
Setelah puas melakukan panggilan Vidio, Tiwi akhirnya memberikan kembali hp suaminya dan siap bergegas kembali ke kamar sang putra untuk memeriksanya. Namun belum juga melangkah, Tiwi sudah di cekal oleh Kak Gery yang langsung menggendongnya menuju tempat tidur mereka.
"Astagfirullah, Aby... turunin Tiwi! pintunya gak di kunci, loh! nanti kalau Bi Ina sama Mba Cika ke sini, gimana coba?" Tegur Tiwi saat merasa tubuhnya melayang dari atas lantai.
"Biarin, suruh siapa Bunda goda Aby beberapa kali, hari ini!" Tutur Kak Gery mengendus leher jenjang istrinya yang sudah dia baringkan di atas tempat tidur.
"By... Tiwi masih nifas, By! Aby gak lupa, kan?" Ucap Tiwi menahan gelenyar yang menggelitik hasr**nya.
"Tapi junior Aby udah berdiri tegak, Yang! Ayang bantu pakai cara lain aja ya!" Bujuk Kak Gery sambil menyusuri setiap lekuk tubuh istrinya dengan ciu*** bibirnya.
"Astaghfirullah, ya udah ayo ikut Tiwi!" Seru Tiwi mengalah seraya bangkit dan menarik sebelah lengan suaminya ke arah kamar mandi yang berada di kamar mereka.
...****************...
4 Tahun kemudian. Tiwi dan Kak Gery serta putra tampannya sedang bersiap untuk menghadiri sebuah pesta pernikahan. Mereka terlihat serasi dengan balutan pakaian rancangan Umi Kak Gery yang di buat khusus untuk anak, mantu dan cucunya.
"Udah siap! Al ganteng banget sih, nak!" Ucap Tiwi gemas setelah merapihkan pakaian Al.
"Bun, tolong pasangkan dasi Aby, dong!" Seru Kak Gery seraya menghampiri sang istri yang kini tengah berbadan dua.
"Aby gak bisa pake sendiri, ya? Bunda kan pasti cape udah bantu Al pake baju! Aby ko manja banget, sih!" Tutur Al yang membuat kedua orangtuanya terkekeh melihat bibirnya yang terlihat manyun karena kesal.
"Aby, kan juga mau di manja sama Bunda, Al! Lagi pula cuma pasang dasi, ko! jadi Bunda gak akan kelelahan," Sahut Kak Gery seraya merangkul tubuh istrinya dari samping menghadap sang anak yang sedang protes membela sang Bunda.
"Tapi, kan Aby udah besar! Aby bisa pakai sendiri!" Ucap Al seraya memanyunkan bibirnya dan melipat kedua tangan mungilnya di dada.
"Gak apa-apa sayang, mengurus Aby dan mengurus Al itu adalah hal menyenangkan dan membahagiakan bagi Bunda, jadi Al gak perlu cemas lagi ya, sayang!" Sahut Tiwi seraya menghampiri putranya dan mengelus kepalanya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Al sayang Bunda," Ucap pria kecil nan tampan tersebut sambil memeluk sang Bunda dengan tangan mungilnya.
"Kalau sama Aby sayang juga gak, nih?" Sahut Kak Gery seraya mendekatkan wajahnya ke arah wajah sang putra yang berlindung di dekat perut hamil Bundanya.
"Harus sayang dong, apa lagi bentar lagi Al mau punya adik bayi, kelak Al juga harus belajar menyayangi adik Al ya, nak!" Tutur Tiwi mengelus kepala sang putra yang memeluknya.
"Ya udah, sekarang kita berangkat aja, yuk!" Seru Kak Gery seraya memasangkan dasinya yang belum sempat Tiwi pasangkan untuknya.
__ADS_1
"Sini, By! Bunda pasangkan, ya!" Sahut Tiwi meraih dasi di tangan suaminya.
"Al bantu ya Bun, Al juga mau belajar pakaikan dasi untuk Aby!" Seru Al menghampiri.
Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya bergegas pergi untuk menghadiri sebuah pesta pernikahan.
"Barakallahu laka wa baraka alaika wa jama’a bainakuma fi khoir ya, No! akhirnya kamu bisa meyakinkan pujaan hati kamu juga!" Ucap Kak Gery seraya merangkul sang pengantin pria setelah sampai di sebuah pelaminan yang memajangkan sepasang pengantin yang tengah berbahagia.
"Aamiin... Makasih ya, Pak! tanpa bantuan Bapak, saya gak mungkin bisa sampai di titik bahagia ini. sekali lagi makasih banget ya, Pak!" Sahut Nino sang pengantin laki-laki yang tengah berbahagia hari itu.
"Kalian berhak mendapatkan kebahagiaan ini, No. Sekali lagi selamat, ya!" Tutur Kak Gery sambil menepuk-nepuk pelan punggung Nino dengan pelan sebelum melerai pelukannya.
"Kak, Barokallah ya! semoga pernikahan kalian samawa dan cepet dapet momongan," Ucap Tiwi seraya memeluk Tami yang tak lain pengantin wanita hari itu.
"Aamiin... makasih ya, Wi. Kalian bener-bener sangat membantu kita dalam segala hal pernikahan ini, aku sampai gak tau harus bilang apa lagi sama kalian, makasih ya!" Tutur Tami sambil melerai pelukannya.
"Semoga lahiran nanti berjalan lancar ya, Wi! aku jadi gak sabar pengen punya anak juga," Tambahnya lagi seraya mengelus perut Tiwi yang sudah terlihat menyembul sempurna bak buah semangka yang besar.
"Aamiin... semoga Kak Tami segera di beri kepercayaan juga ya sama Allah," Sahut Tiwi dengan senyuman di bibirnya.
"Hei! Kamu udah datang ya, Wi? Al dimana? ko Kakak gak liat dia, sih?" Tegur Viola setelah menghampiri kedua wanita cantik itu di atas pelaminan.
"Alhamdulillah Wi, ya udah aku cari anak kamu dulu ya! mau tak culik sama bikin nangis, habisnya anakmu itu gemes banget sih, bye." Ucap Viola seraya melenggang turun dari pelaminan dan melambaikan tangannya.
Tami dan Tiwi hanya bisa terkekeh melihat tingkah Viola yang selalu saja gemas setiap kali bertemu dengan, Al yang kini sudah mulai beranjak dewasa.
Flash back start.
"Aby! memaafkan kesalahan orang lain itu memang sulit. Tapi dengan memaafkan, hati kita bisa lapang, pikiran kita akan tenang, By!" Ucap Tiwi saat sang suami dilema dengan permintaan istrinya supaya mencabut kasus Viola yang sudah mengurungnya di toilet Resto beberapa waktu lalu.
"Tapi Yang..." Sahut Kak Gery tercekat dengan kecupan yang Tiwi berikan di punggung tangan suaminya yang ia genggam sedari tadi.
"Tiwi tau Aby adalah orang yang bijaksana, dan Tiwi yakin Aby pasti akan mengabulkan keinginan Tiwi ini!" Ucap Tiwi yang membuat Kak Gery tak bisa menolaknya lagi.
__ADS_1
"Hm... baiklah, Aby akan turuti kemauan Ayang, dan semoga keputusan kita ini adalah keputusan yang terbaik." Sahut Kak Gery sambil menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya.
"In Sya Allah, By! kita harus yakin pada Allah yang bisa merubah segala keadaan," Tutur Tiwi dalam dekapan suaminya.
...****************...
"Saudari Viola anda dinyatakan bebas. Silahkan ikut saya! ada yang ingin menemui anda di ruangan tunggu," Tutur petugas Polisi seraya membuka gembok besar yang mengunci jeruji besi yang di singgahi Viola.
"Bebas? siapa yang membebaskan saya, Pak?" Tanya Viola seraya berjalan menyusuri lorong lapas menuju ruangan tunggu dimana seseorang sudah menunggu kehadirannya.
Cekrek...
Pintu ruangan tunggu pun di buka dan menampilkan sosok yang begitu membuat Viola terkejut dan tak habis pikir.
"Tiwi!" Ucapnya setelah melihat keberadaan Tiwi yang menyambutnya dengan senyuman.
"Assalamu'alaikum Kak, apa kabar?" Sapa Tiwi seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Viola.
"Wa... Wa'alaikumsalam, aku ba... baik-baik aja." Tutur Viola terbata-bata sambil membalas uluran tangan Tiwi dengan ragu.
Sejurus kemudian Tiwi malah menarik tubuh langsing di depannya itu ke dalam pelukannya dan membisikkan kata-kata teduh yang menenangkan hati.
"Alhamdulillah, jika Kak Viola baik-baik aja, semoga Kakak selalu berada dalam lindungan Allah, Tiwi senang akhirnya bisa bertemu dengan Kak Viola langsung." Tutur Tiwi setelah berhasil memeluk raga Viola yang masih tercengang dengan sikap Tiwi yang jauh dari perkiraannya.
Viola sangka Tiwi akan membencinya dan berbalik menghukumnya dengan kekuasaan suaminya. Namun kenyataannya Tiwi tidak melakukannya. Apalagi setelah Viola mendengar penuturan dari petugas Polisi yang memberitahunya, jika Tiwi lah yang telah mencabut sendiri kasusnya itu.
"Apa kamu gak benci sama aku? kenapa kamu gak dendam sama sekali?" Cecar Viola setelah Tiwi melerai pelukan mereka.
.
.
.
.
__ADS_1
.
See you next episode 😘😘😘