
"Ya Allah, ternyata menghadapi Ibu hamil itu harus banyak sabar! Padahal aku juga sibuk karena ingin memiliki waktu buat dia, ha... siap-siap tidur sendiri lagi nih," Batin Kak Gery yang memilih kembali ke kantornya setelah mengejar mobil sang istri yang terus melaju.
"Pak Gery baik-baik aja?" Tanya Nino asisten Kak Gery setelah dia memasuki ruangannya dengan langkah lunglai.
"Aku gak apa-apa, No! Tolong jadwalkan kembali aja meeting berikutnya, aku ingin segera menyelesaikannya hari ini juga," Seru Kak Gery sambil memijat keningnya yang terasa berdenyut.
"Baik,Pak! kalau begitu saya permisi," Sahut Nino bergegas melaksanakan perintah atasannya.
Sementara itu, Tiwi yang baru saja tiba di depan Gang rumahnya, di bangunkan Pak Slamet sesuai persetujuan majikannya sebelumnya.
"Non, bangun, Non! kita udah sampai!" Tutur Pak Slamet menepuk pelan bahu majikannya.
"Oh, udah sampai ya, Pak! saya langsung masuk ke rumah, ya! Pak Slamet bisa langsung pulang hari ini, saya gak akan pergi kemana-mana lagi ko, oh iya ini asinannya buat Bapak," Sahut Tiwi seraya memberikan sebungkus asinan.
"Wah, ini benar buat Bapak, Non? bukannya tadi Non yang pengen makan, ya? kenapa jadi di kasih sama
Bapak?" Tanya Pak Slamet.
"Tiwi udah gak mau, Pak! Bapak bawa pulang aja ya!" Sahut Tiwi seraya beranjak turun dari mobilnya yang langsung di susul oleh Pak Slamet yang membantunya membuka pintu mobil.
"Hati-hati, Non!" Ucap Pak Slamet.
"Makasih ya, Pak! ini juga buat Bapak juga, deh!" Sahut Tiwi mengeluarkan selembar uang kertas berwarna biru sisa kembalian membeli asinan yang tak jadi dia makan tadi.
"Duh, Non! bukannya bapak mau nolak rezeki, tapi asinan ini aja udah cukup! Non Tiwi sama pak Gery juga Minggu lalu baru kasih bonus juga kan buat Bapak, Bapak jadi gak enak Non," Tutur Pak Slamet sungkan.
"Itu kan Minggu lalu, Pak! nah, kalau yang ini rezeki Bapak hari ini, di terima ya, Pak!" Sahut Tiwi seraya memberikan uang.
"Makasih banyak ya, Non! Bapak benar-benar sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang baik seperti kalian, semoga keluarga Non Tiwi selalu berkah dan bahagia," Ucap Pak Slamet tulus.
Selang beberapa menit, Tiwi akhirnya merebahkan tubuhnya yang terasa lelah di atas tempat tidur lamanya. Dalam hitungan detik saja, Tiwi sudah berhasil pergi ke alam mimpinya meneruskan tidurnya yang sempat terganggu saat tiba di rumah orangtuanya tadi.
"Hem... kasurnya benar-benar masih sama! Ibu benar-benar selalu membersihkan kamar ini tanpa memindahkan satu pun barangnya. Aku jadi kangen masa-masa gadis di kamar ini. Kamar yang jadi saksi aku menangisi semua perjuangan yang selama ini aku tempuh! kamar yang jadi bukti kisah cinta aku sama Kak Gery," Gumam Tiwi sambil meneteskan air matanya sebelum akhirnya dia terlelap.
__ADS_1
Di kantor sendiri, Kak Gery terlihat tak fokus menangani pekerjaannya. Dia masih memikirkan sang istri yang sejak siang tadi merajuk. Kak Gery sangat khawatir, jika sampai terjadi sesuatu pada istri dan calon buah hatinya. Beruntungnya, Kak Gery memiliki asisten yang begitu peka terhadap kondisinya saat ini. Tanpa di minta, Nino segera mengambil alih meeting terakhir atasannya itu dan mengusulkan Kak Gery untuk pulang lebih dulu.
"Pak, sebaiknya Bapak pulang aja! meeting nya juga udah hampir selesai, jadi Bapak bisa pulang lebih awal, biar saya aja yang menutupnya, nanti!" Seru Nino yang tak tega melihat wajah kusut atasannya.
"Gak apa-apa, No! aku akan selesaikan sampai tuntas hari, ini! besok aku akan mulai ambil cutinya, jadi tolong urus semuanya selama aku gak ada ya!" Tutur Kak Gery profesional.
"Hm... baiklah, Pak! kalau gitu biar saya buatkan teh hangat untuk Bapak, ya!" Sahut Nino bergegas ke ruang pantry dan membuatkan secangkir teh hangat untuk atasannya.
Nino sendiri merupakan orang kepercayaan Kak Gery, sekaligus sahabatnya saat di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Mereka sudah sangat dekat saat pertama kali berteman. Hingga suatu saat, Nino memilih kuliah di luar Negeri dan baru kembali saat Kak Gery memulai bisnisnya dan langsung merekrut sahabatnya itu untuk ikut bergabung di perusahaan yang dia rintis.
"Silahkan Pak, tehnya!" Ucap Nino seraya meletakkan secangkir teh hangat di meja atasan sekaligus sahabatnya.
"Makasih No, aku bener-bener berhutang banyak sama, kamu!" Sahut Kak Gery.
"Gak perlu sungkan, itulah gunanya asisten sekaligus sahabat yang bisa kamu andalkan, Ger! aku pasti mendukungmu sampai kapan pun," Tutur Nino yang selalu membuat Kak Gery semakin bangga padanya.
"Makasih ya,No!" Ucap Kak Gery seraya mengukir senyum di bibirnya.
"Terus, apa rencana mu sekarang, Ger? kayanya kamu malam ini, tidur sendiri lagi, ya!" Ledek Nino. Jika sedang tidak ada pekerjaan, mereka sangat akrab layaknya pasangan sahabat. Namun jika sudah kembali ke mood pekerjaan, Nino akan memperlakukan Kak Gery layaknya atasannya yang harus dia hormati.
"Hei, bro! aku tau, itu pasti sulit! tapi aku pikir si Tiwi juga sama sulitnya menerima perubahan itu! apa lagi dia yang mengandung anak kamu, Ger! dia pasti yang lebih menderita! aku yakin, pasti ada jalannya buat kalian berbaikan!" Ucap Nino.
"Kamu bener, No! makasih, ya selalu ingatkan aku!" Sahut Kak Gery.
"Sama-sama, Ger!" Jawab Nino.
Tepat pukul 5 sore, Kak Gery menyelesaikan pekerjaannya dan bergegas membeli bunga sebelum bertandang ke rumah mertuanya untuk menemui m sang istri tercinta yang sedang merajuk.
"Silahkan, Pak! mau pilih bunga yang mana?" Seru Lily, pedagang bunga.
"Saya mau satu buket bunga ros merah yang masih fresh, ya!" Sahut Kak Gery tanpa melirik bunga-bunga yang lainnya lagi karena sudah tau bunga favorit sang istri.
"Baik, Pak! di tunggu sebentar ya, biar saya rangkai sebentar bunga-bunganya!" Tutur Lily bergegas.
__ADS_1
Tak menunggu lama, buket bunga pun telah siap dan segera di berikan pada Kak Gery. Setelah membayar bunga, Kak Gery segera masuk ke mobilnya dan melajukan kendaraan beroda empat nya ke sebuah toko kue untuk dia berikan pada keluarga mertuanya.
"Semoga aja bunga ini bisa membujuk kamu supaya gak marah lagi, Yang!" Gumam Kak Gery seraya mengemudi di jalanan yang cukup padat sore itu.
Sesampainya di rumah sang mertua, Kak Gery segera memberikan bingkisan kue yang dia bawa. Dia segera menghampiri kamar istrinya yang sudah sangat dirindukannya.
Tok...tok...tok...
"Masuk!" Seru Tiwi dari dalam kamar, Tiwi pikir Ibunya yang mengetuk pintu.
Ceklek...
"Yang!" Ucap Kak Gery sambil menutup kembali pintu kamar istrinya.
kebetulan Tiwi baru saja selesai melaksanakan kewajibannya, yang sempat tertinggal karena terlalu lelap tidur. Dia segera menggantungkan mukena yang baru saja dia gunakan dan menghampiri suaminya untung mencium tangan Kak Gery seperti kebiasaannya semenjak setelah menikah.
"Yang, maafin Aby, ya!" Ucap Kak Gery langsung di peluk Tiwi yang seketika terisak di dekapannya.
"Aby, Tiwi yang minta maaf! selama ini, Tiwi terlalu egois, Tiwi gak bisa ngertiin Aby dengan kesibukan Aby akhir-akhir ini. Padahal Tiwi tau, Aby lagi sibuk nafkah untuk Tiwi dan calon anak kita, Tiwi minta maaf ya, By. Tiwi gak mau jadi istri yang durhaka," Isak Tiwi sampai membasahi pakaian suaminya.
Kak Gery menaruh buket bunga yang di pegang di atas empat tidur. Dia pun segera membalas pelukan istrinya tak kalah erat seraya menghujani pucuk kepala istrinya dengan ciuman.
Kak Gery benar-benar lega, setelah sekian jam perasaannya membabi buta tak karuan. Akhirnya sirna begitu saja setelah melihat wajah sang istri yang menenangkan hati dan pikirannya. Apalagi, Tiwi juga meminta maaf padanya sambil menangis.
"Aby juga minta maaf ya, Yang! Aby juga emang lagi sibuk banget akhir-akhir ini, Aby jadi jarang perhatikan kamu sama calon anak kita! Aby janji, mulai besok Aby gak akan membiarkan kalian kesepian lagi, besok Aby udah mulai ambil cuti selama satu Minggu full, jadi Aby bisa temenin Ayang sepuasnya!" Tutur Kak Gery seraya membingkai wajah istrinya dan menghujani kembali pucuk kepalanya dengan ciuman lagi.
.
.
.
.
__ADS_1
.
See you next episode 😘😘😘