudian beritahu aku," katanya lagi.


Apa?? Chayra terbelalak. Ini sama saja dengan mengerjai dia. "Se...semua?" katanya tak percaya.


"Iya, semuanya. Apa dari pada memesan, kamu lebih suka memasaknya?" CEO Rakhan memberikan pilihan.


"Pesan saja, kecuali kalau anda mau mati muda ," tukas Chayra sebal.


"Ya, sudah, sekarang kerja," balas CEO Rakhan acuh. " Jangan lama lama, kamu hanya punya waktu 30 menit," dia mengingatkan.


"Iya," balas Chayra. Dia kembali duduk di kursi di hadapan CEO Rakhan,kemudian mengambil ponsel dari dalam tas ranselnya.


" Siapa yang menyuruh kamu duduk di sana?" tegur CEO Rakhan. "Itu kursi buat tamu."


Dasar pelit,Chayra mengomel dalam hati. Kursi saja masih di permasalahkan. "Iya,iya," katanya sambil berdiri.


Aku menganggu pemandangan? Chayra menahan sabar. "Iya," katanya pelan . Dia berjalan mendekati CEO Rakhan.


"Jangan terlalu dekat," usir CEO Rakhan. " Pastikan jaraknya 1 meter , tidak lebih tidak kurang," dia mengingatkan. Entah kenapa, berada di dekat Chayra membuatnya tidak nyaman.


" Bagaimana mengukurnya? Apa sebaiknya anda di pasang alarm saja, jadi setiap kali saya berdiri terlalu dekat, alarm akan berbunyi," saran Chayra sebal . Baru kali ini dia bertemu orang seaneh ini. Pantas saja Blossom putus dengan dia. Biarpun dia memiliki ketampanan setingkat dewa tapi kalau sifatnya aneh begini siapa yang tahan?


"Kamu kan bisa mengira ngira jarak 1 meter itu berapa jauhnya," decak CEO kesal. " Tas kamu simpan dalam lemari buku ," dia menunjuk lemari buku yang terletak di belakangnya.


"Baik,CEO," Chayra mengambil ranselnya yang tergeletak di kursi di depan CEO Rakhan lalu memasukannya ke dalam lemari buku.


" Sudah ketemu daftar menu makanan yang aku suruh?" tanya CEO Rakhan tidak sabar.


"Sebentar," ujar Chayra. Dia membuka aplikasi goggle di ponselnya. " Ada sekitar 5. 231 restoran dan 3,125 cafe di seluruh Jakarta," lapornya setelah mencari di goggle.

__ADS_1


"Apa saja menu makanannya?" tanya CEO Rakhan.


"Saya harus mencari menu makanan di 5.231 restoran dan 3.125 cafe?" tanya Chayra ingin meminta kepastian.


"Aku kan tadi menyuruh kamu mencari menu makanan di seluruh restoran dan cafe di Jakarta, bukannya mencari jumlah restoran dan cafenya," tandas CEO Rakhan. "Masa tugas segampang itu masih juga salah?" dia menoleh pada Chayra dengan ekspresi dongkol.


"Iya saya tahu, tapi mencari daftar menu makanan di 5.232 restoran dan 3.125 cafe tidak bisa dalam waktu 30 menit, CEO," balas Chayra dengan nada di sabar sabar kan.


" kalau begitu kamu tanya Miku . Dia sudah menjadi sekretaris aku selama 3 tahun," kata CEO Rakhan akhirnya. Lama lama meladeni gadis ini membuat dia semakin tidak focus. Matanya selalu terarah pada bibir yang terus membantah itu. Rasanya ingin dia bungkam dengan bibirnya sendiri.


"Baiklah, saya turun dulu," pamit Chayra lega. Dia segera memasukan ponsel ke dalam kantong celana jeans-nya. Akhirnya ,dia bisa lepas juga dari CEO ini. Walau hanya sementara .


Chayra bergegas pergi tanpa menunggu jawaban dari CEO Rakhan.


Melihat Chayra yang bergegas pergi, CEO Rakhan tertawa sinis dalam hati . Jangan senang dulu,ini baru permulaan, desis CEO Rakhan .


Rhea yang sejak tadi keluar dari ruangan CEO , langsung berjalan menuju tempat parkir mobil dengan wajah gondok. Percuma saja dia sampai libur kuliah hari ini. Berdandan begitu rapi dan sempurna. Sampai melibatkan jasa MUA segala. CEO Rakhan bahkan sama sekali tidak melihat kepadanya.


"Bos, Nona Rhea pergi meninggalkan gedung High World," lapor si pengendara, mata mata suruhan Bos, melalui ponsel, saat mobil Rhea melintas di depannya.


"Cepat ikuti. Jangan sampai kehilangan jejaknya," balas Bos sambil menutup telepon. Dia harus tahu apa hubungan antara Rhea Hadiyan dengan Rakhan Khaizurran.


"Baik, Bos," si pengendara segera menyalakan mesin motornya dan melaju mengikuti mobil Rhea.


Sementara itu di dalam mobil yang sedang melaju kencang, Bos belum bicara sejak menerima telepon tadi. Sepertinya masih sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Bagaimana Bos? Tetap lanjut ke High world atau langsung ke Hotel Grand Duke?" tanya Pak Fendi, sang sopir meminta kepastian.


Bos memang sudah memesan kamar di hotel Grand Duke, alasannya karena hotel itu dekat dengan apartemen Bougainville, lokasi terakhir yang terlacak sebagai tempat pengiriman barang itu.


Bos tidak menjawab. Dia masih di Landa keraguan. Antara ingin bersembunyi sementara atau siap menebarkan ancaman.


"Menurut aku,Bos jangan sampai menampakan diri dulu," saran Lio, yang duduk di sebelah pak Fendi seakan tahu pikiran Bos . " Kita harus biarkan CEO Rakhan berpikir jika kita belum tahu apa apa. CEO Rakhan itu ahli strategi. Kita akan kalah kalau berperang secara terang terangan dengan dia," sambungnya lagi.

__ADS_1


Rakhan memang ahli strategi, Bos mengakui dalam hati. World Tech berkembang pesat juga karena kepiawaiannya dalam meracik strategi bisnis dan marketing.


Tapi bukannya dia juga tidak punya kelemahan. Bos tahu , sebagai mantan teman baiknya, Rakhan punya satu kelemahan. Kelemahannya itu bernama Blossom Brianna.


__ADS_2