CHOICE LOVER

CHOICE LOVER
Eps 75.


__ADS_3

Sesaat Kak Gery dan Tiwi terdiam dengan pemikiran mereka masing-masing. Tiwi sendiri masih canggung jika harus berpose seperti itu dengan Kak Gery, meski sebelumnya mereka sudah pernah melakukannya, namun bagi Tiwi itu bukanlah hal yang mudah di lakukan nya, hingga akhirnya Kak Gery mengindahkan perkataan Kak Tio dan segera mengambil posisi untuk sesi pemotretan terakhirnya.


"Ya Allah, Tiwi harus gimana sekarang, Tiwi benar benar gugup jika harus melakukan pose ini," Batin Tiwi.


"Gimana? kalian ko malah bengong sih?" Tegur Kak Tio.


"Ok! kita siap bang!" Ucap Kak Gery penuh keyakinan.


Matanya menatap Tiwi seakan meminta ijin untuk mencium keningnya. Tanpa menunggu lagi, Kak Gery segera merapatkan tubuhnya sambil memegang kedua bahu Tiwi. Hembusan nafasnya begitu terasa hangat menyapu permukaan kulit wajah Tiwi yang halus, membuat suasana yang tadinya canggung berubah romantis bak di drama-drama romansa.


"Maaf!" Ucap Kak Gery lirih sambil menatap lekat kedua bola mata Tiwi.


"Gak apa-apa, Kak!" Sahut Tiwi yang langsung menundukkan kepalanya sambil menggelengkan kepala.


"Ok! siap ya, coba sedikit merapat lagi!" Seru Kak Tio memberi instruksi.


"Apa seperti ini?" Ucap Kak Gery sambil membenarkan posisinya.


"Ya! sip! tahan tangannya di bahu ceweknya ya, nah... ok sip, kamu pejamkan mata aja sambil tersenyum dan kepalanya sedikit mendongak ke atas!" Tutur Kak Tio mengatur pose keduanya.


Kak Tio akhirnya memberi aba-aba ketika posisi mereka sudah siap untuk diabadikan, Tiwi begitu gelisah kala Kak Gery benar-benar menyentuh keningnya dengan bibir ranumnya itu. Namun lain halnya dengan Kak Gery yang terlihat tenang dan menikmati momen tersebut. Entah mengapa, dia seakan tenang dan nyaman saat berada di dekat Tiwi seperti itu.


"Kenapa aku merasa gelisah begini? aku benar-benar canggung, tapi Kak Gery sepertinya menikmati sekali momennya. Apa dia udah mengingat aku sedikit demi sedikit ya? kalau dilihat dari caranya mencium keningku... ini jadi mengingatkan aku saat pertama kali dia mencium keningku di Rumah Sakit, Ya Allah semoga engkau segera memulihkan ingatannya. Aamiin." Batin Tiwi penuh harap.


"Kenapa aku tidak merasa risih berada di dekatnya? sebenarnya siapa gadis ini? sebelumnya aku tidak pernah merasakan kedamaian dan ketenangan saat bersama gadis lain, tapi kenapa dengan dia aku bisa senyaman ini!" Batin Kak Gery.


"Ok, sip! fotonya tinggal di pilih di bawah ya nanti!" Seru Kak Tio sambil bergegas meninggalkan ruang pemotretan.


Tiwi segera melangkah mundur dan bersiap untuk menyusul Kak Tio keluar ruangan. namun baru saja Tiwi membalikkan badannya tangannya di tarik kembali oleh Kak Gery sehingga membuat Tiwi berhambur kedalam pelukannya.


"Ah..." Pekik Tiwi terkejut.


"Sebenarnya kamu siapa? apa sebelumnya kita punya hubungan yang begitu dekat?" Ucap Kak Gery sambil memeluk erat tubuh Tiwi.


Tiwi berusaha meloloskan diri. Namun bukannya membiarkan Tiwi lepas dari pelukannya, Kak Gery malah semakin mempereratnya dan membuat Tiwi semakin memberontak. Hingga akhirnya Kak Haikal menerobos masuk dan membantu Tiwi melepaskan diri.

__ADS_1


"Kak! apa yang Kakak lakukan? lepaskan Tiwi, Kak!" Ucap Tiwi sambil mencoba melepaskan pelukan Kak Gery.


"Jawab dulu pertanyaan tadi, kenapa setiap di dekat kamu Kakak selalu tenang Wi? apa kita memang sudah sangat dekat sebelumnya?" Sahut Kak Gery mempererat pelukannya.


"Kak! lepas! Tiwi benar-benar sesak!" Berontak Tiwi.


"Kakak mohon, sebentar saja... biarkan Kakak memeluk kamu seperti ini!" Bujuk Kak Gery.


"Tapi Tiwi harus kembali, kita juga belum memilih foto untuk di cetak di bawah!" Sahut Tiwi masih meronta.


Entah setan apa yang merasuki Kak Gery saat itu, hingga akhirnya dia berani mencengkeram tangan Tiwi dengan begitu kuat, saat Tiwi berhasil lepas dari pelukannya. Kak Gery seakan benar-benar takut jika Tiwi akan meninggalkannya sebelum menjawab pertanyaannya tadi.


"Wi, Kakak mohon! jawab dulu pertanyaan Kakak, apa kita benar-benar sudah sangat dekat sebelumnya?" Cecar Kak Gery sambil menahan tangan Tiwi yang mencoba pergi.


"Awwsstt!! sakit Kak, kenapa Kakak tidak tanyakan saja pada hati Kakak sendiri, apa Kakak akan percaya jika Tiwi mengatakan yang sebenarnya?" Sahut Tiwi.


Brak...


Suara pintu ruangan yang di buka secara kasar terdengar begitu mengejutkan kedua sejoli itu. Sepasang mata elang yang memerah menandakan ketidaksukaannya langsung menarik Tiwi dari genggaman Kak Gery saat itu.


"Brengsek elo, Ger!" Ucap Kak Haikal seraya melayangkan satu bogem mentah di ujung bibir ranum Kak Gery.


"Astaghfirullah!! Kak! apa Kakak baik-baik saja? ayo Tiwi bantu berdiri!" Seru Tiwi sambil berjongkok untuk membantu Kak Gery


"Gak perlu, aku bisa berdiri sendiri!" Sentak Kak Gery sambil melenggang pergi meninggalkan keduanya.


"Astagfirullah..." Gumam Tiwi seraya menutup mulutnya sendiri, seakan tak percaya dengan sikap kasar Kak Gery yang baru saja dia rasakan.


"Are you ok, girl? kenapa si Gery bisa senekat itu? gue gak habis pikir, padahal dia bukan tipe cowok yang suka kasar sama perempuan, apa lagi itu sama elo, Wi!" Tutur Kak Haikal.


"Apa Tiwi salah ya, Kak! kalau Tiwi gak bisa menjawab pertanyaannya tadi, tapi kenapa..." Ucap Tiwi tercekat karena Kak Haikal langsung menariknya ke dalam pelukannya.


"Elo gak boleh cengeng Wi, gue gak akan membiarkan air mata berharga Lo jatuh lagi," Sahut Kak Haikal.


Ternyata saat itu Kak Gery tidak benar-benar pergi meninggalkan mereka. Dia sengaja bersembunyi di balik dinding dan mendengarkan perbincangan diantara keduanya. Ada perasaan sesak di hatinya ketika melihat Tiwi bersedih dan berada di pelukan Kak Haikal. Hati kecilnya begitu tak terima melihat kedekatan mereka.

__ADS_1


"Perasaan apa lagi ini? kenapa aku selalu gak suka dan marah saat melihat dia dengan si Haikal dekat?" Batin Kak Gery seraya mengepalkan tangannya.


"Ger, ente kenapa berdiri disini?" Tegur Kak Iman setelah menghampiri.


"A...ana baru aja mau mencari ente, Man. Ayo kita ke bawah sekarang!" Seru Kak Gery.


"Kak Gery kenapa, Kak?" Tanya Tata sedikit berbisik.


"Entahlah, Yang. Semoga saja bukan sesuatu yang buruk, ayo!" Sahut Kak Iman sambil mengajak Tata untuk ke lantai bawah memilih foto.


"Hm... semoga aja..." Lirih Tata seraya menatap pintu ruangan pemotretan sebelum melenggang ke lantai bawah.


Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing setelah memilih foto yang akan mereka cetak sebelumnya.


"Apa Lo lapar? kita ke kafe gue dulu yuk!" Ajak Kak Haikal saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.


"Gak usah Kak, Tiwi masih kenyang ko, Tiwi mau pulang aja sekarang!" Sahut Tiwi tak bersemangat.


"Hm... baiklah, tapi gue punya satu permintaan sama Lo, Wi! sebelum gue antar elo pulang, kita mampir ke suatu tempat dulu ya!" Seru Kak Haikal.


"Ke mana Kak?" Tanya Tiwi.


"Rahasia! pokoknya elo bakal betah kalau udah tau tempatnya nanti," Tutur Kak Haikal yang membuat Tiwi mengerucutkan bibirnya.


"Ish, Kakak ko main rahasia-rahasia sih! ya udah, kalau gitu Tiwi gak mau ikut deh," Rajuk Tiwi.


"Yaelah Wi, kalau gue kasih tau sekarang kan gak seru, udah pokoknya elo nurut aja deh sekarang, nanti kalau udah sampai gue kasih tau!" Tutur Kak Haikal.


.


.


.


.

__ADS_1


.


See you next episode 😘😘😘


__ADS_2