
Belum apa-apa keringat dingin sudah bercucuran di kening Kak Gery. Meski dia sudah memantapkan hati, namun ternyata dia masih saja gugup untuk melakukan Ijab Qobul, yang bahkan masih hanya latihan itu.
"Kita coba satu kali lagi ya!" Seru Pak Imron mengarahkan Kak Gery dan Ayah Tiwi untuk mengulang latihan.
"Nak, tenanglah! jangan terlalu gugup," Ucap Ayah Tiwi yang merasakan kegugupan Kak Gery saat berjabat tangan dengannya.
"Iya Om, huu... Bismillah," Sahut Kak Gery.
Setelah percobaan Kedua, Kak Gery akhirnya bisa lancar melafalkan Ijab Qabul. Hingga akhirnya, tibalah waktu Ijab Qobul yang sesungguhnya.
"Baiklah, dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, mari kita sama-sama mulai acara mulia ini, silahkan nak Gery berjabat tangan kembali dengan Pak Ahmad!" Seru Pak Imron.
"Bismillah... Ya Allah, sesungguhnya hanya dengan Ridho-Mu lah Ijab ini terlaksana, maka mudahkanlah aku melakukannya, Aamiin." Batin Kak Gery.
"Bismillahirrahmanirrahim, ananda Gery Putra Baskoro, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Tiwi Citra Pratiwi dengan maskawin seperangkat Alat Sholat dan perhiasan emas seberat 50 gram di bayar tunai!" Ucap Ayah Tiwi seraya terisak saat mengingat kondisi putrinya yang masih berbaring di atas tempat tidur Rumah Sakit.
Suasana di ruangan tersebut benar-benar mengharukan. Apa lagi Ayah Tiwi begitu menghayati setiap kata yang dia ucapkannya. Kini tanggung jawabnya pada sang putri telah berpindah pada pria muda yang duduk di hadapannya. Pria yang sudah bergelar suami Tiwi itu lah yang akan membimbing, menjaga, serta membahagiakan sang putri kelak.
"Saya terima nikah dan kawinnya Tiwi Citra Pratiwi binti Ahmad Bahrudin dengan maskawin tersebut dibayar tunai!" Ucap Kak Gery lantang dengan satu tarikan nafas.
Para saksi mengatakan kata Sah dengan kompak, sebagai pertanda jika Kak Gery sudah resmi dan sah menjadi suami dari pujaan hatinya. Setelah akad dilangsungkan, Kak Gery meminta restu dari kedua orangtua dan mertuanya dengan cara sungkeman.
Umi Kak Gery begitu terharu dengan perjuangan anak semata wayangnya. Umi Kak Gery lah yang paling tahu perjalanan kisah cinta Kak Gery dengan Tiwi. Beberapa rintangan dan cobaan telah mereka lalui. Dan kini, akhirnya Kak Gery bisa memperistri Tiwi, meski kondisinya masih belum sadarkan diri.
"Umi, Makasih udah membesarkan Gery dan selalu mendukung Gery dalam segala hal! maafkan Gery, karena Gery belum bisa membuat Umi bangga dan bahagia! Gery mohon restu dari Umi, supaya pernikahan Gery selalu diberkahi oleh Allah," Tutur Kak Gery terisak dalam pelukan sang Ibu.
"Umi merestui dan akan selalu mendoakan kalian, sayang! Semoga pernikahan kalian sakinah, mawadah, warohmah! doa Umi selalu mengiringi kalian berdua, nak! semoga nak Tiwi juga bisa cepat siuman dan bisa menyaksikan kebahagian ini bersama-sama." Sahut Umi Kak Gery tak kalah terisak.
Setelah melakukan sungkeman pada kedua orangtua dan Kakeknya, kini Kak Gery beralih meminta restu pada kedua orangtua Tiwi.
__ADS_1
"Tante! Gery sangat-sangat berterimakasih, karena Tante udah izinkan Gery menikahi Tiwi, sekarang Gery ingin meminta restu dari Tante, doakan Gery dan Tiwi, ya Tan! semoga pernikahan kita selalu bahagia sampai maut memisahkan!" Ucap Kak Gery.
Seketika Ibu Tiwi merangkul Kak Gery. Air matanya sudah tak terbendung lagi. Meski hatinya masih sedikit kecewa, namun Ibu Tiwi sadar. Kak Gery juga pasti tak menginginkan hal buruk menimpa Tiwi. Maka dari itu, Ibu Tiwi memilih memaafkan Kak Gery dan berdamai dengan kenyataan.
"Ibu merestui kalian, nak! jaga dan sayangi Tiwi seperti kami menjaga dan menyayanginya, Ibu percayakan sepenuhnya anak Ibu pada kamu, nak! beri dia kebahagiaan yang tak terhingga,bimbing dia dan ajaklah dia selalu dalam kebaikan!" Isak Ibu Tiwi.
"In Sya Allah, Tan! Gery akan berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya, dan maafkan Gery, karena Gery masih banyak kekurangan!" Sahut Kak Gery.
Suara isak tangis masih mengiringi mereka di ruangan Tiwi. Hingga akhirnya, Pak Imron berpamitan untuk melanjutkan tugasnya kembali di tempat lain.
"Makasih banyak ya, Im! saya benar-benar merepotkan kamu hari ini," Tutur Kakek Kak Gery.
"Gak perlu sungkan, Pak! ini udah tugas saya, ko! kalau gitu saya pamit sekarang ya, kebetulan saya masih harus menikahkan dua pasangan pengantin lagi hari ini, mari semuanya, Assalamu'alaikum!" Sahut Pak Imron beranjak ke arah pintu keluar yang di anatar langsung oleh Kakek dan Ayah Kak Gery.
Setelah semuanya selesai, Kak Gery menghampiri tempat tidur yang Tiwi gunakan selama 6 bulan ini di Rumah Sakit. Diusapnya kepala sang pujaan hati dengan lembut. Kini keduanya sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Namun Kak Gery masih terlihat sedih, pasalnya sang istri masih saja belum sadarkan diri meski Dokter sudah menyatakan kondisi Tiwi semakin membaik.
"Kamu gak boleh sedih, Ger! ini kan hari bahagian kalian. Yang nak Tiwi butuhkan sekarang adalah semangat dan dukungan kamu! kalau kamu sendirinya lemah dan sedih gini, gimana perasaan nak Tiwi sendiri? Umi yakin, meski matanya terpejam, tapi nak Tiwi pasti bisa mendengar apa yang kita ucapkan. Jadi berusahalah yang terbaik! buat istrimu kuat dan bangkit dari kondisinya saat ini," Seru Umi Kak Gery memberi semangat.
"Iya, Umi! apa yang Umi katakan memang benar. Mulai sekarang, Gery gak akan sedih lagi! Gery akan terus mendukung Tiwi agar cepat siuman." Sahut Kak Gery menggebu-gebu.
Sejurus kemudian, jari-jari tangan Tiwi bergerak seakan merasakan semangat yang Kak Gery tujukan untuknya. Kak Gery begitu terkejut sekaligus senang, karena Tiwi seakan meresponnya saat bertutur kata seperti tadi, dia semakin yakin jika sebentar lagi istrinya pasti siuman dan berangsur pulih.
"Umi! liat, Mi! jari Tiwi bergerak! sayang, Kakak akan selalu ada buat kamu, jadi cepatlah sadar, ok!" Ucap Kak Gery penuh bahagia.
Keluarga Tiwi yang ikut menyaksikan pun tak kalah senang melihat kemajuan kesehatan Tiwi. Mereka semakin yakin dengan pilihannya yang telah menikahkan Tiwi pada sang tunangan.
"Yah, anak kita! semoga dia bisa secepatnya siuman juga, ya!" Gumam Ibu Tiwi yang di rangkul suaminya dari samping.
"Aamiin, kehadiran nak Gery benar-benar penyemangat tersendiri untuk anak kita, Bu! mungkin Allah memang sudah mengaturnya demikian. Ayah sangat lega karena menyerahkan putri kita pada orang yang tepat," Sahut Ayah Tiwi.
__ADS_1
...****************...
Di lain tempat, Andrina dan Kak Haikal yang mendapat kabar bahagia dari sahabatnya itu ikut kegirangan, dan segera bersiap untuk mengunjungi Rumah Sakit tempat Tiwi di rawat.
"Mas, masa kita gak bawa hadiah apa pun, sih!" Ucap Andrina saat menemani suaminya makan siang di kantornya.
"Ya udah, kita beli aja sebelum ke Rumah Sakit nanti, ok!" Sahut Kak Haikal sambil melahap makan siang yang istrinya bawa.
"Kira-kira kado yang bagus apa, ya? apa lagi si Tiwi masih belum sadar sampai sekarang, Drina jadi bingung! Mas Haikal punya ide gak?" Tanya Andrina.
Bukannya memberi ide, Kak Haikal malah menyuapkan sesendok nasi berisi lauk pada mulut istrinya itu.
"Gak usah khawatir, sebaiknya kamu makan dulu aja, Yang! kasihan anak kita di dalam sini, kelaparan!" Ucap Kak Haikal sambil mengusap perut Andrina yang sudah nampak membesar.
"Ihh... Mas gitu deh, Drina kan cuma tanya," Gerutu Andrina sambil mengunyah makanan di mulutnya.
"Iya, Yang! Mas tau ko, tapi kamu juga jangan sampai menghiraukan asupan makanan buat tubuh kamu! apalagi di dalam sini ada dua jagoan kita yang perlu nutrisi banyak untuk pertumbuhannya," Sahut Kak Haikal mengusap perut istrinya kembali.
.
.
.
.
.
See you next episode 😘😘😘
__ADS_1