CHOICE LOVER

CHOICE LOVER
Eps 103.


__ADS_3

"Sebentar lagi kan kamu juga bakal jadi pengantin, jadi hitung-hitung latihan lah!" Sahut Kak Gery


"Pengantin? tapi gaun ini benar-benar terlalu bagus! Tiwi pakai yang lain aja ya!" Ucap Tiwi.


Kak Gery dan Uminya pun saling melempar tatapan seraya tersenyum, keduanya benar-benar semakin terkagum-kagum pada Tiwi. Kepribadian gadis cantik itu ternyata tak pernah berubah. Tiwi selalu tampil apa adanya dan sederhana. Meski dia bisa saja memanfaatkan kedekatannya dengan Umi Kak Gery untuk memiliki pakaian atau gaun yang bagus. Tapi, itu semua tidak Tiwi lakukan. Tiwi selalu bersyukur atas apa yang dia punya, sehingga dia tidak sampai lupa daratan ketika memiliki kedekatan dengan orang-orang yang dapat di katakan lebih tinggi kastanya dengan dirinya.


"Sayang! kamu tau gak yang Umi suka dari kamu selama ini?" Tanya Umi Kak Gery seraya menghampiri Tiwi dan menyentuh lembut kedua sisi lengan Tiwi.


Tiwi pun menggelengkan kepalanya pertanda dia tak mengetahui apa yang calon mertuanya itu bicarakan.


"Kamu itu ibarat satu jarum emas di dalam tumpukan jerami! dari sekian banyaknya gadis-gadis yang menyukai anak Umi, cuma kamu yang tak pernah memanfaatkan kedekatan hubungan kita!" Tutur Umi Kak Gery.


"Maksud Umi?" Tanya Tiwi menautkan kedua alisnya.


"Ayo kita duduk dulu!" Seru Umi Kak Gery seraya menggiring sang calon menantu untuk duduk di sofa butiknya. Tiwi pun menurut dan ikut menghampiri sofa untuk duduk berdampingan dengan Umi Kak Gery.


"Zaman sekarang, tidak sedikit gadis-gadis yang memanfaatkan kedekatannya dengan sang calon mertua, kalau mereka tau calon mertuanya seorang perancang busana atau punya bukit kaya Umi gini, biasanya mereka akan menunjukkan sifat aslinya dengan merayu Umi demi mendapatkan pakaian ataupun gaun yang mereka inginkan! tapi itu semua gak pernah Umi temui dari diri kamu, sayang! yang ada kamu malah sering nolak pemberian Umi," Tutur Umi Kak Gery seraya berekspresi kesal di akhir ucapannya.


"Maafin Tiwi, Umi! Tiwi gak bermaksud nolak pemberian Umi! Tiwi cuma merasa gak pantas aja untuk menerima barang-barang bagus itu! Umi, mau kan maafin Tiwi!" Sahut Tiwi seraya menggenggam kedua tangan calon mertuanya.


"Kalau kamu mau Umi maafin, kamu harus turuti kemauan Umi, gimana?" Ucap Kak Gery.


"Maksud Kakak?" Tanya Tiwi meminta penjelasan.


"Sayang, Umi mau kalian juga secepatnya menikah seperti Tata dan Iman." Tutur Umi Kak Gery.


"Tapi, Umi! Tiwi masih..." Sahut Tiwi tercekat.


"Kamu masih ragu? atau mau Kakak lamar sekarang juga?" Cecar Kak Gery yang membuat Tiwi segera menggelengkan kepalanya.


"Sayang, mungkin ini memang jalan yang terbaik buat kalian! lagi pula Umi udah gak sabar pengen cepat-cepat menimang cucu dari kalian," Tutur Umi Kak Gery.


"A... apa gak terlalu cepat ya, Mi?" Tanya Tiwi terbata yang membuat Kak Gery dan Uminya terkekeh karena tingkahnya yang menggemaskan.


"Justru ini udah kelamaan, sayang! jadi jangan menolak lagi ya!" Tutur Umi Kak Gery sambil menepuk-nepuk tangan Tiwi yang dia genggam.


Tiwi masih terkejut dengan penuturan Ibu dan anak yang berada di depannya itu. Tiwi benar-benar tak mengira akan di lamar kembali oleh Kak Gery di hari itu. Setelah bersikeras memantapkan hatinya, Tiwi akhirnya di giring Umi Kak Gery untuk menemui teman-temannya yang sudah menunggu mereka di ruang fitting baju.


"Ma Sya Allah, Wi! kamu cantik banget," Sanjung Tata.


"Kamu sempurna banget, beb! kamu T O P B G T deh, pokoknya!" Sahut Andrina menambahkan.


"Kalian lebay, deh! yang cantik itu gaunnya, benar-benar keren banget, kan! aku aja sampai gak percaya diri pakainya!" Tutur Tiwi.

__ADS_1


"Yang, aku juga mau liat kamu pakai gaun gitu dong, pasti kamu juga gak kalah cantik, deh!" Seru Kak Haikal berbisik tepat di telinga istrinya.


"Kalau Kakak pengen liat aku pakai gaun gitu, ya belikan dulu dong gaunnya, atau kalau engga kita percepat aja resepsi pernikahan kita, nanti Drina pasti pakai gaun gitu juga, kan?" Tutur Andrina.


"Kalian mau melaksanakan resepsi kapan? nanti Tante buatkan gaun yang tak kalah cantik juga, deh!" Sahut Umi Kak Gery.


"Makasih ya, Tan! nanti Haikal kasih kabar lagi deh kalau udah pasti waktunya, soalnya akhir-akhir ini Haikal masih sibuk mengurus perusahaan Papah yang baru buka cabang," Sahut Kak Haikal yang membuat sang istri bermuka kesal.


Pasalnya, Andrina juga sudah sangat menantikan resepsi pernikahannya itu. Tapi apa boleh buat, dia harus bersabar karena suaminya itu benar-benar sangat sibuk belakangan ini.


"Wah... Papah kamu jadi juga ya buka cabangnya lagi, selamat ya," Ucap Umi Kak Gery tulus.


"Iya, Tan! doakan lancar ya," Sahut Kak Haikal.


"Aamiin... ya udah, kalau gitu kita foto-foto aja yuk sekarang! mumpung udah pada kece-kece nih!" Usul Tata.


Tata pun memanggil Kak Tina untuk meminta bantuannya memfoto mereka semua. Mereka benar benar terlihat bahagia dengan kehidupannya saat itu. Hingga tak terasa hari sudah nampak menggelap setelah mereka memutuskan untuk makan bersama di ruangan fitting baju yang di sulap menjadi ruang makan.


"Guys, makasih banget ya udah sempatkan fitting baju hari ini! aku benar-benar terharu dan bahagia, kalian sahabat aku yang paling the best deh, pokoknya!" Ucap Tata memeluk kedua sahabatnya dengan haru.


"Sama-sama, Ta! kita juga sangat bahagia ko bisa saling membantu seperti ini, semoga persahabatan kita gak pernah pudar sampai kapan pun ya!" Tutur Tiwi tak kalah haru.


Ketiga sahabat itu pun akhirnya memutuskan pulang ke rumah mereka dengan diantarkan oleh para pangerannya masing-masing.


"Iya Drin, sampai jumpa di kampus ya," Sahut Tiwi yang masih berdiri di depan butik untuk berpamitan pada Umi Kak Gery.


"Tan, Tata pulang ya! makasih ya udah mau direpotkan hari ini" Ucap Tata.


"Sama-sama sayang! ya udah, kalian hati-hati di jalan ya!" Sahut Umi Kak Gery seraya mengelus sebelah lengan Tata.


"Wi, aku duluan ya, dah... sampai jumpa di kampus besok," Tutur Tata.


"Hati-hati, Ta!" Seru Tiwi.


"Yang, kamu mau pulang sekarang apa mau main dulu ke suatu tempat?" Tanya Kak Gery.


"Emm... langsung pulang aja deh, Kak!" Jawab Tiwi.


"Ya udah, Ger! kalian hati-hati di jalan ya, Umi harus kembali ke dalam untuk menyelesaikan sketsa lagi," Tutur Umi Kak Gery.


"Kalau gitu Tiwi pamit sekarang ya Umi, maaf udah merepotkan!" Seru Tiwi sambil mencium tangan Umi Kak Gery dengan takzim.


"Hati-hati di jalan ya, sayang!" Ucap Umi Kak Gery sambil mengusap kepala Tiwi dengan lembut. Tiwi pun mengangguk sebelum Kak Gery meraih jemarinya dan mengajak dia segera beranjak.

__ADS_1


"Ayo!" Seru Kak Gery seraya menggandeng tangan Tiwi dengan erat.


Mereka akhirnya pulang ke rumah Tiwi. Kak Gery benar-benar tak pernah menyangka, jika Tiwi akan menerimanya kembali dengan mudah, dan hal itu benar-benar dia syukuri.


"Yang! makasih ya, udah mau menerima lamaran Kakak lagi, Kakak janji kali ini Kakak gak akan mengecewakan dan melupakan kamu lagi," Ucap Kak Gery di sela mengemudikan mobilnya.


"Sama-sama Kak, Tiwi cuma mengikuti kata hati Tiwi, dan semoga aja ini menjadi yang terbaik untuk kita berdua," Sahut Tiwi seraya memberikan senyum terbaiknya.


Tak lama kemudian, Kak Gery dan Tiwi tiba di rumah orangtua Tiwi. Kak Gery segera mengutarakan keinginannya untuk meminang Tiwi sesegera mungkin pada keluarganya, kebetulan hari itu Kakek Tiwi baru saja kembali dari rumah kerabatnya, sehingga beliau pun ikut berbahagia atas kabar baik tersebut.


"Assalamu'alaikum," Ucap Tiwi seraya membuka pintu rumahnya.


"Wa'alaikumsalam, udah selesai ya, nak?" Sahut Ibu Tiwi menghampiri.


"Iya, Bu! Tiwi ganti baju dulu ya, sekalian buatkan Kak Gery minum," Tutur Tiwi melenggang masuk ke arah kamarnya.


"Ya udah, jangan lama-lama ya, Wi! Nak Gery, makasih ya udah mengantar Tiwi pulang," Ucap Ibu Tiwi tulus.


"Gak perlu sungkan Tante, itu udah jadi kewajiban Gery ko," Tutur Kak Gery.


"Wah... ternyata ada tamu ya, apa kabar, nak?" Sapa Kakek Tiwi menghampiri dengan anaknya yang tak lain Ayah Tiwi.


"Alhamdulillah, Kek!" Sahut Kak Gery sedikit bingung dengan pria paruh baya yang menyapanya.


Dengan tanggap, Ayah Tiwi memperkenalkan kembali Kakek Tiwi pada Kak Gery. Setelah melihat ekspresi wajah Kak Gery tadi, Ayah Tiwi segera teringat akan penyakit amnesia yang masih di derita calon menantunya itu.


"Ini Kakeknya Tiwi nak, beliau baru aja pulang dari rumah kerabat kami," Tutur Ayah Tiwi.


"Oh, gitu ya, Om! wah sepertinya Gery kali ini sangat beruntung datang ke sini, mumpung semuanya sedang ada di sini, Gery ingin mengutarakan maksud Gery Om, Kakek, Tante!"Sahut Kak Gery menyahuti satu persatu para tetua.


"Ada apa ya, nak?" Tanya Ayah Kak Gery.


"Minumnya, Kak!" Seru Tiwi menghampiri dan meletakkan secangkir teh hangat di atas meja tamunya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


See you next episode 😘😘😘


__ADS_2