
"Sepertinya pasien sengaja di bius oleh seseorang sebelum tak sadarkan diri, namun beruntung tidak terjadi hal apa pun yang membahayakan kesehatan pasien, mungkin setelah ini pasien akan sadarkan diri dan sudah boleh pulang jika tidak ada keluhan lagi," Tutur Dokter menjelaskan.
"Alhamdulillah, terimakasih banyak Dok atas bantuannya," Sahut Kak Gery lega.
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi, mari!" Ucap Dokter bergegas pergi.
****************
"Mih... Drina gak mau Mih, Drina masih pengen kuliah, Drina gak mau nikah sama cowok aneh itu," Rengek Andrina yang kini tengah berada di dalam kamar orangtuanya setelah warga memergokinya berduaan hendak masuk rumah.
Flash back beberapa saat sebelum penggerebegan.
Karena kakinya masih terasa sakit, Andrina memekik menahan nyeri saat melangkah menuju rumahnya. Hal itu membuat Kak Haikal tak tega dan langsung menggendong Andrina masuk ke rumahnya. Disaat bersamaan, dua orang warga setempat melintas di depan halaman rumah Andrina dan memergoki Andrina dan Kak Haikal yang mereka kira hendak melakukan zinah.
"Kalian mau zinah ya! dasar anak muda jaman sekarang! Din, cepat kamu laporkan mereka ke Pak RT! kita suruh mereka menikah malam ini juga! biar kampung kita tidak terkena adzab dari perbuatan dosa mereka!" Ucap Pak Mamat pada rekannya Pak Udin.
"Siap, Mat!" Jawab Pak Udin seraya melenggang pergi menuju rumah Pak RT.
"Tuh, kan! apa aku bilang! Kakak ngeyel sih di bilangin gak usah gendong juga! kita kan jadi di tuduh yang enggak-enggak jadinya!" Rengek Andrina yang kini sudah duduk di salah satu sofa ruang tamu rumahnya.
"Gue kan cuma mau nolongin elo, bukannya berterimakasih malah ngomel-ngomel!" Sahut Kak Haikal.
"Ishhh... dasar cowok aneh! mending aku telepon Mamih aja deh sekarang!" Gerutu Andrina seraya mencari kontak Maminya di hpnya.
Setelah memberi kabar pada sang Mamih Andrina kini tengah menangis di dalam kamarnya, setelah sebelumnya Pak RT beserta beberapa warga yang sudah berkerumun di depan rumahnya memberikan pilihan pada Andrina untuk segera menikah dengan Kak Haikal atau pergi dari kampung tempat dia dilahirkan tersebut.
Flash back done.
"Sayang, dengar Mamih! cepat atau lambat kamu juga memang akan Mamih jodohkan dengan nak Haikal, jadi tidak ada salahnya jika kalian menikah dari sekarang, lagi pula saat ini kalian sudah terlanjur di
grebeg warga, meski mereka salah paham, kamu terima aja ya! Mamih yakin nak Haikal orang yang tepat untuk kamu sayang, nak Haikal anak yang baik dan bertanggung jawab." Tutur Mamih Andrina
membujuk.
"Tapi Mih, Mamih gak pernah merundingkannya dengan Andrina! Mamih ko egois sih!" Isak Andrina.
"Maafkan Mamih sayang, Mamih hanya ingin kamu ada yang menjaga dan melindungi, dan Mamih yakin nak Haikal adalah orang yang tepat, selain itu Mamih juga sudah mengenal orangtuanya sejak lama sayang, jadi tidak ada alasan untuk menolak laki-laki baik itu untuk di jadikan menantu satu-satunya oleh Mamih," Tutur Mamih Andrina.
"Mih, Drina belum siap!" Ucap Andrina semakin terisak.
"Sayang, Mamih tau ini pasti berat buat kamu, tapi Mamih lebih berat jika melihat warga mengusir kamu dari rumah kita sendiri sayang, Mamih tidak bisa melakukan hal itu," Lirih Mamih Andrina.
__ADS_1
Andrina pun menghembuskan kasar nafasnya, beberapa kali di memutar otak agar bisa keluar dari situasinya saat ini. Namun tetap saja, dia tidak bisa berbuat hal lain lagi selain menikah dengan Kak Haikal malam itu juga.
Setelah berpikir beberapa kali, Andrina akhirnya memutuskan untuk menyetujui pernikahan itu. Namun di luar dugaannya Kak Haikal ternyata nampak tenang dan seperti tidak ada beban ketika dia di hadapkan dengan persoalan tersebut.
"Gimana Bu Lia? apa sekarang kita bisa menikahkan putri Ibu?" Tanya Pak RT.
"Emm... anak saya perlu mempersiapkan diri sebentar lagi Pak, mungkin akadnya bisa di mulai saja sambil menunggu anak saya selesai," Tutur Mamih Andrina.
"Baiklah, kalau begitu mari kita langsungkan saja akadnya. Ayo, silahkan Pak penghulu, sebaiknya kita jangan menyia-nyiakan waktu lagi!" Seru Pak RT.
Para saksi pun mengucapkan kata SAH secara bersamaan yang menandakan bahwa akad telah selesai di laksanakan. Andrina begitu gugup dan gelisah ketika sang Mamih memintanya keluar untuk menemui Kak Haikal yang sekarang sudah resmi menjadi suaminya.
"Sayang, ayo kita keluar sekarang!" Seru Mamih Andrina.
"Apa akadnya benar-benar udah selesai?" Tanya Andrina dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sudah sayang, nak Haikal begitu lancar mengucapkannya dalam satu tarikan, jadi akadnya tidak banyak memakan waktu!" Sahut Mamih Andrina sambil mengusap punggung tangan anaknya.
"Ki bisa sih Kak Haikal selancar itu? kita kan menikah juga terpaksa? atau jangan-jangan Kak Haikal memang sudah merencanakannya, dasar cowok aneh... kenapa harus dia sih yang jadi suami aku," Batin Andrina.
"Sayang, ayo... semuanya sudah menunggu kamu di tengah rumah!" Tegur Mamih Andrina yang melihat anaknya masih mematung.
Andrina menganggukkan kepalanya dan mencoba melangkah setelah menarik nafas dan menghembuskan nya beberapa kali. Dia begitu gugup saat semua orang yang ada di tengah rumahnya memandang ke arahnya. Meski malam itu tidak terlalu banyak yang menyaksikan seperti layaknya
"Silahkan duduk berdampingan nak, sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri, meski kalian belum tercatat resmi oleh Negara, namun sekarang kalian bisa bernafas lega, karena kalian sekarang bisa melakukan hal apa pun semau kalian yang tentunya sudah halal, kalau begitu tugas saya sudah selesai malam ini, saya mohon undur diri, Assalamu'alaikum," Tutur sang penghulu yang sengaja di datangkan oleh Pak RT.
"Terimakasih banyak Pak penghulu, biar saya antar sekalian, saya juga mau pulang, rumah kita kan searah!" Sahut Pak RT.
"Baiklah, jika tidak merepotkan." Jawab Pak penghulu.
"Tentu tidak Pak, kalau begitu saya juga pamit undur diri ya Bu Lia, semoga pernikahan anaknya berlangsung langgeng hingga maut memisahkan mereka, Aamiin... kalau begitu saya pulang dulu ya, Assalamu'alaikum." Tutur Pak RT turut berpamitan.
"Wa'alaikumsalam, terimakasih banyak untuk bantuannya, Pak!" Sahut Mamih Andrina sambil mengantar kedua Pria paruh baya tersebut ke depan rumahnya.
"Loh, sudah selesai ya Pak akadnya?" Tanya salah satu warga.
"Alhamdulillah sudah, maka dari itu sebaiknya semua warga juga pulang saja dan beristirahat, sekarang mereka sudah aman, sudah kami nikahkan." Tutur Pak RT memberi saran.
"Alhamdulillah, syukurlah jika memang begitu Pak RT! kalau begitu ayo Bapak-bapak, Ibu-ibu, kita pulang! kampung kita sudah aman sekarang," Seru salah satu warga.
Setelah orang-orang pergi, Andrina segera memasuki kamarnya tanpa menghiraukan Kak Haikal yang masih duduk mengobrol dengan papah tirinya. Namun saat hendak memutar hendel pintu kamarnya, Andrina di tegur sang Mamih yang menyuruhnya untuk mengajak Kak Haikal sekalian masuk ke kamarnya agar bisa beristirahat.
__ADS_1
"Eh...eh...eh... kamu mau kemana sayang?" Ucap Mamih Andrina.
"Drina mau istirahat mah, Drina udah capek banget hari ini!" Keluh Andrina.
"Kalau gitu ajak suami kamu juga dong, masa kamu masuk kamar sendiri aja sih, sekarang kan kamu udah punya suami! ajak nak Haikal sekalian ya, dia juga pasti sangat lelah seharian ini," Tutur Mamih Andrina.
"Hm... suami ya, kenapa jadi repot kaya gini sih?" Gumam Andrina yang mau tak mau kembali ke tengah rumah untuk mengajak Kak Haikal beristiraha
"Kalian harus sama-sama saling memahami ya nak, Papih yakin lambat laun kalian bisa menerima hubungan ini dengan ikhlas," Tutur Papih Andrina memberi petuah pada Kak Haikal.
"Kak, aku mau istirahat sekarang! Kakak juga mau istirahat sekarang ga?" Tanya Andrina.
"Aku masih mau ngobrol sama Papih kamu sebentar lagi, jika kamu memang sudah lelah beristirahatlah duluan," Sahut Kak Haikal yang entah mengapa benar benar berubah saat itu.
"Sejak kapan dia jadi sopan gitu? biasanya juga dia panggilnya Elo-Gue, apa dia lagi cari muka ya di depan Papih?" Batin Andrina.
"Sebaiknya kamu juga istirahat aja nak, ini sudah malam, Papih juga harus idur sekarang, kebetulan besok Papih ada dinas ke luar Kota," Tutur Papih Andrina.
"Baiklah, Pih! kalau gitu Haikal istirahat dulu ya, selamat malam," Sahut Kak Haikal beranjak dan menghampiri Andrina yang masih berdiri mematung menunggunya.
****************
Setengah jam kemudian, Tiwi akhirnya sadar dan memperhatikan sekelilingnya. Beruntung saat itu kedua orangtua Tiwi sudah sampai di Rumah Sakit untuk menjemputnya pulang.
"Nak, sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kamu di bius seperti ini?" Tutur Ibu Tiwi bertanya setelah Tiwi tersadar dari pingsannya.
"Tiwi juga gak tahu, Bu! Tiwi gak inget apa pun, Tiwi cuma inget, kalau Tiwi lagi nunggu taksi," Lirih Tiwi menjawab.
"Ya udah, yang penting sekarang kamu gak apa-apa Wi, apa ada yang kamu rasakan, sekarang?" Tanya Ayah Tiwi.
"Enggak, Yah! Tiwi cuma lemes aja, mungkin karena terlalu lelah setelah seharian mengikuti ospek hari ini," Tutur Tiwi.
.
.
.
.
.
__ADS_1
See you next episode 😘😘😘