
“Ya Allah Wi… kamu dari mana aja sih, gak liat jam apa? ini sudah jam berapa? kamu bikin orang rumah pada khawatir aja deh! mana gak bisa di hubungin lagi dari tadi, kita di rumah khawatir banget tau!" Cecar Kak Desi saat Tiwi dan Kak Gery sudah sampai di depan rumahnya.
“Maaf Kak... Tiwi tadi…” Tutur Tiwi yang di sanggah langsung oleh Kak Gery.
“Selamat malam Kak, maaf menyela ucapannya! sebelumnya kenalkan, saya Gery, Kak! maaf karena sudah mengantar Tiwi terlalu larut, kebetulan tadi saya belum tahu jalan menuju rumah Tiwi, jadi saya menunggunya bangun karena Tiwi sempat tertidur di mobil, saya benar-benar minta maaf ya, Kak!" Ucap Kaka Gery panjang lebar.
“Dasar bocah! malu-maluin aja deh, kenapa kamu bisa ketiduran di mobil orang sih, Wi!" Gerutu Kak Desi yang tak habis pikir dengan kelakuan adiknya.
"Ya maaf Kak! sepertinya Tiwi tadi terlalu lelah, jadi Tiwi ketiduran deh! tapi kita beneran gak ngapa-ngapain ko, iya kan Kak?!" Sahut Tiwi meminta persetujuan Kak Gery sambil menatap kedua bola mata Kak Gery lekat-lekat.
"Iya, benar Kak! saya juga menepikan mobil di jalanan yang cukup ramai ko, tadi!" Tutur Kak Gery membenarkan.
"Hm... ya sudah, kalau begitu kamu cepat masuk Wi! dan kamu terimakasih sudah mengantar Tiwi ya!" Sahut Kak Desi berusaha mempercayai Kak Gery meski nada bicaranya masih terdengar ketus.
"Sama-sama, Kak! kalau begitu saya pamit ya! Wi Kakak pulang ya! Assalamu’alaikum!" Ucap Kak Gery mengatupkan kedua tangannya seraya bergegas pergi dari sana.
Kak Gery pun akhirnya pulang ke markas yang berada di lantai 2 Restonya.
“Assalamu’alaikum." Ucap Kak Gery setelah memasuki markas.
“Wa’alaikumsalam… duh yang abis nganterin gebetan, kencan dulu ya, Ger?!" Sahut Kak Dani dengan nada
menggoda.
"Ha... ente ngaco aja, Dan!" Ucap Kak Gery seraya menghela kasar nafasnya sambil membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
“Ente naksir ya Ger sama si Tiwi?!" Celetuk Kak Dani yang seakan bisa membaca isi hati Kak Gery.
“Sok tahu ente, Dan!" Jawab Kak Gery mencoba memejamkan matanya.
“Tapi bener kan, Ger?! ana perhatikan, selama di Toserba tadi, ente perhatian banget lo sama si Tiwi!" Sahut Kak Fajar menimpali sambil menaiki tempat tidur tingkat yang berpasangan dengan yang Kak Gery gunakan saat ini.
“Hm... masa sih, perasaan ente aja kali Jar!" sangkal Kak Gery.
__ADS_1
“Ana sudah sangat hapal sama sifat ente, Ger! gak usah menyangkalnya lagi deh, lagi pula perhatian ente tadi di Toserba itu mencolok banget tau gak!" Tutur Kak Fajar.
“Apa benar seperti itu ya?" Gumam Kak Gery.
“Hm... dasar ente, Ger!" Ucap Kak Fajar menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Sudah-sudah! kalian berisik banget sih! ana mau tidur nih!" Tegur Kak Iman yang berada di atas tempat tidur di seberang tempat tidur Kak Gery berada.
Malam itu mereka akhirnya tidur di markas, hingga tibalah waktu mereka untuk sahur. Seperti biasa, yang selalu bangun paling awal, pasti Kak Gery.
“Sahur... sahur... sahur... bangun yuk! nanti keburu imsak lo!" Seru Kak Gery, membangunkan teman-temannya satu per satu.
“Yah... Ger! bentar lagi deh! ana masih ngantuk nih!" Rengek Kak Dani yang masih asik bergelung di bawah selimutnya.
“Nanti keburu imsak, Dan! udah cepat bangun! cuci muka gih!" Seru Kak Gery sambil menyingkap selimut yang di pakai Kak Dani.
“Ha... iya deh, lama-lama ente udah mirip emak-emak aja deh, Ger!" Gerutu Kak Dani seraya membangunkan diri dan bergegas menuju kamar mandi.
Setelah selesai menyantap sahur, akhirnya suara Adzan pun berkumandang. Kebetulan Kak Dani saat itu di telepon oleh tunangannya yang memintanya untuk bertemu. Awalnya hari itu mereka berencana latihan untuk penampilan Nasyid mereka selanjutnya, namun setelah semuanya sepakat, akhirnya mereka pun membatalkannya. Kebetulan juga hari itu Kakek Kak Gery baru saja tiba dari Yogyakarta.
bisnis di luar Kota, sehingga beliau tidak dapat menjemput Kakeknya Kak Gery di stasiun.
Kring… kring….
"Assalamu’alaikum Yah?” Ucap Kak Gery setelah mengangkat panggilan teleponnya.
“Wa’alaikumsalam, Ger! Umi udah kasih kabar belum? nanti sekitar jam 10.30 kamu ke stasiun ya jemput Kakek! kebetulan Ayah masih diluar Kota nih, kamu bisa kan?!” Sahut Pak Rudi yang tak lain Ayah Kak Gery.
“Oh, ok deh, Yah! kebetulan hari ini Gery free ko! Ya udah Ayah tenang aja, biar Gery yang jemput Kakek! tapi Yah, mobil yang di bengkel udah selesai belum? takutnya nanti Kakek gak bisa naik motor, atau kalau engga Gery pinjem mobil Iman aja ya?” Tutur Kak Gery panjang lebar.
“Sepertinya mobilnya baru selesai lusa Ger, ya udah! kalau gitu kamu pinjam mobil Iman dulu aja, nanti Ayah gantiin deh buat bensinnya,” Sahut Pak Rudi memberi saran.
“Ok deh, kalau gitu Gery kabari Imannya dulu ya Yah, Assalamu’alaikum," Tutur Kak Gery sebelum menutup teleponnya.
__ADS_1
Kak Gery langsung meminjam mobil Kak Iman yang kebetulan masih ada di markas saat itu. Kebetulan hari itu Tiwi juga mendapat tugas dari Ibunya untuk membeli bahan kue di salah satu Toko dekat Stasiun.
Setelah selesai membeli pesanan Ibunya, Tiwi bergegas pulang sambil berjalan melewati Stasiun, tiba-tiba saja saat hendak melangkah Tiwi melihat seorang pria tak dikenal yang menabrak Kakek Kak Gery hingga terjatuh, sontak Tiwi yang saat itu melintas dan melihatnya pun langsung menghampirinya untuk menolong.
“Astagfirullah," Ucap Kakek Kak Gery sambil menyentuh sikutnya yang sedikit lecet.
“Astagfirullah… apa Kakek baik-baik saja?!" Seru Tiwi setelah menghampiri dan langsung menolong Kakek Kak Gery berdiri.
“Ah... iya! Kakek tidak apa-apa ko! Terimakasih ya nak, kalau Kakek boleh tau nama kamu siapa, nak?” Tanya Kakek Kak Gery sambil berdiri di papah oleh Tiwi menuju kursi tunggu yang tersedia di stasiun.
“Nama saya Tiwi Kek, Kakek sendirian? sepertinya Kakek habis bepergian ya?” Tutur Tiwi balik bertanya.
“Kakek baru saja tiba, nak! Kakek mau mengunjungi rumah anak Kakek di kota ini, emm... nak, jika kamu tidak keberatan apa boleh Kakek minta tolong?" Sahut Kakek Kak Gery sedikit sungkan.
“Boleh! Kakek mau minta tolong apa?" Tutur Tiwi menyanggupi.
"Ini nak, tangan Kakek barusan sedikit tergores, tolong belikan plester ya! ini uangnya," Ucap Kakek Kak Gery sambil memberikan selembar uang kertas pecahan lima puluh ribu.
"Biar Tiwi pakai uang Tiwi aja Kek! Kakek tunggu sebentar di sini ya!" Sahut Tiwi sambil beranjak dan
mencari pedagang plester di sekitaran stasiun.
Tak lama kemudian Kak Gery pun tiba dan langsung menghampiri Kakeknya yang sedang duduk di kursi tunggu. Kak Gery segera mengajak Kakeknya naik ke mobil supaya bisa cepat sampai rumahnya dan
beristirahat.
.
.
.
.
__ADS_1
.
See you next episode guys 😘😘😘